
“A’ stop A’ jangan lagi!” ucap Aluna
sambil menaikkan tangannya meminta Kalun untuk menghentikan mobilnya. Kalun hanya
mengulum senyum liciknya. Namun, tiba-tiba Kalun menginjak rem mobilnya saat melihat tangan Aluna menahan mulutnya yang hendak memuntahkan sesuatu dari
dalam perutnya.
Saat mobil sudah berhenti sempurna, Aluna mendorong pintu mobil dengan kasar, dia segera keluar dari mobil sport milik Kalun, memuntahkan cairan yang ada di dalam perutnya. Sedangkan Kalun hanya mampu menatapnya dari dalam mobil. Dia sungguh tidak bisa mendekati orang yang tengah muntah, tapi ini istrinya. Dia berpikir lama sambil memainkan alisnya, akhirnya dia mau tidak mau dia harus membantu Aluna. Dia berjalan mendekat ke arah Aluna, dan memberikan satu botol minuman untuk Aluna.
Karena merasa kasihan Kalun menahan
penciumannya, supaya aroma muntah itu tidak terhirup hidungnya, dia dengan perhatian mengusap punggung Aluna, membantu Aluna mengeluarkan cairan yang ada di dalam perut.
Aluna duduk di hamparan aspal di samping mobil Kalun setelah merasa sedikit lebih baik, tubuhnya sudah lemas, seperti tidak bertulang, air matanya yang harusnya tidak keluar, kini terlihat membasahi kelopak matanya karena rasa sakit yang dia tahan.
“Kamu jahat A’!” maki Aluna sebelum
kesadarannya menghilang. Kalun mengusap rambutnya, untuk menghilangkan rasa khawatir yang di rasakan saat ini. Tangan kirinya kini sudah menahan leher Aluna supaya tidak terjatuh. Dia panik sendiri, merasa bersalah karena sudah membuat Aluna pingsan.
Dengan cepat dia membawa Aluna masuk
ke dalam mobilnya. Lalu meninggalkan tempat itu menuju rumah sakit terdekat. Namun, jarak ke rumah sakit memerlukan waktu yang lama, bahkan hampir 30 menit jika itu tidak terjadi macet. Kalun berpikir keras untuk mencari solusi yang tepat untuk segera membuat Aluna tersadar.
Saat Kalun melewati komplek rumah kedua orang tuanya, Kalun langsung membelokan mobilnya memasuki jalan komplek, dia berhenti tepat di halaman rumah papanya.
Saat dia tiba di sana, seluruh isi rumah Erik terdengar gempar, karena banyaknya pelayan yang berada di depan rumah yang tengah menikmati udara malam, mereka semua ikut panik karena melihat Kalun tengah menggendong Aluna yang tengah pinsan.
“Kamu apain menantuku?” tanya Ella dengan emosi ketika melihat wajah Aluna yang pucat pasi di gendongan Kalun.
Kalun segera membawa Aluna ke dalam
kamarnya, meletakkan tubuh Aluna dengan pelan, Erik yang baru tahu Aluna pinsan karena teriakkan pelayan, segera melihat kondisi menantunya itu.
“Apa yang terjadi? Apa dia terlambat datang bulan?” tanya Erik yang baru saja tiba di kamar Kalun, dia mendekat ke arah ranjang di mana Aluna berada.
“Pa.” Kalun menggelengkan kepalanya
saat mendengar pertanyaan Erik.
Erik menatap curiga ke arah Kalun, dahinya sudah berkerut seolah menanyakan apa salah bertanya seperti itu?
“Dia belum terlambat datang bulan, dia hanya mabuk, karena aku melajukan mobilnya dengan kencang,” jelas Kalun yang langsung mendapat pukulan lengan dari Ella.
“Anak siapa sih ini, beda banget tahu nggak dengan papanya!” ledek Ella setelah mendengar pengakuan Kalun. Erik lalu meminta Kalun untuk menjauh dari ranjang Aluna.
