
Malam hari di apartemen Kalun, Aluna terlihat
tengah membersihkan tubuhnya di kamar mandi, dia tengah bersiap untuk melayani suaminya, setelah dia akan pergi beristirahat.
Aluna masih menunggu Kalun yang tengah berada di dalam ruang kerjanya. Dia masih saja terjaga, padahal malam sudah larut, air mukanya sudah berubah menjadi cemberut, saat melihat Kalun tidak kunjung memasuki kamar utama. Suaminya itu tidak tahu jika dia menyiapkan malam special untuknya.
Lilin yang menyala sudah hampir habis
dimakan si jago merah, tapi sepertinya percuma Aluna menunggu suaminya
untuk masuk ke kamar. Matanya sudah tidak kuat lagi untuk menunggu suaminya. Perlahan dia mulai terlelap karena kantuk yang datang semakin tidak bisa dia tahan.
Sedangkan Kalun, masih duduk di kursi
kerjanya, dia menatap jendela yang menampilkan kota Jakarta pada malam hari,
dia masih belum ingin menyentuh istrinya, sebelum dia berbicara jujur dengan Aluna.
Dia sebenarnya tahu jika Aluna tengah menyiapkan malam special untuknya, dia
masih ingat dengan janjinya, saat dulu berbulan madu. Tapi dia merasa tidak pantas untuk menyentuh tubuh Aluna, dia takut jika Aluna akan jijik dengannya.
Kalun melirik ke arah jam yang ada di
meja kerjanya. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Dia berharap ketika masuk ke dalam kamar, Aluna sudah terlelap di atas bantalnya.
Kalun segera meninggalkan ruang kerjanya, saat dia memasuki kamar dia menghela nafas lega, istrinya benar-benar terlelap di sana, dengan pakaian bewarna merah yang memperlihatkan belahan dadanya. Kalun menarik selimut untuk menutupi tubuh Aluna, lalu mengecup sebentar kening Aluna.
“Maafkan aku! selamat malam Sayang,”
ucapnya lirih setelah mendaratkan kecupan singkat di bibir Aluna. Aluna yang merasakan itu hanya bisa tersenyum tipis, dengan mata yang masih tertutup rapat.
__ADS_1
“Aku merindukanmu, jangan menghindariku lagi!” ucap Aluna di bawah alam sadarnya. Kalun yang mendengar itu mengusap dahi Aluna, memastikan jika istrinya itu tengah tertidur nyenyak di sana.
“Aku juga merindukanmu, tapi aku
merasa tidak pantas untuk mendekatimu Sayang, maafkan aku!” ucap Kalun sambil
menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjangnya. Dia memejamkan matanya, kali ini
dia harus berbicara dengan Aluna dia tidak ingin menghindar lagi dari rasa bersalah yang dia rasakan saat ini.
Tangannya terulur, menyentuh lengan Aluna.
Dia membangunkan Aluna dengan sedikit menggoyangkan tubuhnya. Aluna yang merasa terganggu mengerjapkan matanya, dia membuka matanya pelan menatap ke arah Kalun yang tengah risau, bahkan dia bisa dengan jelas, melihat kegelisahan yang ada di wajah Kalun.
Aluna menampilkan senyum tipisnya ke arah Kalun, matanya yang mengantuk itu, berusaha dibuka paksa olehnya. Hingga
dia yang tidak kuat langsung menjatuhkan kepalanya ke pundak Kalun.
“Apaan sih A’ ngantuk nih, tadi aku nungguin kamu, kamunya malah asyik dengan berkas-berkas itu, cari uang itu memang perlu, tapi jika sedang di rumah, cobalah untuk meninggalkan pekerjaanmu, beri waktu untuk berdua bersamaku. Sudah di kantor harus backstreet di rumah juga harus kucing-kucingan,” gerutu Aluna yang masih memejamkan matanya.
jemarinya ke tangan kiri Aluna, dia
mengenggam erat tangan Aluna, menyalurkan rasa khawatir yang tengah dia rasakan.
“Lun, aku ingin bicara serius denganmu,” ucap Kalun yang ingin segera menyelesaikan masalahnya sekarang juga. Dia berusaha membuat Aluna tersadar dari tidurnya. Kalun mengambilkan minuman untuk Aluna, supaya istrinya itu benar-benar terbangun.
“sepenting inikah, hingga kamu membangunkan tidurku?” tanya Aluna penuh selidik, sambil merapikan gaun tidurnya yang sedikit berantakan.
“Dengarkan aku, jangan kamu potong ucapanku, aku akan menerima semua keputusanmu, apapun itu. Tapi kamu harus tahu, jika aku sungguh-sungguh mencintaimu. Aku tidak pernah bohong soal perasaanku!”
Aluna yang mendengar itu menatap serius ke arah suaminya. Dia menyiapkan telinganya, supaya Kalun tidak mengulangi ucapannya nanti, dia lalu mengangguk meminta Kalun untuk segera mengucapkan apa yang ingin dia katakan.
__ADS_1
Kalun menatap mata Aluna dalam, begitu juga dengan Aluna yang sudah sepenuhnya sadar, dia juga membalas tatapan Kalun.
