Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Kalun Yang Jahil


__ADS_3

“Kamu di sini?” tanya Aluna keheranan ketika keadaanya sudah lebih baik.


Lelaki itu tersenyum ramah ke arah Aluna lalu memberikan sapu tangannya untuk menyeka mulut Aluna.


“Usap bibirmu! Atau mau aku bantu sini?” tawar Ferdi ketika Aluna tidak segera menerima uluran sapu tangannya.


“Tidak perlu, aku pakai tisu saja,” tolak Aluna cepat, lalu manarik tisu yang tidak jauh darinya.


“Ngapain kamu di sini?” tanya Aluna penuh selidik.


“Aku salah satu teman dari mempelai,” jawab Ferdi sambil memasukkan lagi sapu tangannya. Lalu kembali menatap lekat wajah Aluna.


“Kamu cantik malam ini,” puji Ferdi sambil menatap Aluna, “Kamu di sini sendiri?” lanjutnya bertanya.


Aluna masih diam sambil menampilkan senyum kecutnya, dia lalu mengedarkan pandangannya ke arah Kalun yang tengah sibuk mencari sesuatu, sambil menempelkan ponsel di telinganya. Mata Aluna bertemu dengan Kalun yang terlihat kebingungan mencari sesuatu.


“Nggak aku dengan suamiku,” jawab Aluna yang belum beralih memperhatikan Kalun.


“Suami? Heh,” decak Ferdi sambil mengalihkan tatapannya dari Aluna. Lalu tersenyum kecut ke arah lain.


“Dari dulu juga kamu tidak mau mengenalkannya padaku, apa ini hanya skenariomu untuk menghindariku?”


“Nggak. Aku tidak pandai berakting, bahkan tidak pandai membuat scenario drama, dan aku betulan sudah memiliki suami,” jawab Aluna sambil menatap Ferdi ketika langkah


kaki Kalun mulai menghampirinya.


Kalun yang merasa khawatir mendekat ke arah Aluna, dia langsung menghambur memeluk Aluna, tidak mempedulikan berapa banyak orang memperhatikan kelakuannya, dia hanya ingin menguapkan rasa khawatir yang tadi menyerangnya.


“Kamu kemana saja? Aku mencarimu, ponselmu juga tidak bisa dihubungi, aku mengkhawatirkanmu,” tanya Kalun dengan sedikit marah, membuat Ferdi yang mendengar suara Kalun langsung menoleh ke arahnya.


Ferdi menatap lekat ke arah Kalun, memperhatikan dengan jelas detail wajah Kalun.


“Hai Fer, kenalkan dia suamiku,” kata Aluna dengan bangga, sambil mengenggam tangan kiri Kalun.

__ADS_1


Kalun menatap ke arah lelaki di depannya, dia baru menyadari jika istrinya tidak sendiridi sini. Aluna bersama lelaki lain yang belum pernah dia temui. Kalun mengulurkan tangannya ke arah Ferdi, disambut ramah oleh tangan Ferdi, yang mencekramnya erat.


“Ferdi.” Ferdi segera melepaskan tangannya, tapi matanya masih menatap ke arah Kalun.


“Kalun.”


“Apa kita pernah bertemu?” tanya Ferdi yang membuat Kalun mengerutkan dahinya mencoba mengingat wajah Ferdi.


“Sepertinya belum ya? Et tunggu, apa Anda pernah mengalami kecelakaan?” lanjut Ferdi menimpali Kalun dengan pertanyaan lagi. Kalun menggelengkan kepalanya, menjawab pertanyaan Ferdi.


“Kalian belum pernah bertemu, Ferdi baru saja pulang ke Jakarta, dan aku rasa kamu tidak mengenalnya, mengingat kegiatanmu yang begitu padat, “ goda Aluna, sambil menatap ke arah mereka berdua secara bergantian.


Tapi tatapan Ferdi masih belum berakhir menatap mata Kalun , seolah dia pernah


melihat Kalun. Tapi dia lupa pernah melihatnya di mana?


“Fer,” panggil Aluna menyadarkan lamunan Ferdi.


“Emmm, yah. Maaf aku hanya mengingat sesuatu? Mungkin aku pernah melihatnya di televisi, sepertinya suamimu seorang pengusaha tersohor.”


Aluna tertawa lirih, “Iya, dulu kita sering bertemu Sayang, dia adiknya Fandi. Mantan calon suamiku.” Aluna menjelaskan pada Kalun, membuat air muka Kalun yang tadi ramah langsung berubah drastis, ada rasa khawatir di sana. Kalun lalu berniat membawa Aluna pergi menjauh dari Ferdi.


“Kita ke sana dulu,” pamit Kalun yang langsung diangguki oleh Ferdi. Mereka berdua segera meninggalkan Ferdi, menjauh dari keramaian pesta.


