
Sinar matahari itu membuat Kalun terbangun
dari tidur panjangnya, dia melirik sebentar ke arah Aluna yang tengah menatapnya lekat dengan tangan yang menopang kepalanya. Bibir Kalun masih mengerucut menandakan dia masih marah dengan Aluna.
Kalun menyibakkan selimutnya dengan kasar, lalu segera berjalan ke kamar mandi mendahului Aluna yang masih enggan beranjak dari kasur.
“Nggak mau mandi bareng?” tawar Aluna
mengiringi langkah Kalun. Kalun tidak menanggapi ucapan Aluna dia tetap berjalan mengabaikan godaan Aluna. membuat istrinya itu menggelengkan kepalanya, karena mengetahui satu sikap Kalun yang seperti anak kecil itu.
Setelah menyelesaikan mandinya, Kalun
segera turun ke bawah, tanpa menunggu Aluna yang tengah mandi, dia berjalan ke meja makan berkumpul dengan keluarganya yang sudah duduk di meja makan.
“Istrimu mana?” tanya Erik ketika melihat Kalun
berjalan sendirian.
“Ada di kamar, nggak tahu lagi ngapain!” jawabnya kesal. Dia lalu duduk di kursi kosong yang sudah disiapkan untuknya dan Aluna. semua orang menunggu Aluna untuk turun, sambil memainkan ponsel yang ada di tangannya. Kalun hanya menatap ke arah papa dan mamanya yang masih menunggu Aluna datang. Berbeda dengan adik-adiknya yang tengah asyik dengan dunianya sendiri.
“Letakkan ponsel kalian! Ini waktu yang
berharga untuk berkumpul dengan keluarga, jadi jangan merusaknya!” peringat Kalun
pada ketiga adiknya yang langsung diikuti mereka. Ketiga adik perempuannya itu hanya menatap ke arah tangga berharap Aluna akan segera turun.
Aluna yang sudah menyelesaikan mandinya
segera turun ke bawah, menghampiri semua orang yang sudah menunggunya untuk sarapan.
“Lama banget mandinya! Nggak tahu apa kalau kita di sini nungguin!” ketus Kalun mengiringi Aluna yang duduk di sampinya.
“Sudah ayo kita sarapan! Yang penting kita
sudah berkumpul,” kata Ella yang tidak ingin mempermasalahkan lagi.
“Mau aku ambilkan?” tawar Aluna sedikit lirih mendekat ke arah wajah Kalun.
“Nggak usah repot-repot aku nggak suka
makananku disentuh tangan orang lain!”
Aluna menunduk setelah mendengar jawaban
lirih dari Kalun. Sedikit sesak tapi dia paham jika suaminya itu tengah marah dengannya. Dia hanya berharap semoga air matanya tidak turun hingga bisa merusak acara sarapan dengan keluarganya saat ini. Dia memejamkan sekejap matanya, lalu membuang nafasnya pelan.
Aluna mulai mengambil sarapannya, dia ingin
segera mengakhiri sarapan yang sebenarnya sangat dirindukan itu. Tanpa lagi mengajak bicara ataupun melirik ke arah Kalun.
“Minum susunya itu Lun, itu sengaja mama
__ADS_1
buatkan untukmu!” perintah Ella sambil menunjuk ke arah susu di depan Aluna.
“Ngapain juga mama repot-repot membuatkan susu untuknya, Aluna bisa kok buat sendiri!” timpal Kalun sambil meneguk susu coklat yang Ella buatkan untuk Aluna.
“Kenapa kamu yang minum!” bentak Erik yang
terlihat kesal dengan anaknya.
“Sudah Pa. nggak papa kok Luna bisa buat
sendiri nanti,” jawab Aluna lembut sambil tersenyum manis ke arah mertuanya.
“Iya sana buat sendiri, dari pada terus
melamun memikirkan mantan!”
Deg!
Ucapan Kalun itu sedikit menyakitinya, nafasnya sedikit sesak setelah mendengar ucapan Kalun. Aluna sudah tidak bisa lagi menyelesaikan makannya, dia tidak bisa terus duduk di kursi sebelah Kalun. Karena takut jika mertuanya tahu jika mereka sedang bertengkar.
“Pa. Ma, maaf Luna ke atas dulu, Luna sudah
kenyang!” pamit Aluna yang membuat semua orang menatapnya lekat. Termasuk suaminya yang semakin mengerutkan keningnya saat melihat wajah merah Aluna. Aluna benar-benar meninggalkan meja makan, tanpa mendengat persetujuan dari semua orang.
“Tadi katanya meminta adik-adikmu untuk
tidak merusak suasana! Tapi justru kamu merusaknya sendiri, membuat istrimu pergi meninggalkan meja makan!” sindir Erik sambil melepaskan kaca matanya. Kedua adiknya memanggutkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan papanya.
