
Di dalam rumah Budi. Jantung Aluna berdebar semakin cepat setelah melihat sosok Kalun di depannya tadi. Dia masih bingung harus bersikap bagaimana untuk menghadapi lelaki yang kini masih di depan pintu rumahnya.
Di balik pintu Aluna terus mengusap perutnya membentuk lingkaran, entah kenapa anaknya itu bergerak lebih aktiv malam ini. Tendangannya semakin kuat, seolah paham jika ayahnya tengah berada di luar dan memintanya untuk membuka pintu. Tapi yang ia lakukan justru sebaliknya, dia kembali meletakkan sampah yang tadi hendak ia buang ke dapur. Dia kembali masuk ke dalam kamar, mengunci pintunya rapat-rapat, tidak peduli dengan Kalun yang tengah menunggunya di teras rumah. Dia masih bingung bagaimana seharusnya menghadapi Kalun. Aluna merebahkan tubuhnya diranjang sambil berusaha keras memikirkannya.
“Lun. Siapa yang datang? Kok tadi Papa dengar suara teriakan?” Budi mengetuk pintu Aluna menanyakan apa yang terjadi di luar sana.
Aluna terlihat cemas, ia kembali mendudukan tubuhnya, “Bukan siapa-siapa Pa, hanya Mas Khusnul yang biasa jualan wedang ronde.”
Budi yang tidak seratus persen percaya, masih penasaran dengan siapa tadi yang membuat keributan. Dia lalu berjalan dan mengintip di balik korden ruang tamu. Matanya memerah melihat sosok lelaki bertubuh besar di sana. Lelaki itu menghadap ke taman kecil membelakangi pintu rumah utama. Budi mengerutkan dahinya, dia curiga jika rumahnya menjadi target pencuri. Dengan cepat Budi berjalan ke arah dapur, mengambil parang yang sudah setiap hari diasah, tapi tidak pernah ia gunakan. Hanya ia gunakan ketika membantu untuk memotong tulang sapi ketika lebaran Idul Adha tiba.
Wajahnya terlihat menakutkan ketika Budi berjalan kembali ke arah pintu depan rumahnya. Dia membuka pelan pintu rumahnya, supaya lelaki yang dia sangka pencuri itu tidak lari darinya.
Ketika dia mengayunkan parang yang ada di tangan kananya. Kalun berbalik menghadap ke arah Budi. Kedua orang itu sama-sama terkejut, tapi parang itu tidak bisa dihentikan, pucuknya yang runcing tepat mengenai lengan Kalun yang hanya tertupi kemeja katun warna merah. Tak butuh waktu lama darah segar mengalir di sana, hingga tetesan darah tersebut turun mengotori lantai.
Budi langsung menjatuhkan parangnya di atas lantai, terlihat wajahnya memucat ketika melihat darah yang semakin deras keluar dari lengan Kalun. Dia tidak menyangka jika menantunya itu datang selarut ini. Kalun terlihat menahan rasa perihnya dengan tangan.
“Lun! Lunaa!” teriak Budi memanggil Luna yang masih terjaga.
“Ambilkan minyak tawon Lun!” lanjutnya berteriak, ketika Aluna tidak kunjung menghampirinya.
Semua orang yang berada di dalam rumah merasa terganggu dengan teriakan Budi, mama tiri Aluna keluar dengan rambut yang sudah digelung rapi. Sedangkan Aluna berjalan cepat menghampiri Budi yang berada di depan Kalun. Dia syok ketika melihat darah yang terus menetes mengotori lantai teras rumahnya.
“Aa’ kenapa?” tanya Aluna yang bergantian mendekat ke arah Kalun yang masih sibuk menghentikan darahnya dengan tangan. Kalun justru tidak berkedip menatap ke arah wajah Aluna, wanita yang ia rindukan selama ini ada di depannya. Ingin sekali dia memeluknya, tapi tangannya kini berlumuran darah, ia takut akan mengotori baju Aluna.
“Kita ke rumah sakit!” kata Aluna sambil menarik tangan kanan Kalun yang tidak terluka.
“Nggak perlu, hanya luka kecil!” tolak Kalun menahan tangan Aluna.
“Luka kecil bagaimana? Ini harus dijahit!”
__ADS_1
“Yang aku butuhkan hanya penjelasanmu!” Aluna menghentikan langkah kakinya ketika mendengar ucapan Kalun, dia melepaskan tangannya yang berada di pergelangan tangan Kalun.
“Hei Lun.” Panggil Kalun ketika Aluna menjauh darinya.
“Pulanglah!” usirnya sambil berlenggang masuk ke dalam rumah.
Budi yang mendengar perkataan Aluna hanya bisa mengerutkan dahinya, dia tidak percaya jika anaknya bisa sedingin itu pada ayah dari anak yang dia kandung. Budi lalu menghampiri Kalun, meminta Kalun untuk masuk ke dalam rumahnya, dia akan mengobati luka yang ia sebabkan. Dia tidak ingin dicap pembunuh karena Kalun bisa saja kehabisan darah karena perbuatannya.
Kalun mengikuti perintah Budi, setidaknya malam ini dia bisa tinggal di sini. Budi mengambilkan kotak P3K, bersiap mengobati tangan Kalun, ia sendiri yang membersihkan luka Kalun, mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.
“Kenapa kamu bertamu tidak mau mengetuk pintu baik-baik! Untung aku tadi tidak menebas kepalamu! Aku kira kamu pencuri!” maki Budi sambil membersihkan darah yang ada di lengan Kalun.
