
Mata Kalun terus menatap dalam ke arah wajah Aluna. ia tidak mampu lagi untuk mengatakan semua kebenarannya pada Aluna. Tangannya masih sibuk mengusap air mata Aluna yang masih mengalir deras.
Hatinya ikut sedih mendapati istrinya yang seperti itu. Andai waktu bisa diputar, dia tidak akan menemui Kayra ke London. Dia ingin menunggu Kayra di sini saja, untuk membongkar perselingkuhan Kayra.
“Kamu percaya padaku! Jangan menangis lagi! Aku akan segera menyelesaikannya!” Kalun sudah mensejajarkan tubuhnya dengan Aluna yang duduk di kursi kerja, dia mendongakkan kepalanya menghadap ke wajah Aluna.
“Kamu ikut aku pulang malam ini.”
Aluna menggelengkan kepalanya menolak ajakkan Kalun. Dia tidak ingin pulang dan bertatap muka dengan Kalun untuk saat ini. Dia tidak ingin lagi berharap dengan orang yang akan meninggalkannya.
Kalun yang mendapat penolakkan dari Aluna. lansung mendudukkan tubuhnya di lantai yang terasa dingin itu. Dia ingin menunggu Aluna hingga dia mau pulang bersamanya, atau dia yang akan menemani Aluna di sini.
“Pulanglah! Biarkan aku sendiri di sini.” Aluna menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Dia juga tidak bisa melihat Kalun lemah seperti itu.
“Nggak. Aku akan menemanimu di sini.” Kalun sudah meletakkan kepalanya di pangkuan Aluna.
Membuat Aluna kaget dan berusaha menyingkirkan kepala Kalun. Tingkah Kalun sama seperti anak kecil yang tengah meminta jajan pada ibunya. Merengek tidak jelas untuk membujuk Aluna pulang ke rumah.
“Aku bingung Kal! Katakan aku harus bagaimana? Dia hamil anakmu Kal!”
Kalun menatap sendu ke arah Aluna, untuk pertama kalinya dia meneteskan air matanya di depan wanita kecuali mamanya.
“Aku ingin kita melewatinya bersama, kamu di sampingku Lun. Aku tidak bisa jika kamu pergi,” kata Kalun sambil memeluk tubuh kecil Aluna. Dia menangis di pundak Aluna, memeluk erat tubuh kecil itu. Tangan Aluna yang bebas tidak ingin membalas pelukkan Kalun, dia tidak ingin terlihat lemah lagi, karena itu akan membuat Kalun terasa berat untuk meninggalkannya.
“Aku akan pulang, tapi kita tidur terpisah.” Aluna melepaskan tangan Kalun yang memeluknya erat, dia tidak ingin membalas tatapan Kalun yang menatapnya lekat. Dia lebih memilih menatap buku-buku yang ada di meja rekannya.
Kalun sedikit senang setelah mendengar ucapan Aluna. Dia lalu berdiri membantu Aluna untuk beranjak dari duduknya.
Aluna berjalan berdampingan dengan Kalun. Dia terus memperhatikan langkahnya, sambil sesekali menatap ke arah depan untuk melihat siapa saja yang akan dia lewati, dia takut jika ada orang yang mengetahui statusnya.
Saat tiba di dekat mobil. Kalun segera membuka pintu untuk Aluna. Aluna langsung menurut apa yang diperintahkan Kalun, karena tubuhnya juga sudah terasa lemas. Bahkan matanya yang membengkak kini sulit dia paksa untuk tetap terbuka. Perlahan matanya terpejam dengan posisi menghadap ke arah jendela.
__ADS_1
Saat jalanan lenggang sesekali Kalun menatap ke arah wajah Aluna. Dia terus memperhatikan wajah Aluna yang terlihat sedih itu. Kalun tidak bisa lagi melihat Aluna seperti itu. Dia ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Kayra dan keluarganya.
Saat tiba di apartemen Kalun segera mengangkat tubuh Aluna menuju apartemennya. Dia dengan pelan mengangkat tubuh Aluna yang terlihat
tertidur nyenyak itu. Beruntungnya tubuh Aluna tidak terlalu besar, jadi dengan
mudah Kalun membawa Aluna memasuki apartemennya.
Kalun menepati janjinya, dia merebahkan tubuh Aluna di kamar sebelah. Kamar di mana pertama kali Aluna tinggali, sekaligus kamar tamu jika seseorang berkunjung ke sana.
