
Lampu bioskop sudah dimatikan, cahaya hanya dari nomor kursi dan arah petunjuk tangga, layar LCD di depan Aluna juga belum terlihat film akan diputar. Membuat Aluna gelisah, karena tidak menyukai kegelapan.
Namun, tiba-tiba. Tubuh Aluna sulit
digerakkan ketika merasakan dekapan dari belakang tubuhnya. Dia hanya memejamkan mata saat tercium aroma maskulin dari lelaki di belakangnya. Kalun sangat menyebalkan, hingga membuntutinya sampai ke gedung bioskop! Ucap Aluna dalam hati.
Renata yang melihat kelakuan Kalun, kesulitan menutup mulutnya, dia tidak percaya dengan kelakuan suami sahabatnya itu. Mungkin jika ada level bucin Kalun menempati di posisi paling tertinggi. Karena sampai-sampai keluar beberapa jam saja dia turut ikut.
Aluna membalikkan tubuhnya menghadap ke
arah Kalun, dia sedikit merasa geli ketika Kalun terus menciumi punggungnya, yang lebih rendah dari Kalun, dia sudah memanyunkan bibirnya. Merutuki suaminya yang sedikit over perhatian itu.
“Sejak kapan kamu di sini?” tanya Aluna menatap ke wajah Kalun yang tidak begitu jelas, karena minimnya cahaya di sana.
“Dari tadi, aku menunggumu di sini,
panggilnya yang keren sedikit dong!” balasnya sambil mengajak Aluna duduk lagi ke kursi. Kalun sengaja membawa Aluna menjauh dari Renata, supaya Renata tidak menganggunya saat nanti akan melihat film yang akan diputar.
Kalun membawa Aluna, ke kursi paling depan di antara penonton lainnya, karena film sudah akan dimulai. Tatapan Kalun terus mengarah ke arah Aluna, dia ingin melihat reaksi Aluna ketika melihat film yang diputar saat ini.
Aluna sedikit terkejut dengan layar putih yang ada di depannya itu. Dia tidak tahu dari mana suaminya bisa mendapatkan rekaman cctv, yang menampilkan dia tengah dimaki calon mertuanya yang gagal itu. Dia semakin terharu saat melihat caption di bawahnya.
Ini adalah awal aku melihatmu. Niatku dulu hanya ingin menghentikan air mata yang menetes dipipi putihmu.
Selanjutnya, layar putih itu menampilkan Kalun yang tengah mengucapkan ijab qobul dengan sekali tarikan nafas, video itu hanya berdurasi 30 detik, tapi video tersebut mampu membuat Aluna menitikkan air matanya, karena itu sebenarnya mengingatkan akan pernikahan yang seharusnya tidak terjadi.
Keputusan besar dalam hidupku, menikahi orang yang belum aku cintai.
Potongan video selanjutnya, Aluna
sedikit dibuat tersenyum ketika mendapati dirinya yang tengah ketakutan, di layar itu hanya terlihat hitam dan hanya rekaman suara yang bisa mereka semua dengar. Aluna terdengar meminta Kalun untuk tidak meninggalkannya, ketika mati lampu saat malam hari di apartemen.
“Berarti di apartemen ada cctv-nya?” tanya Aluna yang dijawab senyuman oleh Kalun.
“Iya, bahkan ketika kamu tidak memakai handuk setelah mandi pun, aku bisa melihatnya dengan jelas.”
Aluna langsung memberikan responnya,
dia menghujani Kalun dengan pukulan lengan yang lumayan keras. Namun, Kalun hanya tertawa sambil membawa Aluna kedalam pelukkannya, bahkan dia sengaja mengalungkan tangan Aluna ke perutnya. Tanpa mempedulikan mereka yang berada di
belakangnya.
“Aku halal untuk melihat semua yang
ada padamu,” bisik Kalun di atas kepala Aluna. Membuat istrinya langsung mengadah menghadap ke arah Kalun. Tatapan Aluna sudah mengintimidasi ke arah suaminya.
