
Matahari mulai memancarkan cahaya, menerobos melalui celah-celah gorden jendela kamar Kalun yang tidak tertutup rapat, tepat menyorot ke arah wajah Aluna yang masih terlelap di bawah selimut, perlahan Aluna membuka matanya, mengumpulkan kesadaran sambil mengedarkan pandangannya ke arah kamar yang tidak asing menurutnya itu. Dia lalu menoleh ke arah samping, terlihat Kalun yang tidur membelakangi dirinya. Aluna lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Kalun, sengaja menempelkan apa yang ada di tubuhnya, memeluk Kalun dari belakang.
“Tumben tidur tanpa memelukku?” tanya Aluna yang mengetahui Kalun sudah terbangun dan tengah memainkan ponselnya.
Kalun belum ingin membalikkan tubuhnya, dia masih fokus mengirimkan pasan kepada Doni.
“A’.” Aluna memanggil Kalun karena dia tidak segera membalikkan tubuhnya.
“Hei. Kenapa?” lanjut Aluna kembali bertanya hal yang sebenarnya tidak penting.
“Apanya?”
“Kenapa tidak memelukku saat tidur semalaman?” tanya Aluna dengan suara sedikit manja.
“Aku takut khilaf,” jawab Kalun setelah berpikir beberapa detik. Dia lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Aluna. Memperhatikan Aluna yang hanya tertupi selimut.
“Apa kamu tidak sadar? Lihatlah tubuhmu,”
tunjuk Kalun dengan ekor matanya. Kakinya sudah disilangkan satu di sela-sela kaki Aluna.
Aluna membuka pelan selimut tebal yang menutupi tubuhnya saat ini, terkejut ketika dia menyadari hanya celana dalam saja yang menempel di tubuhnya. Dia lalu menatap tajam ke arah Kalun.
“Penc*bulan!” maki Aluna sambil memukuli dada Kalun.
“Semalam kamu terlihat menggoda di mataku, aku nggak bisa melihatmu tertidur dengan gaun yang kamu kenakan kemarin, jadi aku mengganti bajumu, tapi yang ada kamu justru menggodaku, ya sudah aku tinggalkan kamu dengan pakaian seperti itu.” Kalun bercerita jujur kepada Aluna, dia lalu mendekat ke arah Aluna menciumi pundak Aluna yang terekspos sempurna. Membuat Aluna merasakan karena Kalun tidak segera menghentikan kegiatannya.
“Lalu?” tanya Aluna meminta Kalun melanjutkan ceritanya.
“Penasaran?” Aluna menganggukan kepalanya.
“Sepertinya sudah tujuh hari, bisa kita mulai sekarang?” tanya Kalun mengulurkan telunjuknya di tulang rahang Aluna, mengusap lembut wajah Aluna dengan jemarinya.
“Apa kamu sudah tidak tahan?”
Kalun menganggukkan kepalanya cepat, membenarkan ucapan Aluna.
__ADS_1
“Tunggu dulu,” kata Aluna sambil berlari ke arah kamar mandi, tangannya menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhnya.
Sedangkan Kalun berjalan ke arah pintu untuk mengunci pintu kamarnya. Dia takut jika nanti akan ada gangguan dari anggota keluarganya yang akan menghentikan kegiatannya.
Kalun menjatuhkan tubuhnya dengan posisi terlentang di atas ranjang, dengan kaki yang masih mengantung di sisi ranjangnya, Aluna yang sudah selesai membersihkan tubuhnya, segera mengenakan handuk putih yang sudah disediakan. Dia lalu berjalan ke arah ranjang, di mana Kalun berada, tanpa rasa malu lagi, dia langsung melompat di paha Kalun, membuat Kalun yang tengah memainkan ponsel pintarnya, harus kesakitan karena ponsel tersebut jatuh mengenai hidungnya. Tapi tindakan Aluna yang mengusap dengan hidungnya, membuat Kalun tersenyum geli.
“Kenapa seperti kucing liar sih?” kata Kalun sambil terkekeh.
“Apa kamu tidak suka? Ya sudah aku
akan pergi.” Aluna lekas beranjak dari posisi duduknya. Tapi tertahan oleh tangan Kalun yang lebih dulu menahan pinggangnya.
“Bahkan aku tidak ingin kamu pergi
dari pangkuanku,” kata Kalun sambil membalikkan tubuh Aluna. Saat ini Aluna berada di bawah kukungan tubuh Kalun. Kalun memulai menelusuri wajah Aluna, memulai pemanasan untuk membangkitkan gairah Aluna, dia menikmati setiap lekuk tubuh Aluna, tidak melewatkan setiap titik sensitive Aluna yang sudah dia hapal, membuat wanita di bawahnya semakin ingin mengeluarkan suaranya.
“Apa benar tidak apa-apa?” tanya Kalun
memastikan lagi, dia menghentikan kegiatannya di sela dirinya dirundung gairah.
“Ya,” singkat Aluna, meminta Kalun untuk melanjutkan kegiatannya.
membuat pemandangnan yang tadi tertutupi kain putih, kini sudah siap untuk dia nikmati, dia tersenyum senang saat hendak berbuka puasa dengan Aluna. Saat Kalun mulai membuka bajunya, terpaksa dia harus segera menghentikan kegiatanya karena mendengar suara pintu yang terketuk dari arah luar. Kalun kesal ingin mengumpat siapa yang berada di balik pintu. Dia berjalan gontai ke arah pintu, dengan tubuh yang bertelanjang dada. Dia melihat mamanya berdiri di depan pintu, dengan nafas yang naik turun Kalun menanyakan maksud mamanya.
