
Merasa diabaikan oleh Kalun, Aluna turut memejamkan matanya, menyimpan niat yang tadi sudah ia utarakan sebelumnya. Menarik lengan Kalun untuk menggantikan bantal empuk yang ia kenakan saat ini. Ia merasa ingin selalu membaui keringat Kalun. Menurutnya, beberapa hari ini keringat suami bagai aroma yang selalu ingin ia hirup dalam-dalam, kecanduan keringat asam suaminya.
Kalun terbangun ketika merasakan pegal di tangan kanannya. Ia menoleh ke arah samping, lalu melingkarkan tangan kirinya ke arah perut Aluna yang belum tertutup sehelai kain. Ia lalu menarik selimut menutupi tubuh Aluna, takut jika melihat istrinya yang tengah terbaring lemah, burung elangnya akan kembali turn on.
Kalun lalu meraih bantal besar yang biasa dipakai Aluna saat menginap di sana. Menggantikan lengannya dengan bantal empuk yang tadi ia raih. Ia lalu segera beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan diri.
Saat Kalun membuka pintu kamar mandi, pertama ia menangkap bayangan tubuhnya di pantulan kaca besar yang bersanding di tembok putih. Tampak jelas 6 irisan yang berbentuk seperti roti bantal itu menjadi pemandangan indah di sana. Kalun mengulum senyuman manis, memikirkan kekuatan yang ia miliki karena berhasil menghamili istrinya lagi.
“Mungkinkah, ucapanku dulu didengar Allah? Jika benar aku akan memiliki 7 anak.” Kalun bergumam sambil terus menatap ketampanannya di pantulan kaca. Ia segera berjalan menuju pancuran air shower, berdiri dibawahnya, membersihkan diri, diguyuran air suci yang mengalir deras.
Menjelang senja, Aluna dan Kalun segera turun ke bawah, berniat untuk pulang ke rumah. Mereka menuruni tangga dengan tangan Aluna yang melingkar posesif di pinggang Kalun, membuat suaminya itu kesulitan untuk berjalan.
“Kalian ini. Lihat adik kalian. Jangan mengumbar kemesraan di depan mereka,” tegur Erik, ketika melihat Kalun menghujani Aluna dengan ciuman di wajah kecut istrinya. Aluna yang mendengar teguran Erik, segera menegapkan tubuhnya. Malu sejadi-jadinya, dengan perlakuannya sendiri. Dia lupa jika ada orang lain di dalam rumah mertuanya.
“Pa … jangan membuat istriku merona dong! Kasian Luna, nanti dia stress dan pasti akan menganggu calon cucu Papa yang kini sudah tumbuh lagi di perutnya.” Kata Kalun seraya meraba perut Aluna yang belum membuncit.
Erik yang mendengar suara Kalun, langsung mendelikkan matanya ke arah Kalun, mencoba mencari jawaban kejujuran dari pernyataan Kalun.
“Luna hamil lagi?” pekiknya terkejut saat melihat gerakan tangan Kalun, membuat Ella yang tengah berada di dapur segera mendekati suaminya.
Kalun menciumi pelipis Aluna yang tertutup rambut panjang hitamnya, “Kalun khilaf, Pa.” ujarnya tanpa beban.
“Pantas saja Leo rewel terus,” sahut Erik sambil menatap cucu lelakinya yang tengah merangkak mengambil mainan warna-warni di atas karpet.
Aluna yang mendengar ungkapan Erik, segera melepas tangan Kalun, berniat menghampir Leonard yang tengah menepuk-nepukkan mainan berbentu bulat yang ada di tangannya.
__ADS_1
“Jagoan bunda, sini Sayang!” sapa Aluna seraya membawa Leonard ke pangkuannya, mencoba mengajak Leonard bermain dengannya, tapi yang terjadi Leonard justru menangis keras, memberontak ingin segera turun dari pangkuan Aluna, membuat Aluna merasa bersalah dengan Leonard.
Kalun yang melihat Leonard menangis segera mengambilnya, tidak ingin Aluna kesusahan menggendong anak lelakinya.
“Ma-ma-ma,” celoteh lelaki yang belum genap satu tahun itu seraya merentangkan tangannya ke arah Ella.
“Sayang, jangan rewel ya. Kan mau jadi kakak, jadi gak boleh cengeng,” ujar Kalun tanpa dosa, sambil menimang-nimang Leonard membawanya mendekat ke arah Ella, lalu menyerahkannya.
Berbeda dengan Aluna yang tampak sedih, ketika melihat Leonard sepertinya itu. seperkian detik ia menyesali dirinya yang sudah hamil lagi. Tapi sapuan tangan Kalun yang mengusap lembut pundaknya, membuat dia lebih tenang. Dia lalu menyandarkan kepalanya di punggung Kalun.
“Biarkan Leo di sini dulu, untuk sementara waktu.” Ella yang paham kondisi Aluna menasehati panjang lebar.
