Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Extra Part : Drama Melahirkan


__ADS_3

Erik segera membuka pintu untuk Aluna, supaya ia segera menaiki mobil yang akan mengantarnya ke mall yang akan mereka kunjungi. Setelah itu, ia duduk manis di dalam mobil menunggu Ella yang tengah berpamitan dengan mertua lelakinya, Aluna terus mengusap perutnya yang kembali merasakan kontraksi. Tapi sakitnya lebih parah dari yang ia rasakan tadi.


Ella yang baru saja memasuki mobil, langsung kembali keluar. Ia berteriak memanggil Erik yang sudah berjalan menuju pintu masuk rumah sakit.


"Luna kesakitan di dalam! Minta brankarnya Yang!" minta Ella, saat Erik menoleh ke arahnya sambil mengerutkan keningnya, mencoba bertanya pada Ella.


Ella segera membuka pintu, sambil meraih tangan Aluna untuk keluar dari mobil. Rintihan terdengar ketika Ella membuka pintu mobil.


"Sabar, sabar, istighfar." Ella membawa Aluna menghampiri brankar yang baru saja dibawa Erik.


"Kenapa sakit sekali!" keluh Aluna yang sedikit berteriak, saat merasakan perut buncitnya yang tengah kontraksi.


"Iya, sabar. Nanti juga hilang sakitnya. Pa cepat telepon anakmu, atau kalau perlu jemput dia ke kantor!" perintah Ella yang ikut berjalan di samping brankar, yang didorong menuju ke ruang bersalin.


Beruntung Lusi sudah tiba di rumah sakit pagi ini, jadi dia bisa langsung menangani Aluna yang tengah merasakan kontraksi.


Saat hendak diperiksa rasa sakit yang Aluna rasakan kembali hilang. Ia kembali duduk bersandar di brankar sambil mengatur nafasnya. Mengusap keringat yang keluar membasahi wajah.


"Sudah hilang lagi, sepertinya anakku nggak jadi keluar, Ma." Aluna menurunkan kakinya dari brankar ingin pulang ke rumah.


"Lun, kamu ini mau melahirkan. Kamu boleh jalan-jalan tapi di rumah sakit saja! Bahaya jika kamu pergi jauh-jauh. Takutnya nanti ketubanmu pecah," ucap Ella memberi nasihat.


"Gitu ya Ma, tapi sakitnya sudah hilang kok," jawab Aluna ngotot ingin pulang, ia sudah menapakan kakinya di lantai keramik putih rumah sakit.


"Gimana nanti saat di rumah ketubanmu pecah? Sudah nurut saja, setelah nanti anakmu keluar kamu bisa pergi sepuasnya," ungkap Ella, yang kembali meminta Aluna untuk merebahkan tubuhnya di brankar. Aluna menggalah meski dalam hatinya tidak rela dengan larangan mertuanya.


"Periksa Dok!" perintah Ella setelah melihat kedatangan Lusi ke ruang bersalin.


Lusi tersenyum ramah ke arah Aluna. Memberi sapaan ramah pada wanita yang sebentar lagi akan dipanggil ibu itu, terlihat wajah Aluna yang tegang saat Lusi membuka kakinya lebar-lebar, untuk memeriksa pembukaan. Lusi mengenakan sarung tangannya, sambil mencoba mengalihkan perhatian Aluna.


"Tarik nafas ya?" perintah Lusi saat hendak memasukkan jarinya memeriksa Aluna.


Aluna memejamkan mata saat miliknya disentuh orang lain selain suaminya. Ada rasa marah yang ingin ia sampaikan pada Lusi karena jarinya terus bermain di area terlarangnya.


"Baru pembukaan dua Nona Aluna, jadi sabar ya, karena masih kurang 8 lagi. Silahkan jalan-jalan dulu. Tapi jangan jauh-jauh dari rumah sakit takutnya nanti ketuban Nona pecah," pesan Lusi sambil melepaskan sarung tangannya. Dia lalu mencuci tangan dan melaporkannya pada Ella. Menyarankan supaya Aluna mengambil salah satu kamar sendiri di sini.


***


Siang hari di ruang meeting gedung EL Group. Terlihat Kalun tengah fokus memperhatikan presentasi satu persatu calon pathner kerja yang nanti akan bekerja sama dengan perusahaanya. Hingga rapat usai pukul 3 sore, Kalun baru menyadari jika dia tidak membawa ponsel yang biasa ada di kantong saku jasnya. Ponselnya tertinggal di ruangan yang biasa ia tempati.


