
Kalun benar-benar tidak ingin menginap di rumah sakit. Bahkan Riella sudah menahannya agar tetap berada di sana semalam saja. Namun, yang ada Kalun menolak keinginan kedua wanita itu. Dan di sinilah mereka sekarang, di kamar kos Aluna. Kalun tidak ingin membawa Aluna ke apartemen milik keluarga Ramones, karena takut jika papanya akan datang untuk mengambil Aluna.
Mereka berdua pulang dengan menggunakan taksi online yang dipesan Aluna, karena mobil Doni masih tertinggal di cafe. Kini kehidupan Kalun benar-benar berubah, tapi beruntungnya dia bisa menyesuaikannya dengan cepat.
Aluna membuka lebar pintu kamar kosnya, masih terlihat barang-barang miliknya yang masih tersusun rapi. Hanya debu saja yang menempel di benda-benda yang ada di kamarnya.
“Jangan duduk di situ dulu A’ biar aku mengganti spreinya dulu,” ucap Aluna ketika Kalun hendak mendaratkan tubuhnya di ranjang. Aluna lalu menyibakkan sprei kotor dan segera menggantinya, supaya suaminya itu bisa segera beristirahat. Karena hari sudah larut malam.
“Kamu masih menyimpan semua fotonya? Apa kamu belum bisa melupakannya?” tanya Kalun saat mengedarkan tatapannya ke dinding kamar Aluna.
Aluna sedikit bingung dengan pertanyaan Kalun, dia lalu menatap ke arah Kalun yang tengah fokus menatap dinding yang banyak berjajar foto Fandi dan dirinya.
“Aku jarang berkunjung ke sini! Aku belum sempat membereskannya, jadi ya sampai sekarang masih tersimpan rapi di tempatnya.” Aluna menjawabnya sambil tersenyum manis.
Alasan saja! Tidak tahu apa ? Meski dia sudah mati aku juga masih bisa cemburu. Dalam hati Kalun sudah menggerutu tidak jelas.
“Apa kamu juga belum bisa menggantinya dengan aku yang tampan ini?” selidik Kalun, membuat Aluna mendongak ke arahnya. Tangan Aluna menyusun bantal di ranjang kasurnya, sambil memikirkan jawaban yang tepat untuk Kalun.
“A’ aku nggak akan melupakannya, dia tetap punya tempat tersendiri di sini,” ucap Aluna sambil menunjuk dadanya, dia menghentikan ucapannya sambil menatap wajah Kalun yang terlihat kesal.
“Tapi kamu sudah berkuasa di sini, kamu punya tempat yang luas darinya,” jelas Aluna, seketika Kalun tersenyum lebar ke arah Aluna.
“Tapi aku ragu? Aku takut, kamu tidak benar-benar mencintaiku A’?” Masih menatap wajah Kalun yang semakin terkekeh.
__ADS_1
“Sttt jangan bicara seperti itu, aku mencintaimu, lebih dari aku mencintai diriku sendiri, aku benar-benar mencintaimu,” jawab Kalun sambil merebahkan tubuhnya di ranjang sempit milik Aluna.
“Ayo tidur ini sudah malam!” lanjut Kalun menepuk lengannya yang sudah di rentangkan. Fasilitas kamar kos itu memang tidak begitu mewah, kasur ranjang berukuran 120 x 200cm dan bantal serta guling yang hanya berjumlah satu, jadi Aluna menyerahkan bantalnya untuk Kalun.
“Sepertinya kita bisa lebih dekat lagi dengan seperti ini,” ucap Kalun sambil melingkarkan tangannya ke perut Aluna.
“Iya, kita nikmati saja ujian ini. Pasti akan indah nantinya,” jelas Aluna yang membalas pelukan Kalun. “Yakin bisa tidur nyenyak A’?” lanjutnya yang merasa Kalun tidak merasa nyaman.
“Asal berada di sampingmu, aku akan merasa nyaman.”
“Mulai deh!” tukas Aluna mendonggakkan kepalanya kearah Kalun. Kalun mengecup sebentar kening Aluna. Aluna hanya mampu menerima semua yang Kalun lakukan padanya. Tidak henti-hentinya Kalun menghujani Aluna dengan kecupan-kecupan ke seluruh wajahnya, suaminya itu sudah tidak peduli lagi semerah apa wajahnya sekarang.
“Sudah ah, takut kebablasan. Kita belum tahu kondisi si utun di dalam sini,” ucap Kalun sambil meraba perut Aluna.
