
Kalun mempersiapkan dirinya untuk mendatangi kantor polisi, dia sudah pasrah jika harus menanggung semua perbuatannya yang sudah menghilangkan nyawa orang. Dengan menggunakan kemeja biru dan kacamata hitam Kalun keluar dari apartemen. Dia berjalan tanpa semangat ke arah mobilnya yang masih berada di area parkir.
Kalun mulai melajukan mobilnya ke kantor polisi. Saat tiba di sana Kalun langsung berjalan masuk ke kantor polisi. Dia tidak melihat jika Erik sudah berdiri di balik pintu kantor polisi dengan kacamata baca yang melekat di wajahnya. Erik berdehem ketika melihat kedatangan Kalun, membuat lelaki yang mirip dengannya itu berjalan menghampirinya.
Erik tersenyum mengejek ke arah Kalun, mengatakan jika ucapannya terbukti karena Kalun tidak segera memberitahukan pada Aluna.
“Apa istrimu pergi?” tanya Erik dengan nada dingin, membuat Kalun berjalan menghampiri di mana Erik berdiri.
“Seperti yang aku takutkan Pa, hal inilah yang membuatkan lidahku tidak mampu mengatakan semua yang aku sembunyikan dari dulu,” jelas Kalun sambil memainkan kepalan tangannya.
“Papa sudah sering mengingatkan hal itu, meski itu berat buat Luna tapi dia bisa melihat kejujuranmu,” kata Erik menasehati apa yang harusnya Kalun lakukan sejak dulu, “Apa kamu tidak berniat menyusulnya?” lanjut Erik membuat Kalun menundukan kepalanya, memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan setelah ini.
“Tunggu masalahku selesai Pa, aku akan mendatanginya. Membawanya pulang ke rumah.”
Terlihat Erik membuang nafasnya sambil menepuk dua kali punggung Kalun, “Masuklah, sepertinya statusmu menjadi tahanan di sini.” Erik lalu beranjak dari duduknya, meninggalkan Kalun yang masih menundukkan kepalanya, dia tidak tega melihat apa yang dialami Kalun saat ini.
“Pa.” Kalun memanggil Erik ketika menyadari sesuatu. Erik menghentikan langkahnya ketika mendengar suara Kalun.
“Apa mama mengetahui keadaanku?”
Erik menganggukan kepalanya pelan sambil membalas tatapan Kalun, “Mama tadi pinsan ketika mendengarmu mendapat panggilan dari kantor polisi, Papa belum tahu apa yang terjadi setelah mamamu tersadar,” jelas Erik lalu segera dia pergi dari kantor polisi. Dia ingin kembali ke rumah menemani istrinya yang tadi ia titipkan pada anak kembarnya. Sedangkan Erik tidak ingin menganggu Riella yang berstatus pengantin baru, karena saat hendak menitipkannya pintu kamar Riella masih terkunci rapat.
Sampai di rumah. Erik langsung berjalan menuju kamarnya, menghampiri Ella yang sudah terbangun dari pinsanya. Dia melihat Ella yang duduk di sofa sambil menatap taman darj jendela kamar utama, di temani si kembar yang tengah rebahan di kasurnya.
“Apa yang terjadi dengan mamamu?” tanya Erik tanpa suara, hanya mimik bibirnya saja yang terlihat bergerak menghadap si kembar.
“Hanya diam, tidak mau berbicara,” bisik Maura di samping telinga Erik. Erik lalu meminta kedua anak gadisnya untuk pergi dari kamarnya.
Setelah kepergian si kembar, Erik langsung mengagetkan Ella dengan pelukkan hangat dari belakang tubuh Ella. Erik lalu meletakkan dagunya di pundak Ella. Menelengkan wajahnya memperhatikan wajah Ella yang terlihat sembab.
“Jangan dipikirkan, Kalun sudah besar Sayang,” kata Erik sambil beralih duduk di samping Ella dia memeluk tubuh Ella dari arah samping.