Kalun memberikan kecupan singkat di dahi Aluna. Dia lalu menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh istrinya.
“Maafkan aku.” Kalun mengusap pelan rambut Aluna. Dia lalu mematikan lampu utama. Dan menggantinya dengan lampu yang ada di samping ranjang Aluna.
“Semoga mimpi indah,” ucapnya lagi sebelum menutup pintu kamar Aluna.
Kalun berjalan pelan memasuki kamarnya. Dia menatap sebentar pintu kamar Aluna, ketika hendak masuk ke dalam kamarnya. Saat tiba di dalam kamar, Kalun mengedarkan pandangannya ke arah foto yang ada di samping ranjangnya. Dia tersenyum simpul sambil mengambil bingkai foto tersebut.
ada di perut Kayra bukanlah anakku. Aku dulu memang mencintainya, tapi aku sadar jika aku hanya terbiasa dengannya, dan aku bisa merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya ketika berada di dekatmu, kamu yang mengajariku bagaimana cara mencintai yang benar.” Kalun menatap foto yang ada di tangan kananya, menatap wajah Aluna
yang terlihat tertawa lepas saat berbulan madu beberapa minggu yang lalu.
Kalun kembali meletakkan kembali bingkai foto itu di atas meja. Dia lalu berjalan ke arah kamar mandi. Langkahnya terhenti ketika
mendengar bunyi pesan masuk, dia segera meraih ponsel yang tadi dia letakkan di meja nakas.
Minggu depan kita sudah bisa memeriksanya Pak. Saya sudah memberitahu Dokter Feri supaya tidak memberitahu Pak Erik.
Kalun tersenyum tipis setelah membaca pesan singkat dari Doni. Dia lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
Kalun menyalakan air shower, dia berdiri di bawah guyuran air dingin. Dia terus mengusap kasar rambutnya yang sedikit panjang itu. Bayangan mandi bersama Aluna beberapa hari yang lalu melewatinya, masih terdengar jelas suara tawa Aluna yang renyah itu. Dia tidak pernah membahangkan jika kebahagiannya hanya melewatinya saja.
__ADS_1
Kalun mengusap kasar wajahnya. Dia mencekram rambutnya dengan erat, berusaha melepaskan beban yang
ada di pikirannya saat ini. Dia benar-benar khawatir jika yang ada di perut Kayra adalah anaknya.
Setelah merasa puas. Kalun mengambil handuk yang biasa di siapkan Aluna. Dia lalu menutupi tubuhnya dengan handuk dan segera beranjak dari dalam kamar mandi.
Kalun berjalan menuju kamar gantinya, dia merasa kurang karena setelah selesai mandi, biasanya Aluna selalu menyiapkan pakaian ganti untuknya. Dia terus menatap ke arah kasur, berharap Aluna melakukan itu, seperti biasanya. Namun, dia hanya mendapati kekecewaan.
Ketika dia berjalan menuju kamar ganti, ponselnya bordering dengan keras. Dia sengaja menyetting itu ketika panggilan dari mamanya.
Kalun mendekat ke arah ponselnya. Dia segera menggeser tombol warna hijau yang menghiasi layarnya.
“Ya Ma, tumben malam-malam telepon?” tanya Kalun sambil melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Kak … Kakak di mana? Mama Kak. Mama jatuh pingsan. Mama tidak
sadarkan diri sejak tadi.
Kalun terlihat panik saat mendengar suara dari ujung telepon. Dia tahu itu suara Nara yang tengah menggunakan ponsel mamanya. Kalun memejamkan matanya.
Kakak cepatlah datang! Teriak wanita di ujung telepon dengan keras. Lalu ponsel itu pun di matikan oleh Nara.
Kalun melemparkan ponselnya di atas kasurnya, dia segera mengunakan bajunya, dan berniat untuk melihat kondisi mamanya.
Setelah selesai mengenakan bajunya, Kalun segera mendatangi kamar Aluna. Dia menatap wajah Aluna yang tertidur pulas di sana.
“Aku pergi dulu, kamu baik-baik ya. Aku akan segera menemuimu lagi,” pamitnya lalu mengecup singkat kening Aluna, lalu segera
keluar apartemen untuk melihat kondisi mamanya.
👣
__ADS_1
Jangan lupa untuk like dan komentar positif.