Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Baby Girl


__ADS_3

Sudah hampir Final Episode loh beri vote yang banyak ya, biar masuk rangking vote. Semoga keritingnya jariku tidak sia-sia. Terima kasih. 🙏🙏🤗


Pagi ini Kalun dan Aluna mendatangi salah satu rumah sakit terbesar kota Solo. Kalun terus menarik tangan Aluna ketika tangan Aluna terlepas dari genggamannya. Dia tidak ingin Aluna jauh darinya saat ini, hatinya berbunga-bunga merasakan istrinya kini berada di dekatnya.


Tiba giliran nama Aluna dipanggil Kalun langsung berdiri sigap. Dia meminta Aluna untuk berjalan di belakangnya, membiarkan dirinya berjalan lebih dulu. Ketika pintu terbuka, Kalun menatap ke arah meja praktik dokter di ruangan tersebut. Dia lalu menoleh ke arah Aluna, memastikan lagi, dengan tatapannya jika lelaki di depannya itu adalah dokter yang menanganinya selama 6 bulan ini.


“Dia dokternya?” pertanyaan keluar dari bibir Kalun, hingga membuat Hanum yang tadi fokus pada kertas di tangannya, kini beralih menoleh ke arah kedatangan mereka.


“Iya. Dia yang membantuku menjaga anak kita.” Aluna menjelaskan dengan singkat, lalu berjalan mendahului Kalun, menghampiri kursi pasien di depan meja Hanum.


Hanum hanya tersenyum ramah ke arah Kalun yang masih berdiri di balik pintu masuk.


“Duduklah! Kenapa kamu berdiri di sana!” perintah Hanum.


“Dia suamimu Nona Luna?” tanya Hanum basa-basi, yang sebenarnya sudah tahu berita itu dari Doni.


“Ya.” Aluna menjawab singkat sambil menatap ke arah Kalun yang masih berdiri di balik pintu.


“Duduklah Kal! Apa kamu tidak merindukanku?”


“Nggak, untuk apa merindukan lelaki sepertimu! Pergi tanpa kabar!”


“Hahaha. Sesakit hati itukah kamu padaku! Kita cowok Men! Nggak perlu juga kamu sedrama itu!”


“Bolehkah aku memukulnya Nona Aluna? aku sudah tidak sabar membalas perlakuannya dulu padaku!" ucap Hanum sambil meniup-niupkan kepalan tangannya.


“Apa kalian saling mengenal?”


“Jelas! Dia selalu membullyku di kelas, karena aku lebih pintar darinya!” kata Hanum sambil tersenyum smirk ke arah Kalun.


“Jangan bicara omong kosong! Panggilkan dokter wanita aku tidak rela jika ada tangan lelaki menyentuh istriku, aku maafkan kamu selama ini karena aku tidak mengetahuinya, tapi sekarang aku tidak akan mengizinkanmu!”


Hanum justru menertawai Kalun, “Aku pikir kamu akan menikah dengan Kayra. Ternyata bisa ketikung cewek lain juga ya? Lalu di mana Kayra sekarang?” heran Hanum yang tidak paham dengan tatapan Aluna yang bergantian menatap tajam ke arah mereka berdua.


Kalun lalu menjelaskan garis besarnya saja tentang apa yang dialami Kayra pada Hanum. Aluna hanya menjadi pendengar setia mereka berdua tidak ingin menyahut sama sekali, sambil sesekali membuang nafas lelahnya. Karena Kalun terus membicarakan Kayra di depan Hanum.


“Jangan-jangan kamu menjadikan Nona Luna sebagai pelarian ya? Karena kamu patah hati ditinggal Kayra?” tanya Hanum membuat Kalun menoleh ke arah Aluna dan menggenggam tangan Aluna dengan erat.


“Nggak, aku sudah memutuskan Kayra jauh sebelum dia pergi. Karena aku sudah menemukan wanita yang akan menemani hari-hariku selama aku hidup,” jelas Kalun sambil mengecup punggung tangan Aluna.


“Sepertinya nanti akan ada judul karya baru dalam hidupmu, kemarin kan, Pacar Buncinku nanti jilid 2-nya kamu bikin judul Suami Bucinku,” ledek Hanum ketika melihat perlakuan Kalun, dia tertawa keras sambil mengambil buku laporan tentang riwayat kesehatan Aluna. Mengabaikan Kalun yang tengah melakukan adegan romantis membujuk Aluna yang tengah merajuk. Kalun heran dengan sikap Aluna yang terlihat semakin manja terhadapnya.

