
Aluna yang merasa tidak nyaman pada perutnya, segera melepaskan pelukan Kalun. Dia merasa mual ketika mencium aroma Kalun saat ini.
“Aa’ mandi dulu sana!”
Perintah Aluna yang sudah berlari kecil ke arah kamar mandi. Dia tengah berusaha mengeluarkan cairan yang ada dalam perutnya saat ini. Dia sedikit heran kenapa tubuhnya jadi seperti ini, saat berdekatan dengan suaminya.
Kalun tidak berniat mendekati Aluna. Dia hanya berdiri di depan pintu kamar mandi yang terbuka lebar, sambil menatap istrinya dari pantulan kaca. Dia kasihan saat melihat keadaan Aluna yang tengah muntah-muntah, tapi dia juga tidak bisa mendekati Aluna, karena dia pasti akan ikut mual.
Dia lalu kembali berjalan ke arah ranjangnya, karena mulai merasakan mual. Mulutnya sudah ingin mengeluarkan sesuatu tapi beruntungnya dia berhasil meredakannya, setelah memakan permen mint yang ada di saku celananya.
Kalun menghempaskan tubuhnya dengan kasar. Dia meniupkan nafasnya ke udara, berusaha mengatur lagi supaya rasa mual yang ada di perutnya segera mereda.
Setelah sedikit reda, dia mengangkat tangan kirinya, mendekatkan indra penciumannya ke arah keteknya. Dia mengerutkan keningnya sambil menggelengkan kepalanya.
“Benarkah ini bau keringatku? Dulu perasaan tidak begini, pasti gara-gara jaket sialan itu,” gumam Kalun sambil membuang jaket Mario yang tadi dia sampirkan di ujung ranjang kayu yang dia tempati. Bibirnya terus bergumam tidak jelas, merutuki pemilik jaket.
Aluna yang sudah selesai dengan kesibukkannya, kini berjalan mendekat ke arah Kalun. Dia berjalan dengan gontai karena tenaganya sudah habis untuk mengeluarkan cairan yang ada di perutnya. Aluna mengusir Kalun dengan isyarat tangan, meminta supaya menjauh darinya.
“Iya, iya aku mandi, tapi habis ini boleh peluk ya!” pintanya sambil mendudukkan tubuhnya. Istrinya itu memang tega, kenapa juga jam 2 dini hari, menyuruhnya untuk mandi, nggak tahu apa Kalau penyakitnya bisa saja kambuh.
Kalun menatap Aluna sebelum memasuki kamar mandi. Dia cemberut ketika melihat Aluna menarik selimut tebal, untuk menutupi tubuhnya rapat.
Pasti ketiduran nanti! Nggak akan aku biarkan ya, lihat saja, aku nggak akan lama mandinya. Awas saja kalau ketiduran! Aku bangunin kamu. Ucap Kalun dalam hati sambil melepas kaus yang ia kenakan. Dia ingin secepatnya menyelesaikan mandinya dan masuk ke dalam selimut yang Aluna kenakan saat ini.
Sepuluh menit kemudian, Kalun keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan handuk bewarna putih, lalu segera menyusul Aluna yang tengah berada di dalam selimut.
Aluna menjerit, ketika merasakan dinginnya tubuh Kalun. Dia tidak melihat Kalun yang memasuki selimutnya, karena posisinya tadi membelakangi pintu kamar mandi.
“Aa’! Pakai bajumu!” maki Aluna sambil menjauhkan tubuhnya dari Kalun, lalu berbalik badan menghadap ke arah Kalun.
__ADS_1
“Aku sudah wangi Sayang, coba cium!” perintahnya sambil mengakat tangan kirinya, dia memamerkan ketiaknya di depan Aluna.
Aluna terkekeh geli, dia berusaha menyembunyikan giginya, supaya tidak terlihat, saat melihat bulu ketek Kalun yang belum dicukur. Kini dia sudah tidak bisa menahan sengumnya, tawanya pecah memenuhi ruangan saat Kalun semakin mendekatkan keteknya ke arahnya.
Kutarik saja apa ya, gemes banget sama si hitam itu. Pikiran Aluna yang jahil mulai on ketika mendapati tingkah Kalun.
“Sudah sana!” usir Aluna sambil mendorong pelan tubuh Kalun. Dia tega untuk mengusili suaminya, takut juga jika Kalun akan membalasnya karena dia juga belum mencukur bulunya.
“Please! Peluk saja, yah!” pinta Kalun yang kembali mendekat ke arah istrinya. Aluna mengalah saat mendengar permintaan Kalun yang terus menerus di ulangi. Kini Aluna sudah berada di pelukan Kalun, dengan Kalun yang terus menciumi pucuk kepala Aluna. Karena postur tubuh Aluna yang lebih pendek darinya.
Kalun mengangkat dagu Aluna, lalu mengecupnya singkat, karena dia takut kelewatan, dan akan menimbulkan gairahnya yang menyala.
“Jangan menandatanganinya lagi!” peringat Kalun yang membuat Aluna menatapnya bingung, karena tidak mengerti apa yang dimaksud Kalun.
“Apanya?”
