Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
POV Aluna


__ADS_3

Saat ini aku masih mendengarkan obrolan para nenek-nenek muda di sampingku, aku mengedarkan pandanganku, mencari keberadaan Kalun yang tidak kunjung menghampiriku siang ini, jujur aku merasa bosan, mereka tidak mengajakku berbicara, aku juga tidak nyaman karena mereka membicarakan kelucuan cucu-cucunya, mereka tidak paham kondisiku yang juga bersedih ketika mengetahui calon anakku sudah pergi.


“Ma, Aluna nyari Aa’ dulu ya,” pamitku pada mertuaku yang terlihat sangat cantik siang ini. Dia menjawab dengan senyuman ramah dan anggukan kepalanya, yang berarti dia menyetujui permintaanku.


Aku menelusuri setiap sudut taman yang terbilang cukup luas, saat aku melihat keberadan Samuel ku hentikan langkahku, aku menanyakan keberadaan Kalun pada Samuel dan rekannya. Mereka justru


menggodaku memintaku untuk sabar, karena Kalun pasti akan kembali.


Dasar Samuel membuat malu saja. Batinku ketika melihat tawa rekan-rekannya.


Setelah itu aku berjalan meninggalkan mereka ketika gelak tawa masih terdengar. Aku ingin mencari Kalun setidaknya akan ada orang yang bisa aku ajak bicara, langkah kakiku tiba di tempat jamuan makan. Saat aku hendak mengambil minuman, aku mendengar suara bibi pelayan rumah yang mengatakan jika Kalun tengah beradu dengan rekannya, karena rasa penasaranku yang tiba- tiba mencuat, aku mendekat dan menanyai bibi pelayan yang juga mengenalku itu, tangan bibi pelayan itu menunjuk ke arah di mana Kalun berada saat ini.


Dengan rasa penasaran yang tinggi aku berjalan menghampiri Kalun, aku ingin tahu dengan siapa dia bertengkar. Aku terkejut ketika mendapati Ferdi yang berada di depan Kalun, aku lupa, jika tadi aku berniat ingin menyapanya, menanyakan kejadian satu minggu yang lalu, aku berjalan mendekati keberadaan mereka. Aku ingin mendengar apa yang mereka bicarakan saat ini karena keduanya terlihat serius.


“AKU TIDAK MEMBUNUHNYA!” ku dengar dengan jelas perkataan Kalun, membuatku mengurungkan niatku untuk mendekatinya, aku penasaran dengan apa yang dia katakan selanjutnya. Telingaku bisa mendengar dengan jelas ucapan suamiku yang mengatakan jika dia menikahi denganku karena rasa bersalah atas kematian Fandi. Air mataku seketika mengalir deras saat mendengar Kalun mengucapkan hal itu, aku seperti menemukan alasan kenapa kita dipertemukan. Semua karena Kalun yang sudah menabrak Fandi karena dia penyebab pernikahanku batal.


Aku berlari ke arah luar setelah Kalun mengungkapakan semuanya, aku ingin meluapkan semua kesalku, aku ingin minta maaf dengan Fandi atas apa yang aku lakukan. Aku menghentikan lelaki yang mengenakan jaket hijau yang kebetulan melintas di depan rumah mertuaku. Aku mengusap air mataku, tidak ingin membuat sopir ojek itu berpikir jika aku tengah kabur di hari pernikahannku.


“Mau ke mana Mbak?” tanyanya ketika sudah menjauh dari rumah mewah mertuaku.


“TPU Jl. Pattimura Pak,” jawabku singkat dengan air mata yang belum berhenti. Tukang ojek mengangguk, dan melajukan motornya ke arah makam.

__ADS_1


Setelah tiba di makam aku masih kebingungan, akan membayar dengan cara apa, dompet, ponsel, semuanya aku tinggal di kamar mertuaku.


“Pak ambil ini, jika kita bertemu aku akan mengambilnya lagi,” kataku sambil mencoba melepaskan cincin pernikahan yang Kalun kenakan dulu. Tukang ojek itu tersenyum kecut ke arahku. Sambil tangannyla menolak pemberianku.


“Nggak usah Mbak, kalau bisa Mbak jangan sampai melepasnya, banyak cobaan dalam pernikahan, tapi setan akan semakin bergembira jika Mbak berhasil berpisah dengan suami Mbak, saya ikhlas nggak dibayar. Semoga masalah Mbak akan secepatnya selesai,” nasihat lelaki tua di depanku yang mengingatkan aku pada papa, nada lembutnya mampu menyentuh relung hatiku yang paling dalam. Ku tatap sejenak lelaki tersebut, sambil menganggukan kepalaku, “Terima kasih Pak,” ujarku ramah, sambil mengusap air mataku yang tiba-tiba mengalir, merindukan sosok papaku.


Setelah kepergian tukang ojek itu aku berjalan menghampiri makam Fandi, terlihat sepi di sana. Matahari yang tepat bearada di atas kepalak tidak membuatku mengurungkan niat untuk mengunjunginya siang ini. Aku berdiam diri di sana hanya menatap ukiran nama yang terlihat jelas nama Fandi. Air mataku semakin deras mengalir, belum mampu mengucapkan sepatah kata apapun ketika berada di sana. aku berjongkok di sana, mengingat tentang kebaikkan Fandi, lelaki terbaik yang pernah aku temui sampai hari ini.


