Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Pengakuan Kalun


__ADS_3

Berarti pak Kalun sudah tidur dengan nona Kayra?


Pertanyaan monohok itu membuat Kalun terdiam dari gerakan tubuhnya, dan sepersekian detik kemudian dia menjawabnya dengan lirih, “Ya, dan itu adalah kesalahan terbesar saya dengan menyentuh wanita yang belum sah menjadi istri saya.” Kalun berucap jujur dengan rasa berjuta penyesalan yang dia rasakan saat ini.


Apa Pak Kalun mencintai istri Bapak?


“Ya, aku mencintainya.” Kalun menjawab cepat dan tegas. Dia lalu tersenyum tipis, mengakhiri pertemuannya dengan sejumlah wartawan yang mengelilingi tubuhnya.


Pak bolehkah saya mengambil gambar istri Bapak?


Kalun yang tadi hendak pergi, menahan kakinya untuk melangkah, dia kembali menatap kamera yang ada di depannya, karena melupakan hal penting mengenai istrinya.


“Tunggu waktu yang tepat, saya akan memperkenalkan pada kalian! Tidak ada suami yang rela istrinya di lihat oleh lelaki lain. Seperti mereka, aku juga akan menyembunyikan kecantikan istriku, untuk kunikmati sendiri.” Kalun kembali melangkahkan kakinya meninggalkan kerumunan para wartawan, dia lalu membuka kunci pintu kamar Aluna, kembali masuk ke dalam kamar, menemani istrinya.


Astaga, kenapa cepat sekali perginya! Belum juga bernafas bebas! Kenapa sudah di sini lagi? Batin Aluna saat melihat langkah Kalun yang mendekat ke arahnya.


“Mana ponselku!” minta Kalun sambil mengulurkan tangannya ke depan dada Aluna. dia lupa jika tadi ingin menguhubungi Doni, ingin menanyakan kabar tentang Rendi, calon mertuanya yang gagal menjadi orang tuanya.


Aluna menyerahkan ponselnya ke tangan Kalun, lalu kembali mencari ponselnya yang entah disembunyikan Kalun di mana. Dia hanya menatap Kalun yang tengah berbicara dengan seseorang dengan serius, jaraknya teramat jauh, telinga yang sudah dia tajamkan pun, tidak mampu untuk mendengarkan ucapan Kalun.


Saat Kalun kembali masuk dengan wajah yang sedikit tenang, dia berpura-pura menatap layar televisi yang meyangkan film animasi, yang memperlihatkan seorang wanita yang rela memotong rambutnya demi bisa melarikan diri dari seorang penyihir jahat.

__ADS_1


“Kamu suka kartun?” pertanyaan Kalun membuatnya kembali menoleh sejenak ke arahnya, hanya sedetik, lalu Aluna kembali mengamati layar televisi terebut dengan begitu serius, meski sudah berulang kali dia menonton, dia tidak pernah merasa bosan karena dia suka dengan cerita berbau tuan putri dan seorang pangeran.


“Suka, karena pasti di akhir cerita, semua film kartun itu berujung bahagia. Tidak seperti manusia, seperti kita? Yang akan berakhir dengan perpisahan. Jika dia tida-”


“Cukup! Jangan bicara tentangnya lagi!” potong Kalun yang mengerti Aluna akan membicarakan calon suaminya, membuat Aluna tersenyum simpul ke arah Kalun.


“Kapan ini akan dilepas? Aku sudah tersiksa dengan benda ini!” tanya Aluna sambil menunjuk Ke arah selang kateter yang masih terpasang ditubuhnya.


“Dilepas sekarang juga bisa,” kata Kalun sambil membuka selimut yang menutupi kaki Aluna.


“Jangan macam-macam! Atau aku akan menendangmu!” bentak Aluna yang tidak ingin Kalun mendekatinya.


“Kamu meragukan suamimu! Aku ini dokter loh?” Aluna semakin menajamkan penglihatannya Ke arah Kalun khawatir jika Kalun benar-benar akan melepasnya. Dia mulai ketakutan, merasa terancam dengan sikap suaminya.


“Kok balik lagi Ma?” pertanyaan Kalun membuat Ella mendengus kesal Ke arah kedua anak kembarnya.


