Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Kau Yang Sembunyi


__ADS_3

Aluna terus menatap ke arah pintu masuk gedung tersebut. Menunggu Kalun yang akan menghampirinya. Namun, yang ada sudah tiga puluh menit Aluna menunggunya, dia bahkan meninggalkan kerumunan rekannya, tapi Kalun tidak memperlihatkan batang hidungnya.


Aluna berusaha keras menelan salivanya yang sulit untuk masuk kembali ke dalam perut. Matanya sudah mulai berkaca-kaca, ketika mengingat kembali perkataan Kalun tadi sebelum berangkat ke acara peresmian.


Aluna berjalan menuju jamuan yang sudah di sediakan. Saat berada di sana, dia bertemu dengan Doni yang mengendap-ngendap menerima panggilan suara yang tidak tahu dari siapa.


“Kamu tahu dia di mana!” ketus Aluna ketika berada di belakang tubuh kecil Doni. Lelaki itu kaget ketika Aluna tiba-tiba di belakangnya. Doni membeku sejenak kesulitan untuk menggerakkan tubuhnya.


“Ha-hai no-Nona,” sapanya yang terlihat gusar.


“Bilang sama bosmu itu, aku akan menandatanganinya!” ancam Aluna, lalu berlalu meninggalkan lelaki yang kesulitan menutup mulutnya, saat mendengar luapan kemarahan Aluna.


Aluna kembali berkumpul dengan rekannya, melupakan suaminya yang semakin tidak jelas. Hatinya masih berharap jika Kalun akan datang ke acara peresmian tersebut, dan menepati janjinya yang sudah dia ucapkan sore tadi.


Sudah satu jam berlalu, acara demi acara sudah mereka lewati, sambutan yang harusnya di sampaikan oleh Kalun. Sudah diwakilkan oleh Doni. Karena hingga saat ini Kalun tidak kunjung datang.


Saat pembawa acara menyebutkan nama Aluna. Pemilik nama tersebut segera menaiki panggung, yang sudah di desain sedemikian rupa. Dia masih bisa menampilkan senyum ramahnya ke arah tamu yang hadir. Aluna berjalan menghampiri pianis yang ada di ujung panggung, dia memilih mengiringi lagunya sendiri, dengan kemampuan yang dia bisa. Tanpa perkenalan dahulu, Aluna langsung membuka suaranya.


“Lagu ini untuk suami saya, yang saat ini saya tidak tahu keberadaannya,” kata Aluna, diakhiri dengan senyuman tipis, supaya tamu tidak menganggap serius ucapannya.


Dentingan piano mulai Aluna suarakan. Membuat semua tamu yang hadir memperhatikan ke arah panggung.


Kau yang sembunyi


Di manakah kini engkau mendengarkannya?


Simak sebuah syair dan kalima tegar


Perasaanku padamu


Setelah kau ingkari


Tanpa ada bahasa yang bisa 'ku mengerti


Entah di mana dirimu di mana hatimu


Bicara yang jujur Jangan kau larikan diri


Entah di mana dirimu di mana hatimu


Kau biarkan 'ku menerka tak tentu


'Ku terus bertahan di balik anehmu


Menjelaskan hatimu


Bila kau telah bosan tinggal jelaskan


Janganlah hanya diam


Setelah kau ingkari


Tanpa ada bahasa yang bisa 'ku mengerti

__ADS_1


Entah di mana dirimu di mana hatimu?


Bicara yang jujur Jangan kau larikan diri!


Entah di mana dirimu di mana hatimu?


Kau biarkan 'ku menerka tak tentu


Bila memang kita harus pisah


Bicaralah saja jangan kau sembunyi!


Entah di mana dirimu di mana hatimu?


Bicara yang jujur Jangan kau larikan diri!


Entah di mana dirimu di mana hatimu?


Kau biarkan 'ku menerka tak tentu


Kau biarkan aku menerka tak tentu.


Bukan hanya penonton yang menikmati lagu yang dibawakan Aluna. Bahkan Doni yang berdiri di pojokan bisa merasakan kesedihan yang tengah Aluna alami. Tangannya yang dari tadi mengarahkan kamera ke arah Aluna kini sudah berada di depan perutnya, terlihat mengetikkan sesuatu di layar tersebut, memberi kabar pada bos tampannya.


Tepukkan meriah terdengar dari para tamu, bahkan ada yang mengusap sudut matanya, karena terlalu baper dengan lagu yang dibawakan Aluna.


Aluna segera turun dari panggung tersebut, dia tidak bisa melanjutkan nyanyiannya malam ini. Suasana hati sedang tidak baik. Kalaupun bisa pasti dia pasti akan menangis di atas panggung.


Aluna menghentikan langkahnya ketika mendengar seseorang memanggilnya. Dia berusaha mengusap air matanya yang sudah membasahi pipi, kemudian berbalik badan, melihat siapa yang memanggilnya. Dia tersenyum tipis saat melihat lelaki tersebut yang mendekat ke arahnya.


“Hai, Fer ...” jawabnya singkat.


“Suamimu mana?” tanya lelaki yang sudah berdiri di depan Aluna.


“Ada. Dia tidak datang!” jawabnya sambil menatap ke arah taman yang tidak jauh darinya.


“Sepertinya suamimu itu terlalu mengabaikanmu! Membiarkanmu menghadiri acara seperti ini sendirian. Dia tidak khawatir jika aku akan mengambilmu darinya?”


Aluna terkekeh sambil menggoyangkan tangannya ke depan wajah Ferdi. Menyadarkan imajinasi lelaki tersebut.


