
Tiga bulan sudah berlalu, aktivitas Aluna kini sudah normal kembali pasca kecelakaan yang menimpanya beberapa bulan yang lalu.
Sudah seminggu Aluna kembali bekerja lagi di tempat Kalun, beruntungnya tidak ada yang curiga jika dia mempunyai hubungan khusus dengan pimpinan perusahaan.
Proyek Emero Group kini sudah proses pembangunan, Aluna juga sudah menyerahkan ke bagian lapangan, karena Kalun tidak mengizinkannya, untuk terjun langsung ke lapangan, mengingat Aluna yang baru saja pulih dari cederanya.
Hubungannya dengan Kalun, sudah tidak sekaku dulu, setiap malam mereka selalu tidur terpisah, karena Aluna merasa tidak nyaman ketika tidur harus ditatap Kalun. Hanya sesekali saja mereka tidur bersama, dengan tetap mengutamakan protokol keamanan.
Waktu istirahat tiba, Aluna masih berada di depan layar komputernya, dia harus segera menyelesaikan tugasnya kali ini, karena sudah tanggal deadline, saat dia kembali masuk bekerja David kembali mempercayainya untuk membantu mengurus proyek JK Group.
Ponsel di mejanya berdering, Aluna melirik sebentar ke arah ponsel itu. Suaminya menelepon, dia sudah hapal, pasti Kalun memintanya untuk datang ke hotel depan perusahaan, yang juga termasuk hotel miliknya.
Setelah ponsel mati, Aluna pun mendengar suara pesan masuk.
Datang sekarang! Atau aku akan menjemputmu!
Pesan itu dibaca langsung oleh Aluna. Dia langsung bergegas keluar ruangan untuk menyusul suaminya yang sudah berada di kamar 205.
Aluna mendorong pintu kasar, saat tiba di ruangan. Ruangan yang cukup besar, dengan warna yang menenangkan. Dia langsung duduk di kursi yang sudah ditarik Kalun untuknya. Kalun sudah melepas jasnya, saat ini dia hanya mengenakan kemeja dan vast yang melekat pas di tubuhnya.
Mata Aluna bebinar melihat nasi merah dan pecel bumbu kacang di depannya.
“Aa' tahu nggak, makanan ini selalu mengingatkan aku dengan kampung halaman, saat weekend papa selalu mengajakku jalan-jalan, dan dia selalu mengajakku mampir ke warung nasi pecel, jadi kangen papa,” ucap Aluna yang diakhiri senyuman tipis.
Kalun hanya diam, sambil mencerna ucapan Aluna dan mengamati Aluna yang tengah menikmati makanannya. Kalun berdiri mengambilkan tisu untuk Aluna yang berada di samping ranjangnya.
“Sini aku bersihkan! Atau mau aku bersihkan dengan bibirku?” tanya Kalun penuh binar ke arah Aluna.
Aluna cemberut ketika mendengar ucapan Kalun. Dia lalu menyambar tisu yang Kalun sodorkan ke arahnya.
“Sini kurang bersih, masih ada bekas sambal,” ucap Kalun sambil mendekat ke tempat duduk Aluna. Kalun pun mengusap dengan jari jempolnya bekas sambal, yang masih tertinggal di sudut bibir Aluna.
“Jika kamu suka, aku akan menyiapakan nasi pecel setiap hari,” ucap Kalun yang sudah kembali ke kursinya.
Setelah makan siang selesai, Kalun meminta Aluna untuk beristirahat lebih dulu, karena di luar tengah hujan deras.
“Aku masih ada kerjaan A' dan aku harus menyelesaikannya,” bantah Aluna ketika menerima paksaan Kalun.
“Apa kamu lupa jika aku bosmu?”
Aluna pun diam lalu merebahkan tubuhnya di ranjang yang tidak terlalu besar. Dia memainkan ponselnya sambil membalas chat dari sahabatnya.
Kalun menutup horden, supaya ruangan itu tidak terlalu silau terkena cahaya siang hari.
“Tidurlah, aku akan membangunkanmu jika hujan sudah reda,” perintah Kalun sambil menyelimuti tubuh Aluna dengan selimut karena dia takut tergoda karena Aluna mengenakan rok yang sedikit ketat.
