Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Perasaan Aneh


__ADS_3

Kalun menatap satu persatu, orang yang baru saja masuk ke dalam ruangan Aluna, tidak beda jauh dengan mereka yang menatap curiga ke arah Kalun.


Hanya 4 orang yang datang mengunjungi Aluna, kepala devisi, tetangga meja Aluna serta dua wanita yang selalu membantu Aluna saat menyelasaikan proyek Emero Group.


“Bapak di sini juga?” tanya seorang wanita rekan satu devisi Aluna.


“Ya, dia karyawanku, jadi saya berhak datang ke sini, kalian jangan terlalu lama berada di sini, dokter tadi memperingatkan saya, supaya memberi waktu untuk dia banyak istirahat, jadi kalian harus segera pulang!” Kalun menjelaskan panjang lebar pada karyawan di depannya, supaya karyawannya itu tidak terlalu lama berada di sana.


Keempat orang itu diam, setelah mendengar ucapan dingin yang keluar dari bibir Kalun. Mereka semua merasa tidak nyaman dengan kehadiran Kalun, apalagi sorot matanya yang terlihat tidak suka dengan kedatangan mereka.


Mereka pun segera berpamitan setelah berada di sana sekitar 20 menit. Meninggalkan amplop yang ternyata berisi uang 500 ribu yang membuat Kalun terpingkal-pingkal, karena mereka mengira dia tidak mampu membiayai tagihan rumah sakit untuk istrinya.


Setelah kepergian rekan Aluna, Kalun mulai mengusik kembali kehadiran Renata yang masih asyik dengan ponsel di tangannya. Dia terus meminta Renata untuk pergi. Bahkan kini Renata tidak menganggap Kalun ada, dia mengenakan earplug di telinganya supaya tidak mendengar celotehan Kalun.


“Biarkan dia di sini, lagian siapa yang akan menjagaku jika kamu pergi ke London nanti malam, apa kamu tega meninggalkan aku sendirian di ruangan ini?” tanya Aluna yang membuat Kalun duduk mendekatnya, dia duduk di tepi kasur yang Aluna tempati saat ini.


“Aku sudah membatalkan acaraku untuk pergi ke London, siapa yang akan memandikan dan menggantikan bajumu nanti jika aku pergi? Hum, memangnya siapa yang rela jika tubuh istrinya dilihat orang lain?” tanya Kalun sambil menatap wajah Aluna.


“Emang kalau kamu di sini, aku mau ganti baju sama kamu? Lagian ya, yang namanya janji harus ditepati! Kasihan tunanganmu, jika kamu tidak jadi pergi ke London hari ini.” Aluna menjawab pertanyaan Kalun sambil menunduk, menghindari tatapan Kalun yang tengah menatapnya.


“Aku nggak janji sih, awalnya aku ingin memberinya kejutan, tapi ada istriku di sini yang membutuhkanku, tenanglah aku nggak akan tergoda dengan tubuhmu yang seperti papan itu,” ucap Kalun diakhiri suara tawa kecil yang keluar dari mulutnya.


Aluna langsung mendorong tubuh Kalun supaya menjauh darinya, tapi tenaganya yang kecil tidak mampu untuk mengusir tubuh Kalun, Kalun semakin tertawa keras karena mampu membuat wajah Aluna mengeluarkan guratan merah di pipinya.


“Nanti malam kita pulang!” ucap Kalun sambil berdiri dari bed Aluna.


“Dan kita akan tidur satu ranjang lagi!” lanjutnya sambil menoleh ke arah Aluna. Aluna hanya menatap aneh ke arah Kalun, membayangkan jika dirinya akan tidur sekamar lagi dengan suaminya, dia hanya takut kejadian 2 hari yang lalu terulang kembali. Meski dia wajib memberikan itu pada Kalun, tapi dia belum siap jika nanti dia akan jatuh semakin dalam lagi.


Aluna berpikir keras untuk menghentikan niat Kalun. Tapi yang namanya Kalun memang tidak menerima penolakkan, dia terus menjawab semua alasan Aluna, saat Aluna mencoba menolaknya. Renata yang memakai penutup telinga tidak mampu mendengar jelas keributan di ruangan itu.


Malam pun tiba, saat ini Aluna tengah berada di mobil Kalun, dia terus melirik ke arah Kalun yang tengah fokus menatap jalan di balik stir mobilnya. Aluna menahan perutnya yang terasa perih karena belum makan malam.

__ADS_1


“Apa kamu tidak lapar? Bisakah kita berhenti dulu untuk mencari makan?” tanya Aluna yang membuat Kalun menoleh ke arahnya.


“Aku nggak terbiasa makan sembarangan, jadi kita makan di rumah saja,” ucap Kalun ketika berhenti di lampu merah.


“Apa kamu tega memintaku untuk memasak?” tanya Aluna. Namun, Kalun hanya membalasnya dengan cengiran. Membuat Aluna semakin geram karena Kalun membiarkan dirinya kelaparan.


Aluna yang kesal menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, sambil menatap ke arah lampu yang mengiringi perjalanannya. Perlahan matanya terpejam karena merasa ngantuk, mungkin efek obat yang diberikan padanya tadi.


