Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Suami Durhaka


__ADS_3

Nggak maksa ya😁 tapi kalau bisa bantuin vote Kalun, tinggal 2 hari lagi kok endnya. Jadi vote yang banyak ok! Terima Kasih


💞


Rayuan demi rayuan Aluna berikan pada suaminya, menghitung kecupannya di wajah Kalun hingga berjumlah 30 kali. Demi ia mau mengantarkannya ke tempat Lita. Dia pikir Kalun akan meninggalkannya di sana, ketika tiba di café milik Lita. Tapi yang terjadi, Kalun justru duduk di kursi paling dekat dengannya. Memberikan tatapan tajam ke arahnya, hingga mampu membuyarkan konsentrasinya saat bernyanyi. Padahal sebelum dia berangkat tadi, ia sudah berjanji akan menurut dengan Kalun, dan ini akan menjadi nyanyian terakhirnya di cafe ini.


Usai bernyanyi Aluna kembali dipanggil oleh Lita yang baru saja turun dari lantai dua cafe tersebut. Dia datang dengan menggendong anak bayi yang berjenis kelamin perempuan di tangannya. Aluna segera mendekat ke arah Lita, mengulurkan tangan menggantikan Lita menggendong Vivian, dia menciumi dengan gemas pipi yang semikin hari semakin berisi itu.


“Ayo pulang!” ajak Kalun yang kini sudah berdiri di belakang tubuh Aluna. Aluna hanya menoleh sambil memperlihatkan bayi yang mengenakan baju pink itu ke arah Kalun.


“A’ lihat dech, lucu ya? Pasti anak kita akan secantik Vivian,” kata Aluna sambil memainkan pipi Vivian.


“Akan lebih cantik lagi! Kita kan buatnya dengan bibit unggul!” kata Kalun sambil ikut memainkan pipi Vivian. “Serahkan padaku, aku khawatir anak kita akan cemburu, jika melihatmu menggondong bayi orang lain.” Kalun mengambil Vivian dengan tangan yang sedikit kaku, karena belum pernah sekalipun dia menggendong bayi.


“Dia suamimu?” tanya Lita menatap penuh selidik ke arah Kalun, dia dari tadi terus bergantian menatap curiga pada keduanya. Aluna hanya membalasnya dengan senyuman tipis ke arah Lita, sambil menganggukan kepalanya.


Lita memukul Kalun dengan kertas menu yang ada di meja samping tempatnya berdiri, dia menghukum Kalun dengan pukulan keras di lengannya, bibirnya sambil mengomel tidak jelas.


“Lita … sudah jangan lagi!” peringat Aluna, setelah melihat wajah Kalun yang terlihat kesal.


“Biarkan saja Lun, aku kesal dengan suamimu! Istri hamil kenapa justru mengirim surat cerai, emang dasar suami durhaka, dan sekarang setelah kamu berhasil melewati masa ngidam dia datang, enak bener jadi laki!” Lita terus memaki Kalun yang tengah menggendong anaknya. Tidak peduli seberapa banyak orang yang memperhatikan mereka berdua.


“Tunggu. Tunggu! Aku ingat sepertinya! Kamu yang semalam datang kemari kan? Yang pulang paling terakhir!” tanya Lita penuh curiga.


“Ya, sekarang hentikan dan duduklah! Atau anakmu akan aku bawa pulang ke rumah. Dia sangat menggemaskan!” kata Kalun sambil memainkan lagi pipi Vivian yang masih berada di tangannya.


Dia lalu menatap ke arah Aluna dan menyerahkan bayi mungil itu pada Lita. “Aku semakin tidak sabar menanti kelahiran gadis kita,” ucap Kalun berbisik di telinga Aluna sambil mendekap erat tubuh istrinya.


“Kamu begitu cepat memaafkannya Lun? Jangan mau dibodohi lelaki seperti dia, aku khawatir dia akan menyakitimu lagi!” peringat Lita menyipitkan matanya ke arah Kalun.


