
Aluna menarik tangan Renata, membawa sahabatnya itu untuk masuk ke dalam kamar kos nya. Dia mendudukan Renata di tepi ranjang, Aluna lalu menceritakan secara singkat tentang kejadian yang di alaminya semalam. Membuat Renata sedikit tidak percaya dengan ucapan Aluna, yang akan menikah dengan orang yang baru beberapa kali dia temui.
Suara ketukan pintu kamar terdengar, membuat Aluna teringat jika Kalun tengah menunggunya di teras kamar kos nya. Aluna menepuk jidatnya saat teringat keberadaan Kalun. Dia berjalan untuk membuka pintu kamar, saat pintu terbuka terlihat mata Kalun memindai isi kamar kos Aluna dari depan pintu.
“Bisakah aku bicara sebentar saja denganmu?” tanya Kalun yang masih menatap Aluna.
“Maaf ... aku lupa jika kamu belum pulang,” ucap Aluna sambil menunduk karena merasa cangung saat Kalun menatapnya tajam. Dia lalu keluar dari kamar meminta Kalun untuk duduk diteras, tapi yang ada lelaki itu tidak ingin beranjak dari tempatnya berdiri.
“Persiapkan barangmu, nanti jam 8 malam akan ada orang yang akan menjemputmu!” perintah Kalun lalu berjalan meninggalkan kos Aluna.
“Tapi ...”
“Turuti saja!” sahut singkat Kalun memotong ucapan Aluna saat wanita itu ingin monolak perintahnya, Kalun lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Kalun lalu pergi melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah.
Sedangkan Aluna masih menatap heran punggung lelaki yang meninggalkan kamar kosnya itu.
Saat Kalun tiba di rumah, dia langsung mendapatkan hadiah bogeman perut dari Riella, adiknya itu terus memakinya, sambil mengiringi langkah kaki yang membawa Kalun ke kamarnya.
“Diamlah, apa kamu tidak akan hadir di pernikahan Kakakmu yang tampan ini!”
“Bagaimana dengan Kayra Kak?”
“Itu yang akan Kakak minta darimu, jangan sampai dia mengetahuinya, kamu tahu kan ...? Bagaimana perasaan Kakak padanya,” ucap Kalun. Mereka berdua berada di kamar yang kedap suara, jadi tidak akan ada yang bisa mendengarkan pembicaraanya selain mereka berdua.
“Apa alasan Kakak menikahi wanita itu? Apa Kakak menghamilinya?”
Kalun langsung menatap ke arah Riella setelah mendengar pertanyaan adiknya. Jangankan melihat wanita ***** di depanya, berpegangan tangan dengan wanita yang bukan dia cintai saja sangat jarang dia lakukan.
“Jelaskan Kak!” perintah Riella.
“Nggak, semua ada alasan yang belum bisa Kakak ceritakan kepadamu,” jelas Kalun melirik ke arah Riella yang masih terus menatapnya.
“Apa Kakak tidak memikirkan perasaan Kayra jika dia mengetahui semua ini?”
Kalun memejamkan matanya sambil membuang nafas lelah.
“Apa Kakak tidak takut jika aku akan diperlakukan seperti itu oleh lelaki di luar sana, hum?”
Kalun tidak bisa menjawab pertanyaan Riella, dia bertanya dalam hatinya yang paling dalam. Entah kenapa saat mendengar tangisan Aluna kemarin hatinya begitu perih seperti dia melihat mamanya yang tengah menangis, itulah sebabnya dia berniat menikahi Aluna. Tapi dia juga tidak ingin melihat adiknya diperlakukan buruk oleh lelaki di luar sana.
“Kakak akan pastikan jika tidak akan ada lelaki yang akan menyakitimu,” jelas Kalun sambil menatap mata Riella.
“Bagaimana dengan Nara dan Rara? Dia juga wanita, apa Kakak tidak ingat hukum tabur tuai masih berlaku?” peringat Riella.
__ADS_1
“Yah, Kakak ingat ... tapi saat ini, wanita itu butuh Kakak.”
Riella menatap tajam ke arah Kalun, setelah mendengar ucapan kakaknya.
“Apa alasanmu Kak!” bentak Riella yang membuat Kalun menatap ke arahnya.
“Kakak sudah menabrak calon suaminya,” jelas singkat Kalun. Membuat Riella menggeleng tidak percaya.
“Apa orangnya cacat, hingga Kakak mau menikahinya?”
“Bahkan orangnya pergi ke alam lain,” sahut Kalun membuat Riella menutup mulutnya.
“Itulah yang terjadi Dek, jadi Kakak minta bantuanmu, untuk mengembunyikan dari Kayra.”
“Lalu apa rencanamu Kak?” tanya Riella yang menatap penuh selidik ke arah Kalun.
Kalun membisikan rencana besarnya, di telinga Riella. Membuat Riella memejamkan mata sambil menggelengkan kepala.
“Terserah Kakak! Aku nggak akan mau ikut campur, aku akan menyalahkan Kakak jika salah satu diantara kita akan mengalami hal yang serupa dengan Kayra maupun calon istri Kakak itu.” Riella berjalan keluar kamarnya setelah mengucapkan pesan peringatan pada Kalun, meninggalkan Kalun yang tengah memikirkan rencana besarnya tersebut.
---
Malam pun tiba, semua keluarga besar Erik bertolak menuju bandara Soetta. Kalun sengaja mematikan ponselnya supaya Kayra tidak menghubunginya malam ini. Dia berjalan dengan ke tiga adiknya, sedangkan orang tuanya berada di belakang mengikuti mereka.
