Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Kakak Tiri


__ADS_3

Solo


Sudah seminggu Aluna dan Kalun berpisah, tidak ada kabar yang Aluna terima. Baik pesan telepon maupun pesan singkat dari Jakarta. Hanya satu panggilan dari Kalun yang tanpa ia sadari dia mengangkatnya, tapi dia tidak tahu apa yang dia bicarakan, karena di saat itu terjadi, dia masih terlelap dalam tidurnya. Dan hanya pesan-pesan Kalun saja yang dia baca, dan malam itu dia menjawab singkat dengan jawaban ‘Ya’. Saat ini Aluna merasa lebih tenang, tidak seperti saat pertama kali tiba di Solo.


Siang ini, dia membuat janji bertemu dengan sahabatnya, yang lama sudah tidak dia temui. Dia akan bertemu dengan Lita di salah satu café milik sahabatnya itu.


“Pa, Luna pergi ya, Luna akan bertemu Lita siang ini,” pamit Aluna yang sudah berpakaian rapi dengan dandanan yang dibuat senatural mungkin.


“Lita? Yang dulu sering datang ke rumah itu ya?”


“Iya, Papa masih ingat saja?”


“Iya dong. Sesuatu yang berkesan itu akan sulit untuk dilupakan. Hati-hati! Naik ojek saja jangan naik becak!” peringat lelaki yang sudah mengikuti langkah kaki Aluna yang berjalan menuju teras rumah.


“Iya Pa. Luna sudah pesan ojek online kok, bentar lagi juga pasti datang mas ojeknya,” jawab Aluna memupus kekhawatiran papanya. Dia lalu berjalan ke arah gang rumahnya, berjalan ke arah jalan raya untuk menunggu tukang ojek yang sudah dia pesan.


Ketika dia berjalan, langkahnya dihentikan oleh kakak tirinya yang sudah menunggunya di depan rumah tetangga yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.


“Apa sih! Jangan menarik tanganku!” kata Aluna yang mencoba memberontak cekalan kakak tirinya.


“Aku akan melepaskannya, jika kamu sudah memberiku uang,” ancam kakak tiri Aluna yang sudah membawa Aluna ke tempat yang lebih sepi dari orang yang melewatinya.


“Aku nggak punya uang!” jujur Aluna yang mencoba melepaskan cekalan lelaki itu, karena dia memang tidak membawa apapun saat pergi dari apartemen Kalun, dia hanya membawa dompetnya saja, yang ada kartu atmnya yang jumlahnya tidak lebih dari 5 juta rupiah.


“Mana mungkin. Kamu istri pengusaha kan? Jangan berbohong padaku! Atau kamu mau aku menikmati tubuhmu di sini!” kata lelaki di depan Aluna. Dia lalu mencondongkan tubuhnya untuk menghimpit tubuh Aluna.


Jantung Aluna semakin berdebar karena rasa takut yang tiba-tiba menghinggapinya, dia tidak ingin lelaki di depannya ini menjamah tubuhnya, sudah dari dulu dia terus menghindari ini, dia tidak rela jika hari ini dia melakukannya dengan kakak tirinya.


“Kita main sebentar tidak apa-apa kan, lagian aku juga Cuma menikmati bekas suamimu itu!” lirih kakak tiri Aluna yang sudah mulai membuka kancing celana jeans yang ia kenakan.


“Nggak berubah kamu ya! Lelaki biadap! Pergi menjauh dariku!” usir Aluna yang hendak melarikan diri dari cekalan lelaki di depannya. Namun sia-sia, karena meski hanya tangan satu yang memegangnya erat dia tidak bisa melepaskan diri dari lelaki di depannya itu.


Saat kakak tiri Aluna hendak mendaratkan ciuman di bibir Aluna, suara ponsel Aluna yang berdering membuyarkan fokusnya, dia terkejut dengan nada dering ponsel Aluna yang begitu nyaring. Aluna segera melarikan diri karena tanpa sadar, tangan kakak tirinya itu mengendorkan cekalan tangannya. Dia segera berlari menjauh, sambil meraih ponsel yang ada di dalam tas, dan berlari sekuat tenaga ke arah keramaian, menghiraukan umpatan yang keluar dari mulut kakaknya. Dia berhenti di samping tukang ojek yang sudah ia pesan. Aluna langsung menaiki motor itu dan memintanya untuk segera mengantarkannya ke café milik Lita.

__ADS_1


“Habis di uber hantu ya Mbak?” tanya iseng tukang ojek di depannya dengan sedikit terdengar suara kekehan.


“Bukan hantu Mas, tapi iblis jahanam,” jawab Aluna sambil membenarkan helm yang ia kenakan.


“Hati-hati Mbak, di situ banyak bujangan yang suka iseng, Mbak itu cantik takutnya di apa-apain sama orang situ,” jelas mas ojek yang fokus mengemudikan motornya.


Aluna mengangguk sambil mencoba mengatur nafasnya. Batinnya masih terguncang karena lagi-lagi dia harus berhadapan dengan kakak tirinya yang selalu ingin meminta uang dan dilayani nafsunya itu. Beruntungnya setelah lulus kuliah dia buru-buru meninggalkan rumah papanya. Jika tidak ntah apa yang terjadi dengannya kala itu, bisa jadi keperawanannya hilang dengan kakak tirinya yang brens*k itu.


