
Kalun terus mengusap gadis yang terlelap di pangkuannya, dia terus membelai rambut gadis tersebut, dia terlihat sangat menyayangi gadis tersebut membuat Aluna tergerak untuk mendekat ke arah Kalun. Aluna berdehem ketika berada di samping Kalun.
“Kamu menyukai anak-anak?” tanya Aluna yang mengagetkan Kalun. Kalun diam sejenak sambil tersenyum ke arah gadis di pangkuannya.
“Ya, suka. Apalagi jika ibunya itu kamu!” jawabnya sambil mendongak ke arah Aluna. Dia lalu kembali menatap wajah cantik gadis itu, lalu bergantian menatap wajah Aluna lagi.
“Pasti jika anak kita perempuan akan secantik kamu,” ucapnya sambil mengamati lekat Aluna. Membuat Aluna tersipu malu atas pujian Kalun.
Tidak lama kemudian terlihat seorang
laki-laki menghampiri keduanya, dia segera mengambil gadis kecil itu dari pangkuan Kalun. Membuat Kalun merasa kehilangan apa yang ada di tangannya tadi. Kalun menatap lelaki di depannya, ingin memaki lelaki yang tega membiarkan anaknya berjalan sendiri di tengah malam. Namun, yang ada, lelaki itu justru mulai berbicara akrab dengan Aluna, seolah mereka adalah kawan lama yang sudah lama tidak berjumpa.
Aluna mengenali orang tua dari gadis kecil tersebut, karena mereka sudah pernah bertemu beberapa kali. Tapi dengan Aisyah sendiri Aluna baru kali ini bertemu dengannya.
“A’ kenalin dia sepupunya almarhum Fandi,”
jelas Aluna saat melihat wajah Kalun yang tidak enak di pandang.
Kalun berpura-pura bersikap ramah di depan sepupunya tersebut, tapi dalam hatinya bergemuruh menahan luapan emosi.
“Kami sudah resmi bercerai Lun, dan hak asuh Aisyah kini jatuh ke tanganku,” jelas lelaki di depan Aluna. Aluna hanya menganggukan kepalanya menanggapi ucapan lelaki di depannya.
“Bisakah kita mengopi sebentar, atau membeli nasi goreng, aku pernah lihat di sini ada nasi goreng special yang patut kita coba!” terang lelaki bernama Tristan seraya membawa tangan Aluna untuk meninggalkan Kalun yang berdiri menatapnya.
“Lepas Bang!” ucap Kalun dengan nada
membentak, setelah melihat tangan Aluna ada di genggaman Tristan.
Aluna melepas paksa tangannya, tapi genggaman itu terlalu erat, hingga dia tidak mampu melepasnya, dia juga tidak mau di perlakukan seperti ini oleh sepupu Fandi.
“Kak maaf aku tidak bisa, aku datang bersama suamiku!” jelas Aluna sambil menatap ke arah Kalun, mengisyaratkan suamunya untuk membantu.
Lelaki di depannya mengerutkan keningnya, dia berpikir secepat inikah Aluna berpaling dari sepupunya? Berarti benar yang dikatakan oleh orang-orang, jika Aluna hanya mencintai harta dari keluarga Fandi? Lelaki itu terus berpikiran negative terhadap Aluna, dia tidak tahu, bagaimana Aluna menjalani kehidupannya selama ini.
“Ya, aku suaminya.” Terang Kalun sambil
membawa Aluna ke dalam pelukkannya.
“Aku tak menyangka kamu secepat ini
melupakan Fandi, percuma dia mati-matian mempertahankanmu di depan keluarganya,
ternyata yang dicintai hanya wanita murahan sepertimu!” ejek sepupu Fandi yang memaki Aluna penuh dengan emosi.
“Jaga bicaramu Bang! Kamu tidak berhak
berbicara seperti itu pada istriku!” bela Kalun yang hendak melayangkan pukulan ke arah lelaki di depannya, tapi tangan Aluna mengenggamnya erat, dia lebih membutuhkan Kalun saat ini untuk menghiburnya, dari pada melayani lelaki yang tidak tahu diri itu.
“Kalian berdua sama saja, sama-sama
brengsek!” lanjutnya memaki Aluna dan Kalun, Tristan lalu meninggalkan mereka berdua, tanpa mengucapkan terima kasih atas bantuan yang sudah ia terima.