Aluna hanya tersenyum tipis, sebagai tanggapan ucapan Lita. “Tenangkan dirimu! Kita sudah baik-baik saja! Kita hanya salah paham selama ini.” Aluna menepuk pundak Lita mencoba meredakan kekhawatiran sahabatnya itu.


“Terserah deh. Awas ya kalau kamu macam-macam lagi! Aku jodohkan nanti Luna dengan kakakku!” ucap Lita penuh ancaman.

__ADS_1


“Ok baiklah, kalau sudah selesai urusannya. Kita ke sini sekalian pamit, karena besok kita akan kembali ke Jakarta.” Kalun mengulurkan tangannya ke arah Lita berharap wanita itu akan mengizinkan istrinya pergi dari cafe.


“A’ kita belum mendiskusikannya untuk ini!” sahut Aluna yang tidak menyetujui permintaan Kalun.


“Begitu ya, tapi mereka semua sudah merindukanmu Sayang,” ucap Kalun dengan nada rayuan khasnya.


“Nanti dulu, aku belum ingin kembali ke sana. Bisa jadi aku akan melahirkan di sini saja, aku sudah nyaman berada di sini.” Aluna menolak dengan keras permintaan Kalun.


“Lalu siapa yang akan mengurus pekerjaanku di sana? Apa kita akan hidup berjauhan lagi! Nggak kan?” tanya Kalun yang sedikit berteriak, tidak peduli lagi dengan tanggapan sahabat istrinya. “Banyak tanggung jawabku di sana, Sayang,” lanjut Kalun menatap ke arah Aluna yang masih terdiam.


Aluna tidak berani menatap Kalun, dia menatap ke arah Lita yang tengah menyaksikan perdebatan kecil dengan suaminya. Dia mengalah, membawa Kalun


keluar dari café milik Lita. Tidak ingin perdebatannya dengan Kalun dinilai buruk oleh sahabatnya.


Ketika berada di dalam mobil mereka berdua hanya diam tidak ada yang memulai berbicara, hanyut dalam pikiran masing-masing, Aluna belum rela jika dia akan meninggalkan kota kelahirannya itu, tapi di sisi lain dia juga tidak ingin mengecewakan Kalun. Dia kepala keluarga di sini, apa yang dia katakan jika itu baik, harusnya dia akan mengikutinya.


Mobil berhenti di depan pintu hotel tempat Kalun menginap. Kalun membukakan pintu mobil untuk Aluna, menggandeng tangan Aluna meski rasa kesal masih terlihat jelas. Hingga tiba di depan kamar tempatnya menginap dia segera membawa Aluna masuk ke dalam kamar hotel tersebut.


“Ganti bajumu dulu dengan ini!” perintah Kalun menyerahkan kaus miliknya yang dia ambil dari koper.


“Nggak. Aku cuma bingung saja,” kata Kalun mengusap lembut pipi Aluna, ia lalu tersenyum tipis, supaya Aluna tidak stress menghadapi masalahnya, karena takut akan menganggu calon anaknya “Di sisi lain aku punya banyak tugas dengan pekerjaanku, tapi jika kamu di sini, aku tidak yakin jika bisa berjauhan denganmu,” lanjutnya sambil mendaratkan pantatnya di sofa.


Aluna hanya diam sambil menarik rambutnya ke belakang. Dia paham pekerjaan Kalun di Jakarta sangat banyak, tapi sebenarnya dia juga ingin anaknya lahir di kota kelahirannya. Apalagi papanya sudah sangat bahagia sekali, mengatakan jika dia yang akan menggantikan Kalun saat waktu persalinannya nanti. Aluna lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya, cukup lama dia berada di sana, memikirkan solusi yang tepat untuk masalahnya.


Sedangkan Kalun masih betah duduk di sofa. Ia bingung memikirkan keputusan yang akan dia ambil nantinya. Pintu kamar mandi terbuka, Kalun menatap Aluna yang terlihat lucu dengan kaus kebesaran yang dia kenakan. Dia melambaikan tangannya


supaya Aluna mendekat ke arahnya.