Lima belas menit kemudian Aluna tiba di café milik Lita. Dia disambut sahabatnya yang sudah menunggu di ambang pintu sejak tadi. Dia langsung memeluk Aluna erat, melupakan perutnya yang tengah hamil, setelah itu dia memperhatikan perut Aluna yang terlihat datar, melirik Aluna dengan ekor matanya. Mencoba mencari jawaban dari mata Aluna.


“Kamu menundanya ya?” Aluna langsung menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan wanita yang kini berjalan di sampingnya.


“Aku keguguran beberapa bulan yang lalu, mungkin juga belum rezekinya saja.” Aluna menjelaskan sambil mendudukan tubuhnya di tempat duduk yang sudah Lita siapakan, sudah ada beberapa hidangan di depannya. Mata Aluna tidak berhenti memindai isi cafe sahabatnya itu, mencoba menghitung berapa penghasilan yang didapat dari cafe yang Lita buka.


“Sukses ya sekarang,” kata Aluna memuji Lita, setelah menyelesaikan perhitungannya.


“Berkat suami,” ujar Lita sambil mengusap perutnya. Aluna menatap pergerakkan tangan Lita yang mengusap lembut perutnya.


“Sudah berapa bulan?” tanyanya sambil mendekat ke samping tempat duduk Lita.


“Semoga lancar ya, pasti suamimu jadi tambah bucin sama kamu ya,” ejek Luna yang mengingat masa pacaran Lita dan Bagas saat masa kuliahnya dulu.


“Iya, ke sini saja harus merayu-rayu sampai dia melebarkan senyumnya dulu baru boleh,” terang Lita yang menceritakan kelakuan suaminya. Aluna hanya mendengarkan cerita Lita, sambil membayangkan sikap Kalun jika dia akan bersikap sama jika dia hamil nanti.


“Suamimu nggak ikut ke Solo ya? Maaf ya dulu nggak datang ke acara pernikahanmu, dulu aku kan baru bulan madu,” terang Lita menceritakan alasan atas ketidakhadirannya saat pernikahan Aluna.


“Nggak papa, sudah berlalu. Yang penting kamu bahagia sekarang,” ucap Aluna sambil meraih gelas di depannya, lalu segera meminum jus yang dibuatkan Lita.


“Ini Jus apa, kenapa tidak seperti dulu?”


“Enak?” jawab Lita yang membalas pertanyaan pada Aluna.


“Iya, asem tapi bikin nagih,” jelas Aluna sambil kembali meminum minuman yang dibuatkan Lita.

__ADS_1


“Habiskan, nanti aku buatkan lagi, apa kamu mau rujak es krim juga, biar pelayan membawakan untukmu, pasti enak makannya apalagi cuaca panas begini,” tawar Lita.


“Tapi aku belum makan nasi, aku mau makan nasi sajalah,” tolak Aluna yang teringat belum mengisi perutnya dengan nasi.


“Baiklah, apa yang ingin kamu makan?”


“Menu special di sini, dan gratis pastinya,” jawab Aluna yang tiba-tiba merasa sangat lapar. Matanya berbinar saat meminta itu pada Lita, senyumnya sudah terpancar, seperti habis cairan gajian.


“Kamu sudah ke dokter belum? Kapan-kapan ajak akulah ya?” lanjutnya setelah pelayan mencatat keinginannya.


“Boleh.”


“Tapi dokternya cewek kan?” tanya Aluna yang sedikit khawatir bertemu dengan dokter laki-laki.


Lita menggelengkan kepalanya, “Dia laki-laki, sangat tampan, lebih tampan dari Bagas,” jawabnya yang berbisik di samping telinga Aluna, takut jika suaminya tiba-tiba berdiri di belakangnya.


“Gas, Bagas istrimu mulai ganjen nih,” goda Aluna sambil terkekeh.


“Mana dengar dia!” ujar Lita sambil mengedarkan pandangan ke arah seluruh ruangan. Tidak lama kemudian pelayan mulai menyajikan makanan yang dipesan Aluna di atas meja.


Aluna hanya menatap makanan di depannya setelah pelayan itu pergi. Rasa lapar yang tadi dia rasakan, tiba-tiba menguap seiring berjalannya waktu.


“Makanlah! Ini menu special di sini meski hanya rice box, tapi banyak anak-anak kampus yang menyukainya, karena selain hemat banyak juga varian rasanya,” jelas Lita yang melihat tatapan tidak suka dari wajah Aluna.


“Sebentar, sebentar …” ucap Aluna sambil menepuk pelan lengan Lita. Dia masih menatap potongan daging dengan taburan wijen hitam di atasnya. Lita membulatkan matanya mencoba mengerti apa yang di minta Aluna setelah ini.


“Toilet di mana?” tanya Aluna cepat sambil menutup mulutnya. Reflek tangan Lita menunjuk cepat ke arah di mana pintu toilet berada. Dia mengerutkan dahinya, mengiringi kepergian Aluna yang meninggalkan tempat duduknya.


>>>>


Sekian untuk hari ini.


Up besok lagi, oke👍

__ADS_1


Yang penasaran masuk GC nanti aku beri kisi-kisinya😂😂


Password : Kalundra Ananda Ramones


__ADS_2