Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Penolakkan


__ADS_3

Kedua orang itu saling menatap dalam. Tidak ada yang berusaha untuk memeluk satu sama lain. Aluna berusaha menahan emosinya yang menggebu, sedangkan Kalun tenggelam dalam rasa bersalah karena semalam tidak pulang ke rumah.


“Hai.” Kalun mulai menyapa Aluna. Wajahnya terlihat lusuh. Aluna membalaskan hanya dengan senyuman tipis, yang hampir tidak terlihat.


Kalun berjalan melewati posisi berdiri Aluna. Dia berlalu begitu saja tanpa menjelaskan sesuatu pada Aluna.


“Bisa kamu jelaskan, ke mana kamu semalam!” perintah Aluna yang dibuat dengan setenang mungkin, ketika melihat Kalun hendak menapakan kakinya untuk naik ke lantai dua.


Setelah sekian detik berdiam diri, Kalun menoleh ke arah Aluna.


“Aku lelah. Aku ingin beristirahat dulu! Setelah itu kita persiapan ke acara peresmian Emero Group, “ jelas Kalun yang kembali melangkah menghampiri Aluna.


“Ada apa denganmu Kal! Jika kamu ingin aku menandatangani surat cerai, aku siap kok! Kamu nggak perlu kucing-kucingan seperti ini. Aku seperti orang bodoh yang mudah saja kamu bodohi!” maki Aluna yang mulai meluapkan amarahnya.


“Sayang,” panggil Kalun lembut sambil menenangkan Aluna. Sedangkan Aluna hanya menatap Kalun dengan seringai senyumnya, saat mendengar panggilan Kalun.


“Aku lelah, aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Jadi jangan memaksaku untuk membuat keputusan yang nantinya akan aku sesali!” timpal Kalun, “Aku akan menepati janjiku, aku akan mengakuimu di hadapan semua orang jika kamu adalah istriku,” kata Kalun sambil membawa tubuh Aluna ke dalam pelukkannya.


Aluna hanya diam membeku, tidak membalas pelukkan Kalun.


“Apa kamu merindukan suamimu yang menyebalkan ini? Aku baru pergi satu hari, bagaimana jika akan pergi selamanya?” goda Kalun yang menangkup wajah Aluna.


Aluna masih enggan menjawab pertanyaan Kalun. Dia juga lelah memikirkan semua yang terjadi beberapa hari ini, tenaganya sudah habis.


“Kenapa wajahmu pucat? Kamu pasti tidak bisa tidur tanpa aku ya? Sama dong aku juga tidak bisa memejamkan mataku, aku terus terjaga sepanjang malam memikirkanmu yang kedinginan di rumah, aku juga khawatir bagaimana jika nanti mati lampu, dan aku tidak berada di sampingmu.” Kalun menuntun Aluna menuju lantai dua membawa Aluna masuk ke dalam kamar utama.


Kalun mulai merebahkan tubuh Aluna ke ranjang king size kamar utama. Gairahnya mulai membara, saat melihat wajah cantik Aluna. Dia ingin memuaskan nafsunya setelah beberapa hari tidak tersalurkan, saat Kalun ingin memulai kegiatan panasnya, tangan Aluna menahannya, supaya memberikan jarak tubuh Kalun yang hampir menempel di dada Aluna.


“Maaf Kal, aku tidak bisa memberikannya sebelum kamu menceritakan semuanya padaku!” kata Aluna menolak perlakuan Kalun. Membuat Kalun tersenyum lebar tanpa suara. Dia lebih memilih mengalah dan menjauh dari tubuh Aluna. Dia meninggalkan Aluna yang tengah menatapnya berjalan menuju kamar mandi.


“Seberat itukah kamu berbicara jujur?” lirih Aluna ketika pintu kamar mandi tertutup rapat.


Aluna masih tenggelam dengan pikiran negatifnya, percuma saja bertanya pada suaminya, jika Kalun tidak mau mengatakan kejujuran padanya. Aluna mencoba melupakan semua masalahnya, dia ingin fokus tidur sore ini, kepalanya sedikit sakit karena kurang beristirahat, dia juga lupa, jika nanti malam akan ada acara peresmian proyek Emero Group dan dia juga terlibat sebagai pengisi acaranya.


