Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Bertemu Ferdi


__ADS_3

Kalun berjalan menghampiri Ferdi yang tengah menyendiri di pojokkan taman rumahnya. Mata tajam Ferdi terlihat menjurus menatap ke arah Kalun. Dengan acuh dia membalikkan tubuhnya menatap ke arah berlawanan dari kedatangan Kalun.


“Kenapa kamu di sini?” tanya Kalun yang sudah berdiri di belakang tubuh Ferdi. Dengan perlahan Ferdi membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Kalun. Senyum mematikan ke arah Kalun, seperti musuh yang hendak membunuh lakon pemainnya.


“Membuat perhitungan denganmu, urusan kita belum selesai, bahkan aku baru akan memulainya,” ujar Ferdi menyuarakan sedikit senyumnya. Dia lalu mengikis jarak antara Kalun dengannya. Berjalan dengan langkah mantap menghampiri Kalun yang berada 5 meter darinya.


“Sudah cukup waktumu bersenang-senang. Sekarang! Serahkan apa yang seharusnya tidak menjadi milikmu!” lanjut Ferdi penuh penekanan.


Kalun berdehem kecil, sambil menatap ke arah para tamu yang terlihat jauh darinya, memastikan jika suaranya tidak akan di dengar dalam radius 20 meter.


“Apa yang kamu inginkan?” tanya Kalun yang sedikit memberi jarak dengan Ferdi. Terlihat Ferdi memikirkan pertanyaan Kalun sambil menggaruk pelipisnya.


“Lu-na.” Singkat Ferdi sambil memperhatikan perubahan wajah Kalun.


Kalun memejamkan matanya, setelah mendapatkan jawaban dari mulut Ferdi. Tapi dia mengabaikan permintaan Ferdi.


“Aku ingin nyawa kakakku kamu ganti dengan Luna! Bukan ganti! Harusnya kamu yang tahu diri, dia bukan milikmu, tidak sepantasnya kamu mengambilnya!” lanjut Ferdi menjelaskan maksudnya dari ucapannya. Tatapannya ke arah Kalun masih sama belum berubah sama sekali.


“Istriku bukan barang yang bisa berpindah pemilik dalam sekejap! Aku tidak akan menyerahkan Luna padamu!” tolak keras Kalun.


“Jika begitu bersiaplah untuk kehilangan semuanya, wanita. Harta. Dan pasti orang tuamu akan terkejut ketika mendapatimu melakukan pembunuhan,” terang Ferdi yang membuat Kalun terdiam tanpa menatap lelaki di depannya. Dia menelan salivanya, mencoba mencari cara untuk membela dirinya.


“AKU TIDAK MEMBUNUHNYA!” kata Kalun dengan sedikit berteriak, dia mencekal erat kerah kemeja Ferdi dengan kedua tangannya. Dirinya sudah tersulut emosi ketika mendapatkan tuduhan dari Fandi. Semua yang terjadi tidak ada unzur kesengajaan menurutnya.


“Aku punya buktinya! Huh, kamu yang sengaja menabraknya, dan bersiaplah! Jika kamu tidak ingin melepaskan Luna!” peringat Ferdi sekali lagi.


“Lagian ya, kamu menikahinya hanya karena kasihan kan? Bahkan kamu menjanjikan perceraian ketika tunanganmu pulang! Jadi untuk apa kamu bertahan sampai saat ini!”


“Brengsek!” Umpat Kalun seraya mengayunkan dengan keras kepalannya ke pipi Ferdi. Membuat sudut bibir Ferdi seketika mengeluarkan darah segarnya.

__ADS_1


Cekalan Kalun belum terlepas dari kerah kemeja Ferdi, dia masih menahan baju Ferdi, hampir ikut terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangannya. Sedangkan Ferdi hanya pasrah tidak membalas pukulan Kalun. Dia justru menggoda Kalun untuk kembali memukulnya.


