Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Pesawat


__ADS_3

FOLLOW IG ELLA YA REHUELLA1🙏


Terima kasih banyak yang sudah ngevote Mistake. Doaku semoga diakhir cerita, Mistake tetap di 20 besar rangking vote. Yang suka buruan vote yang banyak, terharu karena baru kali ini bisa bertahan lama. Sekali lagi terima kasih ya!🙏🤗


💞


Malam harinya. Ketika mereka semua sudah berkumpul di hotel. Erik segera meminta mereka untuk menaiki mobil yang akan mengantarnya menuju bandara. Pesawat yang Riella naiki tadi siang sudah tiba tepat waktu. Erik memintanya untuk beristirahat sejenak lalu melanjutkan perjalanannya menuju Jepang.


Tiba di bandara Adi Soemarmo. Satu persatu memasuki pesawat pribadi milik Erik. Tempat duduk sudah Erik atur sesuai dengan pasangan masing-masing. Hanya ada satu kamar mewah di dalam pesawat tersebut. Supaya adil, mereka semua duduk di kursi kabin pesawat.


Si kembar duduk di kursi paling depan, dibelakangnya ada kursi untuk Riella dan Kenzo, di belakangnya lagi ada Kalun yang kini tengah duduk berdampingan dengan Aluna. Sedangkan di kursi paling belakang, saat ini ada Ella yang tengah duduk berdampingan dengan Riella yang tengah melepas rindu dengan Ella. Erik mengusir anak perempuannya itu karena melihat Kenzo yang tengah duduk sendiri sambil menatap ke arah jendela.


“Temani suamimu sana!” kata Erik sambil menunjuk Kenzo dengan dagunya. Riella hanya memanyunkan bibirnya, tidak menyukai ucapan Erik.


“Malas Pa. Riella masih kangen Mama.” Riella memeluk erat tubuh Ella, mencari alasan supaya bisa berjauhan dengan Kenzo.


“Nggak. Sekarang temani suamimu! Kamu


akan kesusahan nanti jika mama merindukan Papa!” kata Erik yang sudah berkacak pinggang di depan anaknya.


“Ceh, nggak bosan apa? 24 jam nempel terus, aku saja yang 8 jam ketemu merasa bosan.”


“Sudah sana! Nggak usah mengatakannya pada Papa!” kata Erik sambil menarik tangan Riella menjauh dari tempat duduknya. Dengan wajah kesal Riella berjalan meninggalkan tempat duduk Erik. Dengan jahil dia menggoda Kalun yang hendak mencium Aluna. Membuat Kalun menggerutu tidak jelas karena merasa terganggu oleh sikap adiknya.


“Itu ada kamar kosong!” tunjuk Riella


dengan dagunya. “Pakai saja!” lanjutnya menggoda Kalun. Dia lalu menjauh dari Kalun karena takut kena timpuk.


“Dasar! Awas ya nanti. Kakak akan balas kamu!” umpat Kalun lalu kembali ke arah Aluna yang tengah menuliskan pesan pada papanya.


Saat pesawat hendak berangkat, Erik berjalan ke arah anak-anaknya. Mengecek satu persatu, anggota keluarganya.


“Benarkan seatbelt Luna Kal!” perintahnya sebelum pesawat lepas landas. Memperingatkan juga pada ketiga anak perempuannya.


“Pegangan pada pasangan masing-masing ya, jika belum punya pasangan jangan nangis, doanya banyakin biar jodohnya makin dekat,” canda Erik sambil menampilkan tawa jenakanya ke arah kedua anak kembarnya, yang tengah menatapnya tidak suka.


“Ken. Jaga Riella siapa tau dia oleng!” pesan Erik saat melewati kursi Riella dan Kenzo.


“Siap Pa.” Kenzo menjawab sambil


mengacungkan jempolnya ke arah Erik.


“Hei. Duduklah! Aku akan berpegangan dengan siapa jika kamu terus di sana!” teriak Ella ketika melihat Erik tidak kunjung duduk.


“Iya, Sayang. Aku hanya memastikan semua aman dulu! Barulah aku mengabarkan pada mereka untuk segera take off.”


“Lun, kalau ada apa-apa, panggil


Papa, jangan meminta tolong padanya, dia bukan dokter pasti dia tidak tahu.” Erik


berpesan pada menantunya ketika dia kembali melewati kursi Kalun.


“Siap Pa,” jawab Aluna singkat sambil tersenyum tipis ke arah mertuanya.


“Sudah sana, Papa tidur, jaga kesehatan! Jangan gangguin orang pacaran!” cibir Kalun, saat Erik masih berdiri di samping kursinya.


Erik hanya menggelengkan kepalanya, sambil berjalan ke arah Ella. Meninggalkan dua manusia itu di sana.


Kalun menatap jam di pergelangan tangannya, jam 9 malam mereka baru take off dari bandara Solo. Selang beberapa menit setelah take off Kalun tidak berkedip menatap ke arah wajah Aluna.


“Mau tidur?” tawar Kalun pada Aluna, sambil menepuk pangkuannya.

__ADS_1


“Nggak, aku selalu ketakutan sebenarnya saat naik pesawat. Makanya dari dulu selalu menghindari naik pesawat jika tidak dalam kondisi darurat.”


“Benarkah?” tanya Kalun sambil mengerutkan keningnya, “Sekarang kamu tidak perlu takut lagi? Ada aku di sini,” lanjutnya sambil meletakkan kepala Aluna di pundaknya.


“Tidurlah, kita akan beberapa jam di sini! Jika kamu merasakan sesuatu dengan perutmu katakan padaku?”


“Ya. Anak kita penurut dia tidak akan kenapa-kenapa, dia selalu mengerti aku,” ungkap Aluna sambil meletakkan tangan kanan Kalun ke perutnya mengarahkan gundukan perut yang terlihat menonjol itu.


“Sedang apa ya dia?” tanya heran Kalun sambil mencoba memikirkan sesuatu.


“Mungkin sedang bermain air ketuban, dia pasti senang berenang di sana?” ucap Kalun menjawab pertanyaannya sendiri setelah berpikir beberapa detik.


“Ya, mungkin seperti itu, apa kamu bisa membayangkannya?” tanya Aluna membuat Kalun memejamkan matanya, dia benar-benar membayangkan gadis kecil yang sangat mirip dengannya berenang di air yang tampak jernih.


“Ya. Kapan aku bisa bertemu dengannya?” tanya Kalun yang sangat terdengar antusias, bibirnya tertarik ke atas karena merasa bahagia.


“Lupa kemarin dokter Hanum bilang


apa?”


Kalun menyengir menatap ke arah Aluna.


“Dua bulan lagi kita akan bertemu


Unna,” kata Kalun berbisik.


“Unna?”


“Gimana? Baguskan?”


“Nggak kreatif?” cibir Aluna.


“Bukan nggak kreatif Sayang, tapi itu gabungan dari nama kita, dan setelah aku cari-cari lumayan juga, Kaluna itu artinya tidak ada yang lain.”


“Bukan! Bukan seperti itu! kalau bisa setelah ini kita bisa bikin lag-


“Awh …” terdengar suara rintihan


yang keluar dari bibir Aluna, memotong perkataan Kalun. Membuat Kalun langsung menatap wajah Aluna.


“Kenapa apa ini sakit? Aku bisa merasakannya, jika Una menendangmu terlalu keras. Apa mungkin dia merindukan papanya?” kata Kalun sambil mengusap lagi gundukan kulit perut Aluna yang masih terlihat menonjol, tidak lama kemudian tonjolan perut itu berpindah ke sisi sebelah samping perut Aluna, karena usapan tangan Kalun yang menenangkannya.


“Kenapa anak kita selucu ini!” kata Kalun sambil tertawa bahagia. Membuat Maura ikut mendekat ke arahnya.


“Ada apa Kak?” tanya Maura yang


sudah berdiri di depan Kalun. dia sangat kepo dengan apa yang ditertawakan


kakaknya itu.


“Nggak papa, hanya aku yang boleh


menyaksikan dan merasakan ini, kamu kembalilah ke kursimu!” perintah Kalun sambil menunjuk tempat duduk Maura.


“Pelit!”


Aluna lalu menarik tangan Maura,


dia meletakkan tangan Maura dan mengusir tangan Kalun dari atas perutnya.


“Eh, nggak boleh!” kata Kalun yang berebut menyentuh perut Aluna yang tengah bergerak semakin aktiv.

__ADS_1


“Kakak ih! Dasar! Cuma bentar kak, sana minggir dulu, aku mau menyapa keponakanku!” maki Maura sambil


mendaratkan pantatnya di celah antara Kalun dan Aluna.