“Ngapain kamu di sini?” tanya Aluna yang heran dengan kedatangan Ferdi.


“Aku jadi konsultan hukum di Emero Group sekaligus aku ingin mencari bukti kematian Kakakku,” jelas Ferdi.


“Sepertinya yang menabrak Kak Fandi orang berduit, hingga dia mampu membayar mereka semua untuk tutup mulut!” lanjut Ferdi dengan bersungut-sungut ketika menjelaskan pada Aluna.


“Kamu masih mencari siapa pembunuhnya? Lalu setelah kamu menemukannya apa yang akan kamu lakukan?” Aluna menatap ke arah Fandi


“Itu tidak bisa mengembalikan Fandi, Fer. Dia tidak bisa kembali di sini!” lanjut Aluna.


“Setidaknya aku bisa mencari keadilan atas kematian Kak Fandi.” Ferdi menjawab dengan tegas.


“Mau dansa?” lanjutnya menawari Aluna sambil mengulurkan tangan di depan Aluna.

__ADS_1


“Maaf aku tidak mau, lagian aku tidak bisa berdansa denganmu, apa kata suamiku nanti jika dia melihatku disentuh olehmu,” kata Aluna sedikit menampilkan senyumnya.


“Aku pergi dulu, aku harus segera pulang,” lanjutnya berpamitan. Aluna segera meninggalkan Ferdi yang masih menatapnya lekat. Seolah tidak ingin berpisah dengan Aluna.


Dia ingin segera pulang, menenangkan dirinya yang terlihat gelisah. Dia segera memesan taksi online saat tiba di depan gedung. Rekannya masih bersenang-senang di dalam gedung dia tidak ingin menganggu mereka dengan ceritanya yang menyedihkan. Bahkan pertanyaan David yang menyinggungnya dia abaikan. Dia hanya mampu mengalihkan pembicaraan ketika mereka mempertanyakan keberadaan suaminya.


Aluna segera berlari kecil memasuki gedung apartemennya, dia ingin meluapkan tangisnya yang sejak tadi dia tahan.


Dia memasuki apartemen yang terlihat gelap tersebut. Menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di depan televisi. Menutupi wajahnya dengan bantal sofa ya ada di sana. Menangis tanpa suara, tetapi air matanya begitu deras mengalir, mengeluarkan semua rasa perih yang dia alaminya.


Kamu bisa menandatangani surat cerai yang ada di dalam laci.


Perkataan itu terdengar jelas oleh Aluna. Hatinya yang sakit terdorong untuk masuk ke dalam ruang kerja Kalun, untuk mengambil selembar kertas dari Departemen Agama yang sudah Kalun simpan sejak beberapa bulan yang lalu.


Setelah menemukannya, Aluna kembali berjalan menuju sofa di depan televisi membuka surat tersebut dengan tangan gemetar. Memikirkan lagi keputusan yang akan dia ambil. Dia langsung memberikan tanda tangan dan nama terang di atas kwrtas putih tersebut.


Aluna kembali merebahkan tubuhnya di sana, matanya terus menatap surat perceraian yang sudah dia tanda tangani. Tubuhnya kembali meringkuk, seperti janin yang bersemayam di rahim ibunya.


Aluna yang sudah lelah menangis, perlahan matanya mulai terpejam. Meninggalkan sejenak kehidupan nyatanya.


***


Pagi harinya, Erik dan Ella tiba di apartemen Kalun. Mereka mendapati Aluna yang tengah meringkuk di sofa yang semalam Aluna tempati. Tangan Ella terulur mengambil kertas putih yang ada di tangan Aluna. Dia membaca surat yang sudah bertanda tangan Aluna, sedikit terkejut saat melihat tanda tangan Aluna yang sudah tercetak jelas di sana.


Erik hanya tersenyum smirk ke arah istrinya.


“Simpan itu! Jangan sampai surat itu sampai ke pengadilan,” kata Erik sambil duduk di sofa yang bersebrangan dengan Aluna.


“Lun ... bangun yuk! Kamu harus bangun dan segera menyusul suamimu!” kata Ella sambil meletakkan telapak tangannya ke wajah Aluna. Ella lalu menatap ke arah Erik.


“Panas Yang!”


“Kamu temani dia saja! Biar aku yang datang ke acara takziah!” sahut Erik yang sudah kembali berdiri.


“Enak saja! Mana bisa seperti itu!”


“Luna sakit Sayang,” jelas Erik lembut.


“IKUT!” ketus Ella dengan suara keras, tidak menyadari keberadaan Aluna yang masih terlelap.


Membuat Aluna yang tadi masih tertidur nyenyak, mendadak terbangun dari tidurnya, karena mendengar suara keributan di dekatnya.


“Ma,” sapa Aluna sambil mengumpulkan kesadarannya.


Ella tersenyum tipis ke arah Aluna, “Bersihkan tubuhmu! Kita harus menghadiri acara pemakaman Kayra!” perintah Ella yang membuat Aluna terdiam mengingat nama Kayra yang dulu tidak asing di pendengarannya.


👣


Tinggalkan jejak kaki😍


Dah mulai terbukakan? Habis ini POV Kalun ya. Biar jelas apa yang terjadi dengan Kalun.👌


Yang mau masuk Group Kristiana ada password khusus sekarang. Tulis nama lengkap Kalun! Biar dibukain kunci sama Adminya. Ada yang tidak tahu nama lengkap Kalun? jawabannya ada di part 2. Pengenalan tokoh. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2