Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Cemburu


__ADS_3

Setelah berpisah dengan kedua orang tuanya, Aluna segera mengikuti langkah Kalun. Mereka berjalan berdampingan menuju tempat parkir mobil, di mana Doni tadi memarkirkannya.


Tangan kiri Aluna terus mengenggam erat tangan kanan Kalun, sedangkan tangan kanannya masih berada tepat di depan wajahnya, dia terus menatap cincin di jari manisnya yang baru satu jam tersemat itu.


“Apa kamu menyukainya?” tanya Kalun saat melihat Aluna terus memperhatikan cincin di tangannya, dia turut bahagia saat melihat ekspresi bahagia Aluna yang terlihat senang itu.


“Ini barang mewah pertama yang aku miliki, meski pemberinya bukan yang pertama di hatiku, tapi ….”


Kalun mengibaskan tangannya, saat Aluna belum menyelesaikan ucapannya, tangan Aluna yang tadi digenggam Kalun kini bebas tidak lagi dia genggam.


Beruntungnya mereka sudah berada di samping mobil, jadi Aluna langsung memasuki mobil, tanpa mempedulikan lagi raut wajah suaminya.


Kalun masih diam seribu bahasa sambil


fokus ke arah jalan. Lampu warna-warni sudah terpasang rapi menyambut perayaan natal yang akan datang satu minggu lagi. Aluna hanya menatap kagum lampu-lampu dari dalam mobil. Sambil memikirkan cara untuk membuat suaminya itu tersenyum kembali.


“A’ ingat jembatan ini nggak?” Aluna terus menatap jembatan yang ada di sebelah kirinya. Kalun hanya menoleh sejenak lalu kembali fokus melihat ke arah depan.


“Ingatlah! Itukan tempatmu yang ingin menyusul suamimu itu,” ketus Kalun yang tidak ingin memperhatikan Aluna.


“Aa’ suamiku itu Kalun!” Aluna sudah tidak sabar lagi. dia sudah menaikkan nada suaranya, merasa jengkel juga dengan sikap cemburu Kalun yang tidak pada tempatnya itu.


Perjalanan terasa lama bagi Aluna. karena sikap Kalun yang tidak menyenangkan itu. Wajah masam Kalun membuatnya ingin segera turun dari mobil saat itu juga. Mungkin karena efek hormonnya Aluna ingin segera meledakkan emosi sekarang juga.


“Maumu apa sih A’? aku tadi belum selesai bicara tapi kamu sudah memutusnya seperti itu. Kamu khawatir aku akan clbk dengan orang yang sudah dikuburkan?” Aluna menatap lekat ke arah Kalun yang tengah memutarkan stirnya ke rumah mertuanya.


“Nggak! Ngapain juga cemburu, mau clbk juga nggak masalah kok,” balas Kalun yang sudah membuka pintu mobil. Dia langsung keluar dari mobil mewahnya tanpa melihat Aluna yang masih berada di dalam mobil.

__ADS_1


Kalun benar-benar meninggalkan Aluna, dia berjalan menuju kamarnya dengan wajah yang tidak bersahabat, dia juga tidak menyapa anggota keluarganya yang tengah berada di ruang keluarganya, yang tengah mempersiapkan untuk acara pertunangan Riella besok malam.


“Lun. Duduk dulu sini!” perintah Ella sambil menepuk kursi kosong bekas tempat Nara yang sudah dimintanya pergi. Aluna bingung antara meredakan rasa cemburu Kalun atau duduk bersanding dengan mertuanya. Dia menatap sebentar ke arah Kalun yang baru saja membuka pintu kamar.


Karena melihat suaminya yang acuh dengannya. Aluna akhirnya memutuskan untuk duduk di samping Ella.


Ella menceritakan segala macam yang berhubungan dengan Kalun. Ella memberitahukan semua cerita tentang masa kecil Kalun, kecuali saat Kalun diculik, karena mereka semua tidak ingin membahas masa terburuk Kalun saat itu. Sampai akhirnya Ella menanyakan tentang kehamilan Aluna yang membuat Aluna bingung untuk menjawabnya, dia tidak mengerti apa yang dimaksud mama mertuanya tersebut.


Aluna sedikit tersenyum menjawab pertanyan mertuanya, “Doa’in saja Ma. Semoga disegerakan.”


