
Aluna kembali mengikatkan handuknya dengan kencang, lalu berjalan ke arah pintu kamar untuk mengetahui siapa yang mengunjunginya.
Aluna berjalan untuk membukakan pintu, matanya membulat sempurna saat mengetahui siapa yang ada di depan pintu.
Kedua orang itu langsung masuk ke dalam resort yang di pakai Aluna berbulan madu, Aluna menatap pasangan paruh baya itu yang tengah memindai seluruh ruangan.
“Di mana anakku?” Erik berjalan ke arah kamar, mancari Kalun yang tengah berada di kamar mandi.
“Baru mandi Pa,” jawab Aluna sambil mendekat ke arah Ella yang sudah duduk di sofa ruangan.
“Kenapa kalian tidak menghubungi kami? Kalun juga ditelepon nomornya tidak aktif, aku pikir kapal kalian terbawa arus ke segitiga bermuda,” maki Erik yang mengkhawatirkan
kondisi anak dan menantunya.
Aluna hanya meringis, sambil menutupi pahanya yang terekspos dengan bantal sofa.
“Kalian tahu, mertuamu ini, menangis semalaman gara-gara Kalun tidak memberi kabar padanya,” lanjut Erik, sambil menatap ke arah Ella yang tengah merebahkan tubuhnya karena mengalami jetleg.
“Kenapa kalian menyusul?” tanya Kalun yang baru saja selesai mandi, dia mendekat kearah
istrinya, berbisik untuk segera mengganti pakaian yang lebih sopan.
Erik menceritakan alasannya menyusul mereka berdua, dia tidak bisa tertidur nyenyak karena Ella menangis semalaman, dia takut terjadi sesuatu dengan pewaris Ramonnes itu. Kalun yang tidak ingin terganggu, segera meraih teleponnya, menghubungi pelayan supaya menyiapkan kamar untuk kedua orang tuanya, dan memesan agar dijauhkan darinya karena
takut terganggu dengan kehadiran mereka. Mengingat kedua orang tua itu yang suka
menjahilinya.
---
Malam pun tiba, Kalun mengajak Aluna untuk makan malam romantis, dia sengaja tidak memberitahu Erik dan Ella supaya tidak mengganggunya. Kalun sengaja memesan private room untuk acara makan malam ini karena dia sudah menyiapkan sesuatu untuk Aluna.
“Silakan duduk Ny. Kalun,” ucapnya sambil menarik kursi, mempersilakan Aluna untuk segera mendaratkan pantatnya ke kursi.
Aluna tersipu malu saat mendapatkan panggilan itu, dia menunduk untuk menyembunyikan rona wajahnya
yang memerah. Tanpa mereka sadari, di seberang ruangan Erik dan Ella tengah
mengintipnya dari kaca yang terlihat transparan.
“Kita susul saja mereka, beraninya makan malam nggak mengajak kita,” gerutu Ella saat mendapati mereka berdua.
“Kita juga nggak mengajak mereka, sudahlah kita diam-diam saja, pura-pura nggak kenal,” balas Erik yang masih asyik menempelkan matanya di kaca transparan.
__ADS_1
“Enak saja!”
“Sudahlah, kalau kamu ke sana, kapan nanti kamu dipanggil oma, jangan menganggu mereka, kita juga perlu menikmati waktu berduaan Sayang,” ucap Erik yang sudah membawa Ella untuk kembali duduk.
“Kira-kira berapa bulan lagi aku akan dipanggil oma?”
“Sabar! Aku bisa memanggilmu oma sekarang jika kamu mau,” canda Erik sambil menempelkan tangan Ella ke bibirnya, dia mengecupi tangan lembut dan sedikit berkerut itu, demi meredakan tatapan membunuh yang sudah di berikan ke arahnya.
Berbeda dengan ruangan sebelah yang tengah merasakan manisnya suasana malam ini, Kalun terus mengamati tangan Aluna yang tengah menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
“Mau aku suap?” tanya Aluna ketika mendapati Kalun yang memperhatikannya. Dengan mata berbinar Kalun langsung membuka mulutnya.
Kapan lagi coba disuap di muka umum seperti ini. Ucap Kalun dalam hati, yang merasa bahagia. Dia terus menerima suapan dari Aluna hingga makanan Aluna habis tidak tersisa.
“Apa seenak itu makanan ini, hingga tanpa sadar kamu sudah mengahabiskannya?” ucap Aluna dengan heran menatap ke arah Kalun. Kalun yang menyadari hanya tersenyum ke arah Aluna.
“Kamu makan punyaku, aku akan menyuapimu, kemarilah!” perintah Kalun sambil menepuk bangku kosong di sampingnya. Aluna tersenyum simpul ke arah Kalun.
“Jangan modus ya, jaga tangan dan mata!” peringat Aluna ketika berjalan mendekati Kalun. Kalun hanya diam tidak menjawab ucapan istrinya.
“Aku Cuma ingin menikmati malam ini, sebelum kita kembali ke Jakarta besok malam,” ucap Kalun yang membuat Aluna bingung menatapnya.
“Bukannya kita di sini 7 hari, kenapa tiba-tiba Aa' ingin segera pulang?” selidik Aluna sambil
menatap Kalun yang berada di sampingnya.
“Apa enaknya coba bulan madu diikuti mereka,” cibirnya sambil mendelikkan matanya, bibirnya sudah mengerucut, merasa kesal karena orang tuanya itu terus membuntutinya.
Malam semakin larut, Kalun segera membawa Aluna keluar restoran, dia ingin menikmati waktu bersama Aluna sebelum pulang ke Jakarta besok.