Semua orang menatap ke arah Kalun. Saat ia tergesa-gesa berjalan meninggalkan ruang rapat. Perasaanya tidak nyaman ketika ponsel yang biasa dia bawa tiba- tiba saja ia lupa membawanya. Saat ia tiba di luar ruangan matanya menangkap lelaki tua yang sangat mirip dengannya tengah berbincang dengan office boy yang biasa membuatkan minuman. Kalun tergesa-gesa, menghampiri posisi di mana Erik berdiri, karena heran dengan kedatangan Erik. Dia segera menghampiri Erik yang telah menangkap kedatangannya.


"Bodoh, ke mana saja kamu!" maki Erik saat Kalun berdiri di depannya.


"Ada meeting penting sejak pagi tadi


Kenapa Papa datang? Apa ada yang penting?" tanya Kalun penasaran dengan kedatangan Erik.


"Istrimu mencarimu! Dia mau melahirkan," jelas Erik yang langsung membuat Kalun mengerutkan dahinya.


"Tadi pagi dia tidak apa-apa. Aku tinggal dia juga masih terlelap di ranjangnya." Kalun menatap Erik yang tersenyum sinis ke arahnya.


"Papa nggak mungkin, main-main, kan?" tanya Kalun menatap Erik curiga.


"Sudah gila kamu!" makinya lirih sambil memukul lengan Kalun, "terserah kamu saja! Kalau kamu nggak mau datang ke rumah sakit, biarkan aku akan mwnyuruh Samuel saja yang menemaninya!"

__ADS_1


Setelah sadar jika papanya berbicara serius, Kalun segera berlari ke luar gedung kantor EL Group. Ia memgendarai mobilnya sendiri menuju rumah sakit di mana istrinya berada.


Pukul 4 sore Kalun sudah tiba di rumah sakit, meninggalkan lelaki tua yang tadi mengabari kondisi istrinya. Tanpa bertanya, Kalun berjalan cepat menuju ruang bersalin. Dengan jas silver dan kemeja putih yang masih melekat sempurna di tubuhny, ia tidak mempedulikan sapaan semua orang yang menyapanya saat ia berjalan.


Pintu ruang bersalin terbuka keras, karena Kalun menendangnya dengan kasar. Orang yang berada di dalam ruangan terperanjak ketika mendengar suara pintu yang ditendang Kalun.


Kalun menelusuri satu persatu tirai yang tertutup mengelilingi brankar. Merasa tidak mendapati Aluna di sana, dengan gebrakan meja, dia berdiri di depan perawat yang tengah duduk berdampingan di sana.


"Di mana kamu sembunyikan istriku?" tanya Kalun dengan tatapan yang penuh emosi.


Kedua perawat di depan Kalun sudah berdiri, salah satu perawat wanita itu, bibirnya bergetar, karena takut melihat wajah Kalun yang tampak jelas tengah emosi. Sedangkan satunya, hanya menunduk tidak berani menatap Kalun.


Tidak lama kemudian terdengar suara pintu ruang bersalin terbuka, Lusi masuk dengan pakaian khas dokter yang biasa ia kenakan. Melihat wajah emosi kalaun, dia langsung menjelaskan di mana Aluna berada.


"Ruang Vvip Anyelir, dia sudah menunggumu dari tadi." Lusi menjelaskan sambil menatap heran ke arah Kalun yang terlihat sangat cemas.


Berbeda dengan Kalun yang langsung berlari meniggalkan ruang bersalin, setelah mendengar ucapan Lusi.


"Redakan emosi dulu!" teriak Lusi sebelum Kalun menutup pintu ruang bersalin.


Saat berjalan menuju ruang Vvip yang disebutkan Lusi, Kalun bergumam memaki perancang gedung rumah sakit keluarganya tersebut. Karena mendesain ruang bersalin dan ruangan istrinya terlalu jauh. Ruang bersalin di lantai 1, satu lantai dengan kamar yang istrinya tempati saat ini.


Kalun menarik nafas dalam, sebelum membuka pintu yang bertuliskan papan nama ruangan istrinya. Tanpa mengetuk pintu lebih dahaulu, dia mendorong pelan pintu ruang Aluna. Matanya menangkap istrinya yang tengah membuka mulut, menerima suapan sendok di depannya. Kalun sedikit lega karena Aluna dalam kondisi baik-baik saja. Tidak seperti yang ia bayangkan tadi ketika menuju ke rumah sakit. Ia memberikan senyuman tipis saat Aluna menyadari kedatangannya.


