Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Resto Samuel


__ADS_3

Saat tiba di resto Aluna disambut ramah oleh Renata, mereka berdua berpelukan erat mengingat mereka sekarang jarang bertemu, mereka hanya bisa berhubungan lewat pesan telepon karena kesibukkan masing-masing. Seperti biasa Aluna langsung membersihkan tubuhnya bersiap untuk mengisi acara live music di sana.


“Kenapa wajahmu pucat Lun? Kamu hamil ya?” tanya Renata ketika mereka berdua tengah menyantap makan malamnya. Aluna yang mendengar itu langsung memukul pelan lengan Renata.


“Bisanya kamu ngomong seperti itu, aku bahkan tidak pernah menyentuhnya,” jelas Aluna.


“Beruntung nanti yang akan mendapatkanmu, meski janda tapi masih tersegel,” ucap Renata dengan suara keras, membuat Samuel yang berada di belakang Renata, bertanya-tanya tentang maksud ucapan Renata barusan.


“Samuel!” sentak Aluna yang kaget karena tiba-tiba Samuel berada di sampingnya.


“Hai,” balas Samuel dengan senyuman.


“Kamu sudah siap?” Aluna mengangguk sebagai jawaban Samuel.


“Itu sudah banyak tamu yang mencarimu, aku akan menyapa rekanku dulu hari ini, jadi jaga dirimu, jika ada apa-apa segera hubungi aku,” jelas Samuel pada Aluna. Lalu dia berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


“Kalau dari pengamatanku Pak Samuel itu naksir deh sama kamu, tatapannya, bicaranya, sudah terlihat jelas,” jelas Renata yang membuat Aluna tersenyum kecut.


“Biarlah, yang penting aku nggak, lagian kita juga berbeda, jadi nggak mungkin dia yang akan jadi jodohku, setelah aku pisah nanti.” Aluna menjelaskan pada sahabatnya itu, karena Aluna dan Samuel memang berbeda keyakinan, jadi mereka tidak akan pernah bisa bersama.


“Dia mau ke London Ren, menemui tunangannya,” jelas Aluna menatap ke arah Renata.


“Gila suamimu itu! Mentang mentang dia orang kaya sesuka hati juga dia mainin hati wanita. Tunggu, tunggu! Kamu nggak lagi jatuh cinta dengan dia kan, kenapa sedih begitu?” selidik Renata saat melihat Aluna menatap jendela dengan tatapan kosong.


“Nggak kok, cuma kepikiran saja, bagaimana jika tunangannya tahu jika dia sudah menikahiku, apa aku disebut pelakor?” tanya Aluna yang menatap Renata.


“Bisa juga sih, karena kamu memang merebut suamimu dari tunangannya,” jelas Renata dengan senyuman yang tersungging. Membuat Aluna cemberut sambil memijit kepalanya.


“Aiish ... sudahlah, jangan bersedih seperti itu, semua terjadi bukan karena kehendakmu,” jelas Renata. Aluna lalu berdiri untuk mencuci tangannya, karena waktu sudah pukul 7 malam jadi dia bersiap untuk bernyanyi.


Seperti biasanya, dia selalu memulai perkenalan lebih dahulu, saat Aluna bernyanyi, Samuel yang berada tidak jauh darinya selalu mengawasi dirinya, dia khawatir jika Aluna akan menangis lagi.


“Ngliatan apa sih. Gitu amat menatapnya?” ucap rekan Samuel yang ada di sebelahnya. Mereka berdua tengah berada di ruang vip resto tersebut.


“Nggak, ntar loe juga tahu,” jawab Samuel sambil tersenyum gembira.

__ADS_1


“Mana sih? horang kaya kok belum datang. Mario juga kenapa nggak datang,” gerutu lelaki yang berada di samping Samuel.


“Tu Mario,” tunjuk Samuel dengan ekor matanya ke arah mario yang tengah menggoda wanita.


Tidak lama kemudian Mario ikut bergabung di kursi mereka, dengan menggandeng cewek yang belum lulus sma, membuat dua lelaki yang berada di ruangan tertawa geli. Terdengar di telinga Samuel, Mario tengah merayu gadis belia itu dengan gombalannya. Membuat dia ingin mengenalkan Aluna pada rekannya itu.


“Pada bawa cewek semua ya, nanti aku kenalin ke cewek aku,” jelas Samuel sambil menatap ke arah dua lelaki di depannya. Dia lalu melirik ke arah Aluna yang tengah bernyanyi di bawah.


Dengan langkah mantap Samuel berjalan menuju ke panggung live musik, dia ingin mengenalkan dan membawa Aluna ke depan rekannya. Samuel ingin menunjukkan ke pada rekannya, jika dia juga mempunyai wanita spesial di hatinya.


“Aku kenalin kamu dengan temanku, siapa tahu kamu naksir ke mereka, hahaha,” ucap Samuel sambil menarik tangan Aluna, mereka berdua berjalan ke atas menuju ruang vip.


Alunan musik masih terus terdengar, tapi penyanyi sudah berganti, bukan Aluna yang menyanyikan, tapi lelaki yang selalu membantu Aluna.


Samuel membawa Aluna ke ruang vip resto itu, saat dia masuk semua rekannya sudah berkumpul, karena memang sengaja dia yang mengundangnya karena sudah lama mereka tidak bertemu.


