
Terlihat jelas siang itu. Lelaki yang tidak lagi muda berjalan menyusuri ruang demi ruang yang ada di kantor polisi, diikuti langkah dua lelaki yang mengawalnya, dengan tubuh yang tidak terlalu besar, seperti pengawal pada umumnya. Namun, kemampuannya tidak harus diragukan lagi.
Dengan kaca mata hitam yang bertengger diatas hidung, dia membelah terik matahari yang terasa menyengat di kulitnya. Begitu dia tiba di halaman kantor polisi, semua orang berlarian mendekat ke arahnya, seperti layaknya artis papan atas, lelaki itu sudah dikelilingi berbagai merk camera dari beberapa stasiun tv. Dia mendengus kesal seumur-umur dia selalu menghindari yang namanya media, tapi kali ini dia harus menghadapinya, untuk dan demi ketenangan keluarganya, yang sebelumnya resah.
Erik berhenti sejenak, sambil menampilkan senyumanya ke arah kamera, seolah menyapa penonton yang tengah menonton dirinya saat ini. Dia mendengarkan berbagai pertanyaan yang terdengar tidak jelas dari para wartawan, karena mereka saling bersautan, membuat nada seperti lalat yang tengah berterbangan.
Pak benarkah menantu Bapak berada di rumah sakit?
Erik akhirnya menemukan pertanyaan yang jelas dari wartawan yang berada di sekelilingnya, setelah menajamkan telinganya.
“Ya, menantu saya mengalami kecelakaan.” Erik menjawab dengan tenang. Masih menjaga wajahnya supaya terlihat tampan saat di depan kamera, dan bukan emosi yang kentara.
Sejak kapan anak Anda menikah, kenapa kami tidak Anda undang untuk meliputnya?
“Kalau sejak kapan menikahnya, silahkan tanyakan pada yang bersangkutan, dia sekarang tengah menunggu istrinya di kamar Flamboyan, di rumah sakit milik anak perempuan saya,” jelas Erik lagi sambil melepaskan kaca mata hitamnya.
Apa benar anak Pak Erik menghamili anak Pak Rendi?
Lalu bagaimana dengan tunangan putra Bapak?
“Sudah saya bilang itu urusan pribadi anak saya, silahkan bertanya pada yang bersangkutan, saya di sini hanya mengunjungi rekan saya,” jelas Erik sambil menaikkan lengan bajunya.
Kenapa Bapak tega melaporkan Pak Rendi ke kantor polisi? Bukannya tiga puluh tahun yang lalu dia pernah monolong istri Bapak ketika istri Bapak hampir gila?
Erik menatap tajam ke arah wartawan yang memberikan pertanyaan tidak sopan itu. Tidak boleh ada yang menyebut istrinya seperti itu. Dia menoleh ke belakang, terlihat dua orang polisi berdiri tidak jauh darinya. Dia lalu menepuk punggung lelaki tadi, “Jaga tutur katamu, istriku baik-baik saja! Aku hanya memberikan hukuman pada orang yang membuat keluargaku gelisah!” bisiknya di samping telinga lelaki berompi hitam.
Erik melanjutkan langkahnya menuju mobil, anak buahnya berusaha membelah wartawan yang menghalangi jalannya, supaya bosnya itu bisa berjalan dengan lancar. Tiba di depan mobil, seseorang melemparnya dengan batu hingga mengenai kepala bagian belakangnya. Membuat Erik menoleh kebelakang karena penasaran dengan orang yang melemparkan batu padanya, beruntungnya batu itu tidak terlalu besar, hingga tidak sampai membuatnya berdarah-darah.
“Brengsek kamu!” teriak seorang wanita sambil berjalan mendekat ke arah Erik.
Erik tersenyum smirk sambil menggelengkan kepalanya. Lalu membuang nafasnya kasar, ketika Viona terlihat semakin mengikis jarak diantaranya.
“Tega kamu ya!?” ucapnya sambil berurai air mata.
__ADS_1
“Dia sendiri yang salah, jangan menyalahkan aku! Kamu tahu siapa yang sakit di sini? Istriku! Setiap malam dia selalu menangisi anak lelakinya!”
“Kenapa harus Rendi!? Kami membutuhkannya?”
“Hem, kenapa? Ya karena dia yang memulainya! Bilang padanya untuk tidak tergila-gila pada kedudukan hingga membuatnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, bukan hanya ini, dia juga terjerat kasus penyuapan!”
Viona menangis keras di depan Erik. Membuat Erik semakin pusing, dan membuka pintu mobilnya untuk masuk ke dalam, berniat ingin meninggalkan Viona sendiri di sana, karena terik matahari yang terasa menyengat, juga berpengaruh pada sakit kepala yang dia rasakan.
Kegiatannya dihentikan oleh tangan Viona yang melingkar di perutnya. Di menangis di balik punggung Erik. Erik berusaha berontak, mengibaskan tangan Viona, memintanya untuk menjauh, karena di belakang sana banyak wartawan yang tengah menatapnya, atau bisa jadi mereka tengah mengambil gambarnya.
“Aku sudah pusing Rik, ini terlalu berat untukku, aku tidak bisa lagi menanggung semuanya!”
