
Aluna mengambil jaketnya, setelah selesai mencuci muka. Dia berjalan mendekat ke arah pintu masuk kamarnya, untuk mencari keberadaan Kalun, siapa tahu suaminya itu tengah berjalan-jalan di taman, yang ada di depan gedung.
Aluna memutari taman yang tidak begitu besar itu, dia terus gelisah karena tidak mendapati tubuh tegap suaminya. Tangannya sudah tidak bisa berhenti, terus bergerak demi mengusir perasaan yang ada di harinya. Merasa sia-sia, ia lalu duduk di tepi air pancuran yang ada di tengah-tengah taman matanya terus mengedarkan ke segala arah mencari suaminya.
“Sayang! Kenapa di sini?” suara Kalun terdengar dari belakang tubuh Aluna.
Aluna segera membalikkan tubuhnya saat dia mendengar suara lelaki yang dikenalnya, dia berjalan mendekat ke arah Kalun yang tengah membawa paperbag di tangannya. Aluna memeluk erat tubuh suaminya, membuat Kalun mengernyit, melihat ulah Aluna yang sedikit possesif dengannya.
“Ada apa?” tanya Kalun yang sudah melepas pelukannya. Dia menatap wajah Aluna yang bersemu merah, mendongakkan kepala istrinya yang menunduk karena malu. Kalun memberikan senyum tipisnya, saat melihat mata Aluna yang sudah berkaca-kaca.
Aluna menarik tangan Kalun, ia membawanya masuk ke dalam kamar yang tidak jauh dari posisinya sekarang. Dia mendudukan Kalun ke tepi ranjang. Kalun tersenyum manis ketika menatap wajah Aluna yang kesal.
“Ada apa? Jelaskan padaku apa yang kamu inginkan? Aku tidak tahu kenapa sikapmu berubah seperti ini. Apakah wajar, jika wajar aku menyukainya!”
Aluna benar-benar kesal dengan suaminya. Bibirnya mungilnya kini sudah maju ke depan. Membuat Kalun semakin gemas ingin segera melum*tnya.
“Jangan tinggalkan aku!” peringatnya lembut, yang berdiri di depan Kalun. Kalun yang duduk di tepi ranjang meraih pinggang Aluna dan mendekatkan perut Aluna ke depan wajahnya. Dia mencium lebut perut Aluna yang masih terlihat datar itu.
“Aku tidak akan meninggalkan kalian. Aku hanya mencari baju ganti untukmu!” ucapnya sambil mendongakkan wajahnya sendiri menghadap Aluna.
Perlakuan Kalun membuat wajah Aluna memerah hebat, dia bertambah malu karena Kalun menatapnya lekat, jika ada lorong waktu dibawahnya, dia rela dibawa ke 100 tahun yang lalu. Tapi kini ia membalas memeluk kepala Kalun, agar suaminya itu tidak lagi menatapnya.
Cukup lama mereka berpelukan, hingga Aluna menyadari jika dirinya belum mandi, dia lamgsung melepaskan pelukkannya. Dia malu dengan aroma tubuhnya yang sedikit bau saat ini. Padahal Kalun menyukainya, dan dia tidak tahu itu.
“Aku mandi dulu!” ucapnya yang menghidar dari pelukkan Kalun. Secepat kilat Kalun kembali menarik pinggang Aluna. Dia masih nyaman dengan posisi seperti ini, mendengarkan detak jantung Kaluna, bisa memberikan terapi sendiri untuknya.
“Aa’.” Aluna berontak mencoba kembali melepaskan pelukan Kalun karena dia tidak percaya diri dengan aroma tubuhnya.
“Kita mandi bersama!” ucap Kalun yang sudah berdiri.
Aluna kesusahan menutup mulutnya, saat mendengar permintaan Kalun, dia mematung, saat Kalun meninggalkannya. Aluna menarik nafas panjang dan membuangnya pelan, dia takut Kalun jika akan menyerangnya, karena sejujurnya dia khawatir dengan kondisi si utun yang kata dokter sedikit lemah.
Kalun mengeluarkan lagi kepalanya, dia menengok dari pintu kamar mandi ke arah Aluna, melihat istrinya yang belum bergerak dari tempatnya tadi. Dia lalu kembali ke kamar, mengangkat tubuh Aluna yang kecil. Membuat Aluna terkejut dan mengeluarkan jeritan kecil dari bibirnya, karena Kalun yang mengagetkannya.
__ADS_1
Saat tiba di kamar mandi Kalun meletakkan Aluna di bathup yang sudah berisi air hangat. Kalun Tidak melepas baju yang Aluna kenakan karena sejujurnya dia takut akan tergoda. Tergoda akan menikmati tubuh Aluna pagi ini. Dia juga takut jika akan melukai si utun jika dia menyentuh Aluna.
Aluna menatap wajah Kalun, yang duduk berjongkok di samping bathup, tangannya membasahi baju Aluna dengan air hangat.
“Apa yang kamu sembunyikan dariku A’? aku merasa ada yang kamu pikirkan sejak semalam?” tanya Aluna yang melihat wajah Kalun terlihat sering melamun.
“Nggak ada yang aku sembunyikan. Cepat mandi!” perintahnya sambil membasahi seluruh rambut Aluna.
“A’ aku istrimu. Apa tentang Kayra?”
Kalun memikirkan ulang niatnya menceritakan tentang Kayra pada Aluna. Dia juga tidak mau jika Aluna ikut stres memikirkan masalahnya.
