Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Lihat Aku!


__ADS_3

Yang mau masuk Group Kristiana ada password khusus sekarang. Tulis nama lengkap Kalun! Biar dibukain kunci sama Adminya. Ada yang tidak tahu nama lengkap Kalun? jawabannya ada di part 2. Pengenalan tokoh. Terima kasih.


Setelah menyadari kepergian Aluna, Kalun segera berlari kecil mengikuti dari belakang, mencoba untuk menghentikan Aluna dengan suara kecilnya. Tanpa mempedulikan tatapan heran dari para tamu yang hadir.


“Yang, stop Yang!” panggilnya yang tidak mendapat sahutan apapun dari bibir Aluna. Istrinya itu tetap berjalan meninggalkan kerumunan orang yang sedang hadir di acara pemakaman Kayra.


“Sayang!” panggil Kalun sambil meraih pergelangan tangan Aluna, karena jarak yang sudah dekat. Meminta istrinya untuk menghadapnya. Aluna dengan kasar mencoba menghempaskan tangan Kalun, tapi sia-sia karena tangan Kalun lebih kuat mencekal pergelangan tangannya.


“Lepas!” bentak Aluna.


“Nggak!”


“Lepas Kal! Aku mau pulang!” bentak Aluna yang sudah emosi. Membuat perhatian orang yang lewat tertuju ke arah mereka berdua.


“Pulang denganku! Kita pulang bersama!”


“Nggak mau!” sahut Aluna sambil mencoba lagi melepaskan tangannya karena Kalun ini berusaha menariknya ke arah mobil.


Kalun yang keras kepala, juga tidak membiarkan Aluna pulang sendiri, dia mengangkat tubuh Aluna dengan cepat, menggendongnya ala bridal style, melewati kerumunan orang yang memakai pakaian hitam. Aluna yang berada di gendongan Kalun, sekuat tenaga memberontak, ingin Kalun segera menurunkannya, tapi percuma, karena Kalun tidak membiarkannya untuk turun dia tetap fokus ke arah jalan yang dia lewati.


Kalun berjalan mendekat ke arah mobilnya, menghampiri mobil sport yang berada di luar rumah Viona, saat tiba di sana, dia meletakkan Aluna dengan lembut di kursi samping kemudi. Dia lalu memasangkan seatbelt di tubuh Aluna.


Matanya menatap lekat ke arah Aluna, ketika jarak mereka terlampau dekat. Aluna tidak ingin membalas tatapan Kalun, dia takut akan luluh saat menatap mata suaminya, hatinya masih dirundung amarah. Aluna memalingkan wajahnya ke arah lain, supaya tidak bertemu dengan mata Kalun.


“Aku akan jelaskan semuanya!” lirihnya di depan wajah Aluna yang tidak ingin menatapnya.


Kalun segera menutup pintu mobil, beralih ke arah kursi belakang kemudi, dia segera melajukan mobilnya menuju apartemen. Ketika di perjalanan, tidak ada yang berusaha memecah keheningan di antara mereka berdua. Aluna hanya menatap jendela yang menampilkan kemacetan panjang, yang menghambat perjalanannya siang ini. Kalun mencoba menahan rasa kantuknya yang saat ini mulai menyerangnya. Perjalanannya terasa panjang bagi mereka berdua.


Tiba di depan apartemen, Aluna segera berlari ke dalam gedung apartemen, setelah mobil Kalun berhenti dengan sempurna. Dia meninggalkan suaminya yang baru berjalan menuju lobby.

__ADS_1


Saat Aluna berada di dalam lift, Kalun berlari menghampiri mendekat, meminta Aluna untuk menghentikan pintu lift yang sebentar lagi akan tertutup. Tapi yang ada Aluna enggan menahannya, dia memilih untuk meninggalkan Kalun menunggu lift tersebut untuk kembali menjemputnya.


Saat tiba di apartemen, Aluna mulai mencari-cari kertas yang semalam dia tanda tangani. Dia membolak-mbalikkan bantal sofa yang semalam dipakainya untuk tidur. Mencari di bawah kolong sofa siapa tahu terhempas ke sana.


Kalun yang baru tiba, langsung mendekap tubuh Aluna dari belakang meminta Aluna menghentikan kegiatannya saat itu juga.


“Nyari apa?” Kalun mencoba menahan kedua tangan Aluna yang memberontak. Sambil meletakkan kepalanya di pundak Aluna.


“Surat cerai.” Aluna berhasil melepaskan diri dari Kalun.


Pelukan Kalun melonggar setelah dia mendengar ucapan Aluna. Tubuh Kalun mendadak lemas saat mendengar ucapan Aluna. Dia menjatuhkan tubuhnya ke sofa, duduk di sofa yang dulu menjadi tempat favoritnya, pandangannya kosong menatap ke arah layar televisi yang tidak menyala. Sedangkan Aluna, masih mencari surat cerai yang tidak kunjung dia temukan.


“Apa kamu tidak bisa mengubah keputusanmu?”


“Bukankah kamu sendiri yang bilang padaku! Aku tetap pada keputusanku!” kata Aluna tegas dan jelas.


“Apa aku begitu mengecewakanmu sekarang, apa kamu tidak mengingat, besarnya cinta yang aku berikan padamu,” kata Kalun menatap wajah Aluna, yang tiba-tiba menghentikan kegiatannya.


