Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Malaikat Penolong


__ADS_3

Yang belum follow akun NT-ku follow dong!😂 biar aku juga semangat kalau temanku tambah banyak.😂😂😂. Follow juga Ig nya Rehuella1. Terima kasih banyak😘😘😘😘


Satu minggu kemudian.


Sudah semalam Kalun dan Aluna berada di rumah Erik, pagi ini rumah Erik terlihat ramai, banyak tamu yang sudah berdatangan untuk menghadiri acara ijab qobul Riella dan Kenzo. Sampai saat ini Kalun belum bisa menceritakan penyebab kejadian dia berkelahi dengan Ferdi satu minggu yang lalu, karena saat tiba di apartemen Aluna sudah terlelap di dalam mobil sore itu, dan Aluna juga tidak menanyakan lagi setelah dia bangun. Jadi Kalun yang sebenarnya belum siap tidak jadi menceritakan rahasianya.


Saat ini Kalun tengah mengawasi wajah Aluna yang sedang dirias oleh make up artis di kamarnya. Baju kebaya warna peach yang senada dengan adik-adiknya sudah disiapkan oleh mamanya dan Aluna wajib mengenakan itu karena Ella sudah mempersiapkannya dari jauh-jauh hari.


Setelah selesai dirias, Aluna bergantian membantu Kalun untuk mengenakan jasnya. Mata Kalun tidak berkedip, ketika melihat wajah Aluna dari dekat, saat Aluna mengikatkan dasi di lehernya. Mengamati lebih teliti lagi bahkan dia baru menyadari jika ada tahi lalat kecil di ekor mata Aluna.


“Kamu bertambah cantik hari ini,” puji Kalun dengan senyum smirknya.


“Mau minta apa setelah ini?” goda Aluna yang mendengar pujian dari Kalun. Dia tahu ada udang di balik bakwan, dari pujian Kalun.


“Tahu aja kamu Sayang, nanti malam ya?” kata Kalun sambil mengedipkan satu matanya ke arah Aluna. Saat hendak mencium pipi Aluna, pintu kamar terbuka kasar oleh Maura.


“Kak,” panggil Maura dengan nafas yang masih terengah-engah. Merasa bersalah setelah melihat kedua tubuh pasangan di depannya itu saling menempel.


“Ada apa? Apa tidak bisa kamu mengetuk pintu lebih dulu saat memasuki kamarku!” maki Kalun saat melihat Maura sudah berdiri di sampingnya.


“Gawat Kak. Kak Riella nggak mau ganti baju, dia nggak mau menikah dengan Kak Kenzo.” Maura menceritakan semua masalahnya pada Kalun tentang kondisi Riella saat ini. Mengabaikan makian Kalun padanya.


“Pergilah dulu! Temani Riella, Kakak nanti yang akan berbicara padanya,” perintah Kalun pada Maura yang masih berdiri di dekat pintu. Tanpa ragu lagi Maura langsung meninggalkan kamar Kalun, dia kembali ke kamar Riella.


Setelah kepergian Maura, Kalun lebih dulu berpamitan pada Aluna, dia berpesan pada Aluna jangan keluar kamar tanpa didampingi olehnya. Dan Aluna berjanji, dia akan diam di kamar menunggu Kalun sampai dia menyelesaikan urusannya dengan Riella.


Kalun segera meninggalkan Aluna di kamar sendiri, dia berjalan menuju kamar Riella yang sudah didesain kamar pengantin. Saat memasuki kamar Riella, dia melihat adik perempuannya tengah menangis di ranjang, dengan dandanan yang sudah terlihat cantik, tapi bajunya belum diganti dengan baju kebaya pernikahan.


“Kamu keluar dulu Ra, biarkan Kakak yang bicara pada Kakakmu!”

__ADS_1


Maura paham, hanya kakak lelakinya ini yang bisa menenangkan kakak perempuannya. Dia menurut dan meninggalkan kamar Riella saat itu juga. Kalun mulai mendekati Riella. Dia mendaratkan tubuhnya di tepi ranjang, sambil menekuk kedua tangannya di depan dada.