“Apa Luna belum bangun?”
“Belum dia kelelahan, biarkan dia istirahat dulu, kurang lebih dua jam lagi,” jawab Kalun membuat Ella mengerutkan dahinya karena tidak paham maksud Kalun.
“Mama pernah muda kan? Please ini pagi pertama Kalun setelah sekian lama berpuasa,” lirih Kalun di samping telinga Aluna. Kini Ella mendelik ke arah Kalun, menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan permintaan Kalun. Karena dia tidak pernah tahu jika anaknya sudah lama berpuasa.
“Okey setengah jam cukup.”
“Ma, setengah jam itu baru pemanasan,” kata Kalun sambil menutup kembali pintunya. Terdengar teriakan Ella yang mengatakan jika dia memberinya waktu 1 jam, jika mereka berdua tidak keluar, Ella tidak segan untuk mendobrak pintu kamarnya.
Kalun tersenyum menang setelah menutup pintu kamarnya, dia lalu berjalan kembali menghampiri Aluna yang masih berada di ranjang kamarnya, berada di bawah selimut coklat yang menutupi kaki hingga kepalanya.
__ADS_1
“Bisa dilanjutkan?” tanya Kalun yang kembali menyerang Aluna. Dia membuka selimut tebal tersebut dan menendangnya ke bawah, sambil menatap Aluna yang tengah menganggukan kepalanya. Keduanya benar-benar menikmati pagi itu, tidak lebih dari dari lima belas menit suara yang keluar dari bibir keduanya berhasil memenuhi ruangan kamar Kalun, Kalun benar-benar
meluapkan semuanya pagi itu dari permainan lembut sampai permainan yang mungkin baru dicoba untuk pertama kalinya.
-----
Tepat pukul dua belas siang, keduanya baru keluar dari kamar, melihat tatapan seluruh anggota keluarga yang duduk di ruang televisi, yang tengah menatapnya heran. Aluna langsung menghentikan suara tawanya, setelah menyadari kesalahannya, dia baru mengingat pagi ini ada acara pengajian di rumah mertuanya. Dan dia justru tertidur nyenyak di atas dada Kalun, setelah melakukan aktivitas dewasanya tadi. Aluna lalu menoleh ke arah Kalun yang masih tersenyum puas ke arah Ella yang menatapnya tajam.
“Kakak ipar ngapain saja sih? Dari tadi Rara ketuk-ketuk pintu tapi tidak ada balasan?” tanya Maura setelah melihat pasangan muda itu sudah duduk di sofa.
“Kakak ipar kelelahan, jadi dia bangun kesiangan.” Kalun menyahut pertanyaan Maura, saat melihat wajah Aluna yang merasa tidak nyaman.
“Tadi ada Umi Kulsum nyariin Kakak, tapi yang ada kalian tidak mau keluar,” gerutu Maura.
“Maaf ya Ra, Kakak benar- benar tidak bisa
mendengar teriakanmu tadi, Kakak ketiduran,” jawab Aluna yang merasa semakin bersalah. Dia tidak berani menatap ke arah Ella, yang masih melirik tajam ke arah Kalun.
“Iya, masalahnya tadi banyak yang nanyakin Kakak, mereka kan juga ingin melihat istri dari Kak Kalun,” jawab Nara yang sedikit ketus.
“Sudah jangan debat lagi, lain kali juga bisa. Mamamu kan, tidak hanya sekali mengadakan acara pengajian,” sahut Erik ketika mendengar perdebatan kedua anak dan menantunya.
Kalun lalu mengangguk sambil merangkul pinggang Aluna. Kini Aluna merasa bersalah karena membuat situasinya menjadi canggung. Dia terus mengkode Kalun setelah beberapa kali Kalun tidak segera menatap dirinya.
“Kita pulang yuk,” Aluna berbisik di samping telinga Kalun. Dia merasa tidak nyaman berada di sini. Di tempat mertuanya, karena sejak tadi Ella tidak mengajaknya berbicara. Jadi dia hanya bisa diam mendengarkan obrolan yang mereka bahas, tentang pernikahan Riella yang akan diadakan dua minggu lagi.
Kalun hanya membalas dengan usapan
lembut di rambut Aluna, lalu memelukknya gemas di depan semua orang yang ada di depannya. Membuat mereka semua memperhatikan kelakuan Kalun yang tengah bermesraan dengan Aluna. Layaknya menonton drama romantis secara live Nara dan Rara pun tidak berkedip, mereka menajamkan pendengarannya mencoba menguping apa yang bisa mereka dengar.
“Memangnya kurang ya, waktu kalian
berduaan tadi?” tanya Ella yang berhasil menghentikan tingkah anak lelakinya, membuat Kalun tersadar jika dia tengah berada di tengah-tengah keluarganya. Dia hanya menyengir ke arah Ella sebagai jawaban.
Kalau bisa aku tidak akan turun dari ranjang hari ini. Karena aku akan terus menikmati hidanganku, setelah sekian lama berpuasa. Isi pikiran kalun.
__ADS_1
💞💞
Jangan lupa like dan vote ya guys😂