“Biar aku menghukumnya! Lepas Yang!” geram Kalun yang berontak dari cekalan Aluna yang kini sudah memeluk tubuhnya.
__ADS_1
“Stttt … hey! Kamu cinta aku kan?” tanya Aluna menangkup wajah Kalun dengan kedua tangannya.
“Menurutlah! Aku lebih butuh kamu di sini!” lanjut Aluna sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Kalun.
“Tahu begitu, tadi kita tidak perlu menolong
anaknya, tahu begitu, tadi kita tidak perlu memberikan boneka itu pada anaknya!”
gerutu Kalun di tengah pelukkan hangat Aluna.
“Ikhlas. Biar nanti kita dimudahkan di hari depan.”
“Dia kerja di mana sih? Biar aku blacklist? Sepertinya dia tidak paham berhadapan dengan siapa.”
Aluna tidak mau menjawab ucapan Kalun, dia hanya sedikit tertawa tipis menanggapi ucapan suaminya. Bisa gawat jika dia memberitahu Kalun di mana Tristan bekerja.
“Ayo pulang, aku sudah lelah. Ini juga sudah
larut A’!” ajak Aluna. Kalun tersenyum senang saat mendengar Aluna yang mulai terbiasa memanggilnya Aa’ lagi. Dia lalu berjalan berdampingan, sambil sesekali menoleh ke arah lawannya. Lalu mengalihkan pandangannya ketika tatapan mereka saling bertemu.
Aluna tiba-tiba memeluk pinggang Kalun dari samping, dengan langkah pelan, hingga Kalun bisa merasakan kehangatan di tengah dinginnya angin malam.
“Terima kasih sudah mencintaiku,” kata Aluna sambil mendongak menatap wajah Kalun.
“Apa kamu sudah mengingatnya?” Aluna
menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan Kalun.
“Tapi saat ini, aku yakin jika kita dulu
“Nggak papa aku tidak akan mengingat moment kebersamaan kita saat itu, yang penting, sekarang aku bisa merasakannya, merasakan jika aku butuh kamu, butuh kamu yang selalu akan melindungiku, menjagaku, kita akan mengukir lagi kenangan indah kita di hari depan, tanpa harus mengingat masa yang sudah terlewati,” jelas Aluna sambil mendekatkan keningnya di bibir Kalun, dia memberikan kode supaya Kalun mengecup keningnya, karena tubuh Kalun yang terlalu tinggi, dan Aluna tidak akan bisa mengimbanginya.
“Pasti. Aku akan melindungi wanita yang aku cintai,” singkat Kalun yang mengerti kode yang diberikan Aluna. Dia mengecup lama kening Aluna, hingga meninggalkan bekas lembab di sana, saat dia hendak menurunkan ke arah bibirnya, Aluna sudah berjalan meninggalkannya. Hingga dia merasakan hanya angin malam yang kini menghampiri bibirnya.
“Ceritakan awal kamu jatuh cinta padaku A'!”
teriak Aluna sambil berjalan meninggalkan Kalun. Kalun menggelengkan kepalanya, melihat Aluna yang berjalan mundur sambil menghadapnya. Dia lalu berjalan cepat menghampiri Aluna.
“Aku tidak pernah tahu kapan cinta itu datang. Yang aku tahu, aku merasa ada yang kurang ketika kamu tidak ada di sekitar pandanganku, aku cemburu ketika kamu dekat dengan Samuel, aku berdebar ketika kamu mendekat dan menciumku,” jelasnya yang di akhiri candaan receh.
“Benarkah kamu mengenal Samuel?”
“Ya, dia sahabat sekaligus lelaki yang
berusaha memenangkan hatimu, tapi kamu tahu? Yang terjadi, kamu memilihku, kamu
bicara pada orang-orang jika kamu mencintaiku, cintamu hanya untuk Kalundra,” ucap Kalun yang dibumbui drama percintaan.
“Aku nggak percaya!” kilah Aluna sambil
menoleh ke arah Kalun.
“Ya, memang aku berbohong, hanya aku yang mengatakan jika aku mencintaimu,” jujur Kalun.