Mereka pun terlelap di kamar yang tidak terlalu besar itu. Hingga pagi hari Aluna bangun lebih dulu karena mendengar suara alarm jam kecil yang ada di meja samping ranjangnya. Kalun yang mendengar gesekkan tubuh Aluna juga turut membuka matanya, dia lalu menyilangkan kakinya ke kaki Kaluna, mencegah Aluna supaya tidak pergi dari ranjang.
“Mau kemana?”
“Siap-siap kerja, atau David akan benar-benar memecatku!” ucap Aluna sambil mencoba melepaskan kaki Kalun dari kakinya.
“Sebentar saja biarkan seperti ini.” Kalun menahan tubuh Aluna supaya tidak beranjak dari tidurnya.
“Lima menit ya, setelah itu aku harus segera bersiap-siap untuk pergi.”
__ADS_1
Kalun tidak menjawab dia justru semakin erat memeluk Aluna. Menciumi rambut Aluna yang tidur membelakanginya.
“Maafkan aku, nanti aku akan mengantar Kayra ke dokter kandungan, padahal aku sendiri belum melihat bagaimana kondisi anak kita.” Sesal Kalun.
“Nggak papa, kita bisa pergi kapan saja, cuma aku berpesan padamu untuk berhati-hati dengannya, kecuali jika kamu masih mencintainya, ya terserah kamu bisa melakukan apa saja dengannya.”
“Ngomong apa sih kamu! Sudah lupa semalam aku bicara apa denganmu,” terang Kalun yang sudah membalikkan tubuh Aluna.
“Sudah! Sudah 5 menit aku harus persiapan ke kantor, ingat pesanku jika kamu mencintaiku!” peringat ulang Aluna sambil berjalan ke arah kamar mandi. Kalun hanya menatap punggung Aluna yang semakin menghilang di balik pintu kamar mandi. Dia hanya mampu berdoa semoga masalahnya segera terselesaikan.
Satu jam berlalu, saat ini Kalun sudah berdiri di depan rumah orang tua Kayra, dia menepati janjinya yang akan mengantar Kayra ke dokter kandungan. Tidak ada yang menyambutnya, hanya pembantu yang sudah mengenalnya saja yang tersenyum ramah ke arahnya. Bahkan Rendi dan Viona enggan untuk menemuinya, mereka berdua masih asyik mengobrol di taman yang terdapat ayunan kayu di sana.
“Kayra ada bik?” tanya Kalun pada pelayan yang membukakan pintu untuknya.
“Ada Den, nona Kayra juga baru saja pulang kok, silahkan duduk dulu biar saya panggilkan nona Kayra,” sambut ramah pelayan di rumah Kayra. Kalun pun duduk di sofa ruang tamu, sambil menatap ke arah taman di mana kedua orang tua Kayra berada. Hatinya merasa dibodohi karena baru melihat mereka yang sesungguhnya, selamanya ini hatinya tertutup cintanya untuk Kayra jadi tidak bisa melihat dengan benar apa maksud keluarga Kayra tersebut.
“Akhirnya kamu datang juga, aku sudah menunggumu dari tadi, kenapa semalam kamu pergi begitu saja?” tanya Kayra yang sudah tiba di depan Kalun. Dia mendekat ke arah Kalun dan merangkul lengan Kalun.
“Sudah siap? Ayo kita berangkat sekarang, aku ada keperluan setelah ini,” ucap Kalun sambil menatap jam tua yang ada di rumah Kayra. Kayra mengangguk senang, entahlah dia padahal tahu jika dia tidak benar-benar mencintai Kalun. Tapi dia juga bingung harus meminta pertanggungjawabkan pada siapa lagi, karena dia juga tidak tahu bayi siapa yang di perutnya saat ini.
Saat diperjalanan, Kalun terus fokus menatap jalan. Dia tidak mau menatap Kayra yang tengah menggunakan pakaian sexy yang menempel lekat di tubuhnya. Doni sudah menghubungi dokter yang akan memeriksa Kayra, dan dia sudah berpesan supaya tidak memberikan hasilnya kecuali dengannya. Beruntungnya rumah sakit itu dikelola oleh Riella, jadi mereka tidak akan berani bertindak macam-macam. Kalun terus berdoa, supaya bayi itu bukanlah darah dagingnya. Dan dia bisa terlepas dari ancaman Kayra, dan hidup bahagia dengan Aluna.
👣
__ADS_1
Jangan lupa like ya👌🙏