
Saat sore tiba. Kalun menghampiri Aluna yang masih sibuk dengan pekerjaanya di dalam ruangan. Kalun yang sudah tidak sabar untuk segera pulang ke rumah, meminta Aluna untuk lekas mengemasi berkas-berkasnya saat itu juga.
“Duduklah dulu, sebentar lagi akan selesai!” perintah Aluna saat melihat Kalun yang sudah memasang wajah masam karena terlalu lama menunggu. Kalun tidak bergerak dia masih menatap Aluna lekat. Meminta Aluna untuk meninggalkan pekerjaan saat ini melalui tatapan tajamnya.
“Bukannya kau menjanjikan sesuatu padaku! Cepat kemasi barangmu, atau aku akan mengangkat tubuh kecilmu itu ke hotel,” kata Kalun penuh ancaman. Aluna mendengus kesal, ia mengedarkan pandangannya ke arah rekannya, memastikan jika rekan kerjanya, tidak sedang menguping pembicaraan mereka berdua.
“Sabar sedikit kenapa!? Atau mau aku batalkan janjiku, aku masih marah denganmu ya, jangan seenaknya sendiri seperti ini!” balas Aluna dengan suara lirih, dia juga memberikan peringatan pada Kalun.
Kalun terpaksa mengalah, dia menarik kursi yang tidak jauh dari posisi berdirinya, dia mengangkat kursi itu di depan meja Aluna. Mengamati wajah Aluna yang tengah serius menyelesaikan pekerjaannya, menopang kepalanya dengan tangan kanan, sambil menelengkan kepalanya ke arah Aluna. Membuat Aluna merasa tidak nyaman karena Kalun terus mengawasinya.
“Kamu CEO ya! Apa tidak ada pekerjaan lain selain menunggu seperti ini?” tanya Aluna mendelik ke arah Kalun yang masih menatapnya.
“Harusnya kamu paham maksudku,” balas Kalun dengan seringai senyumnya.
Merasa kesal, akhirnya Aluna membereskan pekerjaanya yang belum sepenuhnya selesai tersebut. Dia meraih tasnya dan berjalan mendahului Kalun.
“Lain kali jangan memberikan pekerjaan terlalu banyak untuk istriku!” pesan Kalun saat menghentikan langkahnya di depan meja kerja David.
Kalun segera mengejar Aluna yang hampir tiba di depan lift, dia memeluk Aluna dari belakang saat melihat sekelilingnya tidak ada yang melihat kelakuannya.
“Lepas, jangan seperti ini. Apa kamu mau dijuluki CEO mesum?” Aluna sudah menggerak-gerakkan badannya untuk menghindari pelukan Kalun.
“Siapa yang akan mengatakan itu, sini biar aku tanda tangani surat phk.” Kalun masih memeluk Aluna, saat pintu lift terbuka, sambil berusaha menempelkan bibirnya di pipi Aluna.
Beberapa orang yang baru saja keluar dari pintu lift terlihat menahan senyumnya saat melihat Kalun yang ditolak Aluna ketika akan mencium pipinya. Aluna lebih memilih menggunakan lift yang biasa dia pakai, dari pada lift khusus yang hanya dipakai petinggi perusahaan.
Kalun mengikuti langkah Aluna, mereka ditemani sepasang karyawan yang juga hendak turun ke lobby. Suasana hening ketika mereka berada di dalam lift, tangan Kalun meremas jemari Aluna saat pintu lift terasa lama terbuka, helaan nafas terdengar dari bibir Kalun. Dia menoleh ke arah Aluna sambil tersenyum manis, berusaha menutupi rasa kesalnya karena terlalu lama menunggu pintu terbuka.
“Kita pulang, mandi bareng!” katanya sambil menggandeng Aluna keluar dari lift. Mobil Kalun terlihat sudah siap di depan pintu, beberapa orang menyapanya ketika dia pulang lebih awal hari ini. Kalun hanya menjawab dengan senyum khasnya yang biasa dia tampilkan. Beberapa orang penjaga membukakan pintu mobil untuk keduanya.
***
Baru beberapa menit mobil itu melaju, Kalun menghentikannya di depan minimarket berlogo huruf A yang mereka lewati.
__ADS_1
“Mau rasa apa?” tanya Kalun penuh semangat.
“Aku nggak butuh minuman, aku hanya sedikit lapar?”
“Aku tidak tanya itu, kamu mau pengaman rasa apa?”
“Astaga Kalun!” teriak Aluna dengan wajah yang memerah karena merasa malu sendiri dengan ucapan suaminya.
“Pulang!”
“Sayang kita harus menundanya
dulu, Papa bilang nggak baik jika kamu langsung hamil.”
“Terserah kalau ada rasa durian,” ketus Aluna sambil mengalihkan tatapannya keluar jendela.
Kalun yang mendengar jawaban dari Aluna segera turun dari mobil membelikan pesanan Aluna, tidak lupa dia melepaskan jas dan mengenakan topi hitam yang selalu dia siapkan di dalam dashboar mobil, supaya tidak ada yang mengenalinya.
“Rasa duriannya tidak ada, adanya rasa pisang,” kata Kalun sambil menyerahkan benda itu ke tangan Aluna. Aluna dengan kesal meletakkan benda itu di atas dashboar, “Pulang!” kata Aluna dengan nada tinggi. Membuat Kalun segera melajukan mobilnya ke arah apartemen.
“Aku tahu pasti kamu juga sudah tidak sabar, kan.” Kalun tersenyum penuh nafsu ke arah Aluna.