“Mereka yang ngotot minta kemari, padahal Mama sudah bilang, agar membiarkan Luna untuk istirahat dulu,” jelas Ella sambil menunjuk Ke arah putri kembarnya yang tengah melakukan obrolan dengan Aluna. Kalun terlihat gelisah, takut jika adik kembarnya itu menanyakan sesuatu yang menyangkut tentang keberadaan calon bayinya.


“Tenang saja, mereka sudah Mama wanti-want!” ucap Ella yang mengerti ke khawatiran Kalun. Dia lalu mendekat Ke arah Aluna menanyakan bagaiman kondisi Aluna saat ini, dia meminta Aluna untuk tinggal di rumahnya setelah kondisinya pulih. Dia tidak mengizinkan Aluna tinggal diapartemen yang terlihat sempit itu.


“Ma. Jangan terlalu memaksanya, biarkan dia memilih sesuai keinginannya.” Kalun ikut menyahut dengan apa yang diinginkan mamanya. Dia merasa, pasti Aluna akan merasa tidak nyaman, ketika berada dikediaman rumah orang tuanya, meski Aluna tidak pernah menolaknya tapi dia bisa merasakan, kegelisahan Aluna ketika akan dan sesudah tidur ketika menginap di rumah orang tuanya.

__ADS_1


“Ya, semuanya terserah Aluna.” Ella tersenyum manis Ke arah Aluna. Ada sedikit cemburu yang terlihat di wajah Ella, melihat anak lelakinya yang lebih perhatian dengan istrinya, dari pada dirinya.


“Papa mana Ma? Nggak ikut?”


“Nggak tadi dia belum pulang. Tapi mama sudah bilang kok kalau mau kemari, palingan bentar lagi juga datang,” jelasnya sambil menatap Ke arah pintu masuk.


Ella merebahkan tubuhnya di sofa, sambil menunggu suaminya datang. Sesekali memperhatikan kedua anak kembarnya yang tengah mengobrol dengan Aluna, hingga mereka tertawa keras. Sedangkan anak lelakinya tengah mengamati lekat perubahan wajah Aluna yang kadang senang, dan terkejut ketika mendengar si kembar menceritakan tentang masa kecil kakaknya yang super dingin itu. Hingga sore hari, suaminya tidak kunjung datang, dia berusaha berulangkali menelepon suaminya, tapi nomor ponselnya juga tidak aktiv. Ella sedikit gundah, tidak biasanya suaminya seperti ini, dia akhirnya mengajak si kembar untuk segera pulang ke rumah. Karena khawatir dengan suaminya.


Ruangan yang tadinya ramai kini terlihat sepi, hanya mereka berdua yang masih menikmati kebisuan. Kalun terlihat mengantuk sambil menatap Aluna yang tengah melihat ponselnya yang sudah Kalun berikan padanya.


“Renata kenapa meneleponku sebanyak ini? 23 panggilan tidak terjawab, sejak tadi pagi. Kenapa ya? Apa dia dalam bahaya?” tanyanya lirih di hadapan Kalun. Tangannya lalu terulur membuka pesan masuk, puluhan pesan dari Renata yang memintanya untuk segera datang. Dia bingung tidak mengerti apa yang di maksud Renata. Kalun juga melupakan janjinya, pada Kayra yang tengah menunggunya untuk datang ke acara Famgatnya di puncak. Dia lebih memilih menemani istrinya di sini. Merayakan tahun baru pertama kali dengan istrinya.


“Mungkin dia ingin mengajakmu ke acara Famgat, hari ini kan, ada acara di puncak.”


Terlihat raut wajah kecewa Aluna, dia gagal mengikuti acara besar di perusahaanya, karena dirinya tertimpa kecelakaan yang membuatnya harus terbaring di atas bed tidur ini.


“Setelah sembuh, kita bisa ke sana! Hanya berdua, tidak ada mereka. Jadi jangan menampilkan wajah kesalmu itu, karena aku tidak akan tahan!”


Aluna tidak mampu menjawab ajakan Kalun, dia hanya bisa berharap jika Kalun akan membawanya ke tempat yang para karyawannya datangi saat ini.


👣

__ADS_1


Jangan lupa like ya👍😜


__ADS_2