
Saat malam tiba, aku menyesali karena sengaja meninggalkan ponselku. Aku yakin Aluna mengkhawatirkanku malam ini. Kayra yang sudah tersadar menoleh ke arahku. Dia bercerita lagi tentang kehidupannya selama di London. Dia meminta maaf padaku, aku bisa melihat ketulusan dari sorot matanya. Dia meminta maaf karena sudah menyiakan-nyiakan aku, menduakan aku dan ternyata hanya aku kini yang berada di sampingnya. Dia seperti menyampaikan pesan-pesan terakhirnya untukku. Memintaku untuk tidak mengecewakan Aluna. Meski hubungan kami diawali karena kesalahan.
“Lebih baik diawali kesalahan dan berakhir bahagia, dari pada kita diawali bahagia tapi diakhiri dengan air mata, maafkan aku Kal,” ujarnya terbata, aku masih mengingat perkataannya itu. Karena aku juga membenarkannya.
“Kal, aku ingin menikah, menggunakan baju pengantin yang cantik. Apa kamu mau menikahiku?”
Aku tersenyum saat mendengar permintaannya. Aku menggelengkan kepalaku cepat, dan dia bisa membalasnya dengan senyuman tipis. Dia lalu memejamkan matanya. Aku pun menunggunya hingga pagi datang.
Semalam aku tidak pulang ke rumah, aku yakin Aluna akan semakin membenciku. Tapi aku punya janji dengannya malam ini dan aku berniat ingin menjelaskannya pada Aluna malam nanti. Setelah aku berhasil mengumumkan statusnya sebagai istriku. Aku bisa melihat senyumnya yang kembali terukir dari bibirnya. Senyum yang tidak aku lihat dua hari ini selama berada di rumah sakit.
Akhirnya dia mau menggunakan baju pemberianku yang sangat serasi denganku itu. Dia terlihat cantik malam ini, aku justru khawatir akan ada lelaki yang akan mendekatinya ketika dia jauh dariku.
Namun, ketika hendak memasuki gedung ponselku kembali berdering. Telepon dari mbak Fitri kembali membatalkan rencanaku malam ini. Bahkan aku pergi tanpa berpamitan pada Aluna. Ketika aku tiba di rumah sakit, aku melihat tante Viona di sana, dia menangis di samping ranjang Kayra.
Aku sedikit terkejut ketika melihat tante Viona di sana. Bukan tidak suka, aku justru bersyukur ada orang lain yang memperhatikan kondisi Kayra. Aku membiarkan tante Viona menemani Kayra malam ini, dan aku akan menunggunya di kursi depan kamar Kayra.
Ponselku kembali berdering. Video berdurasi hampir 5 menit itu membuat air mataku menetes dengan sendirinya. Aku mengucapkan kata maaf berulang kali, saat mendengar suara merdu Aluna. Aku segera menutup ponselku, setelah mendengar suara kaki berlarian menuju kamar Kayra. Dokter berkata jika denyut nadi Kayra melemah. Aku segera ikut masuk ke ruangan tersebut. Turut menenangkan Kayra dan tante Viona.
__ADS_1
“Kal kita nikah ya? Hanya itu permintaanku.” Aku binggung akan menjawab apalagi. Aku hanya mampu menganggukan kepala menyetujui permintaanya. Dia pun bisa tersenyum lega setelah mendengar jawaban dariku.
“Aku akan menyiapkan semuanya, kita hanya perlu memanggil pak uztad saja untuk menikahkan kalian,” kata tante Viona yang mendengar jawabanku.
Kulihat mereka semua menyiapkan baju pengantin dan dekorasi untuk pernikahanku dengan Kayra. Dalam hatiku menyesali jawaban yang baru saja terucap dari bibirku, bagaimana aku nanti akan menjelaskan pada Aluna. Aku menjatuhkan tubuhku di kursi tunggu ruang tunggu. Menyembunyikan wajahku di telapak tangan.
Dua jam berlalu, semuanya sudah siap untuk acara pernikahanku yang ke dua kalinya. Kayra yang terkulai lemah tidak lagi mampu untuk mendudukan tubuhnya lagi. Dia hanya bisa tersenyum ke arahku saat aku memasuki kamarnya.
Pak uztad yang diundang tante Viona sudah tiba, dia melihat ke arahku lalu bergantian ke arah Kayra, yang tengah terbaring di ranjang dengan alat bantu pernafasannya.