Kalun yang sudah selesai mandi, hanya bisa menatap Aluna yang sudah terlelap, dia berjalan mendekat ke arah meja nakas, melihat ponsel yang sengaja dia tinggalkan. Lalu menatap lagi ke arah Aluna, dengan tatapan penyesalan.


Kalun merebahkan tubuhnya di samping Aluna. Menatap punggung Aluna yang tidur membelakanginya. Ingin sekali memeluk Aluna, menjelaskan semuanya apa yang sudah menimpanya, tapi semuanya terasa berat, lidahnya kelu saat berhadapan dan menatap mata lembab Aluna. Kalun terlelap di samping Aluna, tenggelam dalam rasa bersalah yang kini dia rasakan.


Hingga senja menyapa Aluna terbangun lebih dulu, dia menatap wajah lelap Kalun yang ada di sampingnya. Air matanya tiba-tiba keluar tanpa permisi, ketika menatap wajah lelap suaminya, Aluna segera menghapusnya, supaya Kalun tidak melihat air matanya. Dia harus terlihat kuat di mata Kalun, supaya lelaki itu tidak lebih dalam lagi menyakitinya. Dia segera beranjak dari tidurnya, mempersiapkan diri untuk acara peresmian gedung Emero nanti.


***

__ADS_1


Selesai mandi Aluna melihat Kalun yang sudah terbangun, dia tengah memainkan ponsel di tangan kanannya, suaminya terlihat mengetik pesan untuk seseorang. Aluna tidak ingin menyapa Kalun, dia langsung berjalan menuju ruang ganti. Bersikap cuek dengan lelaki yang kini sudah membuatnya emosi.


Saat tiba di sana, Aluna menatap kotak yang dihiasi pita merah yang belum sempat dia buka. Dia tidak ingin memakainya malam ini, dia lebih memilih mencari baju lain, tidak sama dengan warna baju yang akan Kalun kenakan. Selesai mengenakan gaun, Aluna keluar dari ruang ganti, untuk memoles tipis wajahnya yang terlihat pucat. Kalun yang melihat Aluna tidak memakai gaun pemberiannya kemarin, berjalan mendekat ke arah Aluna, yang kini berada di depan kaca.


“Apa bajunya kurang bagus?” tanya Kalun yang berada di belakang tubuh Aluna.


Aluna tidak menoleh, dia hanya menatap Kalun dari pantulan kaca, “Bukan tidak bagus, aku lebih suka memakai baju ini,” jelas Aluna yang masih tidak ingin menatap Kalun.


“Sayang, kamu masih marah denganku? Aku janji, setelah ini akan pulang ke rumah.”


“Bukan masalah pulang atau tidak pulang! Masalahnya kamu tidak jujur dengan apa yang terjadi padamu, Kal! Kamu tidak mau terbuka denganku,” kata Aluna dengan penuh emosi yang kini sudah menatap ke arah Kalun.


“Akan kuceritakan semua setelah kita pulang acara nanti, sekarang gantilah bajumu yang aku berikan kemarin!” perintah Kalun sambil mengenggam tangan Aluna, menenangkan Aluna, jika dia berjanji akan menjelaskan semuanya padanya, tanpa ada yang ditutupi lagi.


“Kamu janji.”


“Ya, aku janji, jika aku mengingkari kamu bisa tanda tangan surat perceraian yang aku simpan di laci,” jelas Kalun sambil tersenyum menggoda ke arah Aluna.


“Aku mencintaimu, aku sudah tidak ingin menyakitimu lagi,” lanjutnya sambil menciumi punggung tangan Aluna.


Aluna yang kini sudah menerima penjelasan dan perjanjian Kalun, merasa sedikit lega karena Kalun akan menjelaskan semua masalahnya. Aluna lalu mengecup pucuk kepala Kalun yang lebih rendah darinya. Dia tidak ingin melakukan lebih dari itu, sebelum Kalun memberikan penjelasan padanya.


“Aku hampir gila memikirkan masalah ini! Kamu pergi tanpa penjelasan apapun padaku, aku berpikiran jika kamu sudah bosan denganku!” terang Aluna sambil menempelkan dahinya di kening Kalun. Nafasnya kini saling beradu, menyebarkan aroma yang menenangkan untuk keduanya.


“Aku akan mengganti bajuku, cepatlah mandi!” perintah Aluna yang berlari kecil menuju kamar ganti. Sedangkan Kalun hanya tersenyum kecut ketika mendapati Aluna yang tidak berada di depannya.