Ella tidak mau membahas hal sensitive itu, biarlah toh kalau nanti jadi, dia akan segera menggendong cucunya, jika tidak dia akan lebih bersabar lagi untuk mendapatkannya.


Mereka lalu melanjutkan untuk menyusun bunga yang akan dipakai untuk menghias acara besok.


Tidak lama terdengar suara tawa dari arah luar, Riella memasuki rumah bersama dengan Emil yang tengah memeluknya.


“Emil! Sabar dulu jangan peluk-peluk Lala, kalian belum sah!” peringat Ella saat melihat


Emil yang sadar langsung melepaskan pelukkan yang ada diperut Riella. Dia mendekati Ella, menenangkan Ella yang sedikit khawatir dengan kelakuannya.


“Tunggu 3 bulan lagi, setelah kamu mengucapkan kalimat sakral itu, kamu bisa menyentuhnya! sesukamu” ucap Ella bergantian menatap tajam ke arah Emil.


Aluna yang merasa sedikit sungkan karena mendengar ceramahan Ella. Dia berniat ingin masuk ke dalam kamarnya.


“Ma, Luna permisi ya,” pamitnya yang langsung mendapat jawaban anggukkan dari mertuanya.


Aluna segera beranjak dari ruang keluarga meninggalkan tiga orang yang berada di sana. Dia masih punya pekarjaan berat untuk meredakan cemburu Kalun, atas semua perkataannya tadi.

__ADS_1


Setelah memasuki kamar Kalun, suaminya sudah tertidur pulas di atas kasur empuknya. Lampu kamar sudah dimatikan. Kini hanya tinggal lampu yang ada di samping ranjang.


Aluna berjalan mencari baju untuk mengganti dressnya. Dia berjalan menuju lemari, mencari baju yang nyaman dan pas untuknya. Dia hanya bisa menemukan kaos putih dan celana boxer yang menampilkan paha putihnya.


Aluna turut merebahkan tubuhnya di kasur yang Kalun tempati. Memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Kalun.


“Meski kamu bukan yang pertama di hatiku, tapi aku pastikan, jika kamu akan jadi yang terakhir untukku A,” lirihnya sambil menatap punggung Kalun. Aluna ingin mengusap punggung lelakinya, tapi dia urungkan karena takut menganggu tidur nyenyak Kalun. Dia lalu memposisikan tubuhnya terlentang sambil menarik selimutnya. Dia mulai memejamkan matanya, tanpa melirik lagi ke arah orang yang tadi berpura pura tidur di sebelahnya.


Kalun yang mendengar nafas teratur Aluna merasa kesal, karena istrinya itu tidak mencoba merayunya. Dia menendang pelan kaki Aluna, supaya istrinya itu bangun. Namun, yang ada Kalun dibuatnya kesal karena Aluna justru memiringkan tubuhnya, membelakangi Kalun.


Kalun membuang nafas kesalnya sambil menyibakkan selimutnya dengan kasar. Dia berjalan ke arah balkon untuk menenangkan dirinya di sana.


“Bisa nggak kalau sedang denganku tidak menyinggung tentangnya?” gumamnya lirih sambil menatap Aluna dari pintu yang menghubungkan ke arah kamar. 


Sangat lama Kalun berada di sana. Sambil


menatapi adiknya yang tengah melambaikan tangannya ke arah Emil. Dia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul 12 malam.


“Aku hanya bisa melihat kelakuanmu saat ini, aku akan menyaksikan sampai kapan kamu akan bertahan dengannya,” gumamnya sambil menatap mobil Emil yang menghilang di balik pintu pagar.


Kalun lalu, berjalan memasuki kamarnya, karena rasa kantuknya yang sudah tidak bisa dia tahan lagi. Masih sama seperti tadi, dia berusaha membangunkan Aluna dengan menendang kecil kaki Aluna supaya istrinya itu terbangun, dan dia akan meninggalkannya tidur. Tapi yang ada Aluna tidak membuka matanya, dia masih nyenyak di bawah selimutnya.


“Nyebelin banget, kalau tidur sudah seperti orang nggak punya nyawa!” ketusnya sambil


membelakangi tubuh Aluna.


Kalun pun membawa rasa cemburu dan kesalnya itu ke alam mimpinya, berharap pagi akan segera datang menyambutnya.

__ADS_1


👣


Jangan lupa untuk like dan vote ya.


__ADS_2