
Seminggu sudah mereka lewati, mereka bertemu dengan weekend lagi, tapi ada yang berbeda dengan hari ini. Sudah pukul 9 malam Kalun belum tiba di apartemen. Aluna mulai gelisah, sudah beberapa kali dia menghubungi suaminya, tapi hanya jawaban operator wanitalah yang bisa dia dengar.
Saat hendak pulang tadi, Kalun sudah berpesan dengannya, jika malam ini akan pulang terlambat karena ada rapat dadakan. Tapi yang Aluna sesalkan ponsel Kalun tidak bisa dihubungi. Aluna lalu melempar kasar ponselnya di atas sofa. Seperti beberapa minggu yang lalu ketika Kalun menemani Kayra di rumah sakit, hal seperti ini kembali terulang. Aluna memejamkan matanya, menenangkan pikirannya yang semakin kacau karena sikap Kalun yang tidak pernah berubah. Kali ini dia berjanji pada dirinya sendiri, dia akan meninggalkan Kalun pulang ke Solo, jika Kalun tidak pulang ke rumah malam ini.
Dentingan jam pukul sebelas malam yang berbunyi 23 kali terdengar, Aluna melirik sejenak ke arah jam tersebut. Dia yang lelah, tidak ingin lebih lama menunggu Kalun. Dia lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi sofa, menarik selimut yang tadi ia bawa dari dalam kamar. Dia menunggu Kalun di depan televisi yang masih menyala. Perlahan Aluna mulai meninggalkan kesadarannya, dia sudah tidak bisa lagi mendengar dentingan jam ketika berbunyi menandakan pukul 12 malam. Tepat ketika Kalun membuka pintu apartemen.
Kalun berjalan ke arah dapur tanpa suara, dia meletakkan semua barang yang akan diberikan untuk Aluna, dia lalu menghampiri Aluna yang terlelap di sofa, bibirnya terangkat melihat wajah polos Aluna yang terlelap. Tangan kanannya terulur untuk mengusap lembut pipi istrinya, dia berniat membangunkan Aluna malam ini. Tapi yang ada Aluna tidak bergerak sama sekali, dia masih terlelap di sana. Kalun menyerah dia kembali ke arah dapur untuk menyalakan lilin yang bertuliskan angka 1 di sana. Setelah siap dia kembali ke arah sofa di mana Aluna berada. Dia menggendong tubuh Aluna, lalu meletakkannya di meja makan, dengan posisi terduduk.
“Sayang, buka dulu matamu!” perintah Kalun sambil berbisik di samping telinga Aluna.
“Sayang,” ulangnya setelah Aluna tidak merespon panggilanya, kini tangannya menepuk pelan pipi Aluna.
“Aluna.” Kalun sedikit berteriak memanggil nama Aluna, karena tidak segera mendapatkan jawaban dari Aluna, dia baru ingat, jika Aluna akan sulit dibangunkan ketika sudah terlelap.
Aluna menggeliat, hampir saja terjatuh dari kursi jika Kalun tidak menahan tubuhnya. Dia lalu mengerjapkan matanya, reflex mendorong tubuh Kalun, ke belakang karena mengingat Kalun yang membuat pikirannya kacau malam ini.
“Kemana saja kamu? Kenapa ponselmu juga mati?” Aluna langsung menyerbu Kalun dengan pertanyaan yang tadi bersarang di kepalanya.
Kalun lalu menoleh ke atas meja, membuat Aluna mengikuti tatapan Kalun. Kesadarannya yang belum sepenuhnya pulih, berusaha menatap apa yang ada di depannya.
“Happy Anniversary,” kata Kalun sambil tersenyum, dia yang tadi berjongkok di samping Aluna kini mulai berdiri dan duduk di depan Aluna.
“Kamu tahu? Aku pergi mengelilingi kota untuk mencari toko kue yang masih buka, pasti kamu tidak ingat kan, kalau hari ini adalah hari 1 tahun kita menikah?” Kalun menjelaskan sambil menatap mata Aluna yang sudah berkaca-kaca. Lampu di meja makan itu sengaja Kalun matikan, membuat suasana lebih romantis karena hanya cahaya temaram dari lilin yang tadi Kalun nyalakan.
“Bagaimana kamu bisa mengingatnya?” tanya Aluna dengan air mata yang sudah mulai mengalir.
“Jangan menangis, itu akan mengingatkanku pada kejadian satu tahun yang lalu! Aku yakin dulu kamu menangis keras di sana, karena ternyata yang menikahimu bukanlah orang yang kamu cintai. Tapi itulah awal kehidupan kita, dari situlah aku mengerti jika rahasia jodoh itu luar biasa, semoga kita berjodoh hingga tua nanti,” jelas Kalun sejenak menghentikan ucapannya, “Sekarang doa dulu, habis itu kita tiup lilinya bersama!” lanjutnya memerintahkan Aluna.