“Apa dia akan baik-baik saja, kenapa aku jadi teringat denganmu dulu? Apa Luna tahu jika Kalun masuk penjara? Jangan sampai anakmu itu menyembunyikan semua dari Luna, aku tahu rasanya bagaimana,” tanya Ella dengan berbagai pertanyaan setelah mendapati Erik di sampingnya, matanya menatap ke arah Erik dengan sendu.
__ADS_1
Erik mengusap kepala Ella mencoba menenangkan supaya dia tidak terlalu cemas memikirkan masalah anaknya, “Apa kesalahannya? Apa Kalun melakukan penyuapan pada rekan kerjanya?” tanya Ella yang tidak mengetahui masalah yang di alami Kalun.
Erik masih diam, belum ingin menjelaskan semuanya pada Ella. Dia takut jika mengatakannya kondisi Ella akan memburuk karena memikirkan masalah Kalun. Ella menunggu jawaban Erik, tapi yang ada suaminya tidak kunjung membuka mulutnya.
“Mas, selama ini tidak ada yang kita tutupi dariku, apa kamu akan menutupinya kali ini? Aku akan baik-baik saja,” jelas Ella yang mengerti ke khawatiran Erik terhadap kesehatannya.
“Bagaimana jika aku menyembunyikannya, demi kamu, aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu, kesehatanmu jauh lebih penting dari apapun saat ini,” jelas Erik yang masih ingin menyembunyikan masalah Kalun.
“Baiklah, aku akan mencaritahu sendiri kalau kamu tidak mengatakannya padaku,” ancam Ella yang melepaskan tangan Erik dari tubuhnya.
Erik gelagapan saat mendengar ancama Ella. Dia kembali merengkuh tubuh Ella, menciumi rambut Ella yang sebagian sudah berubah warna menjadi putih.
“Aku akan menceritakan semuanya, tapi kamu harus janji, jangan terlalu memikirkan masalah Kalun,” minta Erik yang langsung dijawab senyuman dan anggukan dari Ella.
“Kalun yang sudah menabrak calon suami Luna, karena itulah dia menikahi Luna.” Erik melihat perubahan wajah Ella yang terlihat panik saat mendengar kenyataan anak lelakinya.
“Lalu? Dimana calon suami Luna? Tapi bukannya Kalun mencintai Luna.” Ella terlihat panik saat mendengar penjelasan Erik.
“Calon suaminya meninggal, dan waktu itu Kalun merasa bersalah, jadi dia mau menikahi Luna yang sebenarnya akan menikah beberapa hari lagi sebelum kecelakaan itu terjadi. Dan saat ini adik dari almarhum Fandi menuntut Kalun, karena mengira Kalun sudah melenyapkan Fandi untuk mendapatkan Luna.” Terlihat Ella sudah menangis saat Erik menjelaskan padanya. Erik menghentikan ceritanya, dia ingin Ella lebih tenang dulu sebelum kembali melanjutkannya.
“Tenangkan dulu, setiap masalah akan ada jalan keluarnya, aku yakin Kalun bisa menyelesaikan semuanya, karena itu dia mendapatkan ujian ini, sama seperti kita dulu, sudah banyak hal yang kita lalui, tapi Allah tetap menjaga kita sampai saat ini, memutih bersama menikmati masa tua kita bersama, yakinlah mereka akan baik-baik saja,” kata Erik berusaha menghentikan tangis Ella.
“Sekarang di mana Luna?” ulang Ella dengan suara tangisnya.
“Luna pulang ke Solo, dia juga baru mengetahuinya ketika Kalun kemarin bertengkar dengan adiknya Fandi,” jelas Erik.
“Apa Luna akan meminta cerai pada Kalun setelah mengetahui semuanya Mas, nggak kan? Aku tahu seperti Kalun mencintai seorang wanita, pasti dia akan sakit jika semua ini terjadi padanya.”
