Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Salah Paham


__ADS_3

Setelah acaranya selesai, Aluna segera mencari ponsel di tas, untuk menghubungi suaminya. Dia baru menyadari jika sudah meninggalkan jam kerja, demi acara dadakannya tadi.


Mau tidak mau Aluna harus memesan ojek online, karena panggilannya tidak diangkat oleh Kalun. Saat di perjalanan, hujan kembali mengguyur sore itu. Dia memaksa abang ojek di depannya, untuk segera melanjutkan saja, karena apartemennya tinggal 500 meter lagi.


Aluna segera membayar dan meninggalkan kembaliannya untuk tukang ojek tersebut. Dia langsung menuju apartemennya, ingin segera menghangatkan tubuhnya saat ini. Saat membuka pintu apartemen, dia sudah melihat Kalun yang memakai pakaian santainya duduk di depan tv.


“Aku kira Aa’ masih di kantor,” ucap Aluna saat melewati punggung Kalun yang tengah melihat acara channel Nat Geo.


Kalun yang kesal hanya diam, tidak menanggapi ataupun menoleh ke arah Aluna. Setelah Aluna naik ke kamar dia hanya melirik baju Aluna yang terlihat basah.


“Kebiasaan! Sukanya mainan air!” gumam Kalun mengiringi Aluna yang menaiki tangga.


Kalun tidak ingin menyusul Aluna naik ke kamar, dia justru memainkan volume tv di depannya yang sedang menayangkan Singa yang tengah mencari betinanya.


“Apaan lagi ini! Dasar acara tak bermutu, hewan mau kawin saja ditanyangkan kurang kerjaan banget,” gerutunya saat melihat layar tv di depannya tapi dia masih enggan untuk mengalihkan pandangannya dari layar tv.


Kalun yang tidak melihat Aluna segera turun, dia akhirnya memilih menyusul Aluna ke dalam kamar, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan saat memasuki kamarnya. Karena terlalu lama tidak melihat Aluna, Kalun merebahkan tubuhnya di atas kasur, dan menutupi tubuhnya dengan selimut, hingga tertutupi dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.


Aluna yang baru saja keluar, mengerutkan keningnya, ketika melihat suaminya sudah terbungkus selimut bewarna putih.


“Aa’ sudah tidur? Baru jam 6 sore loh, kok tumben?” tanya Aluna sambil berjalan ke ruang ganti. Kalun yang berada di dalam selimut enggan menjawab pertanyaan Aluna. Dia masih bertahan dan mendiamkan Aluna.


Aluna yang merasa bersalah karena tadi mengabaikan Kalun, segera mengenakan bajunya, dan membujuk padukanya itu supaya tidak marah lagi.


“Aa’. Bangun dulu yuk! jangan diam-diam begini dong! Aku tahu, kamu belum tidur!” ucap Aluna sambil naik ke atas kasur. Kalun hanya mendengarkan Aluna, belum berniat membuka selimutnya.


“A’!” panggil Aluna lagi sambil memegang lengan Kalun. Tapi yang ada Kalun justru mengibaskan tangan Aluna dari lengannya.


Aluna yang mendapatkan perlakuan seperti itu, merasa kesal karena Kalun bersikap seperti anak kecil yang tengah marah.


Ya, sudah deh! Mendingan aku pergi saja, dari pada nanggepi orang ngambek satu ini! Batin Aluna yang sudah akan beranjak dari kasur.


Aluna turun ke bawah, untuk membuat makanan, karena dia ingin memakan sesuatu yang panas untuk menghangatkan tubuhnya.


Ketika mendengar langkah kaki Aluna keluar, Kalun langsung membuka selimutnya.


“Dasar wanita! memangnya aku bisa tergoda, saat kamu menampilkan wajah imut itu! Aku akan menghukummu nanti, aku nggak mau bicara denganmu! Harusnya kamu sadar, jika kamu sudah bersuami, jadi jangan asal menerima lamaran orang!” gerutunya yang tidak mampu diucapkan di depan Aluna.

__ADS_1


Kalun lalu menatap jam yang masih menunjukkan pukul 6 lewat 15 menit. Hujan di luar sana masih terlihat deras saat Kalun membuka jendelanya. Kilatan petir yang menyambar pun bisa terlihat jelas dari jendela apartemen.


“Semoga mati lampu, semoga mati lampu,” doanya lirih, sambil membayangkan yang tidak-tidak, bibirnya terangkat ke atas saat membayangkan kejadian beberapa bulan yang lalu. Tapi yang terjadi, dia justru mencium aroma masakkan yang membuat hidungnya panas, karena aroma cabe yang terlalu berlebihan.


“Pasti nih! Nggak peduliin suaminya, malah peduliin perutnya sendiri,” makinya lagi, mau tidak mau dia keluar kamar untuk menghampiri Aluna, dia berjalan menuju dapur di mana Aluna berada.


Kalun melihat punggung kecil Aluna, yang tengah mengaduk panci yang ada di atas kompor. Bibirnya cemberut karena Aluna tidak segera menyadari kehadirannya, dia semakin berdecak kesal, ketika mendengar Aluna bernyanyi sambil mengaduk-aduk panci di tangannya.


“Aku nggak akan menceraikanmu! Jadi jangan berharap kamu bisa menikah dengan Sam!” ucap Kalun dengan nada dingin. Membuat Aluna langsung menghentikan kegiatannya. Aluna menoleh ke arah Kalun, lalu menampilkan kekehannya.


“Kamu cemburu?” tanya Aluna.


“Ngapain cemburu! Aku lebih unggul darinya dari segi apapun!” ucap Kalun dengan percaya diri. Membuat Aluna semakin tersenyum lebar.