“Jangan terlalu banyak berfikir, kasihan si utun nanti kamu ikut stres.” Kalun menjauh dari Aluna, dia berdiri meninggalkan Aluna menuju kamarnya, supaya Aluna segera menyelesaikan mandinya.
Aluna menggelengkan kepalanya ketika melihat Kalun yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Dia segera menyelesaikan mandinya, dan melanjutkan introgasinya pada Kalun. Dia meraih lalu berjalan meraih paperbag yang ada di meja wastafle, dia mengerutkan keningnya, saat melihat baju yang dibelikan Kalun, terlihat baju bukan merk terkenal, tapi dia menyukainya karena ini warna kesukaanya. Dia lalu memakai dress selutut bewarna peach yang dibelikan Kalun pagi ini.
Aluna kini sudah berada di depan Kalun, menatap Kalun yang tengah memainkan ponselnya.
“Kenapa? Gitu amat lihatnya?”
“Nggak ada!” jawabnya singkat sambil berjalan menjauh dari posisi duduk Aluna.
“Berapa lama kamu akan menyembunyikan masalahmu A' apa kamu hanya menganggap aku pajangan saja! Heh, jangankan pajangan! Kamu mengakui aku sebagai istrimu saja belum!”
Kalun menatap Aluna, dia berpikir jika istrinya itu sudah mengetahuinya, apa masalahnya Saat ini.
“Apa kamu akan pergi meninggalkan aku, setelah tahu aku dicoret dari keluarga Ramones?”
Aluna tersenyum kecut ke arah Kalun. Tatapannya menatap ke wajah Kalun yang tidak lagi menatapnya.
Jadi ini yang membuat kamu melamun terus? ucap Aluna dalam hati. Dia menggelengkan kepalanya pelan.
“Apa kamu berpikir aku mencintaimu karena kamu keturunan siapa? Bahkan aku tidak tahu siapa kamu sebelum aku menikah denganku.”
__ADS_1
“Tapi aku nggak bisa memenuhi keinginanmu Lun, kita akan hidup pas-pasan, jika kamu tetap bersamaku, kamu akan kesusahan,” jelas Kalun sambil menangkup wajah Aluna, dia menjelaskan arti dari yang dia katakan tadi, meski dia tidak ingin berpisah dengan Aluna, tapi dia juga tidak ingin melihat Aluna ikut hidup susah bersamanya. Kebahagiaan Aluna adalah nomor satu untuknya, apalagi dia hamil anaknya yang jelas-jelas itu anak kandungnya.
Aluna tersenyum, sambil menatap dalam mata Kalun yang dekat dengannya.
“Kita hadapi berdua lebih baik, dari pada aku harus berpisah denganmu! Sebenarnya bukan aku, tapi si utun yang akan merindukanmu,” jelas Aluna.
“Apa kamu yakin?”
“Jadi ini alasanmu, kenapa semalam tidak jadi menginap di hotel mewah itu, karena uangmu tidak cukup untuk membayarnya?” selidik Aluna, membuat Kalun melepaskan tangannya.
Kalun menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan jari telunjuknya, dia malu karena Aluna mengetahui dirinya yang sudah tidak mempunyai apa-apa. Pikirannya juga melayang ke ancaman Kayra, yang saat ini memenuhi pikirkannya. Dia tahu jika Aluna bersamanya akan membahayakan nyawa Aluna.
“Lun, apa nggak sebaiknya kamu tinggal dengan papa dulu, aku takut terjadi apa-apa denganmu, pasti papa bisa melindungimu dan calon anak kita.” Mau tidak mau Kalun harus merelakan Aluna menjauh darinya untuk sementara, karena dia takut dengan ancaman Kayra, dia kini sudah tidak memiliki uang lagi untuk membayar orang suruhannya, untuk melindungi Aluna.
“Nggak A’ kita hadapi bersama! Aku nggak mau, kamu pergi.”
“Lun. Setidaknya sampai aku mengetahui jika anak yang ada di perut Kayra bukanlah anakku, setelah itu aku akan menjemputmu, kita akan hidup bertiga.”
“Kamu tega? lalu bagaimana jika itu benar anakmu A'? Bagaimana jika si utun merindukanmu?” ucap Aluna yang menghujani Kalun dengan banyak pertanyaan.
“Aku akan menyapanya, menjelang kamu tertidur. Aku yakin itu bukan anakku Sayang, dan kamu ikuti dulu ucapanku, karena mereka mengancam akan membunuhmu, jika aku tidak menikah dengan Kayra,” jelas Kalun.
“Aku akan ….” Kalun membisikkan rencananya ke telinga Aluna. Membuat istrinya itu bernafas lega, tapi juga khawatir dengan kondisinya.
“Bagaimana?” tanya Kalun setelah melihat Aluna memikirkan rencananya.
“Kamu membiarkan aku mengalami semua itu?”
Kalun tersenyum sambil menganggukan kepalanya. Menunggu Aluna untuk menyetujui rencananya.
“Hanya sementara, aku akan menemuimu setelah semuanya selesai!” Aluna mengangguk pelan, tangannya kini terulur melingkar di pinggang Kalun. Membuat Kalun merasa lega, dia lalu membalas pelukkan Aluna yang sama eratnya.
Aku janji tidak akan membawamu ke dalam masalah. Ucap Kalun dalam hati.
__ADS_1
👣
Jangan lupa untuk like dan komentar positif ya.👍