Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Demam Tinggi


__ADS_3

Yang mau masuk Group Kristiana ada password khusus sekarang. Tulis nama lengkap Kalun! Biar dibukain kunci sama Adminya. Ada yang tidak tahu nama lengkap Kalun? jawabannya ada di part 2. Pengenalan tokoh.Terima Kasih.


Kalun gelisah, bingung akan melakukan apa. Bekal ilmu kedokterannya tiba-tiba menguap terganti dengan kepanikannya. Mondar-mandir mengelilingi ruangan yang tidak lebih 30 m2 itu, membuka jendela kamar, supaya terlihat lebih terang, matanya melihat Aluna dengan erat memeluk guling di sampingnya, bibirnya terlihat menahan rasa dingin yang menyerang.


Kalun menghampiri ranjang yang dipakai Aluna, berjongkok di depan wajah Aluna yang tertidur menyamping. Melupakan sarapan nasi goreng yang tadi dia buat. Kalun lalu menempelkan lagi punggung tangannya.


“Kenapa lama sekali!” makinya pada udara yang melewatinya. Dia kembali berdiri, meraih ponselnya yang tadi dia lempar di ujung ranjang yang di pakai Aluna. Kali ini bukan Doni yang di telepon, tetapi dia justru menelepon Ella. Dengan panik Kalun mengatakan jika Aluna tengah sakit. Namun, di luar dugaanya, ternyata Ella dan Erik sudah menuju ke apartemen Kalun. Doni lebih dulu mengabarikan pada mereka. Kalun segera mematikan ponselnya setelah mendengar nasihat mamanya, dia sedikit lega saat melihat mata Aluna yang kembali terpejam sempurna, bibirnya sudah tidak bergetar lagi menahan rasa dinginnya, Kalun lalu berjalan ke arah kamar mandi yang berada di luar kamar. Melakukan sesuai petunjuk mamanya, yang meminta untuk mengopres dahi Aluna sebelum dokter tiba ke apartemen.


“Kenapa aku bisa sebodoh ini?” gerutunya memaki dirinya sendiri, “Ini semua pasti karena tertular kebodohanmu.” Kalun terus menyalahkan Aluna, ketika berjalan menuju kamar yang di tempati Aluna.


Saat Kalun mendorong pintu Aluna, terdengar suara pintu apartemen terbuka. Kalun melihat dari lantai dua, siapa yang datang ke apartemennya.


“Kenapa bawa Lusi kemari?!” maki Kalun.


“Paman Erik yang minta Pak.”


“Hei, istriku tidak hamil. Aku memintamu untuk mengirimkan dokter terbaik. Payah kamu!” maki Kalun di depan wajah Doni.


“Kamu tenang saja, aku bisa memeriksa istrimu! Apa kamu tahu bagaimana kondisinya sekarang? Siapa tahu istrimu hamil betulan!” sahut Lusi.


Kalun membuang nafasnya kasar sambil menatap tajam ke arah Doni. Dia lalu membawa Lusi masuk ke dalam kamar yang di tempati Aluna.


“Dia masih tidur?” tanya Lusi yang sebenarnya sudah tahu jawabannya. Kalun pun tidak menjawab pertanyaan Lusi.


“Hati-hatilah jangan sampai membangunkannya!” pesan Kalun saat Lusi mulai menggunakan stetoskop bersiap memeriksa Aluna.


“Bukannya kamu pernah sekolah kedokteran, harusnya kamu paham akan melakukan apa?”


“Berisik! Aku panik pikiranku tiba-tiba blank jika itu memyangkut tentangnya.” Kalun bergantian memaki Lusi.


“Wah, segitunya ya kamu mencintai istrimu! Hingga mampu membuatmu gila? Dan mengosongkan otakmu. Hahaha.”

__ADS_1


“Sudah kubilang jangan berisik! Kamu tidak melihat istriku sedang sakit?” geram Kalun memberi sambil memberikan peringatan kepada Lusi, karena suara keras Lusi yang menganggunya.


Lusi menutup mulut dengan tangannya, demi meredam suara tawanya. Dia lalu mulai memeriksa Aluna yang terbaring di ranjang, dia mengerutkan dahinya saat memeriksa bagian perut Aluna, lalu menatap Kalun dengan sebuah senyuman.


“Istrimu baik-baik saja, mungkin karena terlambat makan dia bisa seperti ini.”


“Tapi kenapa, dia bisa demam tinggi? Periksa lagi! siapa tahu kamu salah?” perintah Kalun yang tidak percaya hasil pemeriksaan Lusi.


Lusi membulatkan matanya ke arah Kalun, “Astaga Kalun!” Menatap Kalun yang menatap Aluna.


“Aku sudah bilang, dia baik-baik saja. Mungkin demamnya timbul karena asam lambung yang naik.”


Kalun terdiam, dia teringat jika Aluna punya asam lambung, dan dia tidak bisa terlambat makan.


“Syukurlah, jika dia tidak hamil. Aku takut jika akan terjadi apa-apa dengan rahimnya jika dia hamil,” kata Kalun yang tidak menyadari mata Aluna yang sudah sedikit terbuka.


