
Aluna tidak mengerti kenapa dia menjadi selemah ini, jika itu menyangkut tentang suaminya, cintanya untuk Kalun membuat hatinya selalu mengalah. Tidak peduli apa dan bagaimana Kalun memperlakukannya saat ini.
Setelah kejadian pertarungan kecil antara Kalun dan Samuel satu minggu yang lalu. Dia kini paham jika Kalun benar mencintainya. Kadang dia merasa takut jika lelaki itu akan pergi meninggalkannya. Tapi dia juga sudah menyiapkan hatinya jika memang hari itu akan tiba. Hari di mana tunangannya akan mengambil Kalun darinya.
Aluna saat ini, jadi wanita penurut untuk suaminya, nggak salahkan? Dia tidak pernah tahu bagaimana caranya menjadi istri yang baik, selama ini dia hanya berusaha menjadi yang terbaik untuk Kalun. Ntah bagaimana dan harus melakukan apa dia akan melakukannya, asalkan tidak keluar dari apa yang jadi pedomannya.
Pagi ini Aluna berangkat lebih awal dari biasanya. Perusahaannya memberikan waktu libur dua hari untuk mereka yang merayakan natal. Dan hari ini adalah hari senin, setelah 3 hari libur hanya berada di dalam apartemen mewahnya, kini Aluna merasa senang karena bisa menghirup udara pagi Jakarta.
Bibir merah Aluna terus tertarik ke atas ketika mengingat perlakuan Kalun, yang menyuapinya saat kemarin dia mengeluh sakit perut. Beberapa hari ini Aluna memang sedikit kurang sehat, dia mengira karena telat makan jadi asam lambungnya sering kambuh, dan kemarin Kalun berhasil merawatnya dengan baik. Bahkan suaminya itu mau memandikannya, seperti memandikan bayi yang baru lahir.
Pintu lift terbuka. Aluna segera berjalan masuk ke dalam lift, terlihat beberapa wanita yang tengah menghias dirinya di dalam lift. Semenjak pihak HRD mengumumkan untuk mengganti rok dengan celana, sepertinya kini para karyawan wanita berbondong-bondong untuk membeli baju atasan yang memperlihatkan tonjolan dadanya.
“Minggu depan kamu datang ke acara Famgat kan, Sa?” tanya wanita yang ada di sebelah kiri Aluna, wanita itu sambil melihat bibirnya di pantulan kaca yang ada di tangan kanannya.
“Iyalah, siapa tahu Pak Kalun datang kan lumayan tu, bisa melihat diriku yang sexy,” sahut wanita bertubuh seperti triplek itu.
Aluna hanya diam sambil mendengarkan wanita yang tengah menggunjing suaminya. Dia tidak rela wanita itu memuji ketampanan Kalun. Tapi dia bisa apa? Ingin rasanya dia mengaku, jika dia adalah istri dari Kalun, supaya mereka tahu jika Kalun sudah beristri.
Pintu lift terbuka, Aluna segera keluar dan berjalan ke arah ruangannya. Saat dia tiba di sana, David yang sudah datang langsung menyerahkan undangan Family Gatering untuknya. Dia terkekeh saat membaca note yang menuliskan jika setiap tamu undangan harus membawa pasangan. Karena akan ada acara perlombaaan couple.
“Nyari pacar bayaran dulu lah ya, biar bisa bawa pasangan,” ucap Renata yang sudah datang lebih awal dari Aluna.
“Pesankan satu buatku kalau ada,” pesan Aluna yang kebingungan mencari pasangan.
“Kamu sama aku saja Lun,” sahut David yang diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka.
Renata yang ada di sana, langsung menatap ke arah David, dia dengan berani menatap tajam ke arah kepala Devisinya itu.
“Jangan macam-macam deh Pak, Aluna kan sudah punya suami! Mau apa dicincang suaminya,” kata Renata sambil mendekat ke arah David.
“Bapak sama aku saja, Bagaimana? Kita kan sama-sama belum ada pasangan,” tawar Renata sambil duduk di kursi depan David.
“Nggak mau! Saya sepertinya juga jadi MC nantinya, dan pastinya akan sangat sibuk,” jelas David sambil tersenyum menyerigai ke arah Renata. Renata yang mendengar jawaban David membalasnya dengan senyuman jijik.
“Pak Kalun biasanya datang nggak pak David?” tanya Renata setelah diam sesaat.
__ADS_1
“Biasanya datang, tapi dia nggak mau menginap di sana, karena tunangannya nggak mau!” jelas David yang membuat Aluna mendekat ke arah David. Dia penasaran dengan sosok Kayra. Karena dia tidak pernah melihat foto Kayra sampai saat ini.