“Iya. Aku kecewa denganmu yang tidak berkata jujur padaku,” kata Aluna keras sambil memukul tubuh Kalun dengan tas yang masih ada di tangannya.


“Aku kecewa karena kamu menyembunyikan ini semua dariku!”


“Kau anggap aku apa. Hah? Istri pajangan! Iyah? Bahkan dijadikan pajangan saja tidak! Aku masih saja jadi istri simpananmu!” Aluna meluapkan amarahnya saat itu juga, tidak henti-hentinya memaki Kalun.


“Aku hampir gila memikirkan semua ini!” kata Aluna dengan penuh emosi sambil memberikan lagi pukulan di tubuh Kalun dengan tas yang lumayan berat.


Kalun tidak ingin menghindar, dia hanya diam saat menerima pukulan Aluna tersebut, dia tahu Aluna butuh melampiaskan emosinya. Matanya terus menatap Aluna yang tengah meluapkan amarahnya. Ada bulir bening yang jatuh dari mata Aluna. Membuatnya terduduk ingin menenangkan Aluna.


Aluna menghindari Kalun, di duduk di karpet menjauh dari tubuh Kalun. Menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya. Dia menangis tanpa suara di sana. Membiarkan rambutnya yang panjang, menutupi wajahnya.

__ADS_1


Kalun yang melihat Aluna seperti itu, berusaha menangkan Aluna yang tengah menangis. Dia mendekap tubuh Aluna dari belakang.


“Maaf, maafkan aku. Kamu boleh menghukumku, tapi tolong jangan meminta cerai. Aku tahu aku salah!” lirih Kalun, yang berusaha mendongakkan wajah Aluna. Namun, Aluna masih tetap menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya, sama kuatnya dengan Kalun yang berusaha melihat wajah menangis Aluna.


“Hei lihat aku! Kamu tidak tahu, betapa aku kebingungan untuk menjelaskan padamu saat itu. Aku tidak ingin membuatmu berpikir jika aku masih mencintainya. Aku hanya ingin membantunya, karena tidak ada yanga mau menemani Kayra.” Kalun menjelaskan panjang lebar pada Aluna yang sebenarnya sudah tahu, karena Ella sudah menceritakan semuanya padanya.


“Bagaimana jika kamu benar menikahinya semalam? Kamu nggak pernah berpikir bagaimana menjadi diriku?” tanya Aluna yang masih menyembunyikan wajahnya.


Kalun semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Aluna. Semakin tidak ingin melepaskan pelukkan, mengucapkan kata maaf berulang kali.


“Ya, kamu boleh menghukumku soal itu! Tapi aku nggak berniat menduakanmu sama sekali, aku merasa kasihan dengannya. Banyak waktu yang sudah aku lewati dengan Kayra, aku hanya ingin memenuhi permintaannya yang terakhir.” Kalun menghentikan ucapannya, dia memaksa Aluna untuk menatapnya, “Apa kamu cemburu?” goda Kalun saat melihat wajah sembab Aluna.


Aluna menatap mata Kalun yang memerah, dia semakin kesal saat melihat mata itu. Karena lagi-lagi hatinya kembali rapuh oleh tatapan mata Kalun.


“Jodohku adalah kamu. Tidak lagi dengannya! Aku mencintaimu, mulai beberapa bulan yang lalu.” Kalun merebahkan tubuh Aluna di alas karpet yang kini mereka pijaki, meletakkan perlahan kepalanya di bantal sofa yang sudah di tarik oleh tangan panjang Kalun. Tangan Kalun membantu menghapus air mata Aluna yang masih mengalir, "Jangan menangis lagi!"


Aluna semakin terhimpit tubuh Kalun karena Kalun mengikis jarak mereka berdua. Usai menghapus air mata Aluna, Kalun mengusap lembut bibir Aluna. Kedua mata itu saling bertatapan, tatapan emosi yang tadi Aluna pancarkan kini sudah berubah menjadi tatapan sayu yang membuat Kalun ingin memberikan sentuhan lebih lagi pada tubuh Aluna.


“Aku mencintaimu. Jangan memikirkan perpisahan lagi!” Kalun mendekatkan bibir merahnya ke arah bibir Aluna yang berada di bawah kukungannya. Namun yang terjadi saat bibir itu hampir menempel lutut Aluna menendang benda keras yang sudah siap memasukinya, seraya mendorong tubuh Kalun dari atas tubuhnya. Dia berhasil membuat Kalun tersiksa siang ini.


“Ahhh ... kejam kamu ya sama adikku!” keluh Kalun sambil mengaduh kesakitan, setelah mendapatkan tedangan dari Aluna.


“Rasain! Memangnya aku akan semudah itu, memaafkan lelaki yang sudah membuatku sakit hati!” Aluna berlalu sambil tersenyum menang ke arah Kalun. Dia lalu berlari menuju kamar yang berada di lantai dua.


Sedangkan Kalun, masih menderita karena tendangan Aluna yang mengenai intinya. Dia merebahkan tubuhnya di alas karpet, dengan bantal yang tadi istrinya kenakan. Dengan mata terpejam Kalun mencoba melupakan bebannya yang perlahan mulai terlepas. Kalun tertidur di depan ruang televisi, dia sudah kelelahan karena semalam mengurusi Kayra. Mengabaikan Aluna yang kini berada di lantai dua.


👣


Jangan lupa like dan vote ya. Maaf updatenya lama karena ada sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2