“Aa' nggak tidur?”
__ADS_1
“Memangnya kamu mau aku tidur di sampingmu?” tanya balik Kalun, membuat Aluna mengangguk pelan.
“Tapi jangan salahkan aku jika aku meminta hakku sekarang, apalagi ini hujan deras,” ucap Kalun sambil melepas sepatunya, dia pun merebahkan tubuhnya di samping Aluna.
“Kita sudah sering melakukannya, tapi kita tidak pernah sampai finish, jadi nggak mungkin kamu akan melakukan lebih, karena aku tahu hati Aa' hanya untuk Kayra.” Aluna berucap sambil memunggungi tubuh Kalun.
Tanpa dia duga Kalun mengalungkan tangannya ke pinggang Aluna, lalu memeluk erat tubuh Aluna dari belakang.
“Tapi aku ragu,” gumam Kalun. Aluna pun mencoba melepas pelukkan Kalun, lalu menghadap ke arah tubuh Kalun yang tengah menatapnya.
“Aku sekarang lebih nyaman denganmu, tapi aku belum tahu, apakah aku mencintaimu atau tidak?” jelas Kalun yang membuat Aluna terkekeh.
Aluna menoleh ke arah jendela yang sedikit tidak tertutup horden.
“Hujan sudah reda, aku akan kembali bekerja,” pamit Aluna yang sudah duduk di tepi ranjang.
“O ya, hari ini aku pulang terlambat karena harus menyelesaikan pekerjaanku dulu,” lanjut Aluna yang sudah akan meninggalkan Kalun.
“Ya, aku juga akan mengontrol sendiri proyek Emero Group. Sampai ketemu di rumah istri simpananku,” balas Kalun yang dijawab senyuman oleh Aluna. Dia tidak merasa keberatan dengan sebutan itu, karena memang itu status dia saat ini.
Aluna segera pergi meninggalkan kamar 205 menuju gedung kantor EL Group. Dia melirik sekilas pada lelaki yang menatap dirinya lekat ketika berada di lift.
Aluna segera keluar ketika pintu lift terbuka, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya supaya pulangnya tidak terlalu larut malam.
“Lun, aku pulang dulu ya, jangan lupa di kunci nanti pintunya!” pesan David saat hendak meninggalkan ruangan, orang terakhir yang menemani Aluna berkerja lembur hari ini.
“Oke Pak,” jawab singkat Aluna sambil melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 7 malam.
Beberapa menit kemudian Aluna mengehela nafas lega, karena pekerjaanya sudah selesai, dia segera mengemasi barang-barangnya dan bergegas pulang. Dia melirik ke arah jendela yang terlihat hujan mulai turun lagi, dia mengeluarkan nafas lelahnya sambil kembali menyandarkan tubuhnya di kursi.
Setelah berpikir lama akhirnya Aluna berniat menunggu di lobby, Aluna segera keluar dari ruang kerjanya, setelah mengunci pintu ruangan, Aluna tersentak ketika melihat lelaki yang langsung mengukung tubuhnya.
“Siapa kamu?” tanya Aluna kasar.
Lelaki itu, hanya memindai penampilan Aluna yang memang hari ini berpakaian ketat. Lelaki itu hanya menampilkan tatapan mesum ke arah Aluna.
“Apa perlu aku berkenalan lagi denganmu?” tanya lelaki itu sambil mendekatkan wajahnya ke arah Aluna.
“Jangan mendekat!” teriak Aluna. Membuat lelaki itu semakin mengeluarkan tawa menangnya.
“Lepaskan aku!”
“Jangan jual mahal, bukankah kamu sering ditawar saat bernyanyi di resto itu,” ucap lelaki itu, sambil berusaha membuka blazer Aluna.
“Brengsek!” maki Aluna sambil menampar pipi lelaki di depannya dengan keras, hingga suaranya bisa terdengar memenuhi ruangan.
“Wanita j*lang!” bentak lelaki itu sambil membalas menampar Aluna, hingga membekas guratan jari di pipi Aluna.
