
Hari ini Aluna masih enggan keluar dari kamarnya, karena dia tahu Kalun masih berada di dalam apartemen, dia masih berada di atas kasur. Dia tidak menatapi foto Kalun yang ada di ponselnya, tapi dia menatap foto Fandi yang kemarin sempat dia simpan di laci. Dia kembali menatapi foto itu, dia merindukannya saat ini, merindukan Fandi yang memeluknya ketika dia dalam masalah, dia berpikir tidak ada lelaki yang lebih baik lagi selain Fandi.
Aluna meringkuk memeluk gulingnya, tidak mempedulikan perutnya yang kini merasakan lapar. Dia ingin egois hari ini, hanya memikirkan hatinya yang membutuhkan penghiburan. Matanya sudah sulit untuk dibuka karena tangisnya yang terlalu lama. Dia ingin hari-harinya cepat berlalu, hingga masa sulit ini bisa dia lewati.
Karena merasa lelah menangis, Aluna akhirnya bisa tertidur dengan nyenyak. Membawa luka hatinya ke dalam alam mimpi, berharap ketika dia bangun, dia bisa meninggalkan luka itu di alam mimpinya.
Entah tangan siapa yang menyentuh pipi lembabnya, dia masih enggan untuk membuka matanya saat ini, dia mendengar lelaki yang tengah menangis di sampingnya, dia sendiri bingung untuk memikirkan ini mimpi atau nyata. Tangan lelaki itu beralih menggenggam tangannya, mengatakan jika dia benar-benar mencintainya, dia mengenali suara ini. Suara yang dia rindukan. Suara yang beberapa bulan ini selalu dia dengar setiap hari. Tapi saat ini dia benci dengannya, karena lelaki ini sudah membuatnya terluka.
Aluna membuka matanya, membuat Kalun yang tengah mengenggam tangannya ikut kaget karena Aluna langsung menarik tangannya dengan kasar. Kalun menatap Aluna dengan sendu, dia ingin mengucapka kata maaf lagi pada Aluna.
“Kamu sudah bangun? Makanlah!” perintah Kalun yang membawakan makanan untuk Aluna, dia khawatir dengan kondisi Aluna karena sejak kemarin dia tidak membuka pintunya, jadi dia berusaha mencari kunci cadangan yang dulu pernah dia simpan.
Aluna duduk terdiam di atas kasur, dia tidak ingin menjawab ataupun melirik suaminya saat ini. Dia takut jika menatap Kalun hatinya ikut lemah, karena dia tidak bisa melihat kesedihan orang lain, apalagi orang dicintainya.
“Lun. Makanlah! Kamu boleh marah denganku, tapi pikirkan juga tubuhmu!” Kalun sudah mengarahkan sendok ke depan mulut Aluna. Namun, istrinya masih enggan membuka mulutnya. Dia hanya menatap ke arah jendela yang belum sempat dia buka hordennya.
“Tinggalkan aku sendiri Kal!” usir Aluna masih dengan suara lembut. Dia tidak ingin menoleh ke arah Kalun yang juga terlihat menyesali
perbuatannya.
__ADS_1
“Lun, aku akan menuruti perintahmu, tapi makanlah dulu!” minta Kalun dengan lembut.
Aluna yang sudah duduk segera menerima piring yang ada di tangan Kalun, dia meminta Kalun untuk keluar dari kamarnya, tapi suaminya itu masih enggan meninggalkan kamar Aluna.
“Please Kal, pergi! Aku akan semakin sakit jika aku terus menatapmu!” Aluna sudah berteriak meminta Kalun untuk meninggalkan kamarnya. Dia memberanikan untuk menatap wajah Kalun yang tengah menatapnya.
“Apa itu artinya kamu tidak akan memaafkan aku Lun?”
Aluna kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia tidak ingin menangis lagi di depan Kalun, sudah cukup untuknya menangisi Kalun semalam.
“Aku sudah memaafkanmu, aku sudah bilang jika di sini aku yang salah! Tapi maaf ….”
“Tapi maaf Kal, kita tidak bisa seperti ini,” ucap Aluna sambil melepaskan pelukkan Kalun. Membuat Kalun kembali meraih tubuh Aluna,
untuk dipeluknya lebih erat lagi. Dia tidak peduli lagi sebesar apa Aluna melepaskan pelukkannya, bahkan kini punggung tangannya sudah penuh cakaran Aluna yang meminta dia untuk melepaskan pelukannya.
“Tapi aku mencintaimu, Lun.”
“Cinta! Kamu hanya terbiasa Kal, jika kamu cinta denganku tidak akan mungkin itu terjadi,” kata Aluna yang masih mencoba melepaskan pelukkan Kalun. Dia terus memberontak hingga membuat Kalun dengan berat melepaskan pelukkannya.
__ADS_1
“Jika aku sadar itu tidak akan pernah terjadi Lun.” Kalun sedikit melonggarkan pelukannya, dia menatap ke arah wajah Aluna, “Aku harus
bagaimana lagi, untuk memberitahumu jika aku benar mencintaimu?” tanya Kalun menatap tajam ke arah Aluna. Dia juga tidak bisa jika terus diabaikan oleh Aluna.
“Aku nggak akan percaya denganmu lagi, jadi tidak perlu kamu bekerja keras untuk membuatku percaya,” kata Aluna sambil berjalan ke arah lemari pakaian. Dia memasukkan beberapa baju ke dalam tas jinjingnya, dia memilih untuk menghindari Kalun saat ini, dari pada dia akan terus mengingat kesalahan Kalun yang dia lakukan padanya. Aluna berjalan keluar meninggalkan kamarnya.
“Kamu lebih memilih menghindari masalah Lun?” tanya Kalun dengan suara pelan sambil berjalan mengikuti langkah Aluna. Aluna memejamkan matanya, untuk menghadapi lelaki yang masih sah menjadi suaminya saat ini. Dia berbalik menghadap ke arah Kalun, setelah merasa dirinya siap untuk mengatakan itu pada Kalun.
“Aku tidak menghindari masalah, aku akan menemuimu saat aku siap menerima semuanya!” ucap Aluna lalu dia benar-benar pergi meninggalkan apartemen Kalun. Dia ingin menata hatinya, menghadapi semuanya.
Kalun menjatuhkan tubuhnya di kursi tamu yang ada di apartemen ketika Aluna sudah pergi, dia menatap kosong layar tv yang tidak jauh darinya, dia bingung juga harus bagaimana lagi menghadapi Aluna, perempuan memang sulit dipahami, saat kita memberanikan jujur dia pasti akan marah, tapi
jika kita tidak mengatakannya dia akan semakin marah ketika mendengar dari orang lain.
Kalun memejamkan matanya, semalam dia juga tidak bisa tidur karena memikirkan perasaan Aluna. Dia juga takut jika Kayra nanti hamil anaknya. Dan dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, dan itu artinya dia harus melepaskan Aluna. Dia tidak akan sanggup jika itu terjadi dengannya, karena saat ini dia sudah terlanjur dalam mencintai Aluna. Kalun akhirnya tertidur di sana karena terlalu lelah memikirkan Aluna. Kalun juga ingin semuanya segera berlalu, dan dia akan bersama lagi dengan Aluna.
*
Jangan lupa untuk like dan vote.
__ADS_1