“Sayang kenapa buru-buru sih?” tanya Aluna, yang mengikuti langkah kaki Kalun.


“Kenapa kamu menemuinya? Aku tidak suka kamu menemui lelaki itu.” Kalun melepaskan tangannya ketika mereka berdua berada di tempat yang terlihat


sepi.


“Ada apa denganmu? Kenapa jadi marah-marah denganku? Dia cuma adiknya Fandi. Bukan Fandi Sayang, kamu tidak perlu khawatir,” goda Aluna yang semakin membuat Kalun memperjelas rasa cemburu dan khawatirnya.


“Terus ya? Kamu ngapain juga menemuinya?”

__ADS_1


“Aku perjelas ya! Aku tidak sengaja bertemu dengannya, saat aku berada di


sana, aku sudah bilang padamu jangan jauh-jauh dariku, aku tidak mengenal siapapun di sini, tapi yang ada apa? Kamu justru meninggalkan aku, kamu hanya peduli dengan mereka,” kata Aluna sambil menunjuk pemilik pesta dengan ekor matanya.


“Sudahlah, kita pulang saja. Memang dari awal, harusnya aku tidak berada di sini.” giliran Aluna yang marah, dia berjalan lebih dulu meninggalkan Kalun yang masih


terdiam di tempatnya semula. Dia heran kenapa Kalun marah-marah dengannya, yang lagi datang bulan dia bukan Kalun, tapi kenapa justru hormon Kalun yang


meningkat drastis, nggak mungkin juga kan mestruasi simpatik? Aluna menunggu Kalun


di mobil, saat tiba di depan mobil, Aluna melihat Doni yang tengah menunggu mereka berdua.


“Panggil bosmu sekarang, atau aku akan naik ojek saja,” perintah Aluna sambil menutup pintu mobil dengan kasar. Membuat Doni merasa ketakutan karena sepertinya Aluna tengah marah besar pada bosnya.


Namun, ketika doni membalikkan tubuhnya, dia melihat Kalun yang berjalan ke arah mobilnya.


“Perlu saya antarkan Pak?” tawar Doni saat Kalun melewatinya.


“Nggak perlu, aku bisa pulang sendiri.” Kalun terus berjalan tanpa mempedulikan perkataan Doni yang kembali terdengar. Dia lalu masuk ke dalam mobil, melihat Aluna yang sudah memasang wajah marahnya.


“Ada apa denganmu? Jangan marah-marah terus seperti ini? Harusnya aku yang marah padamu? Karena kamu bertemu lelaki lain,” kata Kalun sambil mulai menyalakan mobilnya.


“Kamu mau marah denganku, silahkan saja! Aku tidak peduli kamu mau marah atau tidak, aku lelah ingin segera pulang ke apartemen,” kata Aluna yang tidak ingin menatap ke arah Kalun.


“Apa tidak terlalu sayang, jika kamu pergi berdandan lama-lama, tapi hanya sebentar saja kamu bisa menikmatinya, hum?” tanya Kalun lalu segera melajukan pelan mobilnya.


Jalanan sudah tampak lenggang berbeda ketika mereka berangkat ke gedung pesta tadi, Kalun tidak melajukan mobilnya ke arah apartemen, tidak pula ke rumah mamanya, malam ini dia membawa Aluna ke arah tempat biasa dia balapan mobil, sudah lama Kalun tidak mengunjungi tempat yang biasa dia jadikan untuk meluapkan emosinya. Tapi ketika mereka berdua sampai di sana, tidak ada satupun rekannya yang datang. Hampir tidak ada yang lewat sama sekali lokasi tersebut.


“Mau mencoba denganku? Aku pastikan setelah ini kamu akan  membuang wajah jelekmu itu.” Kalun mulai menginjakkan kakinya di atas pedal gas mobilnya, setelah tadi berhenti di garis start. Membuat Aluna mengontrol sendiri seatbelt yang menempel di tubuhnya, memastikan jika seatbeltnya sudah terpasang dengan benar. Aluna berteriak tidak jelas ketika mobil yang ia tumpangi melaju dengan kencang. Kalun bahagia ketika melihat wajah ketakutan Aluna.


“Seru kan?” teriak Kalun sambil menoleh sebentar ke arah Aluna yang sudah memperlihatkan wajah pucatnya.


“Stop,” lirih Aluna sambil memukul pelan lengan Kalun. Kalun masih belum mengalah, hingga tiba di pertengahan sirquit Kalun baru menghentikan mobilnya. Kalun menatap lekat Aluna yang hendak mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya. Dia justru tersenyum menang sudah membuat Aluna mabuk daratan. Kalun jadi teringat ketika dia pernah melakukan hal yang sama pada Aluna, ketika dia melihat Aluna bertemu dengan Samuel.

__ADS_1


> >>>


__ADS_2