“Kita tunggu info dulu dari Paman Yohan,” ucap Kalun sambil mendudukkan tubuhnya di kursi seberang Aluna.
“Kal, kamu nggak takut calon istrimu diambil orang?” canda Ella yang menatap anaknya duduk menyendiri di dekat jendela. Dia hanya membalas senyuman tipis ke arah Ella.
“Sudah biarkan saja, mungkin mereka sedang marahan seperti kita dulu,” ucap Erik sambil menarik tangan Ella supaya istrinya itu duduk. Ella hanya mengernyit sambil memukul pelan punggung Erik.
“Aluna sudah makan?” tanya Ella yang berada di belakang kursi Aluna.
“Sudah Tante,” jawab Aluna singkat.
“Jangan panggil Tante dong, ini calon mertua kamu. Panggil Mama saja, sekalian belajar supaya terbiasa,” jelas Ella yang langsung di jawab senyuman oleh Aluna.
Sesaat kemudian, Mereka lalu memasuki pesawat komersil, Kalun sengaja meminta paman Yohan untuk memesan tiket pesawat komersil, karena dia ingin melihat respon Aluna, ketika harus menaiki pesawat umum, beruntung semua anggota keluarganya menuruti permintaan dirinya yang tidak wajar ini.
Saat berada di pesawat, Aluna mendapatkan tempat duduk di depan kursi Erik dan Ella, dia duduk sendiri di sana, karena Kalun lebih memilih duduk di samping Doni.
Pesawat sudah berada di atas awan selama 10 menit, Aluna terus menatap jendela pesawat sambil sesekali meneteskan air matanya. Harusnya dia sekarang tengah berada di kereta bisnis bersama calon suaminya, harusnya 3 hari lagi dia akan mendapat gelar nyonya Fandi, tapi takdir begitu kejam dengannya. Dia kehilangan sosok yang penjadi penolong hidupnya selama ini, orang yang menjadi cinta pertamanya.
Kalun yang melihat Aluna terus mengusap air matanya, hanya mendengus kesal, karena dia merasa, penyebab keluarnya air mata Aluna itu karena dirinya.
__ADS_1
Dia lalu mendekat ke arah kursi Aluna, menyerahkan sapu tangan yang selalu ada di kantong celananya.
“Hapus air matamu, jangan sampai Mamaku tahu kamu menangis,” bisik Kalun yang mendekatkan bibirnya di telinga Aluna.
“Ma – maaf,” ucap Aluna, tangannya terulur mengambil sapu tangan yang ada di tangan Kalun.
Aluna lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, matanya terpejam meredam supaya air matanya tidak keluar lagi. Dia yang lelah akhirnya tertidur dengan nyenyak di sandaran kursi. Tanpa mempedulikan tatapan Kalun yang sedari tadi terus menatapnya.
---
Saat tiba di Bandara Adi Sumarmo, mereka sudah dijemput oleh sopir dari pihak hotel, yang sudah di pesan Doni, rencananya beberapa hari ke depan, mereka akan menginap di salah hotel terbaik di Solo. Karena prosesi pernikahan yang akan diselenggarakan selama 3 hari berturut-turut.
Saat mereka sudah masuk ke dalam mobil, Ella mengingatkan Kalun untuk mengantarkan Aluna yang masih berdiri di luar mobil.
“Lun ... masuklah!” perintah Ella dari dalam mobil.
“Nggak usah Tan, bentar lagi ada yang menjemput Luna kok,” tolak Aluna sambil mengibaskan tangannya.
Ella menatap ke arah Kalun yang terlihat biasa saja.
“Tega kamu membiarkan calon istrimu yang cantik itu berdiri di sana sendirian?” sindir Ella yang meminta halus pada Kalun untuk menemani Aluna.
“Mam sudah dong, dia sebentar lagi juga ada yang menjemput,” jelas Kalun sambil melirik ke arah Aluna.
“Kamu nggak lihat ini jam berapa!” ucap Ella sambil menunjuk jam di tangannya. Kalun kini sudah menatap Aluna dengan terang-terangan, merasa kasihan karena barang bawaan Aluna juga lumayan banyak.
Setelah perdebatan kecil dengan mamanya, akhirnya Kalun turun dari mobil untuk menemani Aluna, yang tengah menunggu jemputan. Sedangkan mobil Erik dan keluarganya sudah meninggalkan mereka berdua.
Sudah 10 menit mereka menunggu, orang tua Aluna belum juga tiba di bandara, membuat Kalun mencekram tangannya erat, karena merasa kesal terlalu lama menunggu. Kedua orang itu hanya diam, bahkan tidak ada yang berani untuk mencuri pandang. Jarak mereka duduk juga terlihat berjauhan.
Aluna tersenyum tipis saat melihat mobil kijang tua bewarna merah berhenti tepat di depannya. Dia langsung memeluk erat pria paruh baya yang keluar dari dalam mobil.
Terlihat lelaki itu mengusap air matanya di balik punggung anaknya. Kalun terharu saat melihat pertemuan dua orang di depannya itu. Dia hanya menatap dua orang di depanya yang masih berpelukkan.
Berapa lama mereka tidak bertemu? Pelukkan saja lama sekali. Batin Kalun yang belum beranjak dari tempat duduknya.
“Pa, dia Kalun yang akan menggantikan Fandi, dia akan menikahiku sesuai pesan terakhir Fandi,” ucap Aluna yang menunjuk ke arah Kalun yang masih duduk di kursi. Mata Budi menatap wajah Kalun dengan tatapan penuh selidik, dia ingin mengetahui apa pria di depannya ini benar-benar akan menikahi putrinya.
TBC
👣
Jangan lupa like, vote dan komentar.🙏
__ADS_1