Ketika Aluna masuk, dia menatap ke arah depan, tepat menatap mata Kalun yang tengah duduk di sofa dengan jas dan kemeja yang sudah dilepas, dia hanya mengenakan kaos dalam warna putih yang melekat pas di tubuhnya, Aluna sedikit tidak nyaman dengan kehadiran Kalun di sana, dia hanya menunduk sambil menerima ganggaman erat tangan Samuel. Sedangkan Kalun terlihat menahan amarahnya saat melihat tangan Samuel yang mengenggam erat tangan Aluna.


“Wah, siapa ini yang datang?” ucap Emil yang melihat kedatangan Samuel dan Aluna.


“Diamlah kalian! Dia Luna. Yang biasa bernyanyi di sini.” Samuel menghentikan suaranya lalu melihat ke arah Aluna.


“Ow ya Lun, kenalin itu Emil dia pria yang lagi mengejar cintanya karena terhalang restu kakak, sebelahnya itu Mario dia playboy kelas kelinci, suka mainin hati wanita,” ucap Samuel sambil menunjuk ke arah rekannya.


“Kamu boleh naksir yang mana saja, asal jangan naksir dengan dia, dia Kalundra orang terkaya dan terbodoh karena jadi budak cinta wanita ....” Samuel menghentikan ucapannya lalu berbisik di samping telinga Aluna.


“Terbodoh karena ternyata wanitanya hanya mainin dia,” bisik Samuel. Membuat Aluna langsung menatap ke arah Samuel dengan penuh tanda tanya.


“Dan sampingnya itu Doni, sekertaris Kalundra. Kita semua sudah kenal sejak lama, jadi seperti inilah hubungan kami,” jelas Samuel tanpa melihat tatapan Kalun yang tengah menatapnya dengan kesal.


Aluna tersenyum ramah pada rekan Samuel, membuat Kalun semakin ingin meluapkan kemarahannya.


Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Aluna berpamitan karena waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam.


“Aku antar ya?” tawar Samuel saat mengikuti langkah kaki Aluna yang berjalan pergi. Sedangkan Kalun hanya memperhatikan tingkah keduanya.

__ADS_1


“Kenapa sih loe, tiba-tiba murung begitu? Mau balapan lagi? Atau kamu punya masalah sama Kayra?”


“Nggak papa, aku baik-baik saja, sudahlah aku mau cabut dulu,” ucap Kalun sambil mengenakan kemeja yang tadi dia lepas, dia pulang diantar oleh Doni, karena di luar cuaca sedang buruk.


Saat berada di mobil, Kalun terus menatap keluar jendela melihat rintikkan air yang turun, dia masih memikirkan senyuman Aluna yang terlihat bahagia saat berada di samping Samuel. Bahkan ketika dengannya dia tidak pernah menampilkan senyuman itu. Terakhir melihat senyum indah Aluna, ketika gadis itu hendak pulang meminta dijemput calon suaminya.


Hati Kalun terasa perih, tapi dia tetap menolak jika dia jatuh hati pada Aluna. Dia terus menyakinkan jika dia hanya mencintai Kayra. Dan hatinya hanya untuk Kayra.


Saat tiba di apartemen dia langsung meminta Doni untuk segera pulang. Kalun masuk lift setelah menunggu beberpa menit. Saat pintu hendak tertutup, terdengar suara Aluna berteriak meminta untuk menahan lift itu, tapi Kalun yang dirundung cemburu enggan untuk menahannya. Pintu lift itu tertutup dengan Kalun sendiri di dalamnya, sedangkan Aluna tertinggal di luar sana.


“Rasain memangnya enak! Siapa suruh mesra-mesraan di depanku,” lirih Kalun sambil menatap pantulan dirinya pada dinding pintu lift.


“Tapi kasihan juga, ini kan sudah malam bagaimana kalau ada penjahat datang, di bawah tadi juga sepi, mana hujan masih deras lagi?” Kalun berucap dengan gelisah, kakinya sudah berjalan memutari are lift.


“Oh ... Shit! Lama sekali sampainya,” umpat Kalun yang melihat angka naik le lantai 23.


Saat pintu terbuka, Kalun segera menekan tombol pintu tertutup, dia ingin kembali ke lantai bawah menemani Aluna yang tengah menunggu lift itu tiba.


Saat tiba di lantai 5 Kalun menyiapkan ekspresi seriusnya, supaya tidak terlihat panik, saat bertemu Aluna nanti.


Pintu terbuka dengan Aluna yang mendekap tubuhnya dengan kedua tangan, karena merasa kedinginan. Aluna menatap heran ke arah Kalun yang masih berdiri di dalam lift.


“Kenapa bajumu basah?” selidik Kalun saat melihat Aluna kedinginan. Dia mencoba mengalihkan kecurigaan Aluna. Aluna cemberut, karena menelan kembali pertanyaan yang akan dia tanyakan pada Kalun.


“Tadi saat akan tiba di apartemen tiba-tiba hujan deras, jadi aku minta tukang ojeknya untuk segera jalan terus, karena dia juga tidak membawa jas hujan,” jawab Aluna yang sudah masuk ke dalam lift. Kalun yang melihat itu langsung memakaikan jas yang ada di tanganya ke tubuh Aluna.


“Apa pacarmu itu tidak mengantarmu?” tanya Kalun yang membuat Aluna menatapnya tajam, tapi dalam hati Kalun merasa lega karena ternyata Aluna pulang tidak diantar Samuel.


“Dia bukan pacarku.” Aluna berucap sambil keluar dari lift karena pintu sudah terbuka.


Kalun segera mengikuti langkah kaki Aluna, dia tersenyum manis, sambil memainkan pangkal hidungnya, di balik punggung kecil Aluna.


👣


Jangan lupa untuk like dan vote. Terima Kasih ya 🙏🙂

__ADS_1


__ADS_2