Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Sekertaris Baru


__ADS_3

Pagi menyapa. Matahari masuk melalui jendela kaca, gordennya sudah dibuka oleh Kalun lebar-lebar. Tapi lelaki itu kembali menduselkan kepalanya di leher Aluna. Menciumi leher istrinya, ingin sekali memberikan tanda kepemilikan di sana. Tapi dia takut jika istrinya itu akan memakinya. Dia masih menikmati wajah Aluna yang masih terlelap sambil menghirup dalam aroma Aluna. Menunggu sampai istrinya itu terbangun.


“Eugh ...” suara leguhan Aluna terdengar, diiringi tubuhnya yang menggeliat dengan tangan yang berkeliaran kemana-mana menyentuh wajah Kalun. Kalun yang berada di sampingnya pura-pura memejamkan mata, tapi tidak terlalu rapat, hingga dia bisa melihat tingkah Aluna kali ini.


Aluna mulai menggerakkan perutnya yang terasa berat. Dia perlahan menoleh ke arah samping kanan. Melihat Kalun yang sangat dekat dengannya. Dirinya lebih kaget lagi ketika melihat bajunya yang sudah terlepas. Reflek dia mendorong tubuh Kalun menjauh darinya. Dan duduk membelakangi Kalun. Perlahan menatap ke arah bawah, ke arah tubuhnya yang masih terbungkus pakaian dalam dengan rapi.


“Kamu memperk*saku ya!” maki Aluna sambil memukulkan guling yang tadi dia raih. Kalun belum merespon istrinya dia masih berpura-pura memejamkan matanya.


“Kal! Kal! Kalun!” bentaknya sambil terus memukul-mukulkan guling ke arah Kalun.


“Kenapa Sayang ...” sahut Kalun dengan suara lembut seperti orang yang memang baru bangun tidur.


“Apa yang kamu lakukan!?” teriak Aluna yang meminta jawaban.


Kalun tertawa lepas ketika melihat ekspresi Aluna. Dia lalu menarik tangan kanan Aluna, supaya Aluna menindih tubuhnya.


“Apa yang kamu pikirkan? Masa sih ada suami memperkosa istrinya? Jika aku benar melakukannya, aku tidak akan sampai melakukannya dengan kasar!” kata Kalun sambil memperhatikan perubahan wajah Aluna.


Aluna memukul dada Kalun dengan keras, dia berontak ingin segera Kalun melepaskan pelukan yang melingakar erat di tubuhnya.


“Masih menolak jadi sekertarisku?” tanya Kalun sambil melepaskan pelukannya. Dia akan tersiksa sendiri jika dia terus menahan tubuh Aluna.


“I-iya. Aku tetap ingin menjadi arsitek saja.” Aluna meraih selimutnya ketika melihat Kalun yang berpura-pura menutup mata dengan jari-jari tangannya.


“Oke, jangan pernah menyesalinya!” peringat Kalun.


“Maksudmu?”


“Nanti akan ada sekertaris baru yang datang. Jadi kamu jangan cemburu ya, jangan juga menekuk wajahmu, ketika melihatnya!” pesan Kalun sambil membelakangi tubuh Aluna.


“Baguslah! Jadi aman buat posisiku sekarang!” sahut Aluna. Membuat Kalun merasa gagal dengan misinya kali ini.


“Semalam pulang jam berapa? Aku menunggu untuk makan malam! Tapi kamu tidak kunjung pulang!” gerutu Aluna sambil meninggalkan kamar Kalun, dia tidak ingin mendengarkan jawaban Kalun karena melihat kondisinya sekarang ini. Aluna berjalan sambil membawa selimut tebal untuk menutupi tubuhnya. Dia segera mengambil bajunya dan berjalan menuju ke dapur. Menatap makanan yang kemarin dia masak, masih tersusun rapi di atas meja.

__ADS_1


“Percuma saja masak! Ujung-ujungnya tidak ada yang makan!” gerutunya sambil membuang makanan ke tempat sampah. Dia lalu mencuci semua piring bekas masakannya dengan kesal, mungkin benturan piring porselen itu bisa terdengar dari kamar Kalun.


“Awas saja nggak akan aku masakin nanti malam! Biar beli makanan di luar sana!” lanjutnya sambil membilas piring yang ada di tangannya.


Aluna lalu membuat sarapan ala kadarnya, menyiapkan roti dan selai di meja makan, dan secangkir kopi susu untuk Kalun.


Dia segera menaiki tangga, bersiap untuk pergi ke kantor. Baginya yang setiap hari sarapan dengan nasi tidak akan kenyang dengan hanya sepotong roti. Dia pun memesan Renata untuk membawakan nasi pecel untuknya.


Setelah selesai bersiap Aluna segera mendahului Kalun yang masih menikmati sarapannya. Dia berpamitan pada Kalun karena sudah ditunggu sopir ojek onlinenya di lantai bawah.


Kalun hanya menatap Aluna sambil menggelengkan kepalanya. Kehidupannya kini kembali seperti dulu, sama seperti waktu dia sebelum menikah, sarapan sendirian di apartemen. Dia lalu mengambil jasnya, merapikan lagi dasi yang melingkar di lehernya.


“Kapan lagi kamu memakaikannya Yang!” lirihnya sambil menatap dirinya dipantulan kaca.


***


Sampai di ruangan, Kalun segera menempatkan posisinya, karena sebentar lagi akan ada sekertaris baru yang akan memasuki ruangannya.


