
“Kamu nggak mau resain saja dari kantor?” lanjutnya yang membuat Aluna menghentikan kegiatan tangannya, dia lalu menatap ke arah Kalun, yang kini sudah berada di sisi kanannya.
Aluna mematikan kompornya. Seringai tipis muncul dari bibir tipis miliknya.
“Nanti kalau aku punya anak!” terangnya sambil memindahkan omeletnya ke atas piring. Kalun menautkan kedua alisnya, senyum tipis ia tampilkan di depan Aluna, berlainan dengan kekhawatiran yang tengah dia rasakan.
“Benarkah kamu mau melahirkan anak untukku?” tanya Kalun memastikan, sambil mengusap perut Aluna.
Aluna segera menepis tangan Kalun, karena merasa geli karena sentuhan tangan suaminya.
“Apa lagi? ketika dua orang saling mencintai, mereka pasti akan mencari hasil dari cinta mereka. Buah hati!”
Kalun berpikir sejenak, pikirannya terbayang dengan ucapan Lusi, tentang Aluna yang hanya mempunyai satu indung telur.
Bukan tidak bisa, tapi akan sulit untuk mendapatkannya.
Ucapan itu semenit terus berlarian di otaknya, dia khawatir Aluna akan kecewa jika mengetahuinya. Menurutnya, penting juga untuk punya keturunan, tapi dia lebih menginginkan Aluna terus bersamanya, menemaninya, hingga nanti ketika malaikat pencabut nyawa datang untuk menjemputnya.
“Baiklah, kita akan berusaha keras! Apa kita perlu mengadakan bulan madu lagi?” terangnya sambil melepas celemek yang ada di tubuh Aluna. Dia lalu menuntun Aluna menuju meja makan.
“Nggak perlu! Aku harus bekerja, aku tidak tahu bagaimana nanti mengatakan pada David, karena libur panjangku selama ini. Padahal kamu tahu sendiri aku sedang masa percobaan.”
“Hei. Kamu sudah bekerja 8 bulan di kantor EL Group, kalau kamu lupa itu!” peringat Kalun, sambil mencocolkan omeletnya ke dalam saus. Dengan jahil dia menyuapkan ke depan mulut Aluna.
Aluna menyesali perbuatannya karena menurut dan membuka mulutnya lebar, kerena detik berikutnya omelet itu sudah berada di dalam mulut Kalun. Dia hanya mampu menggelengkan kepalanya, mengrutuki kebodohannya. Dia juga lapar, kenapa suaminya dengan iseng menggodanya.
Aluna menyambar garpu yang ada di tangan Kalun, dia memotong potongan omeletnya dengan bentuk besar. Memasukkan ke dalam mulutnya, tidak ingin menawari Kalun. Mulut Aluna kini sudah penuh omelet, sausnya pun tidak sengaja menjatuhi kemeja Kalun yang berwarna navy yang dia kenakan. Jangan di lihat bibir Aluna yang sudah tercecer saus bewarna coklat, ingin sekali Kalun membantu membersihkan bibir Aluna dengan bibirnya, tapi dia segera mengurungkan niatnya, setelah melihat di pojokkan dapur, dua pasang mata tengah memperhatikannya.
Kalun lalu mengambil tisu di depannya, dengan lembut mengusap bibir Aluna yang terkena saus.
Sepasang mata elang Kalun bertemu dengan mata Aluna. tubuh Aluna membatu, dia tidak mampu lagi untuk melanjutkan kunyahannya, mata suaminya seperti menghipnotis pergerakan tubuhnya. Nafasnya yang sesak membuat dia tersedak dengan makanan yang ada di dalam mulutnya saat ini. Aluna terbatuk-batuk. Membuat Kalun gelagapan mencari penawarnya. Dia segera mengambilkan air dingin yang sudah bercampur air panas, lalu kembali ke meja makan, memberikan pada istrinya.
“Kenapa? Terhipnotis dengan ketampananku ya? Baru sadar jika karisma suamimu ini di atas rata-rata?” ucap Kalun dengan senyum menggoda, setelah melihat Aluna mulai bisa mengatur nafasnya dengan baik.
“Nggak! Sudah sering aku melihat lelaki tampan, bahkan setiap hari!”
“Coba sebutkan siapa yang lebih tampan dariku! Nggak akan bisa kamu mengatakannya!”
“Ada!” jawab Aluna dengan membulatkan matanya.
“Siapa?”
“Pon Nawash!” jawabnya singkat.
__ADS_1
“Siapa itu? Kok aku nggak tahu? Selingkuhanmu? Atau mantan pacarmu? Masa iya? Mantan pacarmu lebih tampan dariku? Nggak mungkin, kan?”
“Cari sana, di situs nenek moyang!”
Kalun menggaruk kepalanya dengan jari telunjuk, merasa tidak paham dengan ucapan istrinya. Dia ingin memperjelas lagi siapa itu Pon Nawash, tapi sayangnya istrinya itu sudah pergi dari pandangannya.
“Oke, akan aku cari nanti!” lirihnya lalu beranjak dari meja makan.
“Yang aku ke ruangan papa ya, kamu istirahat saja ke kamar! Jangan cuci piring, di sini banyak pelayan yang akan mengerjakannya!” teriak Kalun yang melihat Aluna masih berada di dapur.