Kalun hanya menggelengkan kepala, saat mengetahui Aluna tengah terlelap. Tanpa pikir panjang dia memainkan pipi Aluna dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kananya fokus mengendalikan setir mobil yang berjalan pelan.


“Hey bangun! Kita sudah sampai!” perintah Kalun sambil menguncang tubuh Aluna saat mobil sudah tiba di parkir apartemen. Namun, yang ada Aluna belum bisa bangun dari tidurnya, dia justru memperlihatkan wajah lucunya yang membuat suaminya semakin merasa gemas. Hingga akhirnya Kalun menyerah dan menggendong tubuh Aluna, dan membawanya masuk ke apartemen.


“Tubuhnya kecil, tapi kenapa bisa seberat ini,” ucapnya setelah menidurkan Aluna di kamarnya, Kalun lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Aluna, membiarkan istrinya itu tertidur nyenyak.


Kalun kembali turun ke bawah untuk memasak makan malam. Kalun yang pernah hidup sendiri pun, sudah terbiasa memasak beberapa makanan, tapi tidak sejago mamanya. Cukup lama dia berada di dapur hingga pukul 9 malam dia kembali ke kamarnya untuk membangunkan Aluna.


“Lun, ayo kita makan!” ucapnya ketika sampai di depan kasur. Tubuh Aluna mulai menggeliat ketika Kalun membangunkannya.


“Bisakah kamu menghapus nama lelaki itu dari ingatanmu!” maki Kalun dengan suara keras membuat mata Aluna terbuka sempurna, dia benar-benar tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan dan dia juga tidak tahu berbicara apa barusan. Aluna lalu mencoba untuk bangun, dia disambut Kalun dengan tatapan mematikan.


“Kenapa denganmu?”


Kalun pun diam, tidak menanggapi pertanyaan Aluna, dia sendiri juga merasa aneh dengan perasaannya ini, tidak biasanya dia marah tanpa sebab, apalagi hanya dengan mendengar Aluna menyebut nama mantan calon suaminya. Dia pun menggelengkan kepala.


“Ayo makan!” ajaknya sambil berjalan keluar kamar.


Kalun menapaki tangga, meninggalkan Aluna yang kembali merebahkan tubuhnya, setiap langkahnya dia terus memikirkan perasaan debar di jantung yang semakin menyiksanya.


Sampai di meja makan, dia menyiapkan makanan untuk Aluna. Karena tidak kunjung melihat Aluna, Kalun pun berteriak memanggil istrinya.


“Lunaa, ayolah katanya lapar!” teriak Kalun dengan sedikit emosi, karena dia masih merasa cemburu dengan sikap Aluna tadi.

__ADS_1


Luna yang tadi hampir tidur kembali, segera bangun ketika mendengar teriakan Kalun. Dia berjalan menuju meja makan di mana Kalun menyiapkan makanan untuknya.


“Kamu pesan di mana?” tanya Aluna ketika melihat kepiting asam manis di meja makan.


“Pikir sendiri,” sahutnya dengan nada dingin. Aluna pun diam sambil meraih piring lalu mengisi nasi ke dalam piringnya.


Kalun menikmati makanan itu dengan nikmat, karena dia juga belum makan dari tadi siang. Berbeda dengan Aluna yang hanya menatap makanan di depannya.


“Kenapa? Cepat makan aku tidak ingin kamu semakin kurus saat tinggal denganku,” ledeknya saat melihat Aluna tidak segera menyantap makanan di depannya.


“Sepertinya makanan ini tidak cocok untukku, kamu lihat sendiri bagaimana tanganku,” ucap Aluna dengan mengerucutkan bibirnya, dia sedikit kecewa dengan keterbatasannya saat ini.


“Bilang saja minta disuapin!” Kalun mendekat ke arah tempat duduk Aluna, lalu menyuapi Aluna dengan tangan kananya.


“Kamu nggak merasa jijik denganku, tanganmu terkena air liurku? Bahkan kamu menggunakan tanganmu untuk menyuap ke dalam mulutmu,” tanya Aluna yang memperhatikan tangan Kalun.


“Aku bahkan sudah mencicipi air liur mu,” ucapnya sambil menyuapi daging kepiting itu ke dalam mulut Aluna.


“Bukannya kamu selalu jijik dengan makanan yang diambilkan dari tangan orang lain?” tanya Aluna penuh selidik menatap kelakuan Kalun. Mertuanya sudah memberitahu tentang apa yang disukai dan yang tidak disukai suaminya, jadi Aluna selama ini tidak perlu repot mengambilkan makanan yang di sajikan di meja untuk Kalun.


“Entahlah! Cepat makan, atau aku akan berhenti menyuapimu,” perintahnya sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya sendiri.


Aluna hanya menurut, dia mencoba menenangkan debar jantungnya yang sidikit lebih cepat, saat melihat tatapan Kalun yang tengah menatap intens ke arahnya.


“Apa kamu sudah jatuh cinta denganku? Kenapa menatapku seperti itu.”


👣


Follow Ig saya ya rehuella1


Jangan lupa untuk like dan vote.🙏

__ADS_1


O ya, terima kasih yang sudah mendoakan saya, alhamdulillah saya sudah sembuh🤓🤓🤓


__ADS_2