Kalun berjalan mendekat ke arah Aluna, sambil melepas jas yang ia kenakan, lalu meletakannya di ujung brankar.


"Are you oke?" tanyanya lirih, meski nafasnya masih naik-turun.


Aluna mengangguk sambil memainkan matanya ke arah Kalun, mengisyaratkan jika ada mamanya yang ada di sini pasti dia akan baik-baik saja. Kalun lalu memeluk tubuh Aluna, membawanya ke dalam dekapan.


"Baru pembukaan dua, masih ada 8 lagi yang harus Aluna lewati," jelas Ella sambil menjauh dari mereka berdua.


"Mana yang sakit?" tanya Kalun yang melepas pelukannya, bergantian menatap tubuh Aluna. Menelisik satu persatu dengan kedua tangannya.


"Aku nggak sakit, mama sama papa mertua saja yang parnoan." Aluna berbicara lirih takut jika Ella mendengar ucapannya.


"Nggak pasti kamu mau melahirkan, aku yakin juga kok kalau hari ini Leya akan launching," jelas Kalun mengusap perut Aluna. Diiringi suara teriakan kecil bibir Aluna yang kembali merasakan kontraksi yang lebih hebat dari sebelumnya. Jari-jarinya mencengkram erat kemeja Kalun, yang reflek ia tarik ketika kontraksinya tiba-tiba muncul.


Kalun mendekapnya, menenangkan Aluna, membimbing ia untuk mengatur pernafasan supaya rasa sakit yang kini istrinya rasakan, lebih ringan.


"Kamu pasti bisa! Bertahanlah, aku akan di sini mengenggamu, menemanimu saat kamu berjihad melahirkan keturunanku," kata Kalun menguatkan Aluna. Dia menyadarkan Aluna di pundaknya, sambil menggenggam erat tangan Aluna sebagai tumpuan kekuatan Aluna.


"Panas A'!" keluh Aluna. Setelah hening sesaat. Ella hanya mampu menatap keduanya dari sofa rumah sakit.


"Apa mau lepas baju, pendingin udara sudah di suhu terendah, ini sudah dingin menurutku," kata Kalun saat melihat tulisan digital yang terletak di pendingin udara ruangan Anyelir.


"Aku sedang kesakitan, kenapa kamu minta aku buka baju?" maki Aluna mendorong tubuh Kalun menjauh darinya. Membuat Kalun membulatkan matanya, mendengar suara Aluna yang sedikit teriak dan terdengar emosi. Dia lalu menenangkan Aluna hingga rasa sakit yang dirasakan Aluna sedikit mereda.


"A' suruh mama pulang, aku malu. Mama dari tadi memperhatikan kelakuanku," lirih Aluna di belakang daun telinga Kalun. Kalun tersenyum tipis, tapi tidak ia perlihatkan ke Aluna karena kini ia kembali memeluk Aluna.


Kalun mengangguk. Menyetujui permintaan istrinya. Ia meminta Ella untuk naik ke atas, beristirahat di ruangan Riella. Sedangkan dia yang akan menjaga dan menemani Aluna ketika nanti akan melahirkan.


Selang beberapa menit kepergian Ella, Aluna merasakan sakit yang lebih instens, datang dengan jarak durasi yang lebih pendek dan lebih menyakitkan dari sebelumnya.


"Aku panggil Lusi!" kata Kalun panik setelah berhasil melepaskan pelukannya. Kemeja putih yang ia kenakan kini sudah berbekas air mata bercampur keringat Aluna, yang menetes karena menahan rasa sakit akibat kontraksi. Kalun lalu berlari keluar untuk memanggil dokter sekaligus teman SMA nya itu.

__ADS_1


Ketika Lusi datang bersama Kalun. Aluna tengah menangis lirih di atas bed yang ia duduki, ia menangisi air yang keluar dari intinya. Ia tahu jika yang keluar itu adalah air ketuban, dia tampak panik dan bingung harus berbuat apa, karena ini pengalaman pertama baginya.


"Bawa istri Pak Kalun ke ruang bersalin sekarang, aku akan memeriksanya!" perintah Lusi saat melihat Kalun yang terdiam menatap Aluna.


Kalun yang baru tersadar, langsung mendekati Aluna. Dia mengangkat tubuh Aluna yang terlihat basah bagian bawahnya.


"Aku ingin lahiran normal A'. Aku nggak ingin lahiran seccar," ucapnya saat Kalun mengangkat tubuhnya.