Kalun hanya tersenyum tipis, tidak terlalu mendengarkan makian mertuanya. Dia terus kepikiran dengan istrinya yang tidak ingin bertemu dengannya.
“Aku sebenarnya benci denganmu, kenapa kamu baru datang sekarang! Kamu membiarkan anakku melewatinya sendiri, mual sendiri, ngidam sendiri. Dan kamu tahu aku hampir setiap malam berkeliling kota untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, kamu membuangnya ketika dia hamil! Nggak kebayangkan bodohnya dirimu! Sebagai lelaki yang sudah membesarkannya hatiku merasa sakit. Apa serendah itu putriku? Hingga ia dibuang ketika tengah hamil!”
“Pa. Jangan salah paham dulu!”
“Sudahlah. Nggak perlu kamu menjelaskan padaku!” kata Budi sambil membalut perban di tangan Kalun.
“Sepertinya aku mengizinkan kamu untuk mendekatinya pun, dia tidak akan mau denganmu!” lanjutnya sambil tersenyum jahat ke arah Kalun.
“Tidurlah di sini! Aku yakin dia tidak akan membuka pintu kamarnya!” terang Budi sambil berjalan meniggalkan Kalun. Dia lalu masuk ke dalam kamarnya mengambilkan bantal dan selimut untuk Kalun, memintanya untuk tidur di sofa ruang tamu.
Sedangkan di dalam kamar, Aluna masih terjaga. Membolak-balikkan tubuhnya mencari posisi ternyaman untuk dia tertidur, usia kandungan yang sudah 7 bulan membuatnya semakin kesusahan untuk bernafas. Bukan hanya itu, dia juga kepikiran dengan luka yang ada di lengan Kalun. Gerakkan bayinya yang semakin aktiv, membuatnya harus berjalan mondar-mandir ke kamar mandi. Dia ingat apa pesan dokter yang melarangnya untuk menahan kencing karena akan rawan untuk terserang ISK.
Saat berjalan ke kamar mandi, dia terus melirik ke arah Kalun yang tidur di sofa ruang tamu, lelaki itu terlihat nyenyak di bawah selimut batik yang menutupi tubuhnya, dia menghiraukannya dan masuk ke kamar mandi yang berada di luar kamarnya. Selesai dari kamar mandi, matanya kembali melirik ke arah kursi lagi, tapi Kalun tidak berada di sana. Aluna memutuskan berjalan ke arah ruang tamu, menekan saklar lampu dan mencari keberadaan Kalun.
Setelah tidak mendapati Kalun di ruang tamu. Dia hanya menggelengkan kepala dan tersenyum miris ke arah bantal Kalun. Dia memutuskan untuk duduk di sana sebentar, menghirup aroma Kalun yang masih tertinggal. Matanya terpejam, merasakan aroma suaminya, bibir Aluna tertarik ke atas ketika bayi di dalam perutnya ikut merespon dengan tendangan keras di perutnya.
__ADS_1
Merasa salah dengan tindakannya, dia segera mengakhirinya, membuka mata dan beranjak dari sofa bekas Kalun. Rasanya dia sudah mengantuk dan tidak akan memikirkan suaminya lagi.
Aluna berjalan menuju kamar, membuka pelan pintu kamarnya. Dia berjalan ke arah ranjang dengan mata terpejam karena rasa kantuk yang tidak bisa di tahan, Aluna merebahkan tubuhnya di ranjang Queen size tersebut.
“Apa kamu tidak merindukanku?”
Mata Aluna tiba-tiba kembali bersinar ketika mendengar suara Kalun, kantuknya langsung menguap saat menerima pelukan hangat dari belakang tubuhnya.
“Kenapa kamu di sini!” ucap Aluna dengan sedikit keras.
“Di luar dingin, sedangkan selimut yang diberikan Papa mertua sangat tipis, jadi lebih baik aku di sini saja denganmu.”
“Tapi aku nggak mau kamu di sini!” sahut Aluna.
“Benarkah?” kata Kalun sambil meraba lembut perut Aluna, “Bagaimana jika calon anak kita yang menginginkan aku tetap di sini!”
“Itu nggak mungkin, bagaimana kamu bisa berkata seperti itu, setelah kamu tega menandatangani surat cerai!”
“Apa kamu tidak ingin mendengarkan penjelasanku!”
“Nggak. Aku sudah aku putuskan setelah anak ini lahir, aku akan menyerahkan gugatan itu ke Departemen Agama.”
“Lalu bagaimana denganku? Bagaimana aku bisa menjalani kehidupanku selanjutnya?” Kalun menjauhkan tangannya dari perut Aluna. Dia berganti meletakkan tangannya di bawah kepalanya sebagai pengganti bantal.
“Selama ini kamu baik-baik saja hidup tanpa kami! Maka akan seperti itu juga nanti!” jawab Aluna yang merubah posisinya menjadi terlentang. Dia menarik selimutnya untuk menutupi petisnya hang terekspos.
Kalun memejamkan matanya, hendak menjelaskan semuanya pada Aluna tentang hukumannya yang ia terima ketika berada di penjara.
“Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu? aku bahkan langsung terbang ke Solo setelah hari kebebasanku tadi pagi!” kata Kalun sambil membawa wajah Aluna menghadap ke arahnya.
__ADS_1
💞
Jangan lupa like dan vote🙏