“Surat cerai! Aku sudah membuang kertas itu, jangan berpikir untuk pergi dari kehidupanku,” jelas Kalun yang membuat Aluna tersenyum tipis karena benar-benar tidak paham apa yang diucapkan Kalun.
“Surat cerai kenapa kamu menandatanganinya? Bukankah aku sudah pernah bilang, hanya aku yang berhak memutuskan itu!” ucap Kalun lalu kembali mengecup bibir Aluna.
“Aku nggak pernah tanda tangan apapun A’ kecuali ....”
“Kecuali apa?”
“Lupakan!” perintah Aluna saat mengingat sesuatu.
Kalun membelai rambut Aluna lembut. Membuat wajah Aluna menempel di dada Kalun yang berbulu.
“Tetaplah bersamaku, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, kita akan bersama sampai akhir nanti.”
__ADS_1
Aluna terdiam, dia menajamkan pendengarannya, saat Kalun mengucapkan kata-kata romantis untuknya saat ini.
“Bagaimana dengan bayi Kayra? Dia juga butuh ayahnya?”
“Jangan pikirkan hal itu! Yang terpenting, kamu jaga si utun baik-baik! Hingga waktunya tiba kita akan dipanggil papa dan mama.” Kalun masih menikmati pelukkan dan aroma tubuh Aluna yang masih tertinggal wangi parfumnya. Tangannya terus mengusap rambut hingga punggung Aluna. Membuat Aluna yang memang sudah mengantuk terlelap dengan nyenyak.
Kalun mengamati lekat wajah Aluna yang sudah terlelap, dia mengecup dahi Aluna cukup lama, hingga meninggalkan salivanya di dahi Aluna. Dia lalu meletakkan kepala Aluna di bantal dengan pelan. Dia terus menatap wajah Aluna yang menenangkan hatinya. Mengekplore setiap panca indra yang ada di wajah Aluna. Alisnya yang tipis dan matanya yang terpejam, pasti akan selalu dia rindukan saat nanti mereka berjauhan. Tangan Kalun terulur menyentuh bibir mungil Aluna, dia mengusap bibir merah natural itu dengan lembut.
“Aku akan merindukan kecupanmu, rindu mengecupmu. Merindukan semua yang pada dirimu Sayang,” gumamnya yang masih menatap bibir Aluna.
“Aku hanya ingin kamu percaya, jika aku benar mencintaimu! Doakan aku, supaya aku bisa melewati ini semua.” Kalun mencium pipi Aluna, lalu merebahkan tubuhnya di samping Aluna. Dia memejamkan matanya dan terus membuang nafasnya dari mulut. Lalu kembali menghadap Aluna. Air matanya tidak sengaja keluar. Meski tidak deras, tapi mampu membuat bantalnya terasa lembab. Kalun lalu meraih ponselnya yang dia letakkan di meja. Membaca lagi pesan yang tadi dikirim oleh Kayra.
Dia lalu duduk di tepi ranjang, sudah tiga kali dia membaca pesan dari Kayra. Tapi hatinya tetap saja perih. Dia tidak pernah mengira jika ternyata Kayra adalah ular berbisa yang berbahaya untuk dirinya, dia menyesal, dulu pernah memberikan cintanya untuk Kayra. Kepala Kalun menoleh lagi ke arah Aluna, tatapannya menjadi sendu. Mengingat dia harus segera meninggalkannya istri dan calon anaknya.
***
Hari ini cuaca begitu cerah, matahari sudah menyorot terik dari ufuk timur, sinarnya menyilaukan mata Aluna yang masih terpejam. Kamar itu masih terasa dingin karena pendingin udara yang belum dimatikan.
Aluna menarik selimut tebal yang sudah tersingkap jauh dari tubuhnya, pagi ini dia merasa kedinginan, tubuhnya sedikit menggingil. Tangan kanannya berusaha meraih tangan Kalun yang dia kira masih berada di sampingnya. Dia berusaha mencari kehangatan dari lelaki di sampingnya, tapi yang ada dia hanya mendapati tempat Kalun yang kosong. Suaminya sudah tidak ada di sampingnya pagi ini. Kalun sudah menghilang.
“A’.”
Aluna sedikit berteriak mencari keberadaan Kalun. Dia lalu mendudukkan tubuhnya, sambil menggelung rambutnya yang panjang. Tidak ada sahutan dari dalam kamarnya. Membuat pikirannya melayang jauh, ke arah Kalun yang akan pergi meninggalkannya dan kembali pada Kayra.
“Aa’ di mana? Kenapa nggak pamit denganku? Kamu meninggalkan aku ya? Kenapa nggak bilang semalam?” gerutu Aluna dengan berbagai macam pertanyaan, dia sedikit kesal dengan sikap Kalun yang pergi secara tiba-tiba. Dia lalu beranjak dari kasur ranjang kayu tersebut. Dia berjalan menuju kamar mandi, mencoba mencari keberadaan Kalun. Nihil! Dia tidak menemukan Kalun di sana, membuatnya bertambah emosi.
Aluna mengambil jaketnya, setelah selesai mencuci muka. Dia berjalan mendekat ke arah pintu masuk kamarnya, untuk mencari keberadaan Kalun, siapa tahu suaminya itu tengah berjalan-jalan di taman, yang ada di depan gedung.
👣
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote ya.👍💪