__ADS_1
“Tapi aku tahu kamu mencintaiku, aku bisa
melihat itu dari bentuk perhatianmu, dan tingkahmu,” lanjutnya lagi sambil mencolek dagu Aluna, ia lalu membukakan pintu mobil dan mempersilakan Aluna untuk masuk.
“Mau kemana lagi Tuan putri?” tawar Kalun
yang tengah melingkarkan seatbelt di kursi Aluna
“Pulang, sepertinya sudah cukup untuk malam ini, dan aku tahu kamu pasti juga lelah!”
Kalun menurut dengan ucapan Aluna, dia
segera melajukan mobilnya ke arah apartemen. Misinya untuk malam pertama dengan Aluna dia kubur dalam-dalam, karena perjanjiannya tadi dengan Aluna. Dia juga akan menepati janjinya, tidak akan menyentuh Aluna jika dia tidak menyerahkannya sendiri.
Tiga puluh menit berlalu, kini mereka sudah
berada di tempat parkir apartemen. Kalun melihat wajah Aluna yang terlelap di samping kemudi. Dia berniat ingin menggendong Aluna naik ke atas. Tapi saat hendak mengangkat tubuh Aluna, istrinya itu tiba-tiba membuka matanya, karena mendengar suara pintu yang terbuka.
Dengan langkah sempoyongan Aluna berjalan memasuki apartemen, dengan Kalun yang memapahnya. Dia melihat jam yang ada dipergelangan tangan Kalun sudah menunjukkan hampir tengah malam.
Sampai di apartemen Kalun mendudukan tubuh Aluna di sofa. Karena dia membebaskan Aluna memilih di mana dia akan tidur.
“Kal. Aku tidur denganmu malam ini,” ucap Aluna yang menahan tangan Kalun. Kalun tersenyum lebar, dia langsung membawa tubuh Aluna menuju kamarnya. Kamar yang menjadi saksi bisu malam pertama mereka.
Kalun segera merebahkan tubuh Aluna di ranjangnya ketika pintu sudah terbuka keras, dia ingin mengganti pakaiannya dulu dengan pakaian yang lebih nyaman.
Tingkah Aluna membuatnya berhenti, Aluna menahan tangannya supaya tidak pergi dari sisinya.
“Kal. Aku bersedia memberikannya sekarang …” terdengar suara lirih dari bibir tipis Aluna, tapi Kalun bisa mendengarnya dengan jelas suara itu, sebab jarak mereka yang terlalu dekat.
“Kamu sadar? Atau sedang bermimpi?” tanya Kalun meyakinkan jika Aluna tidak tidur.
“Aku sadar Kal, aku istrimu aku masih ingat
itu, aku ingin menyerahkan semuanya padamu malam ini, karena aku sudah yakin, jika kamu suamiku, suami yang mencintaiku,” kata Aluna sambil melepaskan sendiri pakaian atasnya. Membuat jantung Kalun yang tadi berdetak normal, kini mulai berlarian. Tapi senyum indah terukir di bibirnya, dia meraih wajah Aluna, melum*t bibir Aluna yang selalu dia rindukan, tangan Kalun meraih remot lampu yang ada di samping ranjangnya, seketika suasana menjadi lebih romantis dari yang tadi sebelum mereka tiba. Kalun memperdalam lagi ciumannya, hingga
membuat gairah Aluna semakin meninggi.
Alunan suara syahdu itu keluar dari bibir mereka, saling bersahut-sahutan mengisi detik-detik yang kosong. Penyatuan itu benar terjadi malam itu, Kalun melupakan pesan papanya untuk menggunakan pengaman, karena dia benar-benar lupa. Namun, setelah semuanya milik Kalun masuk, terlihat Aluna menangis sambil melihat ke area bawah miliknya.
“Kal …” panggil Aluna yang berusaha menghentikan gerakkan Kalun.
“Apa Sayang?” tanya Kalun dengan mata sayu di rundung gairah.
“Aku minta maaf.”
Kalun menghentikan pergerakkannya, mencoba mendengar ucapan Aluna setelahnya.
“Maafkan aku kamu bukan yang pertama
untukku, tapi aku sungguh lupa dengan siapa aku melakukannya!” kata Aluna penuh penyesalan, dia meminta maaf dengan tulus pada suaminya, sambil menatap ke arah Kalun yang masih mengukung tubuhnya.
👣
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote👌👍
Happy Weekend😍😍😍