“Tapi, Ma …” ucap Aluna ragu. Dia memikirkan baik buruknya kondisi tubuhnya yang pasti akan letih jika harus mengurus dua anak bersamaan, ditambah kondisinya yang tengah hamil muda.
“Ya sudah kita bawa Leya pulang saja,” ucap Aluna mengalah, demi kondisi Leonard. Namun, teriakan dari Leya yang tidak menginginkan pulang, membuat Aluna kembali bersedih.
“Enggak papa Lun, mereka di sini. Papa senang kok mereka tinggal di sini, biar rame juga,” timpal Erik yang kini berjalan mendekat di mana mereka tengah duduk bersama.
Dengan bujukan dan rayuan Kalun, akhirnya mereka kembali ke rumah hanya berdua saja, setelah menyelesaikan sholat magribnya tadi di rumah Erik. Rumah tampak sepi, ketika mereka tiba di rumah, pembantunya belum lagi datang dari cuti dadakan yang Aluna berikan.
Aluna segera turun dari mobil, ia berjalan ke arah kamar Leonard, mengambil breast pum yang biasa ia gunakan. Ia segera menggunakan alat itu, karena sudah merasakan penuh dan nyeri di bagian dadanya. Petuah dari mertuanya ia dengarkan baik-baik, termasuk memberikan asinya pada Leonard selama tidak ada flek dan kontraksi, berarti itu dalam ke adaan aman.
Kalun yang melihat Aluna dari celah pintu yang sedikit terbuka, segera mendekat ke arah Aluna, dia lalu melihat benda yang menempel sempurna di hak miliknya, “perlu aku bantuin Sayang?” tawarnya serius, setelah melihat hanya seperempat botol saja yang keluar.
“Bukanya bantuin, malah mainin,” gerutu Aluna dengan senyum yang terpancar sengit. Membuat Kalun tersenyum lebar, mempelihatkan gigi putihnya.
__ADS_1
“Ceh. Sini aku tulis logo hahal di sini.” Kalun bersiap mengambil bolpoint untuk melancarkan misinya. Setelah menemukan benda yang ia cari ia segera mendekat lagi ke arah Aluna.
“Jangan macam-macam!” peringatan pertama dari Aluna terdengar menggema hingga sudut ruangan, tapi Kalun yang jahil justru semakin ingin menggoda Aluna, semakin gemas dengan wajah marah Aluna.
Kalun mencoretkan tinta hitam di benda kesukannya itu, baru sepenggal aksara hijaiyah 'Kha' tangan Aluna sudah menempisnya. “Jangan lanjutkan!” peringatannya kembali keluar dari bibir tipis yang masih merah delima itu, diiringi tatapan tajam yang menusuk mata Kalun. hingga keduanya diam tidak ada yang berkutik, hanya terdengar suara mesin breast pum yang mencoba memompa asi untuk Leonard.
“Sepi nih, Bun.” Kalun berbisik dengan suara sensualnya. Aluna yang merasa terancam segera melepas alat yang menempel itu dari tubuhnya, ia meninggalkan lelakinya di kamar Leonard. Tapi saat beberapa langkah menjauh dari Kalun, tubuhnya seolah terbang, kini ia sudah berpindah di lengan Kalun. Kalun membawa tubuh Aluna ke kamar, dengan gendongan ala pengantin baru. Merebahkan tubuh Aluna dengan pelan di ranjang yang akan memberikannya kenyamanan serta kenikmatan.
“Libur dulu, aku lelah!”
Kalun menjauhkan tubuhnya dari atas Aluna, “mesum, siapa juga yang mau bercocok tanam malam ini?!”
“Heh … dasar! Coba kalau nggak aku peringatkan, pasti sudah tenggelam dalam ladangku yang becek!”
“Hahaha .,. sepertinya hamil membuat hormon esterogen-mu meningkat. Istirahatlah, benihku sudah berada di sini, aku akan memberikan pupuk jika dibutuhkan.”
Perkataan absurd dari bibir Kalun membuat Aluna terkekeh, sambil menggelengkan kepalanya, “Kamu ngomong apa sih, Sayang?” ujarnya seraya mengusap lembut rahang Kalun. Kalun yang merasa dipanggil dengan sebutan baru, hatinya merasa hangat, merasa istrinya menaikan kadar perasaan cinta terhadap dirinya.
“Aku menyukai senyumanmu.” Kalun mengecup singkat bibir istrinya, lalu meninggalkannya Aluna yang berharap mendapat lebih darinya.
“Aku juga Sayang, tetaplah seperti ini,” teriaknya yang bisa didengar jelas oleh Kalun. Aluna tidak pernah meminta memiliki suami yang sempurna seperti Kalun, tapi Allah memberikan semua yang terbaik untuknya, meski ia merasa tidak diharapkan di awal pernikahan, tapi kini berbanding berbalik dengan hari itu, kehidupannya sempurna dengan kehadiran Kalun dan anak-anaknya.
🚑
Dah sembuh belum kangennya?😆😆😆
__ADS_1