“Papa dan Mama sudah menunggu kedatanganmu di bawah,” kata Kalun membuka pembicaraanya setelah sekian lama hanya terdengar suara isakkan dari Riella. Tapi wanita itu tidak ingin menatap ke arah Kalun, dia masih diam tak bergeming, sambil terus mengusap air mata, yang sejak tadi belum mau berhenti mengalir.


“Aku takut Kak, pernikahan bukan permainan, tidak mudah menyatukan hatiku yang sudah hancur.”


Kalun yang mendengar ucapan Riella hanya mampu menoleh ke arah Riella, dia paham akan rasa sakit hati Riella selama ini. Dia juga pernah dikhianati, tapi bedanya, saat dia tahu, Kayra sudah tidak menempati hatinya lagi.


“Ya, Kakak tahu. Tapi semua sudah di depan mata, sebagian tamu juga sudah menunggu kedatangan mempelai wanita,” terang Kalun yang berdiri dari duduknya, dia berjalan menghampiri jendela.


“Apa yang kamu takutkan?” lanjut Kalun yang sudah berdiri di depan jendela kamar Riella, dia memperhatikan beberapa tamu yang sudah hadir di sana, di sambut ramah oleh kedua orang tuanya.


“Banyak Kak, Kakak nggak pernah tahu apa yang ada di pikiranku selama ini, Kak Emil lah yang selalu kusebut namanya dalam doaku.” Riella mengusap air matanya yang kembali mengalir, mengingat dirinya yang begitu mencintai Emil sampai saat ini.


“Tapi jodoh sudah di atur oleh-Nya, kita hanya bisa menerima takdir kita, kamu tahu siapa yang Kakak cintai dulu kan? Tapi kamu lihat sendiri bagaimana Kakak mencintai istri Kakak saat ini, kamu juga harus yakin jika kamu bisa mencintai Kenzo sebagaimana kamu mencintai Emil, Kenzo lelaki baik, dia mau menerima kamu apa adanya, jadilah istri yang baik untuknya! Segera ganti bajumu! Kakak yakin sebentar lagi calon suamimu akan datang, tunjukkan pada Emil jika kamu sudah baik-baik saja saat ini.” Nasihat Kalun pada adiknya, Riella tidak mampu menjawab ucapan Kalun, dia masih menangis sesenggukan di atas kasurnya, riasannya kembali beratakan karena air matanya yang terus menetes.


“Sudahlah, hapus air matamu, jangan mengingatkan aku pada kakak iparmu dulu, pasti dia juga seperti ini ketika Kakak akan menikahinya, Kakak jadi merasa semakin bersalah padanya,” kata Kalun sambil mendekat ke arah Riella lagi. Dia lalu memeluk adiknya, “Maafkan aku, mungkin ini karena kesalahan yang Kakak lakukan, membuat kamu harus menerima karmanya, lain kali Kakak akan lebih berhati-hati lagi.” Kalun melepaskan pelukannya, membantu Riella mengusap air mata yang masih mengalir deras di pipi.


“Sudah ih, jas Kakak basah kena air matamu, lupakan dia La, harusnya kamu bersyukur dia selingkuh sebelum kalian menikah,” kata Kalun menenangkan adiknya.


“Tapi ….”


“Tapi apalagi, sudah ya?! Kakak nggak mau tahu! Segera turun ke bawah jangan membuat mama berpikir jika kamu menderita karena perjodohan ini.”


“Tapi aku menderita Kak, aku tidak mencintai Kenzo!”


“Kenzo mencintaimu! Lebih baik kita dicintai lebih dulu dari pada mencintai tapi tidak mendapatkan balasan, itu akan lebih sakit lagi. Setidaknya kamu masih punya waktu untuk belajar mencintai Kenzo.” Kalun lalu melepaskan pelukkannya, dia berdiri dari duduk dan segera meninggalkan kamar Riella. Karena tiba-tiba dia merindukan Aluna yang baru ditinggal beberapa menit, dia berjalan menghampiri Aluna yang masih berada di dalam kamarn. Saat Kalun mendorong pintu kamar, dia melihat Aluna berada di balik pintu hendak keluar kamarnya.