“Dia sering ke kantor Pak?” kali ini bukan dari Renata yang bertanya, tapi Aluna yang penasaran mendadak menjadi wartawan yang tengah mencari berita.
“Hehmm, iya dulu sering ke kantor, paling cuma di ruangan Pak Kalun, menjadi tukang pijitnya, seharian di sana, semua gorden ditutup, lampu dimatikan. Ngapain coba? Pasti lagi ehmm … tahu sendiri kan, kalian juga sudah dewasa.” David menjelaskan sambil tertawa kecil.
Aluna yang mendengar penjelasan David sedikit terbakar api cemburu. Dia merutuki sendiri kebodohannya, yang menanyakan tentang Kayra.
“Dia cantik Pak?” tanya Renata melanjutkan rasa penasaran Aluna.
“Cantiklah. Tubuhnya saja, banyak tonjolannya,” jelas David.
Renata yang mendengar itu menopang kepalanya dengan tangan kanan, dahinya sudah berkerut mencerna ucapan David. Setelah paham dia baru melanjutkan pertanyaannya yang kedua.
“Sama Aluna cantikkan mana?” tanya lagi Renata.
Aluna yang tadinya sudah kembali ke mejanya, kembali menatap ke arah David. Membuka telinganya lebar menanti jawaban yang keluar dari bibir David.
“Cantikkan Kayra lah, Aluna nggak ada apa-apanya!”
“Tapi untukku, kamu yang tercantik Lun, meski kamu kecil dan pendek hahaha,” kata David sambil berjalan mendekati Aluna.
“Sayangnya kamu sudah bersuami, coba belum aku akan segera menemui orang tuamu sekarang juga,” kata David yang sudah berada di hadapan Aluna. dia terus menatap Aluna lekat, hingga suara dingin itu membuyarkan penglihatannya.
“Lun. Ke ruanganku sekarang!” perintah Kalun yang membuat semua orang menoleh ke arahnya yang berdiri di ambang pintu. Aluna menyengir kuda sambil mengikuti langkah Kalun menuju lift khusus.
Kalun yang lebih dulu masuk ke dalam lift, menatap Aluna yang berlari kecil mengikutinya.
“Selamat pagi Pak,” sapa Aluna saat berada tepat di sampimg Kalun.
Kalun masih terdiam, belum ingin memulai berbicara dia masih menampilkan wajah datarnya, tidak ingin menoleh ataupun mengubah ekspresinya.
Sesampai di ruangannya, Kalun meminta Aluna duduk di depan meja kerjanya.
“Apa yang kamu katakan pada David, kenapa dia menatap dirimu seperti itu. Kamu milikku jadi jangan menggoda lelaki lain!” peringat Kalun yang sudah duduk di kursinya dengan posisi menghadap ke arah Aluna.
__ADS_1
“Kita Cuma ngomongin Famgat Pak! Nggak lebih,” jelas Aluna menatap ke arah Kalun.
Kalun sudah memasang wajah emosinya. Sambil menatap lekat Aluna.
“Mendekatlah!” perintah Aluna sambil menjentikkan jarinya, meminta Kalun untuk mendekat.
Kalun mendekati wajah Aluna, menantikan apa yang akan di lakukan Aluna selanjutnya. Aluna yang khawatir, menoleh ke arah pintu
masuk, memastikan jika tidak ada orang yang akan mendorong pintu masuk.
Cup!
Kecupan singkat dari bibir Aluna mendarat singkat di bibir Kalun. Membuat lelakinya itu tersenyum senang karena sikap Aluna yang penuh kejutan.
Setelah puas menyentuh bibinya, Kalun berjalan mendekat ke arah Aluna, langkahnya sengaja dia pelankan, karena dia masih ingin melihat perubahan wajah Aluna yang ketakutan.
“A’! ini kantor,” ucap Aluna yang sedikit ketakutan.
“Semua orang juga tahu, jika ini kantor, tapi kamu yang mulai duluan,” jelas Kalun yang hampir saja tiba di samping Aluna. Kalun masih menatap lekat Aluna sambil tersenyum nakal ke arah istrinya.
Aluna hanya memejamkan matanya saat langkah kaki Kalun yang sudah semakin jelas terdengar semakin dekat dengan telinganya. Bahkan Kalun ini sudah melepaskan jas dan melemparkannya ke arah kursi kerjanya. Dia mulai mengendorkan dasinya sambil menatap Aluna.
Brakk!
Pintu ruangan Kalun terbuka
dengan kasar, membuat Kalun mengurungkan niatnya untuk mendekat lagi ke arah Aluna.
“Ma-maaf Pak!” ucap
lelaki yang menjadi kepercayaan Kalun.
TBC
👣
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote.