Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Tanpa Pamit


__ADS_3

Aluna tiba di kantor EL Group, dia terus melihat jam yang melingkar di tangannya. Tatapannya sesekali menjurus ke arah pintu masuk, dia menanti kehadiran suaminya yang sejak pagi tidak dia temui.


Kakinya sudah dia goyangkan-goyangkan, demi mengusir rasa khawatir yang dia rasakan saat ini. Aluna juga sudah tidak sabar menemui suaminya pagi ini, dia ingin melihat reaksi Kalun, ketika dia memberitahu padanya, jika dia tengah hamil.


Sekian lama menunggu tidak segera melihat Kalun, dia akhirnya menyerah dia berjalan menuju lift yang akan membawanya ke ruangan kerjanya. karena jam kantor juga sudah masuk 30 menit yang lalu,


Saat tiba di ruangannya, tatapan rekannya terus menatap tajam ke arahnya. Dia heran dengan mata rekannya yang tidak seperti biasanya, mereka seperti memendam rasa benci terhadap dirinya. Tapi Aluna sudah terbiasa menerima tatapan seperti itu. Tatapan mereka mengingatkannya pada ibu tirinya yang sering mentapnya seperti itu.


“Kalau mau jadi ******* jangan di sini dong!”


Aluna mendengar suara tidak menyenangkan itu, dia menoleh kepemilik suara sumbang tersebut. Dia tidak tahu, apakah wanita itu tengah berbicara dengannya atau tidak!


“Iya deh. Goda-godain atasan abis itu ngrebut dia dari tunangannya. Rusak sudah, harga diri perempuan, dasar pelakor!” ucap wanita yang dulu pernah beberapa kali menjumpai Aluna. Wanita itu sebenarnya tidak satu devisi dengannya, tapi dia juga tidak tahu kenapa dia berada di ruangannya pagi ini.


“Bisa diam nggak sih kalian berdua! Punya mulut dijaga ya, sebelum kalian kena getahnya sendiri!” peringat Renata yang sudah emosi, tagan kanannya sudah menunjuk ke arah kedua perempuan yang tidak jauh dari kursinya.


Aluna hanya tersenyum tipis, saat mendengar pembelaan dari sahabatnya. Dia lalu menepuk pundak Renata, mencoba menenangkan emosi Renata. Dia mendudukkan dirinya di kursi kerjanya, setelah Renata sedikit lebih tenang.


“Apa dia berbicara padaku, Ren? Aku bahkan tidak mendengar apa yang dia ucapkan tadi, jadi kamu jangan buang tenagamu untuk meladeninya,” balas Aluna sambil tersenyum menang ke arah dua wanita tersebut.


Kedua wanita itu sudah menatap kesal ke arah Aluna. Wanita bernama Belinda itu sudah mencekram jari-jarinya. Meluapkan kesalnya di sana dengan remasan erat di kemeja yang dia kenakan.


“Kenapa kamu di sini Bel? Keluar sana!” usir David yang baru saja memasuki ruangannya.

__ADS_1


Aluna hanya menampilkan wajah mengejeknya ke arah Belinda. Dia bahkan berani menjulurkan lidahnya ke arah Belinda, yang tengah emosi tersebut.


“Luna!”


Aluna gelagapan ketika mendengar suara panggilan yang keluar dari mulut David. David berjalan ke arahnya, membuat Aluna tidak nyaman karena tatapan David yang tajam.


“Ini peringatan terakhir untuk kamu, jangan lagi terlambat! Dan aku beritahu padamu jika izinmu sudah habis! Jika kamu izin lagi, kamu akan dirumahkan selamamya!”


Aluna menunduk sambil meremas ujung blazer yang dia kenakan, dia bodoh hampir saja menyia-nyiakan kesempatannya untuk bekerja di perusahaan impiannya ini. Dia berusaha keras untuk menatap ke arah David.


“Ba-baik Pak.” Aluna menampilkan senyum palsunya pada atasannya tersebut. Dalam hatinya takut jika dia akan kehilangan pekerjaanya yang sekarang, jadi dia hanya bisa menurut dengan atasannya tersebut.


David lalu kembali ke meja kerjanya, membuat Aluna bernafas lega. Dia lalu menatap Renata yang tengah sibuk menertawainya.


Aluna melirik ke arah David yang tengah serius menatap layar komputernya. Dia ingin sekali mendatangi ruangan suaminya. Siapa tahu, tadi suaminya datang tepat waktu. Jadi dia tidak bertemu dengannya. Aluna lalu berdiri, mamantapkan tekadnya, dia berjalan mendekat ke arah meja David yang lima meter darinya.


“Apa ada berkas yang harus saya sampaikan pada Pak Kalun, Pak?” tanya Aluna yang sudah berdiri di depan David. David yang mendengar ucapan Aluna, langsung menatap ke arah Aluna, dia menaikkan kaca matanya yang tadi sedikit melorot.


“Ada! Tapi bukan untuk Pak Kalun. Berikan ini pada Pak Doni!” jawab David sambil memberikan file ke tangan Aluna.


Aluna mengangguk, dia merasa senang, saat mendapatkan tugas dari David. Dia berpikir ingin segera bertemu suaminya karena ruangan Doni tidak jauh dari ruangan Kalun. Aluna berjalan cepat ke arah lift. Dia sudah tidak sabar untuk memberitahu Kalun saat ini. Ntah apa keputusan suaminya, yang penting dia akan memberitahukan jika dia hamil.


Aluna segera keluar ketika pintu lift terbuka, dia menatap ke arah Doni dari kaca transparan, Doni tengah sibuk dengan file di meja. Pekerjaannya kini bertambah dua kali lipat, setelah Kalun keluar dari keluarga Ramones.

__ADS_1


Aluna mengetok pintu ruangan Doni, dia segera berjalan masuk ketika mendengar sautan dari dalam ruangan. Dia mendekat ke arah Doni, ingin menanyakan keberadaan Kalun, sambil menyerahkan file yang ada di tangannya.


“Di mana Pak Kalun?” tanya Aluna. Membuat lelaki di depannya itu yang tadinya menunduk dia langsung menatap Aluna. Doni diam memikirkan alasan yang tepat untuk memberitahu Aluna.


“Apa Pak Kalun tidak memberitahu Nona Luna? Dia sedang di Kalimantan untuk menyelesaikan tugasnya.”


Jawaban Doni membuat dia langsung mencari ponsel yang ada di kantong blazernya. Dia segera mencari nama suaminya di phonebook ponselnya. Dia mencoba berulangkali untuk menghubungi Kalun. Namun, yang ada Kalun tidak menjawab panggilannya, hanya suara celotehan dari operator.


“Bagaimana dia bisa meninggalkan aku?” Aluna emosi saat tidak mendapat jawaban dari Doni.


“Kenapa juga tidak berpamitan denganku!” gerutunya sambil menempelkan ponsel di telinganya kembali.


“Pak Kalun buru-buru Non, jadi dia tidak sempat berpamitan,” jelas Doni yang langsung mendapatkan tatapan dari Aluna. Dia benci disebut dengan nama itu, tapi assistan suaminya itu masih saja memanggilnya dengan nama tersebut.


“Nanti tetaplah makan siang di depan Non, ajak Renata untuk menemani Nona!” pesan Doni sebelum Aluna menutup pintunya kasar. Aluna sudah kesal dia langsung pergi meninggalkan ruangan Doni saat tidak bisa bertemu dangan Kalun.


Aluna emosi karena Kalun tidak mengangkat panggilannya. Padahal dia akan memberitahu Kalun jika dia mau menerima dia. Dia akan menemani Kalun melewati semua ini bersamanya. Tapi yang ada, suaminya itu bahkan pergi tanpa berpamitan maupun memberi kabar padanya.


Aluna kembali ke ruangannya, setelah dia menyelesaikan tugasnya, dia menyerahkan kembali file tersebut pada David. Setelah itu dia kembali bekerja sambil menunggu jam istirahat tiba. Dia sudah menawarkan pada Renata untuk pergi makan siang bersama, ketika nanti jam istirahat tiba. Dan Renata menyetujui tawaran Aluna dan segera menjalankan apa yang diperintahkan oleh Doni padanya hari ini.


👣


Jangan lupa untuk like dan vote👍😊

__ADS_1


__ADS_2