“Terserah! Aku tidak peduli lagi, dengan keluargamu! Sudah cukup aku selama ini diam. Tapi bukannya aku tidak tahu apa yang kalian lakukan di belakangku!”
“Gila! Lalu bagaimana dengan Kayra? Kalun menghamilinya, anakmu harus bertanggungjawab!”
“Minta saja padanya! Aku nggak peduli lagi dengannya!” ucap Erik lalu segera masuk ke mobil meninggalkan Viona yang menatapnya kesal.
***
Ketika Aluna menanyakan Kayra, dia hanya menjawab jika Kayra sudah meninggalkannya dengan lelaki lain. Kayra selingkuh di belakangnya. Hamil dengan lelaki lain.
Suara derap langkah kaki terdengar semakin mendekat, di balik pintu ruangan. Di luar kamar terdengar suara riuh yang tidak terdengar jelas dari dalam kamar Aluna.
“Ada apa?” tanya Aluna panik.
“Biar aku yang melihatnya!” ucapnya sambil berdiri menghampiri pintu kamar.
Kalun kembali menutup pintu itu rapat-rapat, setelah mengetahui siapa saja yang ada di balik pintu. Ada penjaga yang menjaga pintunya, supaya para wartawan itu tidak masuk ke dalam kamar. Dia lalu melepas kausnya, berjalan mendekat ke arah tas yang semalam diantarkan oleh Doni.
Aluna menutup matanya dengan kedua tangan, ketika melihat suaminya bertelanjang dada di depannya, jaraknya hanya tiga meter darinya, jadi terlihat jelas otot perut yang Kalun miliki. Tangan Aluna semakin rapat ketika langkah Kalun terdengar mendekat ke arahnya.
Kalun terbahak dalam hati, sambil berusaha membuka tangan Aluna. Pancaran wajah yang berwarna pink itu terlihat jelas di mata Kalun, saat Aluna mendongak menatapnya. Bibirnya sudah tidak berkata apa-apalagi, mata Aluna mencari-cari obyek untuk mengalihkan pandangannya dari Kalun.
__ADS_1
“Aku mau keluar sebentar, jangan nakal!” peringatnya beralih mengacak rambut Aluna yang hitam legam, rambut yang tadinya rapi kini sudah seperti benang kusut yang minta untuk dipintai ulang. Dia lalu membebaskan satu tangannya yang masih mencekal Aluna. Kalun beralih mengancingkan kemeja warna gelap yang sudah hampir rapi di tubuhnya.
“Alhamdulillah, sana pergi! Sudah dari tadi aku ingin mengusirmu, karena aku hampir mual melihat wajahmu di depanku terus!” ketus Aluna sambil menarik selimut berbalik memunggungi Kalun, menyembunyikan wajahnya yang semakin merona merah.
“Ya, jaga dirimu baik-baik! Aku tidak akan lama! Kalau rindu tinggal telepon saja! Jangan menyiksa dirimu!” pesan Kalun dengan candaan, dia lalu segera berjalan ke arah pintu keluar meninggalkan istrinya seorang diri. Aluna diam diam menoleh ke arah Kalun, memperhatikan punggung lelaki yang akan menghilang di balik pintu kamarnya.
“Aku mencintainya. Itu nggak mungkinkan? Tapi, huft kenapa ini semakin berdebar!” gumam Aluna mengiringi kepergian Kalun yang menghilang di balik pintu.
Setelah menutup dan mengunci pintu kamar Aluna, Kalun sudah disambut berbagai macam pertanyaan dari wartawan. Dia lebih terbiasa dengan kamera dari pada papanya, yang sedikit menghindari kamera.
Pak Kalun kenapa anda menikah tidak memberitahu kami?
Sejak kapan Anda menikah?
Siapa nama istri Anda?
Apa Anda mencintainya? Lalu bagaimana dengan nona Kayra, yang katanya Anda menghamilinya?
Kalun lebih dulu mendengarkan semua pertanyaan yang dikeluarkan wartawan. Dia tersenyum tipis saat berbagai tuduhan menyalahkannya, atas perselingkuhannya dari Kayra.
“Saya akan menjawab semua pertanyaan kalian, tapi tolong jangan ada yang ditambahi ataupun dikurangi, karena saya tahu, tangan dan mulut nitizen lebih pedas dari yang saya bayangkan!”
Kalun menyisir rambutnya dengan jemarinya, karena pandangan matanya terganggu oleh rambutnya yang sedikit memanjang.
“Ya, saya sudah menikah sekitar 8 bulan yang lalu, awalnya saya yang mengira jika saya yang selingkuh dari calon istri saya, tapi seiring berjalannya waktu, semua terjawab, saya paham dia yang lebih dulu mengkhianati cinta kami, dan soal bayi yang dia kandung itu bukan anak saya. Saya sudah mengeceknya dan hasil tes DNAnya tidak cocok dengan DNA saya!”
Berarti Pak Kalun sudah tidur dengan nona Kayra?
TBC
👣
Sabar ya, nanti up lagi kok.👍😁
__ADS_1
Saya butuh 2 jam untuk ngetik ini, kalau sambil ngantuk-ngantuk bisa 3 jam baru selesai. Jadi jangan nuntut, karena kalau dipaksakan fisik saya yang nggak kuat.😁👍😂 Keep Smile. Saya minta like saja, votenya disimpan untuk hari senin👌💪