“Mendekatlah!” kata Kalun sambil menepuk tempat kosong di sampingnya. Aluna berjalan ke arah Kalun, dia menurut dan duduk di samping Kalun.


“Kita lupakan masalah tadi, biarkan waktu yang akan menjawabnya. Kita nikmati waktu kita ini, jika nanti keputusan yang kamu ambil tidak akan berubah. Dan kita akan LDR lagi aku akan menerimanya, aku bisa bolak-balik ke Jakarta-Solo setiap minggu.” Kalun meletakkan kepalanya di pangkuan Aluna, sambil meluruskan kedua kakinya di punggung sofa.


Aluna tersenyum tipis, “Terima kasih sudah pengertian, tapi aku sudah memutuskannya. Aku akan ikut denganmu, kemana pun kamu pergi. Tapi ada satu syarat yang harus kamu penuhi,” kata Aluna.

__ADS_1


“Katakan syaratnya!” perintah Kalun yang sudah mendudukan tubuhnya. Wajah bahagianya sangat terlihat jelas di sana.


“Aku ingin Papa datang saat aku melahirkan nanti,”


“Itu mudah, kita akan bawa Papa mertua ke Jakarta sekarang juga, tinggal dengan kita.”


“Nggak akan mau dia A'!”


“Jika begitu, pesawat pribadiku akan menjemputnya, saat kamu merasakan


kontraksi nanti,” kata Kalun mengakhiri pembicaraan malam itu. Menghiraukan sorot mata Aluna yang sebenarnya ingin memberikan pertanyaan untuknya.


Setelah itu Kalun menggendong tubuh Aluna ke atas ranjang, ia ingin kembali menikmati tubuh Aluna yang menggugah gairahnya tersebut.


“A’ jangan! Masih terasa perih,” peringat Aluna sambil menutup bagian inti miliknya.


“Benarkah? Sini aku obatin!” kata Kalun sambil menarik ke atas kaus yang terlihat kebesaran itu.


“Hei, jangan macam-macam!” peringat Aluna memukul tangan Kalun.


“Satu macam saja kita langsung keintinya.” Kalun menarik celana dalam Aluna yang bewarna hitam. Tanpa menghiraukan penolakan yang Aluna katakan. Dia terus bermain di sana, hingga Aluna terlelap ketika dia tengah asyik memainkan miliknya di dalam tubuh Aluna. Merasa iba dengan istrinya, dia menyudahi setelah pelepasan pertamanya. Dia tidur memeluk Aluna, sambil mencium puas wajah Aluna yang sudah terlelap.


****


Matahari sudah muncul ke permukaan, cahayanya sudah menyorot tajam ke arah kamar hotel mewah tersebut. Tapi Aluna yang lelah, masih terlihat nyenyak di sana. Kalun yang sudah terbangun terus menganggu Aluna dengan menusuk-nusukkan jemarinya di pipi gembul istrinya. Ia tersenyum tipis ketika Aluna menangkis jarinya dengan tangan, tapi kembali ia memejamkan matanya lagi.


Sesaat kemudian terdengar suara ketukkan pintu kamarnya. Kalun segera mencari keberadaan celana pendek yang semalam ia lempar di bawah ranjang, dia menggerutu tidak jelas ketika ketukkan pintu tersebut semakin keras terdengar.


Dengan wajah khas bangun tidur, dada yang masih berlanjang, Kalun membuka pintu kamar hotel. Teriakan terdengar ketika dia membuka pintu kamarnya, membuat jantungnya melompat karena kaget dengan kedatangan manusia itu ke kamarnya.


“Hey jangan masuk dulu, istriku tidak memakai baju!” teriak Kalun ketika semua orang satu persatu masuk ke dalam kamar.


💞

__ADS_1


Like dan vote ya, terima kasih🙏


__ADS_2