Mereka berdua memejamkan matanya sejenak. Cukup lama Aluna memejamkan matanya, membuat Kalun yang sebenarnya sudah selesai berdoa ikut memejamkan matanya kembali, setelah terdengar suara Aluna, Kalun mengikuti untuk membuka matanya, keduanya kini bersama-sama meniup lilin di depannya.
“Apa yang kamu minta dariku, sebagai hadiah anniversary kita?” tanya Kalun sambil menyuapkan sesuap kue untuk Aluna. Aluna tersenyum simpul, sambil menatap Kalun, menatap lekat ke arah suaminya yang semakin tampan meski dalam minim pencahayaan.
“Aku hanya minta kamu selalu jujur denganku, apapun keadaanya aku ingin kamu terbuka, berbagi semua denganku. Jangan seperti kemarin ketika kamu menolong Kayra.” Aluna mengusap punggung tangan Kalun yang ada di atas meja.
“Semudah itu permintaanmu? Apa kamu tidak menginginkan hadiah lebih dari yang kamu katakan tadi?” Kalun mengenggam tangan Aluna.
“Nggak, aku hanya ingin itu untuk hubungan kita, supaya kita bisa bertahan sampai nanti kita dipisahkan,” jelas Aluna.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan selalu jujur padamu, mulai hari ini dan selamanya, terbuka, membuka baju sekarang juga tidak masalah, bagaimana jika kita coba di sini, sepertinya kita belum pernah mencobanya di dapur?”
Setelah Kalun mengucapkan itu terdengar suara pukulan dari tangan Aluna yang memukul tangan Kalun. Membuat Kalun memancarkan senyum jenakanya. Kalun lalu menyodorkan kotak kecil yang tadi dia simpan di dalam paper bag ke depan Aluna.
“Apa ini?” tanya Aluna menatap heran ke arah kotak di depannya.
“Buka dong!” perintah Kalun yang masih memakan kue di tangannya.
Aluna ragu untuk membuka kotak kecil di depannya, tapi karena Kalun terus mendesaknya, dia akhirnya mengalah. Aluna membuka lapisan pertama kotak yang sekarang sudah ada di tangannya. Satu persatu dia buka, Kalun sengaja mengerjainya, dengan membuat lapisan sebanyak mungkin di hadiahnya kali ini. Hingga saat ini kotak itu terlihat kecil dari yang sebelum dia terima tadi. Kalun tersenyum jahil ketika Aluna mulai kesal.
“Bukan kond*m kan?” tanya Aluna memastikan.
“O, iya kenapa aku bisa lupa ya? Persediaan kita juga habis, terakhir kan dipakai semalam,” kata Kalun gusar.
“Dasar!” umpat Aluna sambil membuka kotak yang kini sudah tidak dilapisi apapun.
“Kunci?” tanya Aluna sambil mengangkat hadiah dari Kalun.
“Ya, kita akan pindah ke rumah baru besok.”
Kalun kebingungan, dengan tindakan Aluna, dia tidak mengerti apa yang dipikirkan Aluna saat ini. Aluna senang atau justru marah, dia tidak bisa menerka itu.
“Kita akan memulai hidup baru, anggap saja satu tahun kemarin adalah masa penjajakan, pengenalan tentang diri kita masing-masing, dan besok kita akan mulai lagi dengan yang baru, masuk ke dalam kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya, kita hadapi bersama apapun yang akan terjadi ke depannya, kita akan jadi team terhebat, oke?” jelas Kalun yang asal mencari jawaban.
“Tapi kamu nggak tahu selera rumah apa yang aku inginkan, buatku apartemen ini saja sudah lebih dari cukup,” sahut Aluna sedikit kesal.
“Ya, aku memang tidak tahu, tapi kamu bisa mengaturnya sendiri nanti,” jelas Kalun yang menghampiri tempat duduk Aluna.
“Apa kamu menyukai hadiah dariku?” tanya Kalun.
“Ya, aku terpaksa menyukainya, sejujurnya aku tidak mengingankannya, aku hanya ingin kamu bersamaku, melewati semuanya bersama, itu saja sudah cukup.”
“Itu pasti akan aku lakukan, benar kamu menyukai hadiah dariku?” Aluna mengangguk pelan sebagai jawaban.
“Besok kita akan pindah ke sana, sekarang mana hadiah untukku?” tanya Kalun yang membuat Aluna terlihat gusar. Karena dia tidak punya apa-apa, dia bahkan tidak mengingat jika hari ini adalah hari ulang tahun pernikahannya.