__ADS_1


Hanum lalu memanggil satu asistan perempuan, dia meminta asistan itu membantu Aluna untuk bersiap melakukan usg. Setelah selesai bersiap perawat itu segera memnaggil Hanum untuk masuk ke ruang usg.


“Ngapain kamu di sini!” hardik Kalun ketika Hanum turut masuk ke ruang di balik tirai bewarna hijau tersebut.


“Memeriksa pasien, dong. Mau ngapain lagi memangnya?”


“Diam dan kembali duduk ke mejamu!” usir Kalun yang tidak ingin melihat Hanum berada di sana.


“Aku yang akan memeriksanya sendiri, kamu hanya akan memberikanku aba-aba saja, ke kanan atau ke kiri. Biarkan tanganku yang bergerak,” kata Kalun yang membuat Aluna mendudukan tubuhnya.


“Aa’ jangan begitu. Dia hanya memeriksaku saja!”


“Nggak. Apa kamu meragukan gelar dokterku, apa kamu masih melupakan perkataanku dulu?” tanya Kalun sambil merebahkan kembali tubuh Aluna.


“Kamu tidak pernah berkata apapun padaku,” jawab Aluna.


“Baiklah, aku beritahu. Aku juga dokter, tapi aku belum spesialis. Papa mengirimku ke luar negeri ketika aku akan mengambil spesialis di sini. Jadi sekarang percayakan semuanya pada suamimu yang tampan ini,” kata Kalun sambil meraih transfunder yang ada di dekat layar kecil di depannya.


“Han. Tolong beri aku aba-aba, aku harus bergerak ke arah mana, kamu hanya boleh melihat dari arah televise di depanmu itu. dan jangan mencoba menoleh ke arah kami.” Kalun berkata penuh ancaman.


“Ya, ya, lakukan sesukamu. Aku akan pergi dari ruanganku,” jawab Hanum yang sudah akan beranjak dari duduknya.


“Aku tidak memintamu untuk pergi Han! Tapi aku minta kamu untuk duduk di sana. Aku apakan dulu ini perut istriku?” tanya Kalun di balik horden bewarna hijau tersebut. Hanum lalu segera menjelaskan langkah melakukan usg pada rekan lamanya itu.


“Kanan, beri tekanan pada perut istrimu, supaya terlihat lebih jelas wajah calon anakmu,” ucap Hanum, sambil mengawasi layar 40 inch di depannya.


“Apa kamu bodoh! Kamu harusnya paham, bagaimana jika istriku kesakitan? Sudah diamlah, aku akan melakukannya sendiri!”


“Ya itu lebih baik,” terang Hanum sambil bernafas lega.


“Tunggu diam di situ!” teriak Hanum  menghentikan pererakan tangan Kalun.


“Sepertinya anakmu cewek deh, liat itu! Sudah hampir terbentuk sempurna kelaminnya.”


“Benarkah? Syukurlah. Jika itu cewek. Lalu berapa lama lagi istriku boleh hamil setelah melahirkan?” Tanya Kalun yang membuat Aluna mencubit keras pinggangnya. Pertanyaan seantusias itu hanya dijawab tawa jenaka dari bibir Hanum.


“Setelah nifas kalian bisa melakukan produksi lagi!” ucap Hanum yang masih terus tertawa sambil memegangi perutnya.


“O ya? Kamu nggak bohongkan?” tanya Kalun memastikan sambil membuka sedikit tirai hordennya.


Hanum yang masih tertawa sambil memegang perutnya hanya bisa

__ADS_1


menggelengkan ke arah Kalun.”Ternyata kamu maniak juga ya?” cibirnya.


“Diamlah Han. Aku bertanya serius padamu!” maki Kalun yang tidak suka dengan ucapan Hanum.


“Bukan hanya kesiapan rahim yang perlu disiapkan, tapi kamu juga perlu menanyakan kesiapan Nona Luna juga, mau nggak dia kamu menghamilinya lagi!” pesan Hanum setelah beberapa detik hanya terdengar suara print foto usg.