“Maafkan aku Fan, harusnya aku tidak menikah dengannya. Harusnya kamu memberitahuku lewat mimpi jika aku tidak boleh menikahinya!” ujarku sambil mengusap air mataku yang semakin membuat pipiku basah. Aku mengusapnya dangan lengan kebaya yang masih menempel di tubuhku, aku duduk di sana menekuk lututku sambil menatap terus ke arah ukiran nama Fandi.


“Maaf Fan, maafkan aku, aku tidak tahu, jika dia yang menyebabkanmu pergi. Jika Kalun yang memisahkan kita!” kataku lagi sambil menyembunyikan wajahku di antara sela kakiku, aku meredam tangisku di sana. Tidak ingin orang lain mendengar jelas suara tangisku.


Bayangan perkataan Fandi membuat perasaanku semakin sakit, aku merindukannya, aku ingin dia berada di sini saat ini, aku ingin meminta


Kepalaku semakin terasa sakit memikirkannya, dadaku terasa sesak saat mengingat betapa buruknya diriku. Aku merasa sudah mengkhianati cintanya, aku mencintai lelaki yang menyebabkannya meninggal. Ku pemejamkan mata sejenak, berusaha untuk menghentikan air mata yang terus mengalir.


Tiupan angin membuatku semakin larut dalam tangisanku, rasa panas yang menerpa diriku sudah tidak mempan lagi mengusirku dari sini, aku tetap berada di sini seolah menunggu jawaban Fandi jika dia sudah memaafkan perbuatanku. Hingga sore tiba, aku baru beranjak dari posisi dudukku. Aku hendak meninggalkan makan Fandi sore itu, aku merasa lelah menunggu di sana.


“Jawab aku Fan! Please maafkan aku!” kataku yang kembali memeluk gundukan tanah yang berlapis rumput itu, aku tidak peduli semua orang mengaggapku gila, aku tahu mereka semua menatapku heran. Tapi aku tidak bisa menahan perasaan bersalahku. Aku mendongakkan kepalaku, mengusir air mataku yang semakin deras mengalir. Aku tidak kuat lagi, aku berlari meninggalkan makam Fandi, tanpa kata pamit padanya.


Aku keluar dari tempat pemakaman umum aku mendatangi ojek yang berdiri di seberang jalan. Aku memintanya untuk mengantarku ke rumah Renata. Aku tidak membawa benda berharga apapun sekarang selain cincin pernikahanku dengan Kalun. sampai di rumah Renata aku membuka kasar pintu rumahnya. Aku terkejut ketika mendapati atasanku yang berada di sofa. Mereka berdua sama terkejutnya ketika mendapati diriku yang terlihat kacau.

__ADS_1


“Beri aku uang 20 ribu,” kataku menengadahkan tanganku di depan Renata. Dia lalu memberiku selembar uang bewarna hijau padaku, segera kuserahkan uang itu pada tukang ojek yang masih berdiri di samping rumah renata.


Karena melihat kedatanganku yang tampak kacau, Renata langsung mengusir David untuk pergi dari rumahnya. Aku menjatuhkan tubuhku di sofa milik Renata. Aku menatap langit rumah yang tidak begitu mewah tersebut, ku lihat renata mulai sibuk di dapur membuatkan minuman penenang untukku.


“Apa yang terjadi? Berbagilah denganku?” katanya yang melihat wajahku yang tampak buruk.aku diam memejamkan mataku, bingung akan menceritakan pada renata atau tidak. Tapi Renata trus mendesakku untuk menceritakan semuanya. Aku mengalah, aku tidak sanggup memikirkan ini sendirian.


“Siapa yang kamu cintai saat ini?” tanyanya yang membuatku terdiam.


“Apa kamu mencintai orang yang sudah meninggal? Atau kamu mencintai suamimu? Pikirkanlah, ada hati yang akan terluka jika kamu seperti ini.” Terdengar begitu lancar Renata mengucapkan hal itu, dia tidak mengerti apa yang aku rasakan saat ini. Aku merasa bersalah karena menikahinya.


“Aku bukannya membela suamimu, tapi dulu dia juga berkorban untuk menikahimu, disaat dia mempunyai orang yang dia cintai,” jelasnya lagi.


“Aku tidak mengusirmu! Tapi selesaikan masalahmu sampai tuntas, sampai kamu mendengar dulu penjelasan suamimu, aku tahu suamimu sangat mencintaimu sekarang meski semua berawal dari kesalahan, tapi semua sudah bisa


dilihat jelas cara dia menatapmu, pulanglah, selesaikan semuanya dengan baik!”


Aku kembali mengusap air mataku, lalu memeluk tubuh Renata yang kini berada di sampingku.


“Aku merindukan Papa, aku merindukannya Ren,” kataku sambil memeluk erat tubuh Renata.


“Kamu bisa pulang setelah masalahmu selesai,” ucap Renata sambil membantu mengusap air mataku, dia lalu beranjak dari tempat duduknya mengambil kunci mobil untuk mengantarku pulang ke apartemen, Aku sedikit lebih tenang ketika mendengar nasihat dari Renata. Aku berniat pulang ke rumah malam ini, meminta Kalun untuk menjelaskan semuanya dengan jelas.

__ADS_1


💞


Jangan lupa untuk like dan vote🙏


__ADS_2