Lelaki seumuran papa itu menghampiriku, menanyakan apa benar aku akan menikahi wanita yang saat ini terbaring di ranjang. Cukup lama aku terdiam, memikirkan apa yang akan aku lakukan saat ini. Haruskah aku meminta izin pada Aluna malam ini? Aku hendak menghubungi Aluna tapi panggilan tante Viona memaksaku untuk segera mendekat ke arah brankar. Kayra memanggilku lirih, meminta maaf padaku lagi, hatiku sedikit perih melihat Kayra seperti itu. Aku memang membencinya, tapi aku tidak bisa melupakan kenangan masa indahku dengannya, setidaknya hampir seluruh umurku saat ini, Kayra selalu mewarnai hidupku.
Pernikahan itu belum sempat terjadi, di saat semuanya sudah siap, hanya tinggal mengucapkan ijab qobul Kayra sudah lebih dulu meninggalkan dunia ini, mataku berkaca-kaca saat melihat Kayra menhembuskan nafas terakhirnya.
“Tante sabar ya, Kayra sudah tidak merasakan sakit lagi, doakan Kayra supaya bisa mendapat tempat terbaik di siainya,” ujarku menenangkan tante Viona.
Kulihat ke arah jam yang ada di pergelangan tanganku, Kayra pergi tepat pukul 2 dini hari. Saat itu pula, aku mulai mengurus semua proses pemakaman Kayra mengingat papanya masih berada di dalam penjara dan dia hanya mempunyai satu adik perempuan, yang usianya masih remaja.
__ADS_1
Saat ini aku sudah berada di rumah tante Viona dia yang meminta supaya Kayra dibawa ke sana lebih dulu sebelum dikebumikan. Aku juga mengabari papa dan mama supaya datang ke acara pemakaman Kayra. Setidaknya untuk melihat Kayra yang terakhir kalinya. Banyak sahabatku yang terkejut saat aku memberitahu jika Kayra sudah tiada
"Kita sudah tidak bisa menemui Kayra lagi," kataku pada mereka.
Aku berjalan menemui mereka, menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya dengan Kayra, mereka pun menyayangkan sikap keluarga Kayra yang beberapa bulan menelantarkannya.
Setelah aku menjelaskan pada mereka, aku kembali masuk ke dalam rumah tante Viona, melihat lagi tubuh Kayra yang sudah berbalut kain putih. Mungkin ini untuk yang terakhir kalinya aku melihatnya.
“Maafkan aku juga jika selama kamu berada di sampingku, aku pernah menyakitimu, disengaja maupun tidak disengaja,” kataku sambil membalikkan tubuhku. Namun, aku terkejut ketika mendapati Aluna berada 3 meter dariku. Dia menghampiriku yang tengah menatapnya lekat.
“Kamu di sini?” tanyaku saat dia berjalan mendekat ke arahku, tatapannya tajam ke arahku. Aku tahu dia kecewa padaku saat ini. Aku akui aku bersalah padanya. Apalagi dengan kejadian semalam yang pergi tanpa berpamitan.
Aku mencoba meraih pinggangnya, tapi tangannya dengan cepat menghempaskan tanganku. Dia justru mendekat ke arah jenazah Kayra yang terbaring di sana. Kulihat dia mendekati wanita yang beberapa hari memintaku untuk menemaninya. Aku menoleh ke belakang melihat papa dan mamaku. Aku berikan senyum kecut pada mereka, setelah mereka menggolokku dengan isyarat tangan.
Aku kembali menghampiri Aluna, membawanya duduk di sampingku saat ini sambil menunggu acara pemakaman. Kulihat wajahnya sedikit pucat pagi ini. Mungkin dia kurang beristirahat, memikirkan aku lagi yang tidak pulang ke rumah. Aku membawa tangannya untuk kugenggam. Alhamdulillah ucapku dalam hati. Dia tidak marah lagi? Aku pun menautkan jemariku di jemarinya. Mengeratkan lagi tanganku. Aku bisa merasakan nafasnya yang mulai mendekat di belakang telingaku.
“Surat cerai sudah aku tanda tangani!” lirihnya yang membuat aku menoleh ke arahnya. Memintanya untuk menjelaskan arti ucapan yang baru saja keluar dari bibir mungil tersebut.
__ADS_1
“Ya, aku sudah menandatanganinya!” ucapnya lagi sambil beranjak pergi meninggalkan aku.
Jangan lupa untuk like dan vote ya.😍👍