"Iya, tenanglah. Jangan panik, kamu pasti bisa melewatinya!" jelas Kalun yang membawa tubuh Aluna berjalan meninggalkan ruangan.


"Kita bikin berdua, kita akan berjuang berdua juga." Kalun berjalan ke ruang bersalin sambil menggendong tubuh Aluna.


***


Hingga pukul 9 malam, bayi perempuan mereka tidak kunjung lahir. Keluhan, rintihan, suara tangisan kecil, cengkraman semua Aluna keluarkan tapi hingga sekarang, setelah pecahnya air ketuban sejak pukul 5 sore tadi. Bayi mereka belum memberikan tanda-tanda ingin keluar, sudah berulang kali Kalun meminta Aluna menyerah dan melakukan operasi seccar, karena dia tidak kuat hati l, melihat Aluna yang kesakitan. Tapi setiap tawaran itu keluar dari bibirnya, Aluna juga langsung menolaknya. Hingga tepat pukul 10 malam. Keputusan terakhir diberikan untuk Aluna. Dia tetap menunggu untuk lahiran normal. Lusi yang harusnya sudah pulang karena jam shiftnya habis, terpaksa harus bekerja lembur untuk membantu Aluna melahirkan.


Drama terjadi di ruang bersalin, saat Kalun berusaha menenangkan Aluna yang tengah merintih kesakitan.


"Cek lagi! Sepertinya ini benar-benar akan keluar," perintah Aluna yang sudah setengah duduk di brankarnya.


"Lus! Lus! Lusi ..." teriak Kalun yang terdengar panik.


Lusi yang sigap langsung menggunakan sarung tangan untuk mengecek pembukaan Aluna. Lusi tersenyum tipis, setelah mengetahui jika Aluna kini sudah memasuki pembukaan 8.


Berbeda dengan reaksi wajah Kalun yang tiba-tiba memucat saat Lusi mengangkat tangannya. Warna merah yang tertempel jelas di sarung tangan Lusi membuat tubuh Kalun langsung lemas, dia menyandarkan kepalanya di sisi kanan kepala Aluna. Dia menunduk tidak berani mendongakkan kepalanya.


"Pak Kalun baik-baik saja?" tanya Lusi sopan, tapi tidak ada pergerakkan di sana. Bahkan Aluna sudah menggoyang-goyangkan tubuh Kalun, tapi tidak ada respon dari suaminya tersebut.


"Astaga, aku kesakitan mengeluarkan bayimu, kamu justru enak-enakkan tidur di sini! Awas kamu ya! Bangun! Pokoknya aku nggak mau mengeluarkan anakmu sebelum kamu bangun!" maki Aluna yang diakhiri ancaman supaya suaminya itu terbangun.


"Sepertinya Pak Kalun pinsan, Bu!" kata perawat. Yang langsung ingin memapah tubuh Kalun.


Semua orang yang berada di balik pintu ruang bersalin, terkejut ketika melihat tubuh lungkai Kalun yang dipapah perawat.


"Dasar anak ini! Jaga anakmu aku akan menemani Luna di dalam!" perintah Ella yang bergantian masuk ke dalam ruang bersalin.


Dia disambut dengan suara isakkan yang keluar dari bibir Aluna, karena menahan rasa sakit. Dengan setia Ella membantu Aluna, menginstruksi supaya mengatur nafas dan membantu mengusap-usap punggung Aluna yang terasa sakit, menggantikan posisi anak lelakinya.


"Ma, aku nggak mau kalau Aa nggak di sini. Ia harus melihat saat aku berjuang untuk melahirkan anaknya!" ucap Aluna di tengah tangisannya.


"Iya, tunggu dia bangun dulu Lun, kamu yang tenang ya, kalau kamu emosi nanti kamu nggak bisa lahiran normal, karena tensi darahmu pasti akan ikut naik!"


Aluna mengangguk, diikuti teriakan keras dan air matanya yang semakin deras membasahi pipinya.


"Ma, aku ingin mengejan, aku sudah tidak kuat!" ucap Aluna sambil memejamkan matanya.


"Lus, sepertinya sudah waktunya?!" Ella menatap ke arah Lusi yang tengah berbincang dengan perawat lainnya, yang tidak jauh darinya.


Lusi dengan sigap mendekat dan mengecek lagi pembukaan Aluna.


"Perawat siapkan semuanya, pembukaan sudah lengkap!" perintah Lusi pada dua perawat yang duduk di balik tirai bewarna hijau.


💞


Part terpanjang di Mistake 2110 kata. Tolong naikan rangking vote Aa ya😂👍. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2