Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Maaf


__ADS_3

Sinar matahari itu membuat Kalun terbangun


dari tidur panjangnya, dia melirik sebentar ke arah Aluna yang tengah menatapnya lekat dengan tangan yang menopang kepalanya. Bibir Kalun masih mengerucut menandakan dia masih marah dengan Aluna.


Kalun menyibakkan selimutnya dengan kasar, lalu segera berjalan ke kamar mandi mendahului Aluna yang masih enggan beranjak dari kasur.


“Nggak mau mandi bareng?” tawar Aluna


mengiringi langkah Kalun. Kalun tidak menanggapi ucapan Aluna dia tetap berjalan mengabaikan godaan Aluna. membuat istrinya itu menggelengkan kepalanya, karena mengetahui satu sikap Kalun yang seperti anak kecil itu.


Setelah menyelesaikan mandinya, Kalun


segera turun ke bawah, tanpa menunggu Aluna yang tengah mandi, dia berjalan ke meja makan berkumpul dengan keluarganya yang sudah duduk di meja makan.


“Istrimu mana?” tanya Erik ketika melihat Kalun


berjalan sendirian.


“Ada di kamar, nggak tahu lagi ngapain!” jawabnya kesal. Dia lalu duduk di kursi kosong yang sudah disiapkan untuknya dan Aluna. semua orang menunggu Aluna untuk turun, sambil memainkan ponsel yang ada di tangannya. Kalun hanya menatap ke arah papa dan mamanya yang masih menunggu Aluna datang. Berbeda dengan adik-adiknya yang tengah asyik dengan dunianya sendiri.


“Letakkan ponsel kalian! Ini waktu yang


berharga untuk berkumpul dengan keluarga, jadi jangan merusaknya!” peringat Kalun


pada ketiga adiknya yang langsung diikuti mereka. Ketiga adik perempuannya itu hanya menatap ke arah tangga berharap Aluna akan segera turun.


Aluna yang sudah menyelesaikan mandinya


segera turun ke bawah, menghampiri semua orang yang sudah menunggunya untuk sarapan.


“Lama banget mandinya! Nggak tahu apa kalau kita di sini nungguin!” ketus Kalun mengiringi Aluna yang duduk di sampinya.


“Sudah ayo kita sarapan! Yang penting kita


sudah berkumpul,” kata Ella yang tidak ingin mempermasalahkan lagi.


“Mau aku ambilkan?” tawar Aluna sedikit lirih mendekat ke arah wajah Kalun.


“Nggak usah repot-repot aku nggak suka


makananku disentuh tangan orang lain!”


Aluna menunduk setelah mendengar jawaban


lirih dari Kalun. Sedikit sesak tapi dia paham jika suaminya itu tengah marah dengannya. Dia hanya berharap semoga air matanya tidak turun hingga bisa merusak acara sarapan dengan keluarganya saat ini. Dia memejamkan sekejap matanya, lalu membuang nafasnya pelan.


Aluna mulai mengambil sarapannya, dia ingin


segera mengakhiri sarapan yang sebenarnya sangat dirindukan itu. Tanpa lagi mengajak bicara ataupun melirik ke arah Kalun.


“Minum susunya itu Lun, itu sengaja mama

__ADS_1


buatkan untukmu!” perintah Ella sambil menunjuk ke arah susu di depan Aluna.


“Ngapain juga mama repot-repot membuatkan susu untuknya, Aluna bisa kok buat sendiri!” timpal Kalun sambil meneguk susu coklat yang Ella buatkan untuk Aluna.


“Kenapa kamu yang minum!” bentak Erik yang


terlihat kesal dengan anaknya.


“Sudah Pa. nggak papa kok Luna bisa buat


sendiri nanti,” jawab Aluna lembut sambil tersenyum manis ke arah mertuanya.


“Iya sana buat sendiri, dari pada terus


melamun memikirkan mantan!”


Deg!


Ucapan Kalun itu sedikit menyakitinya, nafasnya sedikit sesak setelah mendengar ucapan Kalun. Aluna sudah tidak bisa lagi menyelesaikan makannya, dia tidak bisa terus duduk di kursi sebelah Kalun. Karena takut jika mertuanya tahu jika mereka sedang bertengkar.


“Pa. Ma, maaf Luna ke atas dulu, Luna sudah


kenyang!” pamit Aluna yang membuat semua orang menatapnya lekat. Termasuk suaminya yang semakin mengerutkan keningnya saat melihat wajah merah Aluna. Aluna benar-benar meninggalkan meja makan, tanpa mendengat persetujuan dari semua orang.


“Tadi katanya meminta adik-adikmu untuk


tidak merusak suasana! Tapi justru kamu merusaknya sendiri, membuat istrimu pergi meninggalkan meja makan!” sindir Erik sambil melepaskan kaca matanya. Kedua adiknya memanggutkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan papanya.