“Baiklah aku akan menghukummu, karena kamu tidak memberiku hadiah di hari spesial kita,” kata Kalun seraya mengangkat tubuh Aluna dari tempat duduknya. Tidak mempedulikan teriakkan Aluna yang memintanya untuk diturunkan. Kalun membawa Aluna masuk ke dalam kamar utama, mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.
__ADS_1
“A’ kita nggak punya pengaman!” cegah Aluna ketika Kalun mulai melepas kancing kemejanya. Kalun menarik tubuhnya dari atas Aluna, dia lalu mencari sesuatu di bawah kolong tempat tidurnya, dia mengingat sesuatu, sudah hampir setahun yang lalu dia melemparkan benda itu di bawah kolong ranjang. Tidak lain adalah hadiah dari bibi Sashi.
Setelah merangkak dan mengambilnya dari bawah kolong, Kalun menyerahkannya ke tangan Aluna. Aluna membaca sejenak pengaman yang ada di tangannya lalu melemparkannya kembali ke ujung ranjang.
“Sudah tidak bisa digunakan, ini sudah expared Sayang,” kata Aluna yang mengubah panggilan dengan suara khas manjanya.
“Masa sih?” tanya Kalun yang baru kembali dari arah ruang ganti baju, dia membawa sesuatu di tangannya, lalu meletakkannya di meja samping ranjang.
“Yah, nggak jadi deh?” desah Kalun sambil menampilkan wajah kecewanya. Dia mendekat ke arah Aluna mencoba mengeluarkan rayuannya.
“Boleh ya, please sekali saja! Di luar kok. Aku yakin, nggak akan jadi Luna junior.” Mohon Kalun dengan mata sayunya. Aluna sejenak mempertimbangkan permintaan Kalun, sambil menatap ke arah jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
Aluna membuang nafasnya, dia kasihan dengan suaminya, perlahan dia menganggukan kepalanya menyetujui permintaan Kalun. Kalun pun terlihat sangat bahagia, dia tersenyum senang malam itu setelah Aluna menyetujuinya, dia lalu membuka semua baju yang menempel di tubuhnya.
“Aku siap menikmati malam special kita, anggap saja ini malam pertama kita yang akan menjadi malam yang sangat panjang,” kata Kalun sambil meraih benda yang tadi dia letakkan di samping ranjang.
“Buatku malamku selalu panjang, karena kamu terus mengerjaiku seminggu ini,” kata Aluna sambil melempar kasar bajunya ke arah Kalun. Matanya menangkap tangan Kalun yang tengah mengoleskan tisu basah di miliknya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Aluna saat melihat tindakan Kalun. Kalun yang tadinya duduk di tepi ranjang kini tersenyum licik ke arah Aluna, sambil berbalik badan, dia lalu menghimpit tubuh Aluna, mulai menempelkan tubuhnya di tubuh kecil Aluna.
“Pengen tahu?” senyum Kalun semakin terlihat menjengkelkan di mata Aluna.
“Jangan macam-macam ya!” peringat Aluna.
“Nggak, ini juga demi kamu! Supaya lebih terpuaskan,” jelas Kalun lirih dengan senyum yang tertahan.
“Apa yang kamu pakai?” tanya Aluna yang semakin penasaran karena aroma yang masih tertinggal di telapak tangan Kalun.
Kalun mendekatkan bibirnya ke arah telinga Aluna, dia membisikkan sebuah merk nama tisu yang sering dipakai lelaki agar bisa menambah durasi er*ksinya. Mata Aluna membulat sempurna setelah mendengar merk tisu tersebut. Dia menahan wajah Kalun dengan telapak tangannya, saat Kalun hendak mengecupi lehernya.
“Dari mana kamu mendapatkan benda terkutuk itu, apa kamu sering menggunakan itu dulunya?” tuduh Aluna yang membuat Kalun mengerucutkan bibirnya, karena merasa tersinggung.
“Nggak Sayang, kamu yang pertama, aku, a-aku mendapatkannya dari papa, saat seminggu yang lalu kita menginap di sana,” jelas Kalun yang berkata jujur, dia tidak ingin Aluna berprasanka buruk padanya. Aluna menyesali perbuatan mertuanya tersebut, dia tahu apa manfaat menggunakan tisu basah yang digunakan Kalun, karena tidak sengaja saat mencari produk online, dia melihat benda itu, dan karena rasa penasaran yang menderanya dia membaca informasi produk tersebut. Aluna hanya bisa berharap jika benda itu tidak membuat milik Kalun bertahan selama yang dia baca kemarin.
💞
Jangan lupa vote dan like ya🙏
__ADS_1