“Kita lihat saja nanti, kita akan membantu mereka jika mereka meminta kita untuk memberi pendapat, kita tidak pantas untuk mencampuri urusan mereka, kita doakan saja yang terbaik untuk Kalun dan Aluna,” jelas Erik sambil mengusap air mata istrinya yang belum berhenti mengalir.
“Sudah, kamu istirahat lagi saja, yakinlah Kalun bisa melewati semuanya dengan baik, kita sudah susah payah mendidiknya dan sekarang dia sudah besar bukan anak-anak lagi Sayang,” lanjut Erik sambil memapah tubuh Ella ntuk beristirahat di kasurnya.
“Apa kamu sudah sarapan?” tanya Erik yang tidak melihat jejak makanan di sana.
__ADS_1
“Kan? Aku sudah sering katakan jangan menunda sarapanmu,” gerutu Erik sambil berjalan keluar meninggalkan di mana Ella berada, dia menyiapkan sendiri sarapan sekaligus makan siang untuk Ella.
Beberapa menit kemudian Erik kembali masuk ke kamarnya, membawakan bubur untuk Ella. Ella yang menunggunya mengerutkan dahinya atas perlakuan Erik yang terlalu mengkhawatirkan keadaanya.
“Aku tidak sakit kenapa memberiku bubur?” Erik hanya tersenyum sambil mendekatkan sendok yang ada di tanganya di bibir Ella.
“Ya, kamu merasa tidak sakit, tapi aku tahu jika hatimu tengah menangisi anak lelakimu? Cepatlah melupakannya, supaya aku tidak kerepotan untuk selalu membuatkan bubur untukmu,” canda Erik sambil menatap wajah istrinya.
“Sepertinya kamu kurang pekerjaan ya? Bisakah kamu membawaku menemui pria lain?”
“Siapa maksudmu?” Erik emosi ketika mendengar Ella ingin menemui pria lain.
“Siapa lagi? setelah papa tidak ada, Kenzie sudah pergi, aku hanya bisa mencintai 2 lelaki yang ada di sekitarku,” kata Ella sambil menarik ujung hidung suaminya.
“Kenapa nama itu disebut sih!” terdengar kekehan kecil yang keluar dari bibir Ella, karena melihat wajah Erik yang terlihat cemburu.
“Ya nggak papa, sekali dalam sehari disebut kan juga, nggak salah!” goda lagi Ella yang masih menyisakan senyumannya.
“Nakal sekali ya membuat suamimu cemburu,” kata Erik sambil memasukkan sendok bubur dengan kasar ke dalam mulut Ella. Ella semakin gencar membuat Erik cemburu, dengan lelaki yang sudah puluhan tahun meninggalkannya.
Ella tertawa keras ketika Erik mulai menjahilinya dengan gigitan gemas di lenganya, membuat Erik merasa lega setelah melihat tawa Ella yang sudah kembali terdengar, “Berjanjilah, akan terus seperti ini! Aku tidak bisa melihatmu bersedih, besok aku akan membawamu menemui Kalun.” Erik meletakkan mangkok berisi bubur beralih memeluk Ella.
“Ya, terima kasih, aku akan menenangkan Kalun, memberi kekuatan padanya, supaya dia bisa melewati semuanya dengan baik,” jelas Ella membalas pelukan Erik.
“Tapi kamu jangan berlebihan, aku juga bisa cemburu meski itu dengan anakku sendiri.” Erik mulai jahil menciumi leher Ella yang terlihat menggoda dirinya. Hingga dia menghentikan tindakannya ketika mendengar suara peringatan dari Ella jika istrinya tengah datang bulan.
💞
Et ... Ella belum menopause loh ya, ini imajinasi saya, baru mendekati menopause. Oke gaes😂 peace.
Up selanjutnya jam 00.00
💞
__ADS_1
Terima kasih jangan lupa untuk like dan vote ya.😅🙏