“Besok minta orang untuk melepasnya. Iya kalau aku yang lewat, bagaimana jika mama atau adik-adikmu?”
“Ya sudah besok biar aku pindah ke
kamar saja, biar aku hanya bisa melihatmu,” jelas Kalun sambil mengendorkan pelukannya.
Mereka berdua kembali focus ke layar
putih yang ada di depan. Foto-foto ketika berbulan madu pun, disusun menjadi
video mini yang berdurasi 5 menit. Setiap caption menceritakan perjalan mereka berdua ketika berada di Maldives.
__ADS_1
Aluna mengerutkan keningnya, saat mengingat mereka yang dulu berada di Maldives, perasaan mereka jarang untuk berfoto. Tapi kenapa Kalun bisa mendapatkan foto dirinya.
Film berdurasi 40 menit itu sudah
berakhir, Aluna meminta Kalun untuk memutarnya kembali karena dia belum selesai membaca tulisan terakhir yang ada di video itu. Kalun hanya tersenyum simpul
ketika mendapati permintaan Aluna.
“Dengarkan aku saja, nggak usah
melihat film itu lagi, nanti kita bisa melihat ulang ketika di rumah.” Kalun sudah
berdiri sambil menarik tangan Aluna, lalu membawanya tepat ke layar putih di depan bangku kursi paling depan.
“Mau ngapain sih A’?” tanya Aluna sambil berjalan mengikuti langkah Kalun yang membawanya ke depan.
“Aku ingin melamarmu, dengan baik,
meski tidak secara umum. Kamu lihat Kamera itu dan itu, benda itu akan mengabadikan moment ini,” ucap Kalun sambil
menunjuk ke arah kamera dengan jari telunjuknya.
“Ada Renata dan Doni di sini, jangan
seperti anak kecil deh!” peringat Aluna sambil menatap ke arah layar putih di sampingnya.
“Biarkan saja! Asal kamu tidak menolakku aku tidak akan malu,” bisiknya di telinga Aluna.
Suara sound system kini sudah berubah, menjadi Aluna music romantis, lampu yang tadinya tidak menyala, kini dinyalakan tepat ke arah mereka berdua. Sejenak sunyi tidak ada suara manusia satu pun yang terdengar.
Tangan Kalun terlihat gemetar ketika meraih kotak bludru merah yang ada di saku celananya, membuat Aluna sekuat tenaga mengulum senyumnya supaya tidak pecah.
Aluna yang sedari tadi menutup bibirnya dengan tangan kanan, tak ingin segera melepasnya. Dia terus tertawa tipis saat mendengarkan ucapan Kalun.
“Tapi yang ini wajib kamu kenakan,
jangan sampai kamu melepasnya. Apalagi menggantikannya dengan cicin dari pria
lain,” lanjutnya sambil memaksa tangan Aluna untuk diraih. Kalun lalu memasangkan cincin yang bertuliskan ‘Kalun’ itu ke jari Aluna.
Aluna terlihat bahagia saat tangan kanannya tersemat cincin berlian yang terlihat simple itu, dia lalu mengangkat tangan kanannya, mendekatkan ke arah wajah, dia mengamati lekat cincin itu. Sambil memainkan ring yang ada di jarinya.
“Kalau dijual laku berapa ini A’?” godanya sambil memainkan mata nakalnya ke arah Kalun.
Kalun membalasnya dengan menarik hidung Aluna. Seperti punya kebiasaan baru baginya, ketika gemas dengan kelakuan Aluna.
“Seperti hatimu, cincin itu sangat
sulit untuk aku dapatkan, bahkan tidak akan aku gadaikan.”
“Benarkah? Kamu tidak sesulit itu untuk mendapatkan aku,” timpal Aluna sambil bergelayut manja memeluk Kalun.