“Mau ke mana kamu, hum?” tanya Kalun saat melihat wajah Aluna yang terlihat terkejut ketika melihat kedatangannya. Aluna yang masih terkejut, tidak mampu menjawab pertanyaan Kalun. dia lalu tersenyum manis tanpa memperlihatkan giginya, untuk menutupi rasa cemasnya, “Aku ingin menyusulmu ke kamar Riella,” jawab Aluna berbohong, sebenarnya dia hendak keluar kamar karena ingin menemui Ferdi, karena dia melihat Ferdi baru saja tiba di rumah mertuanya, dia ingin menanyakan apa yang membuat mereka berdua bertengkar di TPU siang itu.

__ADS_1


“Aku turun ke bawah sekarang ya?” minta Aluna ketika melihat Kalun justru masuk ke dalam kamar.


“Nanti dulu, di luar masih sepi,” tolak Kalun, dia justru menarik tangan Aluna dan mendudukannya di tepi ranjang, Kalun yang sudah berpakaian rapi kini berjongkok di depan Aluna yang mengenakan kain batik sebagai rok bawahnya, dia menggenggam tangan Aluna dengan erat seolah tidak rela jika Aluna akan melepaskannya.


“Yang, pasti kamu dulu juga menangis seperti Riella karena pernikahan yang tidak kamu inginkan, iya kan?” tanya Kalun yang membuat Aluna menatap ke arahnya, dia lalu mengangkat wajah Kalun yang menunduk, tidak berani menatap wajahnya.


“Aku tidak menganggap itu paksaan, aku dulu justru bersyukur, ada lelaki yang mau menjadi malaikat penolongku, ketika aku membutuhkan pertolongan, aku tidak bisa membayangkan jika kamu tidak menikahiku saat itu, apa jadinya dengan papa dan mamaku sekarang, pasti mereka akan dirundung malu karena batalnya pernikahanku, yang aku  tangisi hanya kepergian Fandi yang begitu mendadak saat itu, tanpa kata pamit sedikitpun padaku,” jelas Aluna panjang lebar, dia lalu mengecup singkat bibir lelaki di depannya, saat melihat wajah Kalun yang cemberut ketika mendengar nama Fandi di sebut.


“Jangan menggodaku, atau kamu akan mandi lagi pagi ini,” peringat Kalun setelah Aluna mengecup bibirnya.


Aluna tergelak ketika mendengar perkataan Kalun, dia lalu menjauhkan tubuhnya dari Kalun supaya Kalun tidak tergoda karena suaminya itu tidak akan mengampuninya jika dia terus menggodanya pagi ini.


Kalun lalu duduk bersejajar di tepi ranjang dengan Aluna, memeluk tubuh Aluna dengan erat, dia ingin bermanja-manja lebih dulu dengan Aluna pagi ini, Kalun mulai menyandarkan kepalanya di pundak Aluna, tanpa menatap ke arah jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


“Aku mencintaimu Sayang, jangan pernah meninggalkan aku, apapun yang terjadi ke depannya,” kata Kalun yang sudah menempelkan bibirnya di cengkeruk leher Aluna.


“A’ jangan ih, geli tahu nggak!” peringat Aluna ketika melihat Kalun mulai beralih mengecupi lehernya. Tapi yang ada Kalun tidak mampu menolak pesona Aluna yang begitu menarik perhatiannya pagi ini, dia terus memainkan bibir merah Aluna dengan bibirnya, menikmati sepuasnya dulu sebelum nanti acara akan di mulai.


Ella yang baru masuk kamar Kalun, langsung berteriak ketika mendapati keduanya tengah berciuman, tapi dia tidak bisa meninggalkan kamar Kalun, karena ada hal penting yang harus dia sampaikan.


“Mama, nggak bisa ya kalau masuk itu ketuk pintu dulu!” gerutu Kalun yang merasa terganggu dengan kedatangan Ella.


“Maaf Kal, itu ada teman kamu yang datang, dia ingin berbicara penting denganmu,” kata Ella sambil tersenyum ke arah Aluna yang terlihat malu karena kepergok tengah berciuman dengan Kalun.


Kalun lalu meminta Ella untuk pergi lebih dulu, dia ingin membenarkan dulu dandanannya, sebelum keluar kamar dengan Aluna.


💞


Jangan lupa untuk like dan vote ya🤗🙏

__ADS_1


.


.


__ADS_2