Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Sudah Gagal Mendidikmu


__ADS_3

“Shit ... Pakai baju kalian!” perintah Kalun sambil membanting pintu ruangan Riella, sedangkan yang berada di dalam kamar sudah memasang wajah ketakutan karena takut dengan Kalun.


Kepala Kalun terasa pusing, setelah melihat adik dan sahabatnya melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan.


Dia menunggu di kursi ruangan pribadi Riella, matanya sudah memerah menahan amarah yang meminta untuk dikeluarkan.


Karena terlalu lama menunggu, dan Kalun yang tidak sabaran, dia kembali keluar dari ruang pribadi Riella.


Dia langsung memukul wajah lelaki yang membuatnya marah itu, ketika melihat lelaki itu mendekat ke arahny. Darah segar keluar dari sudat bibir lelaki itu. Riella yang tidak kunjung keluar membuat Kalun semakin ingin menghajarnya lagi.


“Kamu tahu kan, bagaimana aku menjaga adikku!” maki Kalun sambil memukul lagi wajah Emil, emosinya kini sudah tidak mampu dia redakan lagi, dia terus menghujani Emil dengan pukulan di wajahnya.


Sedangkan Emil tidak mampu lagi untuk menghindar dari pukulan Kalun, karena tangannya sudah di kunci oleh lawan.


Kalun yang emosi, dengan keras mendorong tubuh Emil kebelakang, karena merasa cukup untuk awalan hukuman darinya.


Riella yang baru saja keluar dari kamar, kaget ketika melihat wajah Emil yang mengeluarkan banyak darah, wajahnya penuh pukulan dari Kalun, membuat dia merasa kecewa dengan kakaknya.


“Kakak!” pekik Riella sambil mendorong tubuh Kalun. Kalun yang sudah lemas karena kelelahan memukuli Emil pun, kini sudah terduduk di lantai.


Kalun menunduk, menelungkupkan wajahnya di atas lututnya, dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga adiknya dengan baik. Padahal ayahnya sudah menyerahkan adik-adiknya untuk selalu dia jaga.


“Kenapa kalian melakukan ini?” tanya Kalun dengan suara keras, seraya membanting gelas yang ada di meja sofa ruang kerja Riella.


“Apa salahnya, kita saling mencintai!” ucap Emil yang berusaha menjawab pertanyaan Kalun.


“Kamu saja yang bodoh!” lanjutnya sambil berusaha berdiri menghampiri Kalun.


“Aku mencintai adikmu, dan adikmu juga mencintaiku!” ucap Emil lemah.


“Jangan omong kosong! Kamu pikir aku tidak tahu kelakuanmu yang bergonta-ganti wanita setiap malam,” ucap Kalun yang bisa di dengar Riella.


Riella yang baru saja mendengar jawaban dari Kalun, hanya berusaha tidak mempercayai ucapan kakaknya.


“Kak Emil nggak seperti itu Kak, dia mencintaiku, dia akan menikahiku!” teriak Riella yang sudah berada di depan Kalun, dia sudah menangis dan menggelengkan kepalanya, meyakinkan hatinya, jika yang diucapkan Kalun itu tidak benar.

__ADS_1


“Lihat saja sampai kapan dia akan berusaha untuk mendapatkanmu!” perintahnya sambil berjalan meninggalkan Riella.


“Kak!” panggil Riella, sambil berusaha menahan tangan Kalun.


“Jangan katakan ini pada Papa dan Mama, aku mohon!” ucap Riella. Kalun hanya diam belum ingin menggerakkan bibirnya.


“Kak!” panggil Riella dengan sedikit berteriak dan memasang wajah memohon ke arah Kalun.


“Kenapa? Apa yang kamu takutkan? Kamu sadar nggak! jika yang kamu lakukan itu adalah salah, hatimu sudah tertutup cinta makanya semudah itu kamu memberikan tubuh mu pada laki-laki seperti dia,” maki Kalun setelah membalikkan tubuhnya menghadap Riella, dia melirik ke arah Emil yang berusaha mengapus darah di sudut bibirnya.


“Maaf Kakak sudah gagal mendidikmu, sekarang terserah kamu, Kakak tidak akan lagi mencampuri urusan pribadimu, termasuk mengatakan pria mana yang baik atau buruk untukmu,” lanjut Kalun yang berjalan meninggalkan ruang pribadi milik Riella.


Dia lalu keluar ruangan Riella mencari tempat yang tidak bisa dilihat orang lain, jika dirinya tengah bersedih. Kalun berjalan ke rooftop rumah sakit tersebut. Dia ingin meluapkan emosinya lagi di sana.


Dia berteriak sekuat tenaga, sambil mencekram kepalanya kuat.


“Maafkan aku Pa,” lirihnya sambil mengeluarkan air mata yang sejak tadi dia tahan.


“Bagaimana jika Mama tahu semua ini, pasti dia akan kecewa denganku,” lirihnya lagi sambil memukulkan tangannya ke tembok di depannya.


Setelah sedikit tenang, Kalun kembali ke kamar Aluna, karena tidak ingin membuat Aluna terlalu lama menunggunya.