Kalun yang melihat tingkah Aluna
seperti itu, membuatnya ingin segera memakan istrinya sekarang juga. Dia berusaha mengatur nafasnya sambil membuat garis di dahinya, dia menggelengkan kepalanya atas perlakuan Aluna saat ini, yang seolah tidak mempedulikan adanya orang yang duduk di bangku penonton.
Aluna sudah memajukan bibirnya minta untuk dikecup oleh Kalun. Karena Aluna tidak sanggup untuk meraih bibir Kalun yang terlalu tinggi darinya. Kalun menunduk mendekatkan bibirnya, ke arah hidung Aluna, dia lalu mengecup mesra hidung Aluna. membuat Aluna menbuang nafas kecewa, karena Kalun tidak merespon permintaanya.
__ADS_1
“Haduh! Sudah nggak perawan lagi deh
mata adik!”
Gertakkan itu membuat Aluna melepaskan pelukkan yang ada di pinggang Kalun. Dia menatap bingung ke arah Kalun, seolah meminta penjelasan dari suaminya.
“Itulah sebabnya aku tidak ingin melahap bibirmu yang menggoda itu, karena mereka semua ada di sini!” bisik Kalun di depan wajah Aluna, diikuti sorot lampu yang menyala, membuat semua yang hadir telihat batang hidungnya, mereka semua berteriak bahagia, turut merasakan kebahagian pasangan muda tersebut.
Berbeda dengan Aluna yang menatap kesal ke arah suaminya. Dia malu mengingat kejadian tadi, dia yang sedikit manja dengan Kalun. Tapi dia bahagia saat melihat keluarga besarnya, hadir di sana, papa Budi dan mama tirinya turut hadir. Kecuali Yoga kakak tirinya yang tidak bisa berkunjung ke sana, tapi dia sedikit lega karena ketidakhadiran kakak tirinya itu, setidaknya dia tidak akan dimintai uang.
Jadilah pasangan hidupku, jadilah ibu
dari anak-anakku.
Membuka mata dan tertutup di sampingku.
Semua menoleh ke arah lelaki yang
berjalan mendekat ke arah Kalun, Erik yang menyanyikan lagu itu membuat semua
orang melongo tidak percaya. Berbeda dengan Ella yang merasa dejavu ketika
mendengar lagu itu.
“Pa! jangan merusak acaraku!” peringat keras Kalun menatap kesal ke arah Erik. Membuat Erik segera menyerahkan micropon yang dia pegang kepada Kalun.
“Cowok itu harus punya suara bagus,
biar lebih romantis saat melamar kekasihnya,” terang Erik yang langsung mendapat cubitan dari Ella, karena dia tahu jika anak laki-lakinya itu tidak bisa bernyanyi.
“Aluna bukan kekasihku, tapi dia Ny. Kalun.
Wanita yang akan melahirkan anakku!” sanggah Kalun yang membuat Erik menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis ke arah Ella.
“Mirip siapa tuh?” tanyanya ambigu
mengarah ke arah ella.
“Sudah, sudah! Ayo pulang, kalian harus
pulang ke rumah mama!” Ajak Ella yang membuat sepasang pasangan muda itu
bertukar pandangan.
“Biar saja kita ikuti mereka, yang
penting kamu tetap berada di kamarku,” jelas Kalun sambil membawa tangan Aluna mengikuti Erik dan Ella.
Semua yang hadir di sana, merasa
bahagia malam itu kecuali ibu tiri dari Aluna yang memasang muka masamnya, karena dia baru tahu jika Aluna ternyata mendapatkan lelaki yang berpengaruh di kota Jakarta.
Aluna melirik sebentar ke arah Renata
yang turut bahagia merasakan moment dadakan ini, Renata tidak tahu menahu tentang kejutan yang Kalun berikan. Dia hanya diminta Doni untuk membawa Aluna ke
gedung bioskop yang sudah mereka atur.
__ADS_1
👣
Jangan lupa untuk like dan vote ya👍🙏