“Terserah kamu, mau bicara apa.” Aluna kesal dengan ucapan Kalun yang terus menjurus ke araj adegan dewasa, dia memejamkan matanya sambil menutup telinga dengan kedua tangannya.
Sampai di apartemen Aluna lekas menuju kamarnya untuk mengambil perlengkapan bajunya, sementara Kalun menunggu Aluna di kamar, dia berencana untuk mandi bersama.
Karena merasa lama menunggu Kalun segera keluar dari kamar untuk melihat Aluna yang sudah tidak berada di dalam kamarnya. Samar-samar Kalun mendengar suara Aluna yang bernyanyi di dalam kamar mandi yang tidak jauh dari kamarnya. Dia lalu menghampiri kamar mandi tersebut, ketika dia membuka pintu kamar mandi terlihat Aluna yang sudah bersih dengan rambutnya yang basah, senyum terpancar indah dari bibirnya yang mungik, seperti senyuman mengejek ke arah Kalun.
“Aku lelah menunggumu di kamar, tapi kamu justru mandi di sini!” maki Kalun sambil mengangkat tubuh Aluna, seperti halnya mengangkat karung beras. Aluna yang merasa geli berteriak-teriak tidak jelas ketika merasa ketakutan akan terjatuh. Kalun menjatuhkan begitu saja tubuh Aluna ke ranjangnya, dengan kasar dia menarik dasinya supaya terlepas dari leher, tangannya menarik kemeja biru muda yang dia kenakan, Kalun yang tidak sabar membuat beberapa kancingnya terlepas, memperlihatkan tubuhnya yang hanya berlapis kaus singlet bewarna putih.
“Aku tidak akan menundanya lagi,” kata Kalun sambil melepas lapisan terakhir bagian tubuhnya, sedangkan Aluna masih mengenakan daster batik yang sangat pas di tubuhnya. Dia memancarkan senyumnya, entah apa yang dia rahasiakan dari Kalun, tapi terlihat dia juga bersemangat menerima setiap cumbuan yang Kalun berikan.
Suara-suara lum*tan terdengar memenuhi sekeliling ranjang, Kalun yang sudah siap melakukan malam pertama untuk kesekian kalinya, mulai melepas tali pinggang dan celana panjangnya, terlihat jelas jika adik kecilnya sudah siap untuk melakukan pertempuran.
__ADS_1
Aluna menjentikkan jarinya ke arah Kalun, “Mau sekarang?” tanyanya sambil tersenyum ke arah Kalun, dia meminta Kalun untuk mendekatnya lagi.
“Kamu sudah siap?” balas Kalun yang juga ikut bertanya. Aluna semakin tertawa keras saat mendengar pertanyaan Kalun.
Kalun kembali mendekati wajah Aluna, “Tidak fear jika aku sudah melepas semuanya, tapi kamu belum sama sekali,” kata Kalun sambil mulai menciumi bibir Aluna, kini dia memperdalam lagi ciumannya, membuat gairahnya semakin bergelora.
Aluna semakin terpingkal, saat tangan Kalun mulai masuk ke area pangkal paha Aluna. Dia baru menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan Aluna, tangannya kembali meraba ke arah sesuatu yang bisa memuaskannya, untuk memastikan jika pikirannya itu benar adanya. Dia lalu menatap tajam ke arah Aluna yang tengah tertawa lepas.
Kalun menjauhkan tangannya dari inti Aluna, dia mendengus kesal lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Aluna.
“Beginikah caramu menghukumku? Selamat kamu berhasil, karena ini sungguh menyiksaku,” tanya Kalun sambil menatap langit-langit kamar. Tapi tangan Aluna mulai menggenggam tangannya, mengatakan jika ini bukanlah kehendaknya.
“Semua sudah ada yang mengatur, aku memang kesal denganmu, tapi tidak akan tega membuatmu menderita terus-menerus,” jawab Aluna sambil memberikan pelukan hangat di tubuh Kalun yang terlentang.
“Bersabarlah, tidak akan lebih dari 7 hari,” lanjut Aluna membuat Kalun menoleh ke arahnya.
“Tujuh hari? Kenapa tidak sebulan sekalian?” kesal Kalun.
“Kamu mau satu bulan? Baiklah, akan aku catat.”
Kalun mendorong tubuh Aluna menjauh darinya, merasa kesal tapi juga ingin menikmati pelukan dari Aluna. Tapi kini Aluna justru menggodanya, membuka satu kancing atas daster motif batik yang dia kenakan.
“Mau?” katanya dengan wajah menggoda. Kalun yang melihat kelakuan Aluna membalikkan tubuh Aluna. Saat ini dia sudah duduk nyaman di lutut Aluna, dengan tubuh yang bertelanjang dada.
“Selain cantik, ternyata kamu juga licik Honey.” Kalun mencekal tangan Aluna, membawa tangan itu untuk melingkar di lehernya.
“Jika hidangan utama tidak bisa aku dapatkan, aku bisa menikmati hidangan pendampinya,” kata Kalun sambil memulai lagi aksinya, berganti dengan Aluna yang kini mulai panik menghadapi Kalun.
Kalun menarik selimutnya, bergulat di bawah selimut tebal yang ada di kasurnya, menikmati apa yang bisa dia nikmati saat ini, meski dia harus menunda lagi karena Aluna kedatangan tamu bulanan, tapi di sisi lain dia sedikit senang, karena itu berarti hormon Aluna sudah mulai kembali normal, dan setelah ini dia akan mendatangani dokter terbaik di Jakarta yang akan membantunya untuk mendapatkan kembali si utun.
💞
Jangan lupa untuk like dan vote ya kak😂🤗
__ADS_1