
“Kak ada Kak Kayra dan Tante Viona di luar!” ucap Maura yang kembali ke dapur.
Kalun mengangkat kedua alisnya, saat mendengar ucapan Maura. Tidak tahu maksud mantan tunangannya itu mendatanginya sepagi ini. Di luar juga cuaca tidak baik, karena terlihat gerimis kecil turun pagi ini.
“Bawa kakak ipar ke kamar! Jangan sampai dia turun ke bawah!” perintah Kalun yang khawatir dengan Aluna, dia masih berniat menyembunyikan semua dari Aluna. Menunggu waktu yang tepat untuk membongkar keburukan yang pernah dia lakukan.
“Apaan sih, ini sarapannya belum selesai Kal,” kata Aluna yang menolak perintah Kalun.
“Sayang menurutlah!”
“Apa tunanganmu yang datang! Kenapa harus disembunyikan? Bukankah kita sudah sepakat, tentang perjanjian itu?” kata Aluna, sambil beralih menatap wajah Kalun.
“Sayang, banyak kejadian selama ini yang kamu sendiri tidak mengingatnya, jadi menurutlah!” jelas Kalun yang tetap bersihkeras meminta Aluna naik ke kamar.
“Aku janji setelah ini, aku akan menceritakan semua kepadamu!” lanjutnya supaya Aluna segera meninggalkan lantai satu.
“Kamu nggak jadi sarapan?”
Seulas senyum keluar dari bibir Kalun, “Iya, nanti. Aku temui mereka dulu.” Dia lalu meminta Aluna untuk segera ke kamar ditemani adiknya.
Aluna lalu meletakkan pisau dan apron yang ia kenakan. Kecupan singkat di kening Aluna, Kalun daratkan sebelum istrinya itu dibawa adiknya untuk menaiki tangga. Dia terus menatap Aluna yang berjalan menuju kamarnya. Setelah menghilang di balik pintu kamar, dia menghembuskan nafasnya kasar, berdoa dalam hati, semoga dia bisa menahan emosinya ketika menghadapi dua manusia yang tengah menunggunya di ruang tamu.
Kalun berjalan menuju ruang tamu, setelah meminta pelayannya untuk menyiapkan minuman dan snack. Dia berusaha bersikap ramah pada dua wanita yang berada di depannya. Dia duduk berseberangan dengan Kayra dan mamanya, suasana pun menjadi hening, tidak ada yang ingin membuka topik pembicaraan. Sepertinya kedua wanita itu takut dengan raut wajah Kalun yang terlihat masam.
“Ada apa Tante? Apa Tante ingin bertemu dengan mama atau papa?” tanya Kalun, setelah sekian lama keheningan yang mengisi.
“Nggak. Tante perlu denganmu, jadi Tante rasa tidak perlu bertemu mereka.” Viona berkata sambil membenarkan duduknya, mencari posisi ternyaman saat berhadapan dengan Kalun.
“Kal-” panggilan Viona terpotong saat melihat pelayan yang datang menyiapkan minuman dan snack untuknya. Viona menunggu pelayan itu pergi dari hadapannya, lalu melanjutkan pokok pembicaraan yang tadi terputus.
“Kal, Tante tahu kamu masih mencintai Kayra, jadi ....”
“Stop Tante! Ada yang perlu dilarat sepertinya!” sanggah Kalun, memotong ucapan Viona. Dia diam sejenak sambil menatap ke arah Kayra.
“Semenjak aku tahu Kayra mengkhianatiku, aku sudah berusaha keras untuk melupakan perasaanku padanya.”
__ADS_1
“Kal, jangan membohongi dirimu sendiri, aku tahu dalam hatimu yang paling dalam kamu masih mencintaiku, kamu menikahinya hanya karena rasa bersalah, kan? Karena kamu sudah melenyapkan calon suaminya,” ucap Kayra setelah mendengar ucapan Kalun yang menyakiti perasaanya.
“Tahu apa kamu tentang hubunganku dengannya? Sekarang aku mencintaiku istriku, dan di hatiku, tidak ada lagi kamu! Tidak ada lagi Kayra yang selalu aku rindukan! Semuanya karena kamu! Kamu yang membuatku seperti ini. Bertahun-tahun aku percaya padamu, tapi apa? Kamu pergi dengan lelaki lain, berkencan dengan lelaki lain, bahkan memberikan yang paling berharga untuk orang lain. Aku bersyukur aku tahu sebelum kita menikah!” Kalun menaikkan nada bicaranya, setelah mendengar ucapan Kayra tentang alasan dia menikahi Aluna.
“Sudah, stop! Kalian jangan ribut seperti ini! Kal, Tante perlu bicara empat mata denganmu!” ucap Viona yang meminta izin pada Kalun.
“Kenapa lagi Tan? Kita selesaikan di sini saja!” tolak Kalun yang tidak ingin mendengar lagi rayuan Viona.
“Hanya lima menit!” mohon Viona dengan sangat.
“Maaf Tante,” tolaknya lagi yang tidak ingin mendengar lagi bujukan Viona.
“Baiklah, aku akan mengatakan hal ini padamu.” Viona akhirnya mengalah, dia menatap tajam ke arah Kalun, sebelum menyampaikan keinginannya yang akan menyakiti harga diri anak perempuannya.
“Nikahi Kayra!”