“Mendekatlah!” perintah Aluna menggunakan sendok yang ada di tangannya. Kalun justru mengalihkan tatapannya dari Aluna, dia masih enggan mendekat ke arah Aluna, karena rasa cemburu yang dia sembunyikan.


“Ya sudah kalau nggak mau! Aku juga nggak akan cerita denganmu,” ucap Aluna sambil kembali mengurus ramen, yang sebentar lagi akan siap.


“Nggak perlu kamu ceritakan lagi, jika itu menyakitiku,” ucap Kalun sambil duduk di meja makan.


“Kamu habis dilamar Sam kan? Aku tidak akan melepasmu!” teriak Kalun sambil menatap tajam ke arah Aluna, yang baru akan duduk di kursi depannya. Aluna hanya meringis setelah mendengar ucapan Kalun.


“Kamu salah paham A’!”


“Aku tahu kamu pasti menerimanya, karena dia sudah lama dekat denganmu! Jadi mau-mau saja kamu dengannya!” kata Kalun sambil meraih mangkok di depan Aluna, dia lalu menyambar sumpit yang dibawa istrinya. Tanpa peduli dengan panasnya, Kalun langsung memakan ramen itu.


“Kenapa pikiranmu sedangkal itu Kal!” Aluna sudah tidak peduli lagi dengan panggilannya, dia ikut terbawa emosi karena Kalun menuduhnya wanita yang mudah berpindah hati. Dia menarik kembali mangkok yang ada di depan Kalun, lalu segera menghabiskan ramen kesukaannya itu. Kalun yang masih tersiksa rasa pedasnya hanya mengibas-ngibaskan tangannya di depan mulut.


“Nah, kan, sekarang sudah ganti nama panggilan,” kata Kalun yang menyadari ucapan Aluna.


“Iya benar!” Aluna menghentikan ucapannya, lalu mengisi mulutnya dengan mie yang sudah di depan mulutnya. Mata Kalun menatap benci ke arah Aluna.


“Benar Sam melamarku,” lanjut Aluna setelah mulutnya kosong, dia menatap ke arah Kalun.


“Brengsek tu anak, main sambar istri orang! Aku nggak akan melepasmu, batalkan pernikahanmu dengannya!” kata Kalun yang sudah di rundung emosi.


“Apa yang mau dibatalkan, jika aku menolak lamarannya?”

__ADS_1


Mata Kalun menatap curiga ke arah Aluna. Meminta Aluna untuk segera menjelaskan.


“Dia melamarku, membawa cincin berlian yang sudah dibungkus rapi, tapi aku menolaknya, karena hatiku bukan untuknya, lagian ya, aku dan dia berbeda, jadi kita tidak mungkin bersama,” jelas Aluna yang membuat Kalun tertawa dalam hati, tapi dia masih menampilkan wajah kesalnya, supaya Aluna tidak curiga dengan rasa cemburunya.


“Sudah jangan ngambek begitu!” ucap Aluna sambil kembali menikmati ramen di depannya.


“Aku mau disuap!”


“Hah?” kaget Aluna sambil menatap ke arah Kalun, yang mendekat ke arah kursinya, lalu duduk disamping Aluna.


Kalun menatap lekat wajah imut Aluna, yang merasa aneh dengan permintaanya. Bibir Aluna yang merah semakin menggodanya untuk dikecup, apalagi ketika melihat Aluna menyapu bekas makanan di bibirnya dengan lidah, membuatnya semakin ingin melum*at bibir merah itu.


“Jangan menggodaku!” peringat Kalun ketika melihat kelakuan Aluna.


Menggoda apa coba! Perasaan dari tadi juga begini kok, pakaian juga tertutup. Batin Aluna sambil memindai penampilannya.


Sesuai harapan Kalun, kilatan petir yang telihat jelas dari jendela, mengiringi padamnya lampu apartemen, membuatnya tertawa dalam hati hati. Karena Aluna kini diposisi yang menguntungkan untuknya, Aluna tengah memeluk pingganya erat dari samping.


“Tenanglah Aa’ di sini,” ucap Kalun sambil menepuk punggung Aluna. Dia lalu berdiri, menggiring Aluna menuju kamar utama, dengan Aluna yang masih memeluknya erat dari belakang.


“Harusnya, kita pasang jenset biar kalau mati lampu ada sedikit cahaya,” gerutu Aluna sambil mengikuti langkah Kalun.


Kalun yang merasa kesusahan karena tarikan tangan Aluna, merasa kesal. Sedetik kemudian, dia langsung menggendong tubuh Aluna ala koala, membuat Aluna yang tidak siap memekik karena takut terjatuh. Kalun pun mendudukkan Aluna di tepi kasur kamar utama.


“Biaya jasa!” perintah Kalun sambil menunjuk ke arah bibirnya sendiri. Aluna membalas menampilkan senyumnya ke arah Kalun.


“Aku kasih bonus plus pajaknya 200%” ucapnya yang langsung menyantap rakus bibir Kalun. Keduanya saling menikmati ciuman yang diberikan satu sama lain, tangan Kalun yang bebas kini sudah bermain-main di area favoritnya, membuat Aluna semakin gencar dengan aksinya yang dilakukan saat ini.


“Luuunnh!” panggil Kalun dengan suara serak.


Aluna yang mendengar panggilan Kalun, hanya bisa menjawab dengan tatapan matanya, meminta Kalun untuk segera mengucapkan maksud saat ini.


👣


Nggak nggantung ya, masih ada lanjutannya tapi masih otw review😉


Jangan lupa like dan vote.🙏👍

__ADS_1


__ADS_2