“Kamu benar nggak ingin ikut ke London?” tanya Kalun memastikan lagi.
“Nggak perlu A’ aku juga harus bekerja,” jawab Aluna.
“Kamu nggak takut jika aku kembali jatuh cinta pada Kayra?” tanya Kalun sambil membawa pinggang Aluna untuk dia rangkul.
“Nggaklah, jika memang begitu, berarti kamu tidak benar mencintaiku,” jawab Aluna sambil
menampilkan senyum kecutnya.
“Cinta akan kembali pada pemiliknya, jika Aa' kembali pada Kayra, berarti Aa' bukan jodohku,” lanjutnya sambil mengusap pipi Kalun.
“Tapi percayalah, aku benar mencintaimu Lun, dan itu tidak bohong,” kata Kalun sambil mencuri ciuman di pipi Aluna.
__ADS_1
“Ya, aku percaya setiap lelaki yang berkata itu padaku, bahkan Fandi dulu setiap hari mengatakan cinta, tapi dia sekarang pergi meninggalkanku sendiri,” kata Aluna sambil
melanjutkan jalannya.
“Percaya padaku, aku nggak akan meninggalkanmu.” Kalun menurunkan tangannya, menautkan jemarinya
ke jemari Aluna, mengeratkan lagi supaya Aluna semakin percaya dengannya.
“Aa' kenal Fandi di mana? Perasaan aku dulu nggak pernah ketemu dengan Aa' deh?” tanya Aluna yang membuat Kalun mengalihkan pandangannya ke arah laut yang terlihat hitam pekat.
“Em … ya di jalan, saat kecelakaan, itu pertama kalinya aku bertemu dengan Fandi,” jelas Kalun berbohong lagi demi menutupi kesalahannya, dia belum siap jika harus mengatakan kebenaran yang selama ini dia tutupi, dia takut jika Aluna akan meninggalkannya.
Aluna menatap heran ke arah Kalun, “Aa' langsung yakin gitu saja untuk menikahiku?”
“Ya, aku paling tidak suka melihat tangisan wanita, karena itu akan selalu mengingatkan aku dengan adik-adikku,” jelas Kalun jujur. Aluna tersenyum ke arahnya.
“Aku jadi teringat dengan ucapan papa, dia selalu berpesan untuk mencari suami yang mencintai ibunya, karena pasti dia akan memperlakukannya dengan baik,” terang Aluna yang merindukan papanya.
“Ya, kebahagian mama dulu adalah yang utama untukku, tapi sekarang aku punya kamu yang juga harus selalu bahagia ketika berada di sampingku, jangan menangis lagi, jangan mencoba melompat jembatan lagi, karena aku tidak akan sanggup untuk melihat itu,” jelas Kalun sambil membuka pintu kamar resort- nya.
“Terima kasih, dulu sudah memberi harapan untukku, meyakinkanku bahwa akan ada pelangi setelah hujan, dan aku sekarang berdiri di bawah pelangi itu, menikmati hidup
bersamamu,” ucap Aluna sambil bergelayut di lengan Kalun. Kalun yang gemas mencubit hidung Aluna.
“Jika dulu aku tidak datang, berarti kamu sudah bersama Fandi, dan aku akan hidup dibayangi rasa bersalah seumur hidupku.” Kalun mendudukkan tubuhnya di sofa ruangan sambil membawa Aluna kepangkuannya.
“Kenapa kok gitu?”
Kalun memikirkan pertanyaan Aluna, tidak mungkin juga dia merusak moment menyenangkan ini, memangku Aluna yang sudah duduk menghadapnya.
“Ya, karena aku tahu kamu akan mati, jika aku tidak menolongmu, aku akan menyaksikan tubuhmu hanyut ke sungai hahaha.” Suara tawa Kalun terdengar mengejek di telinga Aluna, membuat Aluna mendengus kesal kearahnya.
“MEM-BO-SAN-KAN!” ucap Aluna sambil beranjak dari pangkuan Kalun.
“Hey. Ini malam terakhir kita, jangan merusaknya!” peringat Kalun sambil menahan pinggang Aluna.
Aluna mengabaikan ucapan Kalun, dia hanya menatap sengit lelaki di depannya. Sedangkan Kalun hanya tersenyum ramah ke arah Aluna, memainkan matanya meminta sesuatu yang menyenangkan dari Aluna.
“Sayang aku ingin melamarmu secara romantis, dan di saksikan oleh seluruh dunia, aku akan membuatkan kejutan itu setelah aku pulang dari London, dan aku akan mengumumkan jika aku sudah menemukan wanita yang diciptakan dari tulang rusukku yang selama ini aku cari,” ucap Kalun yang membuat wanita di depannya mencair.
Terlihat Aluna sudah menampilkan senyum tipisnya, sambil mencuri cium di pipi Kalun, membuat lelaki itu merasa semakin dicintai lagi.
Malam yang semakin larut, membuat mereka enggan segera tertidur, karena mereka masih ingin menikmati tubuh satu sama lain, mencampurkan keringat yang akan selalu mereka rindukan ketika nanti mereka berpisah, suara merdu yang keluar dari bibir Aluna kembali terdengar di telinga Kalun, suara Aluna yang selalu ingin dia dengar sebelum dirinya memejamkan matanya. Aroma biji zaitun yang akan selalu menjadi candu untuknya, mungkin dia akan mengganti semua parfumnya dengan parfum Aluna ketika nanti dia pergi ke London, supaya dia akan selalu teringat dengan istri.
__ADS_1
👣
Jangan lupa untuk like dan vote ya.👍🙏