Kalun menatap Viona dengan lekat, mencoba mencari tahu apa alasan Viona mengatakan itu padanya, jelas-jelas di kabar berita, dia menjelaskan dengan detail bahwa Kayra tidak hamil anaknya. Bahkan bukti DNA juga sudah terpampang jelas di layar televisi.
Sedangkan Kayra tengah menunduk dalam, dia merasa malu juga saat melihat raut wajah Kalun yang terlihat tidak menyukainya.
“Lalu di mana ayah dari anak yang di kandung Kayra? Kenapa Tante tidak menuntutnya saja? Kenapa justru memintaku untuk menikahi Kayra?” ucap Kalun dengan berbagai pertanyaan yang muncul dari mulutnya.
“Bagaimana mau menuntutnya? Jika anak ini saja tidak tahu siapa ayah dari bayinya sendiri?” ucap Viona dengan emosi menatap wajah Kayra.
Kalun tersenyum smirk ke arah Kayra, dia tidak habis pikir kenapa Kayra bisa melakukan itu, padahal setahunya dia tidak banyak mengenal laki-laki. Mengenal pun itu juga pasti rekan maupun kerabatnya.
Cukup lama Kalun terdiam, memikirkan ucapan Viona, minuman yang ada di tangannya pun kini sudah tinggal setengahnya. Dia lalu menghabiskan minuman bewarna merah yang ada di tangannya, lalu meletakkan kembali gelas tersebut di atas meja dengan kasar.
“Aku tidak mau menduakan istriku Tan, aku tidak bisa menyakitinya.”
“Kal!” Bentak Kayra.
Kalun mengangkat tangannya, meminta Kayra untuk tidak melanjutkan ucapannya.
“Hatiku bukan untukmu lagi, mungkin benar, jika aku dulu memang tidak mencintainya. Benar katamu aku menikahinya karna kesalahan. Tapi kesalahan itulah yang membawaku sampai titik aku bisa mencintainya. Mencintainya dengan tulus, hingga mungkin aku bisa gila jika dia akan pergi.”
__ADS_1
“Bohong!”
Kalun terkekeh, saat mendengar teriakan Kayra.
“Terserah, yang aku inginkan, kamu menjauhiku dan keluargaku!” kata Kalun sambil menatap tajam ke arah Kayra.
“Dan jangan berani mencoba mencelakainya lagi! Atau nasibmu akan sama dengan papamu!” peringat Kalun dengan keras, dia sudah mengeratkan giginya saat teringat jika Rendi dalang di balik kecelakaan yang Aluna alami.
“Kalun, jangan seperti ini, setidaknya bantulah keluarga Tante, untuk pura-pura menjadi ayah biologis dari anak Kayra.”
Kalun menggembungkan pipinya, lalu membuang nafasnya kasar, merasa bingung mau menjawab bagaimana lagi keinginan Viona dan Kayra yang jelas-jelas ditolak olehnya.
“Maaf.” Singkatnya sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Silahkan Tante keluar!” kata Kalun sambil menunjuk pintu keluar yang tidak jauh darinya.
“Kal!” teriak Kayra, yang tetap ingin memaksa Kalun untuk mengakui, jika itu adalah anaknya. Kalun menggelengkan kepalanya menolak keinginan Kayra.
Kayra berjalan mendekat ke arah Kalun, dia memohon sambil memeluk erat pinggang Kalun.
“Please! Tolong aku!” mohonnya dengan tangisan yang memilukan hati siapapun yang mendengarnya.
“Nggak Key!” bentak Kalun sambil berusaha melepaskan tangan Kayra.
“Kal. Aku janji, aku akan ikhlas jadi istri kedua!”
“Maaf, aku TIDAK BISA! Aku tidak berniat membagi cintaku!” bentak Kalun yang melepaskan pelukan Kayra dengan Kasar.
Aluna yang berdiri di tengah tangga sejak lima menit yang lalu, kini mulai mengerti. Jika Kayra datang meminta pertanggung jawaban dari Kalun, karena dia tengah hamil dari suaminya. Sebenarnya dia hanya ingin mengambil minum, karena merasa haus, tapi secara kebetulan dia mendengar semuanya, saat mamanya Kayra meminta Kalun untuk menikahi anaknya. Maura yang ceroboh hanya menganggukan kepalanya ketika Aluna meminta izin padanya, dia melupakan pesan dari kakaknya, yang melarang Aluna untuk turun ke bawah.
Aluna tidak mengerti dengan perasaanya sekarang, dia sedih. Tapi tidak tahu apa alasannya, kenapa dia bisa merasakan sesuatu yang menghantam kuat dadanya saat ini. Niatnya untuk pergi ke dapur pun ia urungkan dia kembali ke kamarnya dengan mata berkaca-kaca menahan air mata yang hendak turun. Dia lalu meminta Maura untuk keluar dari kamarnya, karena dia tahu pasti sebentar lagi air matanya akan turun dengan deras. Aluna menelungkupkan wajahnya ke arah bantal, menangis tanpa suara di sana.
“Kenapa aku tidak ikhlas melepasnya, padahal itu kan sudah ada di perjanjian,” gumamnya di tengah tangis tanpa suara. Dia segera menghapus air matanya takut jika Kalun melihat kesedihannya. Bantalnya yang basah kini menjadi saksi bisu, jika dia tengah bersedih saat ini. Hatinya sakit tapi bibirnya berusaha menghindar, mengatakan jika dirinya akan baik-baik saja.
👣
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan vote ya, komentar positif ya. Insya Allah ngebut updatenya😍👍