“Ya, sebaiknya kalian tunda dulu, mengingat Luna pernah mengalami keguguran dan hanya memiliki satu indung telur, akan sangat beresiko jika kalian buru-buru mempunyai anak lagi, tundahlah dulu setidaknya dua bulan lagi!” jelas Lusi sambil menuliskan resep di kertas putih.


Lusi tersenyum smirk ke arah Kalun yang membelakanginya.


“Karena memang itulah yang harus kamu lakukan saat ini. Menundanya!” kata Lusi sambil menyerahkan kertas putih ke tangan Kalun. Matanya bertemu dangan mata Luna yang sudah duduk bersandar di kepala ranjang, Aluna menatap ke arah punggung Kalun yang membelakanginya.


“Hai Lun. Sudah bangun?” sapa Lusi saat melihat tatapan Aluna.


Aluna hanya diam menatap ke arah Kalun yang akan membalikkan tubuhnya, Kalun pun mendekati ranjang, duduk di tepi ranjang yang Aluna tempati, dia tidak menyadari tatapan mematikan dari mata Aluna.


“Apa yang kalian bicarakan?!”


“Apa Sayang, jangan teriak-teriak kamu sedang sakit! Istirahatlah, biar kamu cepat sembuh!” kata Kalun sambil membawa tubuh lemah Aluna untuk dia peluk, Aluna menahan tangan Kalun yang akan memelukknya. Dia tidak ingin Kalun memeluknya sebelum dia menjelaskan semuanya padanya.


“Keguguran! Satu indung telur. Apa maksudnya Kal, jelaskan padaku!”

__ADS_1


selidik Aluna.


Kalun tersenyum tipis ke arah Aluna yang tengah menatapnya tajam.


“Kamu nggak mau mengatakannya? Biarkan aku mencari jawabannya sendiri!” kata Aluna setelah hanya kediaman Kalun, dia menyibakkan selimutnya hendak menurunkan satu kakinya.


“Sembuhlah dulu, aku akan menceritakan semuanya kepadamu,” jelas Kalun sambil menahan lengan Aluna. Aluna mendongak menatap Kalun, dia tersenyum kecut ke arah Kalun.


“Ada dokter di sana, aku bisa cari tahu sendiri, jika kamu tidak mengatakannya sekarang!” kata Aluna sambil melepaskan tangan Kalun yang berada di lengannya.


Kalun hanya bisa menatap Aluna yang tengah berjalan tertatih mendekati Lusi, dia menggelengkan kepala ke arah Lusi, supaya Lusi tidak menceritakannya kepada Aluna.


“Dok, apa yang kalian sembunyikan dariku, ceritakan semuanya!” tanya Aluna menatap Lusi dengan mata berkaca-kaca.


“Maaf aku tidak bisa menceritakannya, biarkan suamimu yang memberitahukan kondisimu.” Lusi kembali menatap Kalun, yang sudah memperingatkannya dengan isyarat tangan.


“Dokter juga perempuan, kan? Pasti dokter tahu perasaanku. sekarang,” rayu Aluna menatap kea rah Lusi.


Lusi memejamkan matanya, dia tidak peduli lagi dengan peringatan Kalun yang berada di kasur, dia hanya peduli dengam kondisi pasien di depannya saat ini.


“Emm. Iya benar, kamu keguguran saat mengalami kecelakaan pada waktu itu, dan itu menyebabkan satu indung telurmu rusak, dan akhirnya kami melakukan pengangkatan satu indung telurmu,” jelas Lusi yang membuat Aluna kaki Aluna terasa lemas, dia menjatuhkan tubuhnya di atas lantai dingin itu, Aluna menekuk kedua lututnya, menyembunyikan wajahnya di antara sela-sela kakinya, ada air mata yang mengalir deras di sana. Tapi dia berusaha menyembunyikannya.


Lusi yang paham mensejajarkan tubuhnya dengan Aluna. Mencoba menenangkan Aluna. Lusi mengusap punggung Aluna dengan lembut, layaknya seorang sahabat yang memberikan ketenangan.


“Jangan berpikir kamu tidak bisa punya anak, masih ada satu indung telurmu yang masih bisa ditempati bayi lagi, bekerja keraslah, serahkan semuanya pada Allah. Jangan mudah putus asa,” kata Lusi menenangkan Aluna yang masih menyembunyikan wajahnya.


Kalun mulai mendekati Aluna, dia ikut berjongkok di belakang tubuh Aluna. Membawa Aluna ke dalam pelukannya. Menenangkan Aluna, dengan usapan lembut di rambutnya yang panjang.


“Percayalah, kita akan mendapatkan pengganti si utun,” kata Kalun.


“Ada lagi yang kamu sembunyikan dariku? Tolong katakan! Jangan membuatku seperti orang bodoh, karena aku tidak mengingat apapun saat ini!”

__ADS_1


JANGAN LUPA UNTUK LIKE DAN VOTE YA🤗


__ADS_2