
Terima kasih yang sudah rela menyerahkan poinnya buat Aa Kalun. Bantu vote lagi ya! Jangan biarkan vote yang sudah masuk terbuang sia-sia karena nggak masuk ranking voteπ terima kasih banyak pokoknya. Aku sayang kalianππ
π
Pesawat berhenti sempurna di Bandara Internasional Haneda. Erik lebih dulu mengetuk pintu kamar pesawat, sebelum keluar dari badan pesawat pribadinya. Membangunkan dua manusia yang tengah memadu kasih di dalam sana. Setelah terdengar sahutan dari dalam kamar, Erik meninggalkan mereka bergegas membangunkan kedua anak kembarnya yang masih terlelap di kursinya.
Sedangkan Riella dan Kenzo sudah tidak terlihat lagi di tempat duduknya, mereka berdua sudah keluar lebih dulu dari pesawat yang mereka tumpangi.
"Apa kamu tidak apa-apa?" tanya Kenzo ketika mendapati Riella yang berhenti berjalan sambil memijit kepala yang terasa berat.
"Ya, aku baik-baik saja, pergilah dulu ke mobil!" jawabnya meminta Kenzo untuk berjalan lebih dulu ke mobil yang sudah terparkir di samping pesawat yang mereka naiki.
"Welcome to Tokyo!" teriak Erik, yang membuat Maura menyingkap tubuhnya dengan kedua tangan, Maura kini sudah berada di tengah pintu pesawat sambil mengedarkan pandangannya. Saat dia menyadari di mana dia sekarang. Maura menjerit, merengek, sambil memukul-mukul lengan Erik. Liburan yang sudah ia rencanakan buyar, ketika pesawat yang ia tumpangi tidak mendarat di Jeju Korea Selatan.
"Rara, nggak mau bicara dengan Papa!" sungutnya sambil membulatkan pupil matanya, menatap tajam ke arah Erik yang tengah bahagia mendapati wajah kesalnya.
Maura menghentakkan kakinya ketika menuruni tangga pesawat. Tidak melihat semua orang yang menertawainya.
Tidak lama kemudian, pintu kamar pesawat terbuka, Kalun keluar dari kamar dengan wajah yang tidak baik. Berbeda dengan Aluna yang tengah puas dengan jam istirahatnya.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" Ella langsung memburu Kalun dengan pertanyaan saat melihat wajah lelah Kalun.
"Aku nggak bisa tidur, Luna meninggalkanku tidur dalam kondisi yang tidak baik!" jawab Kalun sambil melirik ke arah Aluna yang menutup mulutnya, dia tertawa mendengar ucapan Kalun, karena teringat kejadian yang mereka alami di dalam kamar. Setelah dia terlelap semalam. Kalun tidak bisa tidur, dia samar-samar merasakan tangan Kalun yang berusaha membuatnya bangun, tapi yang ada dia enggan untuk membuka matanya, karena merasa kantuk yang luar biasa.
"Ada-ada saja kamu! Bukannya kamu semalam di kamar! Lalu apa yang kamu lakukan hingga tidak bisa terlelap, kamu masih bekerja lembur?!" Erik memberikan pertayaannya sambil tersenyum ke arah Ella. Dia teringat ketika melakukan dengan istrinya di kamar pesawat, saat dulu masih setengah tua, ia bisa merasakan kenikmatan itu, di atas awan saat malam hari.
Ella yang mendapat tatapan Erik langsung berjalan mendahului lelaki tuanya tersebut. Dia menghampiri Maura yang tengah menekuk wajahnya. Berbeda dengan Naura yang terlihat sangat bahagia, ketika Erik mengatakan jika mereka akan mengunjungi gunung Fuji.
"Mau aku gendong?" tawar Kalun saat mereka sudah berada di pintu pesawat.
"Nggak perlu! Takut kamu pingsan. Kan Aa' semalam kurang istirahat!" ledek Aluna dengan senyuman manis yang ia tampilkan.
__ADS_1
"Gara-gara kamu tahu nggak Yang!" gerutu Kalun lalu melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga, menghampiri mobil yang akan membawanya ke penginapan.
***
Semuanya kini sudah berada di kamar hotel masing-masing. Kalun masih terlelap di bawah selimut, mengganti waktu istirahat yang semalam tidak sempurna.
Sedangkan Aluna tengah berjalan-jalan dengan Ella di sekitar hotel. Hanya Naura yang mengikuti mereka. Sedangkan Maura dan Riella tengah berada di dalam kamar. Menikmati keheningan saat mereka bertiga tidak berada di sana.
Ella menarik tangan Aluna dan Naura, ketika melihat pernak-pernik assecoris di mall yang mereka lewati. Mereka bertiga berjalan melewati satu persatu toko yang ada di mall tersebut.
"Apa yang kamu inginkan Lun, ambil saja! Bukan hanya untukmu tapi untuk calon cucuku juga boleh!" kata Ella sambil tersenyum ke arah Aluna. Tapi Aluna hanya menggeleng sebagai jawaban, karena tidak begitu membutuhkan barang yang ada di sana.
"Nanti kalau lahiran, kamu tinggal dengan kami ya? Biar ada yang bantuin ngurus anakmu, jadi kamu masih bisa mengurus dirimu sendiri. Akan kerepotan jika kamu melahirkan tanpa didampingi orang terdekat. Aku pernah merasakannya, beruntung papa mertuamu sangat pengertian denganku! Aku yakin Kalun juga akan seperti itu juga!" ucap Ella yang kini sudah berjalan pelan berdampingan dengan anak dan menantunya.
"Papa Erik sepertinya sangat mencintai Mama Ella ya?" tanya Aluna kemudian. Membuat Ella tersenyum lebar.