***


Keduanya kini sudah keluar dari apartemen. Dengan Aluna yang mengalungkan tangannya ke lengan Kalun. Mereka berjalan berdampingan menghampiri mobil yang sudah disiapkan di depan pintu apartemen. Mereka nampak serasi, satu tampan dan satu cantik, membuat semua orang iri ketika melihat pasangan yang terlihat harmonis tersebut, tanpa mereka ketahui apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua.


“Siap berangkat?” tanya Kalun ketika sudah berada di depan mobilnya.


“Ya, tapi aku sedikit berdebar.” Aluna melepaskan tangannya yang digenggam Kalun.


“Ada aku di sini tidak ada yang perlu kamu takutkan. Aku akan berkata bahwa Aluna adalah istriku yang selama ini aku sembunyikan! Tapi setelah itu kamu jangan jauh-jauh dariku! Aku takut mereka akan mengambilmu dariku, paham Tuan Putri?”


Aluna hanya tersenyum lebar ke arah Kalun. Kalun segera membukakan pintu mobilnya. Mempersilakan Aluna untuk duduk di samping kemudi. Mobil Kalun melaju pelan meninggalkan apartemen mewah tersebut.


“Menurutmu lagu apa yang cocok untuk suara vocalku?” tanya Aluna memecah keheningan, saat berada di dalam mobil Kalun.


“Kamu mau nyanyi di sana?”

__ADS_1


“Iya, bukannya kamu sudah menandatanginya kemarin?”


Kalun menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Lalu tersenyum ke arah Aluna.


“Lagu tentang cinta mungkin!” saran Kalun.


“Bagaimana jika lagu ini,” kata Aluna sambil menekan player music yang ada di mobil Kalun.


Aku tlah tahu kita memang tak mungkin


Tapi mengapa kita selalu bertemu ...


Aku tlah tahu hati ini harus menghindar


Tapi kenyataan ku tak bisa


Maafkan aku terlanjur mencinta ...


Senyuman ...


(Theme song Lyodra Tak Sanggup Melupa)


Belum selesai lagu itu diputar, Kalun sudah menekan tombol stop pada layar 7 inc di depannya


“Aku nggak suka! Terlalu melow.”


“Kalau Hati Yang Kau Sakiti?”


“Gimana lagunya?”


“Ehem. Test test testing...


Ku menangis ... Membayangkan, kepergianmu dari sisi hidupku ... Kau duakan cinta ini kau pergi bersamanya ...” nyanyi Aluna menunjukkan kepada Kalun.


“Suaranya bagus tapi aku tidak suka syairnya. Seolah aku pergi meninggalkanmu karena wanita lain,” tolak Kalun.


“Gitu ya? Okelah kamu lihat saja nanti. Aku akan menyanyikan ‘Lagu Cinta’ untukmu, dan aku akan mempersembahkan itu untukmu, malaikat penolong yang selalu membantuku,” jelas Aluna. Membuat Kalun tersenyum puas.


Mobil mereka sudah tiba di depan gedung yang selama ini mereka tangani. Gedung yang telihat mewah hasil rancangan Aluna. Kalun segera menghampiri Aluna ketika petugas sudah membukakan pintu untuk istrinya, dia memberikan lengannya untuk diraih Aluna. Mereka berjalan berdua, memasuki gedung yang baru rampung dibangun tersebut. Tapi baru beberapa langkah dari mobil, Kalun tiba-tiba menghentikan langkahnya karena terdengar panggilan telepon dari ponselnya. Dia segera mengambil ponsel yang tadi dia letakkan di saku jasnya.


“Kamu masuk duluan ya, aku akan mengangkat telepon dulu!” perintah Kalun sambil melepaskan tangannya. Dia berjalan menjauh dari Aluna hendak mengangkat telepon tersebut. Sedangkan Aluna hanya menurut dan berjalan masuk ke dalam gedung, menyapa rekan kerjanya yang sudah tiba di sana. Hanya bagian devisinya yang diundang di acara peresmian ini. Tapi banyak tamu kalangan atas yang datang menghadiri acara tersebut.

__ADS_1


👣


Jangan lupa untuk like, dan komentar positif ya.👍🤓


__ADS_2