“Aku memang menabraknya malam itu! Dan aku menikahi Luna karena rasa bersalahku! Itu semua untuk menggantikan kakakmu yang sudah pergi! Tapi asal kamu tahu, aku juga tidak menginginkan hal itu terjadi! Aku dulu juga menderita di awal pernikahanku! Rasa bersalahku lebih menyakitkan! Tapi sekarang aku mencintainya, aku tidak akan membiarkan siapapun merebutnya dariku!” jelas Kalun mengulangi pukulan kerasnya di wajah Ferdi, lalu mendorong tubuh Ferdi dengan keras, hingga lelaki itu jatuh ke dasaran rumput taman rumah Erik.


Ferdi tersenyum menang, meski merasakan sakit luar biasa di pipinya, apalagi saat melihat Aluna menangis dan berlari meninggalkan tempat di mana dirinya bertengkar dengan Kalun.


“Siapkan surat perceraiannya, karena aku yang akan melancarkan jalan kalian untuk berpisah!” kata Ferdi sambil bangkit dari posisi tidurnya saat ini.


“Aku nggak akan membiarkan itu terjadi!” sahut Kalun menatap tajam lagi ke arah Ferdi. Membuat Ferdi kembali tersenyum menang.


“Aku akan memberitahu Luna jika aku tidak sengaja menabrak Fandi malam itu,” kata Kalun demi menghindari hal yang diinginkan Ferdi.


Ferdi lalu menghadapkan Kalun ke arah Aluna yang berlari meninggalkan rumah orang tuanya, dengan baju kebaya yang masih melekat pas di tubuhnya, terlihat Aluna tengah melepaskan alas kakinya yang membuatnya susah untuk berlari.


“Percuma dia sudah lebih dulu mendengar obrolan kita tadi, dan kamu tahu kan, akan sebenci apa dia padamu! Ingatkan apa yang kamu katakan tadi padaku? Atau aku perlu mengulanginya supaya kamu ingat!” kata Ferdi yang belum berhenti mengoceh.


Kalun masih mematung di sana, dia masih bingung mencerna kejadian yang begitu cepat terjadi siang ini. Dia menatap ke arah mamanya yang tengah berbincang dengan rekannya, dia juga tidak bisa menyalahkan mamanya karena gagal menjaga Aluna.


Kalun menjambak rambutnya erat memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini dengan dirinya, sekilas bayangan Aluna yang akan pergi meninggalkannya terlintas, dia tidak ingin hal itu terjadi. Ia lalu meraih ponselnya, mencoba menghubungi Aluna, siapa tahu istrinya akan menjawab panggilannya. Tapi nihil Aluna tidak mengangkat panggilannya. Kalun semakin kacau, dia berlari mengejar Aluna, kakinya berlari cepat ke arah luar rumah besar orang tuanya, menanyakan pada penjaga rumah yang mengenali Aluna ketika dia sudah berada di depan pagar rumah.


“Mbak Luna sudah pergi Mas, tadi naik ojek,” kata penjaga yang berdiri di depan pagar, yang mengerti kegelisahan Kalun. Membuat Kalun semakin frustasi memikirkannya. Dia lalu berjalan kembali ke arah rumah, untuk mengambil kunci mobil yang ada di dalam kamar. Mengabaikan sapaan orang yang menanyakan tentang kondisinya yang terlihat kacau.


Saat ia memasuki kamar, Kalun melihat ponsel Aluna yang tergeletak di atas ranjang. Dia baru ingat jika dia yang meminta Aluna untuk meninggalkan ponselnya di sana.


“Harusnya aku lebih dulu memberitahumu masalah itu, bukan kamu mendengarnya dengan cara seperti ini. Maafkan aku!” kata Kalun saat menatap foto wallpaper yang ada di ponsel Aluna. Ia lalu membawa ponsel Aluna, menyimpan ponsel Aluna di saku jas yang masih ia kenakan, dia ingin mencari di mana Aluna berada, siapa tahu dengan seperti ini, Aluna mau mendengarkan semua penjelasannya.


Kalun menelusuri jalanan menuju apartemen, mungkin dengan begini dia akan menemukan Aluna, di sepanjang jalanan menuju apartemen, sudah 6 kali dia berhenti di pinggir jalan untuk membeli minuman, matanya terus berkeliling mencari keberadaan Aluna, tapi dia tidak bisa menemukan Aluna. Dia bingung mau mencari Aluna di mana lagi, karena hari sudah mulai senja, Kalun memutuskan untuk kembali ke apartemennya, menunggu Aluna di sana, berharap Aluna menunggunya pulang sambil menyaksikan film kartun kesukaannya. Pikiran Kalun melayang ke arah sana. tidak mempedulikan sikap marah Aluna ketika mendengar semuanya.