"Ya, dia memang seperti itu sejak dulu. Walaupun mama sempat ingin menikah dengan orang lain, tapi perasaanya masih sama. Sama seperti dulu, saat dia berkata ingin menikahi mama! Kamu tenang saja anak lelaki mama itu akan seperti itu juga."
Aluna hanya tersenyum, menanggapi ucapan Ella.
Mereka bertiga keluar daru gerai assecoris tersebut, dengan 5 kantong paperbag di tangan Aluna dan Naura. Mereka bertiga masih duduk di kursi besi yang ada di taman, menikmati sore hari di kota Tokyo. Duduk berjajar sambil menceritakan masa kecil Kalun. Kali ini Ella berani bercerita jika Kalun pernah diculik oleh pamannya. Hingga menimbulkan rasa trauma yang parah, dan menceritakan juga jika Rendi lah yang membantu memulihkan Kalun saat itu.
"Tapi tenanglah Lun, sepertinya dia sudah tidak takut dengan warna merah itu. Pernah aku mendapati Kalun terluka, sepertinya dia sudah sembuh."
Aluna mengangguk pelan, ketika mendengar Ella bercerita tentang Kalun yang dulu sangat takut dengan darah, setelah kejadian penculikan tersebut.
"Kamu rencana lahiran normal, kan?"
Aluna menjawab singkat sambil tersenyum ke arah Ella yang berada di sampingnya "Tapi entahlah Ma. Dokter Hanum bilang pinggangku terlalu kecil, mungkin akan kesulitan, jika bayi kami terlalu besar."
"Iya, apapun jalannya, yang penting ibu dan bayinya sehat, apapun prosesnya untuk menjadi ibu, semua butuh pengorbanan yang besar untuk melahirkan sebuah kehidupan baru." Ella lalu mengusap perut Aluna yang terlihat bergerak ke kanan dan ke kiri.
__ADS_1
Sedangkan Naura masih asyik dengan benda pipih yang ada di tangannya. Dia sibuk membalas chat dari sahabat-sahabatnya yang meminta oleh-oleh dari Tokyo.
"Tadinya papa mertuamu ingin membawa kalian ke Korea sesuai permintaan Maura, tapi nggak tahu kenapa dia lebih memilih untuk pergi ke sini. Dan merubah semua jadwalnya. Semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi." Ella meminum air putih yang ada di tangannya.
"Lun, Mama hanya berpesan padamu, entah apa yang akan terjadi pada kalian ke depannya, jangan sampai mengambil keputusan untuk bercerai seperti kemarin. Aku paham sifat Kalun, aku kasihan melihatnya saat itu, dia berat ketika harus memutuskan menandatangani surat cerai, dia berat melepaskanmu, karena dia mencintaimu. Dia pikir, kalian sudah benar-benar resmi bercerai. Dan aku sebagai mamanya mohon padamu, maafkan kesalahannya karena dulu sudah menghilangkan nyawa calon suamimu." Ella menghentikan ucapannya sambil menatap ke arah Aluna.
Aluna hanya mengangguk sambil mendengarkan engan serius apa yang di katakan Ella, yang menceritakan masalah Kalun.
"Jangan seperti ini Ma, aku sudah memaafkannya. Rasa cintaku lebih besar dari rasa benciku dengan Aa," kata Aluna sambil mengusap lengan Ella.
Ella lalu tersenyum ramah ke arah Aluna, "Beruntungnya, cucuku hadir di waktu yang tepat, menyatukan kembali kamu dengan Kalun. Mama titip anak lelaki mama sama kamu ya!"
"Mama kok bilang gitu, seperti mau pergi jauh saja!" canda Aluna dengan suara tawanya.
"Nggak, mama kalau bisa akan tetap di sini! Tapi mama cuma takut jika nanti mama nggak bisa menyampaikan pesan ini padamu, mumpung kita berdua di sini. Jadi, mama sampaikan sekalian kepadamu." Ella mengakhirinya dengan senyuman ramah.
"Ma, Papa bertanya kita ada di mana? Katanya Papa mau menyusul kita," kata Naura membaca pesan yang dikirim Erik melalu hapenya.
"Ya, suruh mereka menyusul. Kita jalan-jalan lagi sepertinya menyenangkan. Sekalian kita mencari jajanan sekitar sini!" jawab Ella sambil mengamati daun-daun yang terjatuh karena tertiup angin. Mereka tadi berpamitan hanya sebentar dan akan segera kembali. Karena tidak tega juga melihat Aluna yang tengah hamil besar.
***
Tidak lama kemudian Erik dan seluruh anggotanya yang tadi masih berada di hotel, datang membawa mobil yang sudah ia sewa. Kalun langsung menghampiri Aluna. Memarahinya karena meninggalkannya sendiri di kamar hotel. Tapi, Ella yang bergantian memaki Kalun membela menantunya, dia merasa bersalah karena dia yang membawa Aluna pergi dari hotel.
Setelah mereka damai. Erik membawa keluarganya untuk makan malam bersama di kota Tokyo tersebut. Mereka menikmati malam dengan pasangan masing-masing, berbeda dengan anak kembarnya yang sudah selesai makan, mereka berpamitan untuk berselfie ria di bawah menara.
"Papa ada pertanyaan buat kalian para lelaki?" ucap Erik sambil menatap lelaki di depannya itu bergantian.
Kedua lelaki di depannya saling menatap ke arah Erik, diikuti Riella dan Aluna yang menghentikan mengunyah camilan di depannya.
"Sejak kapan kalian mulai mencintai pasangan kalian?"
__ADS_1
π
Jangan lupa like dan vote.π