“Iyakan Sayang. Setelah ini kita bikin baby cowok ya, kan biar sekalian repotnya.” Tawar Kalun sambil mengedipkan matanya, bibirnya tertarik ke atas memperlihatkan betapa bahagianya dia saat ini.


“Nggak mau, setidaknya tunggulah anak kita masuk sekolah.”


Terlihat jelas wajah kecewa Kalun setelah mendengar Aluna mengucapkan itu padanya, tapi semenit kemudian dia sudah bisa tertawa lebar lagi.


“Oke, usia 6 bulan kita masukkan gadis kecil kita sekolah.” Kalun merayu sambil menciumi pipi Aluna. Melupakan alat usg yang sejak tadi menunggunya untuk digerakkan.


Aluna pasrah dengan ucapan Kalun. Dia tidak bisa menolak meski dalam hatinya berkata tidak. Setelah beranjak dari brankar pemeriksaan, Kalun dan Aluna segera pergi menghadap ke arah Hanum, sambil menyodorkan selembar foto usg anaknya.


“Akan cantik seperti Mamanya.” Hanum berucap sambil menatap wajah Aluna, memperlihatkan senyumnya yang semakin lebar. Tapi lima detik kemudian tangan Kalun menutupi wajah Aluna, dia tidak rela jika Hanum menatap Aluna dengan tatapan mematikan itu.


“Jangan melebihi batas, aku takut istriku akan terpesona padamu!” kata Kalun menatap tajam ke arah Hanum.


“Astaga. Kal, aku sebentar lagi akan menikah. Jadi tidak perlu seperti ini. Aku tahu Nyonya Kalundra ini cantik, tapi dia pasienku. Dan aku sudah memiliki wanita.”


“Terserah, aku tidak peduli dengan hidupmu, aku hanya ingin menjaga pandangan istriku dari lelaki lain!” kata Kalun sambil menampilkan wajah judesnya.


Sedangkan Aluna yang wajahnya dibalik tangan kekar Kalun hanya menggeleng tidak percaya dengan kelakuan yang terlihat menyebalkan itu. Dia lalu beranjak dari duduknya, ingin segera meninggalkan ruangan Hanum, karena malu dengan sikap Kalun.


Setelah menebus vitamin untuk Aluna. Kalun langsung membawa Aluna masuk ke dalam mobil. Dia mengatakan pada Aluna jika hendak mengambil pakaiannya dulu di hotel tempatnya menginap, dan Aluna hanya menurut tidak curiga sama sekali dengan apa rencana Kalun yang membawanya ke hotel siang ini.


Sampai di pintu masuk hotel, Aluna belum ingin turun dari mobil, dia masih duduk manis di kursi samping kemudi.


“Aku tunggu di sini saja ya, malas naik ke atas, capek!” kata Aluna yang sudah menurunkan jendela kaca mobilnya.


“Enak saja! Ayo ikut!” ajak Kalun sambil membuka pintu mobil. “Atau mau aku gendong saja, kalau kamu malas buat jalan,” tawar Kalun sambil merentangkan tangannya bersiap untuk menggendong Aluna. Tapi Aluna segera menolak keinginan Kalun, dia segera berjalan mendahului Kalun yang masih berdiri di samping mobil.


“Pak bawakan koper baju saya di bagasi mobil!” perintah Kalun pada lelaki yang berdiri di samping pintu masuk.


“Loh, katanya mau ambil baju? Kenapa kopermu ada di mobil?” tanya Aluna saat berjalan ke arah lift. Dia menatap Kalun penuh curiga, tapi Kalun tidak membuka suaranya, dia masih setia dengan tatapannya ke arah pintu lift.


Saat ini keduanya sudah masuk ke dalam lift, menuju kamar yang sudah dipesankan untuk Kalun. Kalun hanya diam sambil membenarkan anak rambut Aluna, merapikannya di belakang telinga Aluna.


“Tidak perlu nanti malam untuk menuntaskannya, karena siang ini kita akan melakukannya di sini,” terang Kalun sambil menggendong tubuh Aluna keluar dari pintu lift. Jarak antara lift dan kamarnya tidak terlalu jauh, jadi Kalun segera membawa Aluna masuk kamar 1035 tersebut.

__ADS_1


💞


Adegan kamarnya besok.😂


__ADS_2