Saat berjalan menuju lantai apartemen, Kalun mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Aluna. Dia sempat ragu ketika menekan password pintu apartemen. Dia takut Aluna berada di dalam memasang wajah marah padanya, tapi dia juga berharap jika Aluna berada di dalam apartemen ketika dia datang. Dia galau saat ini, memikirkan keberadaan Aluna.

__ADS_1


Kalun mendorong pintu apartemen, matanya memindai ruangan apartemennya, tidak melihat kehidupan di sana, lampu belum ada yang dinyalakan sama sekali, hanya dentingan suara jam tua yang terdengar, yang menunjukkan pukul 7 malam. Kalun memejamkan matanya, sambil berjalan gontai ke arah sofa depan tv. Menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, sambil mencari posisi ternyamannya saat ini. Terus menyesali dirinya karena dia tidak segera mengatakan semuanya lebih dulu pada Aluna.


Kalun mengambil ponsel milik Aluna, dia membuka kunci pengaman yang sudah dia ketahui passwordnya, tangannya mencari nama-nama sahabat Aluna. Matanya menemukan nama Renata yang tertulis jelas di sana. Satu-satunya sahabat yang selalu tahu kondisi Aluna. Dia lalu menekan tombol hijau ponsel Aluna. Tapi yang ada panggilan Kalun tidak segera di angkat oleh pemilik ponsel, dia yang putus asa, hanya bisa memijat pelipisnya, berpikir keras lagi untuk mencari keberadaan Aluna saat ini.


Pikirannya terpikir jika Aluna mendatangi Samuel malam ini, karena hanya mereka berdua yang selalu tahu tentang keberadaan Aluna selama ini.


Samuel yang menjawab panggilan Kalun, justru menanyai ada apa sebenarnya dengan mereka berdua. Kalun langsung mematikan ponselnya, tidak ingin menjawab pertanyaan Samuel. Cukup tahu jika Aluna saat ini tidak bersama Samuel saja sudah cukup membuatnya lega.


Kalun yang merasa lelah, mencoba untuk memejamkan matanya lagi, tapi pikirannya tidak tenang memikirkan di mana keberadaan Aluna saat ini. Saat kesadarannya hampir hilang, dia mendengar suara pintu apartemen terbuka, dia langsung terduduk dari posisi tidurnya, menatap ke arah pintu apartemen, menangkap tubuh Aluna dengan kondisi yang tidak baik, sambil berjalan masuk ke dalam apartemen.


Kalun menghampirinya, mencoba memeluk tubuh Aluna, meluapkan rasa khawatirnya seharian tadi.


“Jangan pergi ku mohon!” kata Kalun saat memeluk tubuh Aluna yang diam membatu di depannya. Terlihat mata Aluna yang sembab selesai menangis.


Kalun melepaskan pelukannya, menatap wajah Aluna, “Aku sedih kamu seperti ini!” kata Kalun saat melihat wajah Aluna yang terlihat lelah.


“Apa kamu menangisinya? Apa kau tidak melihat aku di sini!” tanya Kalun.


“Aku menangisinya. Aku menyesali kelakuanku karena sudah menikah dengan lelaki yang sudah membunuhnya!” kata Aluna pelan yang kembali mengeluarkan air matanya.


Kalun membantu mengusap air matanya. “Please jangan seperti ini, aku mencintaimu! Aku tidak ingin melihatmu bersedih lagi!” kata Kalun lembut, dia kebingungan melihat wanita yang dicintainya seperti ini, dia memperhatikan Aluna yang menatap kosong ke arah layar televisi.


“Aku ingin mendengarmu menceritakan semuanya!” perintah Aluna yang menginginkan Kalun berkata jujur, tentang semua kejadian yang menimpa Fandi malam itu.


“Duduklah aku akan meceritakan semuanya padamu!” perintah Kalun yang membawa Aluna duduk di sofa.


💞


Jangan lupa like dan vote. 💪🙏

__ADS_1


__ADS_2