“Minggir, kalau perlu keluar sana!” usir Erik yang meminta Kalun untuk beranjak dari tepi ranjang yang Aluna tempati.
__ADS_1
Erik meminta Ella untuk mengambilkan
stetoskop yang ada di ruang kerjanya. Dia lalu meraih tangan Aluna. Mencari denyut nadi yang ada di pergelangan tangan Aluna. Karena Erik sudah tua sepertinya kepekaannya berkurang, jadi dia menunggu stetoskop itu datang, untuk memeriksa Aluna lebih lanjut.
Saat Ella tiba dan menyerahkan alat itu, Kalun bergegas naik ke atas kasurnya, dia berada tepat di sisi Aluna, melihat papanya yang tengah memeriksa Aluna.
“Pa, jangan dibuka nanti kelihatan!” peringat Kalun, yang melihat Erik hendak memeriksa perut Aluna.
Erik yang jengkel langsung melemparkan stetoskop itu ke arah Kalun. Dia tidak jadi memeriksa menantunya, karena anaknya itu terus protes padanya.
“Kamu yang periksa, catat di situ biar
papa yang memastikan apakah istrimu hamil atau tidak!” perintah Erik yang membuat Kalun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Nggak mungkilah Pa, Aluna hamil! Aku
selalu mengeluarkannya diluar jadi mana mungkin?” ucap Kalun sambil menatap
sengit ke arah Erik. Erik yang mendengar itu langsung memukul pelan kepala Kalun dengan buku yang ada di meja.
“Cepat periksa! Siapa tahu kamu keceplosan!” perintah ulang Erik yang sangat berharap jika menantunya itu tengah mengandung cucunya.
“Emangnya kamu!” cibir Ella sambil berjalan meninggalkan dua lelaki berbeda usia itu.
Aluna mengerjapkan matanya di saat Kalun
belum memeriksanya, dia memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing dan berputar-putar.
dia sudah bangun!” teriak Erik saat melihat Aluna membuka matanya. Aluna berusaha
untuk duduk dengan dibantu Kalun, dia menatap ke arah Kalun dengan tatapan
sengit, lalu memukuli Kalun dengan kedua tangannya karena merasa penyebab semua ini adalah suaminya.
Hingga terdengar suara mengaduh yang
keluar dari bibir Kalun, Aluna baru menghentikan pukulannya yang ada di dada Kalun.
“Sini tidurlah dulu biarkan aku memeriksamu!”
perintah Kalun yang sudah menempelkan stetoskop di telinganya.
Dia lalu mendengarkan denyut jantung Aluna lalu mencatat hasilnya dan menyerahkan kepadanya Erik.
Nampak raut wajah Erik yang terlihat sedikit kecewa saat membaca kertas yang diberikan Kalun padanya, dia tersenyum miring ke arah Kalun, membuat Kalun mempertanyakan ekspresi yang papanya keluarkan itu.
“Nggak kan! Kalun kan pintar, Kalun selalu mengeluarkannya di dalam, saat berhubungan dengan Aluna.” Kalun lalu memikirkan ucapan yang baru saja dia keluarkan. Bayangan malam itu dengan Kayra kembali hadir diingatannya.
__ADS_1
Jika aku sudah terbiasa begitu, berarti aku juga melakukan itu terhadap Kayra. Ucapnya dalam hati.
“Jadi dia tidak akan mungkin hamil anakku,” gumam Kalun yang masih bisa di dengar oleh Erik. Erik melirik tajam ke arah Kalun, setelah mendengar ucapannya tadi.
“Apa maksudmu?” lirih Erik sambil menatap ke arah Aluna.
“Maksud Papa?” ucap Kalun yang menjawab dengan pertanyaan.
“Awas ya, jika kamu mengulangi kebodohanmu lagi! Papa nggak akan segan untuk mencoret namamu dari keluarga Ramones!” peringat Erik sambil berjalan meninggalkan kamar Kalun.