“Apapun masalahmu, selesaikan berdua jangan dibawa ke meja makan seperti ini, kamu itu lelaki jangan punya bibir ember seperti itu, kita nggak akan mau dengar kekurangan dan kelebihan istrimu. Cukup kamu saja yang tahu!” nasihat Erik pada putra satu-satunya itu.
“Yakin? Tapi Papa melihatnya jika kamu
tengah meluapkan emosimu!”
Kalun memikirkan ucapan Erik yang menyangkut tentangnya itu. Dia memang tengah kesal dengan Aluna, ketika Aluna mengatakan jika dia bukan orang pertama di hatinya. Tapi bagaimana dengannya? Dia justru bukan hanya menjadikan Aluna orang pertama, dia bahkan sudah melakukan itu dengan Kayra. Apalagi orang pertama Aluna sudah tiada, sedangkan dirinya masih bisa melihat saja Kayra setiap waktu.
“Segera susul dia, ajak Aluna jalan-jalan pasti marahnya surut nanti,” ucap Erik sambil menatap ke arah Ella yang tengah mendengarkan perbincangannya.
“Apa maksudmu menatapku seperti itu?” Ella sudah mencubit Erik saat mengerti maksud suaminya.
“Nggak papa! Biasanya kan kamu seperti itu!
Nggak sadar kan? Mau aku ingatkan lagi?” canda Erik sambil terkekeh, dia lalu
menyuapkan sarapannya ke mulut Ella, supaya istrinya itu tidak memasang wajah marah lagi dengannya.
Kalun akhirnya meninggalkan sarapannya
setelah berpikir lama. Dia turut mengambil sarapan di atas meja. Mengikuti jejak papanya yang menyuapi istrinya ketika mamanya tengah merajuk.
Kalun masih berdiri di depan pintu
__ADS_1
kamarnya. Dia belum berani membuka pintu kamarnya. Dia khawatir Aluna akan marah-marah dengannya. Cukup lama dia menangkan diri, dia akhirnya dengan pelan membuka pintu kamar. Matanya menatap Aluna yang tengah menelungkupkan tubuhnya menghadap kasur. Sudah dia pastikan jika istrinya itu tengah menangis di sana.
“Maaf!” Kalun mendekat ke arah Aluna, dia
berusaha membalikkan tubuh Aluna yang menghadap ke arah kasur.
“Lun. Iya aku yang salah, kamu jangan
menangis lagi!” ucapnya sambil membawa Aluna duduk di tepi ranjang.
Kalun yang sudah meletakkan sarapannya di
meja. Tangannya berusaha mengenggam tangan Aluna yang terasa basah terkena air mata itu.
“Aku yang salah, aku yang terlalu cemburu
saat kamu membahas mantanmu, padahal diriku lebih buruk darimu,” jelas Kalun yang
menatap tangan Aluna. dia tidak berani menatap wajah sedih Aluna saat ini.
“Aku terlalu cemburu saat kamu bersamaku,
kamu justru membahas orang lain,” jelasnya lagi membuat Aluna melepaskan tangan Kalun.
“Haruskah aku memaafkanmu lagi?”
Kalun mengangguk, mengartikan jika istrinya
itu harus memaafkannya.
“Apa alasannya?”
“Karena aku mencintaimu. Jika kamu
mencintaiku, harusnya kamu juga memaafkanku! Kita jalan-jalan mungkin aku akan membawamu ke tempat yang kamu sukai.”
Aluna yang tadi sudah menangis, kini air
matanya sudah sedikit kering. Dia tersenyum ke arah Kalun, menyetujui permintaan maaf Kalun. Dia lalu berdiri hendak pergi untuk mengganti bajunya. Namun, tangan Kalun dengan sigap menarik tangannya. Membuat tubuh Aluna yang tidak siap terjatuh di atas tubuh Kalun yang sudah jatuh lebih dulu di atas kasur.
Kalun beralih memeluk Aluna yang berada di
atasnya. Dia menciumi kening Aluna hingga dahi Aluna terasa lembab karena kecupan Kalun. Perlahan ciuman itu menyebar ke arah wajah Aluna, hingga sampai di bibir Aluna yang terlihat merah itu.
Kalun mengecupnya singkat lalu tersenyum
ke arah Aluna. dia lalu kembali mengecupnya lagi, bahkan kecupannya kini Kalun perdalam hingga gairah yang tadi tertutup emosi, kini sudah menyala karena rasa cinta dan keinginannya untuk melakukan penyatuannya.
Tidak butuh waktu lama Kalun sudah berhasil
menanggalkan seluruh pakaian Aluna. Kalun memulainya dengan lembut, emosinya kini sudah meredup berganti dengan rasa bahagia dan kenikmatan, karena Aluna membalasnya dengan hal yang sama dengan yang Kalun lakukan.
__ADS_1
👣
Tinggalkan jejak ya 👍