“Aku bersalah padamu Lun. Aku minta maaf. Maafkan aku, karena aku sudah tidur dengan Kayra!”
Aluna yang mendengar ucapan Kalun langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain, dia tidak ingin Kalun melihat kesedihannya, dia bisa mendengar dengan jelas ucapan Kalun, jadi dia tidak perlu meminta Kalun untuk mengulangi ucapannya tadi. Dadanya terasa dihantam
batu besar, hingga membuatnya kesulitan untuk bernafas, dia mencoba menahan air
matanya yang sebentar lagi mungkin bisa saja menuruni pipinya.
“Maafkan aku Lun, saat itu aku terpengaruh alkohol, jadi aku tidak sadar saat melakukannya, aku berpikir dia adalah kamu. Kamu yang saat itu aku rindukan, dan aku khilaf, aku melakukan hubungan itu dengannya,” jelas Kalun lagi. Membuat air mata Aluna turun dengan deras, karena dia tidak kuat lagi untuk menahannya.
Aluna menarik jemarinya yang terikat dengan jemari Kalun dengan kasar, membuat Kalun berpindah memeluk pinggang Aluna.
“Please, maafkan aku Lun, aku memang salah, jangan tinggalkan aku,” mohon Kalun dengan sungguh-sungguh. Dia terus mengeratkan pelukkannya di pinggang Aluna. Sedangkan Aluna masih menatap ke arah jendela kamar apartemen yang tidak jauh darinya, hatinya semakin perih saat mengingat ucapan Kalun beberapa minggu yang lalu, ketika akan mengumumkannya jika dia adalah istrinya setelah pulang dari London.
Aluna menguatkan hatinya, supaya tidak semakin sakit lagi, dia berusaha mengingat keburukkan Kalun padanya, supaya dia semakin mudah untuk membenci Kalun.
“Nggak perlu minta maaf Kal. Aku sadar aku yang salah! Harusnya Fandi tidak membebanimu dengan memintamu menikahiku, jadi kamu masih bisa dengan Kayra saat ini, aku yang salah di sini, aku yang hadir di antara kalian, jangan merasa bersalah seperti itu, biar aku yang pergi. Maafkan aku, sudah membuatmu merasa bimbang saat itu.” Aluna mengucapkan itu dengan air mata berlinang, dia berusaha keras melepaskan pelukkan Kalun, hingga membuatnya benar-benar terlepas dari pelukkan suaminya.
Aluna meninggalkan Kalun yang tengah menatap dengan nanar. Bibir Kalun terus meneriaki namanya. Tapi yang ada dia terus berusaha untuk tidak menoleh ke arah Kalun. Aluna melanjutkan tangisnya di dalam kamar yang biasa dia tempati, dia merasa benar-benar menjadi manusia terbodoh saat ini, dia menatap lagi pakaian yang saat ini dia kenakan, dia merutuki kebodohannya yang berusaha menggoda Kalun beberapa jam yang lalu, dia merobek pakaian yang dia kenakan, lalu mengganti baju yang biasa dia pakai, dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri saat ini.
Aluna menjatuhkan tubuhnya dilantai, dia
bersandar pada pinggiran kasurnya, dia menunduk di sana, menyembunyikan wajahnya di kaki yang sudah dia tekuk, tangisnya tidak bisa bersuara, tapi air matanya masih deras membasahi pipinya, dia mengabaikan gedoran pintu yang sudah dia kunci. hatinya merasa dipermainkan oleh suaminya. Suami yang tidak benar-benar mencintainya. Dia merasa bodoh, benar bodoh saat ini, mencintai tunangan orang yang harusnya tidak dia cintai. Aluna berpikir dia bisa menemukan pengganti Fandi, lelaki yang akan terus melindunginya, tapi yang ada dia justru membuatnya terluka lagi, luka yang lebih sakit dari yang Fandi berikan.
Hingga pagi tiba, Aluna belum juga memejamkan matanya, matanya masih terlihat bengkak saat ini. Dan hari ini, dia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor, karena pasti akan mendapatkan ejekkan dari rekannya. Bukan hanya ejekkan yang dia takutkan, tapi dia bingung harus menjawab apa nantinya jika rekannya itu menanyakan keadaanya yang sekarang terlihat buruk.
Aluna masih ingin berada di dalam kamarnya, dia tidak ingin menatap wajah Kalun saat ini, dia ingin menghindar darinya, meski dia sadar, dialah yang menjadi orang ketiga di antara
mereka, tapi dia cukup sakit hati dengan perlakuan Kalun saat ini. Dia menganggap ucapan Kalun saat bulan madu kemarin, tidak pernah dia dengar, dia akan bertahan sampai Kalun akan menceraikannya, bertahan hingga waktu itu tiba, waktu di mana sang tunangan akan mengambilnya, dia akan berusaha keras menyiapkan hatinya untuk menerima kenyataan itu semua, karena Kalun bukan untuknya, cinta Kalun untuk Kayra bukan untuk Aluna.
__ADS_1
👣
Minta dukungannya jangan lupa untuk like dan vote serta bintang 5 ya, terima kasih🙏👍