Suasana terlihat sepi kini hanya ada mereka berdua yang tengah saling menyampaikan tatapan kerinduannya. Aluna menatap Kalun dengan kerinduan, tapi bibirnya masih saja cemberut karena kelakuan Kalun yang kurang ajar tadi.
“Maafkan aku ya!” pinta Kalun yang berjalan mendekat ke arah kasur yang Aluna tempati. Dia meletakkan bangku nakes di samping ranjang, dan mendaratkan pantatnya di sana.
Malam ini Kalun berniat berbicara jujur dengan Aluna, tentang kejadian malam itu di London, dia akan meminta maaf pada Aluna tentang kelakuannya itu, dia sudah memikirkan hal itu seharian, ketika Aluna pergi bekerja tadi.
Tangan Kalun sudah mengenggam tangan Aluna, matanya kini manatap tangan lembut Aluna. Dia berusaha memberanikan dirinya malam ini. Mengumpulkan keberaniannya, yang kemungkinan besar Aluna akan meninggalkannya dan sudah siap menanggung resikonya apapun itu, yang terpenting dia sudah berbicara jujur dengan Aluna.
“Lun, aku ingin mengakui kesalahan terbesarku selama ini,” ucap Kalun yang mencoba memberanikan diri menatap wajah Aluna.
Aluna terlihat belum ingin menanggapi ucapan Kalun. Tatapan Kalun yang mengarahnya dengan sayu membuatnya iba, bibirnya sedikit tertarik ke atas.
“Aku memaafkanmu, tapi jangan diulangi lagi, karena aku paling tidak suka menaiki mobil seperti itu, nyawa tidak dijual di apotek, nanti kalau aku mati, apa kamu sudah siap jika disebut duda muda?”
Kalun menggelengkan kepalanya, dia memejamkan matanya sejenak, kembali mengumpulkan keberaniannya, untuk berkata jujur kepada Aluna. Dia mengambil nafas dalam-dalam sebelum memulai lagi ucapannya.
“Lun, jika aku melakukan kesalahan besar, apa kamu mau memaafkan aku?” tanya Kalun dengan menatap wajah Aluna.
Aluna yang mendengar itu, membalas Kalun dengan tatapan yang sama.
“Jika aku bertanya balik padamu seperti itu, apa kamu akan memaafkan aku?”
“Maksudmu?” tanya Kalun yang curiga dengan pertanyaan Aluna.
“Ya. Misalkan aku yang melakukan kesalahan besar. Misalnya aku tidur dengan Samuel, apa kamu akan memaafkan aku?” tanya Aluna yang membuat Kalun berpikir keras dan langsung menggelengkan kepalanya.
Membuat Aluna menepuk lengan Kalun yang berada di dekatnnya, dengan terkekeh saat melihat ekspresi Kalun saat ini.
“Aku tidak sekeji itu A’! Istrimu ini wanita yang setia, nggak akan pernah berpaling jika di sampingnya ada lelaki yang selalu melindunginya, sudahlah ayo kita tidur! Besok aku harus bekerja, mencari uang untuk membeli susu untuk calon anak kita,” canda Aluna sambil menarik selimut, untuk menutupi tubuhnya, tapi di kembali membuka selimut itu
ketika melihat Kalun tidak beranjak dari tempat duduknya.
“Aku kotor Lun, aku nggak pantas untukmu,” lirih Kalun. Aluna yang berusaha mendengar ucapan Kalun hanya menggelengkan kepalanya.
“Ngomong apa sih kamu A’ sudahlah ayo kita tidur! aku takut bangun kesiangan, nanti terlambat bekerja dan akan mendapatkan potongan gaji dari Pak David.”
Kalun yang mendengar dan melihat Aluna memejamkan matanya, dia harus mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Aluna. Dia akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakan kesalahannya pada Aluna, entah itu besok pagi, lusa atau seminggu lagi, tapi dia akan segera mengatakannya pada Aluna, karena dia tidak ingin Aluna mengetahuinya lebih dulu dari orang lain.
__ADS_1
👣
Jangan lupa like dan vote ya.👍🙏