“Maura! Kembali ke tempat dudukmu Nak!” terdengar suara peringatan dari Erik, ketika mendengar keributan di kursi depannya.


“Lima menit Pa,” mohon Maura sambil menatap ke arah Erik.


“No no no! Kembalilah!” peringat Erik


sambil mengacungkan telunjuknya.


“Besok masih bisa, biarkan kakak iparmu istirahat!” kata Erik sambil menatap penuh ancaman ke arah Maura. Membuat nyali Maura menciut karena rasa patuh pada papanya.


“Sana cebret!” kata Kalun mengolok adiknya, dia lalu kembali focus dengan Aluna yang menggelengkan kepalanya ke arahnya.


“A’” panggil Aluna setelah Maura pergi dari hadapannya, dia memeluk pinggang Kalun meletakan kepalanya di lengan Kalun. Kalun hanya merespon dengan ciuman di rambut hitam Aluna, menciumi aroma zaitun yang ada di rambut Aluna.


“Kenapa?” tanya Kalun lirih.


“Aku lapar!”


Kalun sedikit tidak percaya dengan ucapan Aluna, “Tadi baru saja makan loh, dan tadi makanmu juga nggak sedikit, Sayang! Apa ada yang salah?” heran Kalun setelah tadi mengingat perut Aluna yang sudah kemasukan beberapa jenis makanan.


Aluna merengek seperti anak kecil, saat mendengar ucapan Kalun yang seperti tidak percaya dengan apa yang dia rasakan.


“Mau makan apa?” tawar Kalun yang akhirnya mengalah.


“Makan kamu!”


“Jangan memancing! Ini di pesawat!”


“Iya, dia merindukanmu.” Aluna mulai


menggoda Kalun, dengan meletakkan bibirnya di lengan Kalun. Dia menggesekan bibirnya di lengan Kalun yang tidak tertutup kemeja. Cukup lama dia melakukan itu, hingga telapak tangan Kalun menjauhkan dari bibirnya.


“Aku tidak kuat!” ucap Kalun sesaat kemudian, sambil meletakkan tangannya di tengkuk Aluna. membuat Aluna terpingkal, karena merasa aneh dengan wajah Kalun.


“Kamu harus paham Sayang, dengan melihat lidahmu menyapu bibirmu saja aku sudah harus menahannya dengan sekuat tenaga, apalagi melihatmu seperti ini! Aku nyerah biarkan papa berkata apa, yang penting aku bahagia!” kata Kalun sambil menggedong tubuh Aluna menuju ke dalam kamar.


“Pa, sewa satu malam kamarnya ya!”


ucap Kalun ketika melewati Erik dan Ella saat hendak menuju kamar, dengan Aluna yang menyembunyikan wajahnya di depan dada Kalun.


Erik yang tadi menatap layar ponselnya, menaikkan alisnya demi menatap dengan jelas apa yang dilihatnya.


“Dasar! Jangan sampai mengotorinya!”


“Nggak! Hanya akan meninggalkan


sedikit aroma klorin,” kata Kalun yang diakhiri suara tawa khasnya. Dia lalu membawa Aluna masuk ke dalam kamar.


Setelah berada di dalam kamar mewah yang ada di pesawat tersebut, Aluna menahan tangan Kalun yang hendak membuka kancing dressnya, “Eh, anak gadis kita tidak jadi memakanmu! Dia ingin kamu memijatnya di sini,” kata Aluna sambil menunjuk pinggangnya. Kalun menatap tajam ke arah Aluna.


“Permainan apa ini, Sayang? Aku akan


berbicara padanya,” kata Kalun sambil berjongkok di depan perut Aluna, berbicara di depan perut Aluna, merayu anaknya, seolah anaknya itu bisa menjawab ucapannya.


“Bagaimana, apa dia sudah mau bertemu denganku?”


Aluna menggeleng pelan sambil menampilkan senyumnya. Membuat Kalun yang kelelahan berjongkok segera merebahkan tubuhnya di ranjang yang ada di pesawat tersebut. Disusul Aluna yang meletakkan kepalanya di dada bidang Kalun. Dia memejamkan matanya di sana, merasa aman dalam dekapan dan aroma tubuh Kalun yang dia hirup.

__ADS_1


💞


Like dan vote jangan lupa👍🤗


__ADS_2