“Apapun masalahmu, selesaikan berdua jangan dibawa ke meja makan seperti ini, kamu itu lelaki jangan punya bibir ember seperti itu, kita nggak akan mau dengar kekurangan dan kelebihan istrimu. Cukup kamu saja yang tahu!” nasihat Erik pada putra satu-satunya itu.


“Yakin? Tapi Papa melihatnya jika kamu


tengah meluapkan emosimu!”


Kalun memikirkan ucapan Erik yang menyangkut tentangnya itu. Dia memang tengah kesal dengan Aluna, ketika Aluna mengatakan jika dia bukan orang pertama di hatinya. Tapi bagaimana dengannya? Dia justru bukan hanya menjadikan Aluna orang pertama, dia bahkan sudah melakukan itu dengan Kayra. Apalagi orang pertama Aluna sudah tiada, sedangkan dirinya masih bisa melihat saja Kayra setiap waktu.


“Segera susul dia, ajak Aluna jalan-jalan pasti marahnya surut nanti,” ucap Erik sambil menatap ke arah Ella yang tengah mendengarkan perbincangannya.


“Apa maksudmu menatapku seperti itu?” Ella sudah mencubit Erik saat mengerti maksud suaminya.


“Nggak papa! Biasanya kan kamu seperti itu!


Nggak sadar kan? Mau aku ingatkan lagi?” canda Erik sambil terkekeh, dia lalu


menyuapkan sarapannya ke mulut Ella, supaya istrinya itu tidak memasang wajah marah lagi dengannya.


Kalun akhirnya meninggalkan sarapannya


setelah berpikir lama. Dia turut mengambil sarapan di atas meja. Mengikuti jejak papanya yang menyuapi istrinya ketika mamanya tengah merajuk.


Kalun masih berdiri di depan pintu

__ADS_1


kamarnya. Dia belum berani membuka pintu kamarnya. Dia khawatir Aluna akan marah-marah dengannya. Cukup lama dia menangkan diri, dia akhirnya dengan pelan membuka pintu kamar. Matanya menatap Aluna yang tengah menelungkupkan tubuhnya menghadap kasur. Sudah dia pastikan jika istrinya itu tengah menangis di sana.


“Maaf!” Kalun mendekat ke arah Aluna, dia


berusaha membalikkan tubuh Aluna yang menghadap ke arah kasur.


“Lun. Iya aku yang salah, kamu jangan


menangis lagi!” ucapnya sambil membawa Aluna duduk di tepi ranjang.


Kalun yang sudah meletakkan sarapannya di


meja. Tangannya berusaha mengenggam tangan Aluna yang terasa basah terkena air mata itu.


“Aku yang salah, aku yang terlalu cemburu


saat kamu membahas mantanmu, padahal diriku lebih buruk darimu,” jelas Kalun yang


menatap tangan Aluna. dia tidak berani menatap wajah sedih Aluna saat ini.


“Aku terlalu cemburu saat kamu bersamaku,


kamu justru membahas orang lain,” jelasnya lagi membuat Aluna melepaskan tangan Kalun.


“Haruskah aku memaafkanmu lagi?”


Kalun mengangguk, mengartikan jika istrinya


itu harus memaafkannya.


“Apa alasannya?”


“Karena aku mencintaimu. Jika kamu


mencintaiku, harusnya kamu juga memaafkanku! Kita jalan-jalan mungkin aku akan membawamu ke tempat yang kamu sukai.”


Aluna yang tadi sudah menangis, kini air


matanya sudah sedikit kering. Dia tersenyum ke arah Kalun, menyetujui permintaan maaf Kalun. Dia lalu berdiri hendak pergi untuk mengganti bajunya. Namun, tangan Kalun dengan sigap menarik tangannya. Membuat tubuh Aluna yang tidak siap terjatuh di atas tubuh Kalun yang sudah jatuh lebih dulu di atas kasur.


Kalun beralih memeluk Aluna yang berada di


atasnya. Dia menciumi kening Aluna hingga dahi Aluna terasa lembab karena kecupan Kalun. Perlahan ciuman itu menyebar ke arah wajah Aluna, hingga sampai di bibir Aluna yang terlihat merah itu.


Kalun mengecupnya singkat lalu tersenyum


ke arah Aluna. dia lalu kembali mengecupnya lagi, bahkan kecupannya kini Kalun perdalam hingga gairah yang tadi tertutup emosi, kini sudah menyala karena rasa cinta dan keinginannya untuk melakukan penyatuannya.


Tidak butuh waktu lama Kalun sudah berhasil


menanggalkan seluruh pakaian Aluna. Kalun memulainya dengan lembut, emosinya kini sudah meredup berganti dengan rasa bahagia dan kenikmatan, karena Aluna membalasnya dengan hal yang sama dengan yang Kalun lakukan.

__ADS_1


👣


Tinggalkan jejak ya 👍


__ADS_2