Semoga dia bisa bekerja dengan baik! Batinnya dalam hati yang sebenarnya berdebar ketika hendak menemui pesananya kemarin, takut jika wanita itu akan menggodanya.


Terlihat Doni masuk diikuti wanita di belakangnya. Lalu segera Doni memperkenalkan wanita yang kini berada di belakangnya pada Kalun.


Kalun menyimak kertas di tangannya, sambil mendengarkan gadis di depannya itu berbicara.


“Bianca. Semoga kamu betah bekerja di sini,” ucap Kalun setelah sesi perkenalannya berakhir, dia enggan menjawab tangan Bianca yang terulur di depannya.


“Kamu tahu apa saja tugasmu! Dan sekarang mari kita lakukan. Kita akan menemui David untuk membicarakan peresmian proyek Emero Group! Dan kamu Don, nggak usah ikut! Biar aku sama Bianca saja!” peringat Kalun sambil memakai kembali tuxedonya. Dia lalu berjalan mendahului Bianca.


Saat berada di lift, otaknya bekerja keras. Membayangkan wajah cemberut istrinya, bibir tipis itu pasti akan sedikit maju kedepan, lirikan matanya pasti akan menatap tajam ke arahnya.


“Kita lihat Sayang apa kamu akan kuat melihat semua ini? Pasti hatimu akan sakit, sesakit-sakitnya hingga tak mampu mengucapkan kata 'mau' ”


“Maaf, Bapak tadi bicara apa ya?” tanya Bianca yang tidak dapat mendengar gumaman Kalun.

__ADS_1


“Lupakan, aku tidak sedang bicara denganmu!” ucapnya sambil berjalan keluar, karena pintu lift sudah terbuka lebar.


Langkah Kalun dan Bianca segera tertuju ke arah devisi desain, banyak orang yang gelagapan melihat Kalun berjalan mendekati ruangan itu. Termasuk Aluna yang tengah menyatap nikmat nasi pecelnya, terpaksa harus dia hentikan karena melihat Kalun yang di dampingi wanita cantik di belakangnya. Aluna menyembunyikan makanannya. Dengan mulut yang masih penuh dengan nasi dan sayur yang belum sempat dia kunyah.


“Selamat pagi.” Kalun menyapa dengan nada dingin membuat suasana ruangan itu tiba-tiba menjadi horror. David yang tadinya duduk di samping Renata kini dengan sigap berlari ke arah mejanya.


“Saya akan membicarakan acara peresmian proyek Emero Group dengan siapa saja harus menemui?” tanya Kalun.


Aluna dan David sudah saling tunjuk dengan bahasa isyarat, di balik punggung Kalun.


“Lu-Luna!” kata David yang tergagap.


Kalun memutar tumit kakinya, menghadap ke arah Luna, yang kesusahan menelan nasi pecel yang masih bersarang di mulutnya. Luna tersenyum tipis, saat matanya bertemu dengan mata milik Kalun. Kalun pun mendekati Aluna dengan langkah kaki sepelan mungkin.


Memaki istrinya sendiri tidak papalah ya? Ini kan kantor, juga milikku? Batin Kalun ketika mendekati Aluna. Tapi sikap dan hatinya bertolak belakang dia justru mengambil sapu tangan yang ada di saku celananya, dengan romantis dan di depan rekan kerja Aluna. Kalun mengusap lembut bibir Aluna yang masih tertinggal sambal pecel. Seketika semuanya hening seperti hanya ada mereka berdua. Satu devisi itu tengah menyaksikan drama romantis ala korea di depannya. Aluna menatap ke arah wajah Kalun yang tampak jelas di dekatnya dia merasa jantungnya berdebar tidak karuan, seperti mau loncat tapi tidak segera sampai ke arah tujuan, hembusan nafas Kalun yang beraroma mint membuatnya makin terhanyut dalam dimensi lain, yang hanya ada mereka berdua, hingga suara-suara sumbang itu membuyarkan keduanya.


“Cie-cie-cie,” sorakkan itu terdengar keras. Mereka berdua tersadar akan kesalahannya. Kalun langsung melemparkan sapu tangannya ke meja Aluna.


“Ngapain kalian! Cepat lanjutkan pekerjaan kalian!” maki Kalun menutupi rasa malunya, wajahnya tetap dibuat seserius mungkin, supaya wibawanya tidak pudar.


Acaranya membuat Aluna cemburu gagal total. Dia justru terhanyut dalam senyum lembut Aluna yang dia lihat tadi.


“Lun, hati-hati Pak Kalun sudah beristri. Takutnya nanti kamu disebut pelakor!” ucap wanita yang satu devisi dengan Aluna. Aluna hanya menunjukkan satu jari jempolnya atas peringatan rekannya itu.


Sedangkan Kalun tidak mampu mendengar ocehan rekan Aluna. Karena dia sudah berjalan menuju arah lift.


“Bapak kita tadi mau ngapain ya, ke ruangan itu? Kok nggak jadi? Apa saya perlu mencatat jika Pak Kalun hanya mengusap bekas makanan wanita itu tadi?” tanya Bianca yang kebingungan, karena ini pengalaman pertamanya.


“Ya catat! Hari, jam, menit, dan detiknya sekalian!” perintah Kalun dengan geram. Dia lalu mengambil ponsel yang ada di sakunya. Mengirim sms pada wanita yang kini tengah diperbicangkan.


To : MY Lovely Wife 💞


Siapkan dirimu untuk malam pertama kita!

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote guys😂😅


__ADS_2