__ADS_1
Aluna meringis saat merasakan panas di pipinya. Dia berusaha mencari cara untuk segera keluar dari ruangannya. Namun, dengan sigap lelaki itu berhasil menahan pinggang Aluna.
“Tolong biarkan aku pergi! Atau kamu akan dikeluarkan dari perusahaan!”
“Hahaha, tidak akan ada yang mengetahuinya Sayang, karena aku sudah menutup cctv di sini!” jelas lelaki berwajah arab itu.
“Toloong!” teriak Aluna meminta bantuan. Namun, tangan Zaki segera membungkam mulutnya. Dan membawa Aluna kembali masuk ke ruang kerjanya.
“Percuma tidak akan ada orang yang bisa mendengarmu, kita nikmati saja malam ini.” Zaki berucap sambil mencoba merebahkan tubuh Aluna. Aluna berontak mencoba menendang tubuh Zaki, dengan kedua kakinya. Tapi Zaki berhasil menghindari tendangan Kaki Aluna.
Aluna hanya bisa mendengar dering ponselnya yang ada di dalam tas yang terjatuh di depan ruangan.
“Apa pelangganmu yang menelepon?” tanya Zaki yang masih menahan tubuh Aluna dengan tangannya.
“Lepaskan!” teriak Aluna saat cekalan Zaki semakin erat.
“Jangan menolakku, aku akan membuatmu kelelahan malam ini, aku yakin bagian bawahmu sudah basah sekarang,” ucap Zaki yang mulai menaikkan rok span Aluna. Karena mendapat sedikit celah Aluna berusaha menendang tubuh Zaki, hingga laki-laki itu terjungkal ke lantai.
“Hohohow, jadi kamu ingin bermain kasar!” ucapnya sambil menatap tajam ke arah Aluna. Dia mulai mengejar Aluna, saat rasa sakit yang dia dapatkan sedikit mereda.
Terlihat Aluna sudah berada di depan pintu lift, menunggu pintu lift itu terbuka, dia meremas jemarinya, meredakan rasa takut yang saat ini menyerangnya. Sialnya sebelum pintu lift terbuka, Aluna lebih dulu ditangkap Zaki.
Jika kamu melawan orang yang lebih kuat darimu, cari benda yang besar lemparkan ke kepalanya. Seketika Aluna teringat dengan ucapan papanya.
Aluna berusaha berlari mencari benda yang bisa melukai Zaki. Namun, percuma karena dia sudah lelah, tenaganya sudah habis untuk bekerja seharian. Hingga dia tertangkap lagi oleh Zaki.
Baju Aluna sudah tidak terlihat rapi lagi, bahkan belahan blazernya yang ada di pinggang kini sudah robek hingga di ketiaknya karena tarikan dari Zaki.
“Toloong!” teriak Aluna meminta tolong dengan suara tangisan yang keras.
“Jangan lakukan itu!” Aluna menggelengkan kepalanya, ketika Zaki mengulurka tangan ya untuk membuka kancing blazer Aluna.
“Aku masih suci, jangan lakukan itu?”
Zaki hanya tertawa keras ketika mendengar ucapan Aluna, dia mengusap lembut pipi Aluna yang putih itu. Zaki tertawa menang setelah menunggu beberapa bulan, akhirnya dia benar-benar akan mencicipi tubuh Aluna.
Zaki melepaskan blazer Aluna dengan kasar. Membuat tangis Aluna semakin pecah, tangannya terulur untuk mengikat kedua tangan Aluna dengan sabuk yang dia kenakan.
“Jha-ngan, ku mohon!”
Aluna hanya bisa pasrah, karena seluruh karyawan terlihat sudah pulang semua, hanya ada penjaga yang berada di depan gedung. Dia hanya bisa memohon agar Zaki segera menghentikan tindakan bejatnya saat ini.
👣
🎶 Karna ku Selow ... sungguh selow ... sangat selow 🎶
Jangan tegang ya, nanti dilanjut kok, harap jangan naik pitam!
__ADS_1
• Bisa jadi hilangnya sama Zaki, bisa jadi juga hilangnya sama Kalun. Kalian pilih mana silahkan berkomentar? Free.
Jangan lupa lupa juga untuk like dan vote.🙏