Dia menampilkan wajah datar seperti tidak terjadi sesuatu dengan dirinya, supaya Aluna tidak mencurigai jika dia habis menangis. Dia membuka pelan pintu ruang rawat Aluna.


Pandangan yang menyiksa hatinya kini kembali hadir. Aluna tengah duduk di bed tidurnya, dengan Samuel yang berada di kursi samping bed tidur Aluna, dia menyuapi makan Aluna sambil mengajak bicara Aluna. Sedangkan sahabat Aluna, tengah bermain game di sofa ruangan tersebut.


“Ehemmm ...” deham Kalun saat memasuki ruangan Aluna.


“Hai Kal? Kok loe bisa di sini?” tanya Samuel yang kaget saat melihat kehadiran Kalun.


Kalun yang mendengar pertanyaan Samuel langsung menggaruk pelipisnya, dia berpikir sejenak, sambil menatap ke arah Aluna.


Kalun dengan santai berjalan mendekat ke arah Aluna, dan mengusap lembut pundak Aluna. Samuel hanya bisa melihat tingkah Kalun, yang tidak biasa dan terasa aneh itu.


“Ya, dia istriku, jadi aku berhak dong berada di sini.”

__ADS_1


Ingin sekali Kalun mengucapakan kalimat itu di depan Samuel, tapi dia tidak ingin membuat rencananya kacau. Hingga Kayra mengetahui statusnya sekarang.


“Hemm, aku bos nya, jadi aku berhak berkunjung, untuk mengetahui kondisi karyawanku,” jelas Kalun sambil duduk di samping Renata yang tidak jauh dari Samuel dan Aluna


“Benarkah? Jadi kamu bekerja di perusahaan Kalun? Tapi kenapa kemarin saat kalian bertemu, tidak saling bicara? Dan Aluna juga tinggal satu apartemen denganmu Kal, aku nitip dia ya, kalau ada apa-apa segera hubungi aku,” jelas samuel panjang lebar sambil tersenyum penuh arti ke arah Kalun.


Kalun menampilkan wajah marahnya, saat melihat Samuel tengah menyuapi Aluna. Aluna pun dengan sengaja menyengir ke arah Kalun. Berusaha mengatakan supaya tidak memasang wajah kecut di depan rekannya.


“Apa benar Bapak bosnya Luna?” tanya Renata basa-basi karena kini, dia menyimpan ponselnya di tas.


“Jalan sama saya saja yuk Pak, ke kantin! sepertinya mereka tengah bermesraan jadi jangan diganggu,” bisik Renata sambil mendekatkan bibirnya di telinga Kalun. Hati Kalun semakin tak karuan saat mendengar ucapan Renata, dia kini mengawasi pergerakkan tangan Samuel yang berdada di bibir Aluna, karena mengusap bekas makanan yang menempel di bibir Aluna.


“Pergilah sendiri!” ucap Kalun dengan nada dingin, tatapannya terus memperhatikan ke arah Aluna yang telihat bahagia itu.


“Bapak cemburu ya? Aluna sudah bersuami dan sepertinya dia mulai mencintai suaminya, tapi sayang suaminya itu, hanya menjadikannya boneka,” canda Renata yang ditanggapi serius oleh Kalun.


“Tahu dari mana kamu?”


“Iyalah, setiap malam dia juga cerita ke saya, dia juga bilang hampir saja menyerahkan mahkotanya kepada suaminya itu. Baru saja tadi dia whatsApp ke saya,” jelas Renata.


“Katanya nih ya! suaminya itu tampan, kaya, mobilnya saja Ferarri, apartemennya saja mewah, tapi masa! Dia diberi atm tapi password-nya nggak dikasih tahu, kejam nggak sih tu? kalau aku tahu wajah suaminya itu nih ya, sudah aku sunat lagi itu suaminya, biar nggak punya burung sekalian,” curhat Renata panjang lebar.


Kalun merinding ketika mendengar ucapan terakhir dari Renata. Tapi dia sedikit menertawai dirinya sendiri, ketika menyadari jika dia lupa memberikan password atm yang dibawa Aluna.


“Terus dia cerita apa lagi?” tanya Kalun yang semakin penasaran. Matanya masih memperhatikan dua orang di depannya. Hatinya sedikit gerah, dia membutuhkan pelukkan Aluna saat ini juga, untuk menenangkan hatinya.


“Emmm apa ya, o iya! Dia punya mertua yang baik, sampai-sampai dia di belikan berbagai model lingrie banyak sekali, karena saking sayangnya mertuanya itu pada Aluna. Aluna mau memberikan lingrie itu pada saya, katanya dia nggak mau makai. Tapi saya tolak, saya minta dia untuk memakai di depan suaminya, siapa tahu suaminya itu tergoda, dan melakukan malam pertama. Lalu hamil, dan mereka nggak jadi cerai deh, bagus kan ide saya?” jelas Renata dengan penuh semangat, setelah itu dia menutup mulutnya, merasa berbicara berlebihan dengan orang di depannya yang belum pernah dia lihat.


“Bapak siapa kenapa berada di sini?“ tanya Renata saat Kalun hanya diam sambil menarik sedikit bibir atasnya.


Kalun membisikkan jawaban di telinga Renata.


“Tanyakan pada sahabatmu!”


👣

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote ya 🙏


__ADS_2