Kalun berjalan menghampiri ruangan papanya, menemui dirinya versi tua. Dia lalu duduk di depan papanya yang tengah menuliskan sesuatu di atas kertas bewarna putih. Sepertinya papanya itu tidak menyadari jika dia tengah tiba di sana.
Haruskah aku mengulanginya lagi? mengetuk pintu sambil mengucapkan salam, sepertinya ketulian papa naik level? Batin Kalun karena Erik tidak segera menyadari kedatangannya.
“Heemm sudah datang kamu? Kenapa papa tidak mendengar langkah kakimu?”
Nah, kan, benar! pasti ini! Levelnya benar-benar naik! Tingkat dpr. Batin Kalun membenarkan ucapan hatinya tadi.
“Dari tadi.”
“Sungguh?” tanya Erik memastikan.
“Iya, kenapa Papa memanggilku?” tanya Kalun yang langsung ke pokok intinya.
“Tebus ini!”
“Apa ini pa?” tanya Kalun yang melihat tinta hitam seperti tulisan resep dokter.
“Vitamin buat Luna, usahakan jangan sampai hamil dulu, hingga 3 bulan ke depan.” Terang Erik, menghentikan ucapannya sejenak mengamati ekspresi Kalun, “Tahukan maksudnya?”
“Pakai pengaman, pil kontrasepsi?” tanya Kalun.
Erik menyandarkan kepalanya di sandaran kursi besarnya, dia menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tidak gatal.
“Lebih aman pengaman!” jawabnya setelah menghembuskan nafas kesalnya.
Dia merasa canggung sendiri, ketika menjelaskan pada anak lelakinya itu.
“Papa yakin?”
“Seragu itukah kamu dengan cetakanmu ini, kamu loh dari hasil karyaku? Masih juga meragukan kemampuanku, kamu tahu, dari siapa gen kamu dibuat?”
Kalun yang sedari tadi menahan dagunya dengan tangan kiri, mulai memainkan jemarinya, mengetuk-ngetukkan ke pipi putihnya. Bibirnya sedikit terangkat, matanya mengamati lekat wajah keriput lelaki di depannya.
__ADS_1
“Baiklah, akan aku ambil nanti obatnya,” ucapnya singkat.
“Dan itu ada Ovutest, kamu tahu kan, apa kegunaanya?”
“Untuk apa Ovutest?”
“Kamu baca saja nanti petunjuknya!” jelas Erik yang tidak mau berbicara panjang lebar dengan anaknya, membiarkan anaknya itu belajar pintar sendiri.
Kalun lalu beranjak dari duduknya, hendak meninggalkan papanya.
“Mau kemana kamu?”
“Ada lagi?” tanya Kalun dengan bingung.
“Urus kantor!” kata Erik dengan kasar.
“Padahal sudah lega aku tidak mengurusnya lagi, tapi ya sudahlah, memang sudah takdirku untuk menjadi CEO tampan!” jawab Kalun yang dibumbui candaan.
Erik pun menimpali Kalun dengan buku tebal di depannya.
“Jangan lakukan kesalahan! Karena mungkin aku sudah tidak bisa membantunmu lagi!” jelas Erik menatap ke arah Kalun.
“Oke, Tuan Besar!” Kalun lalu berjalan meninggalkan ruangan Erik. Namun, sebelum dia meraih gagang pintu dia menoleh ke arah Erik.
“O ya pa, aku akan pulang ke apartemen nanti sore,” ucap Kalun sebelum dia benar-benar keluar dari ruangan Erik.
“Dasar anak nakal! Aku tahu maksudmu! Kamu pasti terganggu kan, papa juga pernah muda! Terserah saja, tapi sering-seringlah ajak Luna ke rumah, setidaknya supaya rumah ini tidak terlihat sepi,” jelas Erik.
“Sepi gimana? Kan, ada Rara, Nara, dan Riella,” kilah Kalun.
“Ya, Papa merasa kesepian saja! Mereka sibuk dengan kehidupannya masing-masing!” jelas Erik sambil tersenyum tipis.
“Oke, aku akan sering datang untuk mengunjungi kalian!” ucap Kalun sebelum benar-benar pergi dari ruangan Erik. Dia lalu berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Benar kata papanya, rumah sebesar ini terlihat sepi, karena di hari-hari biasa mereka semua pergi melakukan aktivitasnya masing-masing.
“Kak Rara berangkat dulu ya!” teriak Maura yang baru saja menuruni tangga.
“Jangan pulang malam –malam, temani mama dan papa di rumah!” sahut Kalun yang juga berteriak, karena Maura hampir tidak terlihat dari pandangan matanya.
Sambil menapakkan kakinya menuju lantai dua, Kalun mulai berpikir keras, sepertinya, punya anak empat tidak cukup untuk membuat keramaian di rumahnya nanti. Baiklah, dia akan merancang misinya, mendatangkan dokter terbaik untuk istrinya. Mulai program hamil setelah tiga bulan mereka lewati. Bodohnya Kalun tidak menyadari jika dokter terbaik di kota itu adalah papanya sendiri.
👣
__ADS_1
Vote ya, Aku kebut nih biar cepat kelar😍👍👌 thank you.