
Kenzo sedikit terkejut ketika mendengar perkataan Kalun, membuat lelaki di depannya tersenyum smirk, karena Kenzo menampilkan wajah tidak bersahabatnya. Kenzo terlihat berpikir keras, mencerna dengan baik perkataan Kalun.
“Aku tidak berhak menghakiminya, itu masa lalu Riella, dan itu akan jadi tanggung jawab Riella dengan yang di atas, aku menerima Riella apa adanya.”
“Apa kamu yakin?” tanya Kalun penuh selidik menatap lagi mata Kenzo, “Aku tidak ingin, kedepannya akan menjadi masalah sendiri untuk keluarga adikku.”
Kenzo mengangguk pelan, bibirnya menampilkan senyum tipis yang terlihat sangat tampan di tengah minimnya pencahayaan.
“Kamu tenang saja, meski Riella belum bisa mencintaiku, aku akan berusaha memenangkan hatinya. Aku janji akan menjaganya dengan baik. Aku akan membawanya ke jalan yang benar, aku sudah tahu kehidupan Riella sebelum keluargaku datang ke Jakarta. Aku sudah siap dengan semua resiko yang aku ambil.” Kenzo menjabarkan ucapannya, membuat Kalun sedikit lega karena Kenzo tidak mempermasalahkan masalah virginity.
“Baguslah. Tapi jika kamu berubah pikiran, kamu bisa pergi sejauh-jauhnya dari Riella sebelum pernikahan itu terlaksana.”
“Percayalah kakak ipar aku tidak akan melakukan itu! Aku mencintai Riella sejak dari kanak-kanak.”
Kalun terkejut ketika mendengar ucapan Kenzo. Dia menggelengkan kepalanya, “Yang benar saja? Mana ada anak-anak jatuh cinta?”
“Seperti halnya kamu dengan Kayra yang jatuh cinta pada saat masih kecil. Tapi bedanya, aku masih di sini menunggu Riella menerima kata cintaku, sedangkan nasibmu em ...” jelas Kenzo menggantung.
“Sudah seperti pujangga saja kata-katamu. Belajar dari mana? Aku mau juga belajar, biar bisa merayu istriku yang keras kepala itu.”
Kenzo tergelak saat mendengar penuturan Kalun, dia tidak menyangka jika Kalun hanya patuh dengan Aluna yang baru dia lihat satu kali itu. Kenzo mendekatkan bibirnya ke depan wajah Kalun.
“Wanita itu suka dipuji. Katakan padanya, kamu sexy Sayang, kamu wangi, kamu cantik deh. Habis itu kamu ajak dia shopping, atau belikan bunga kesukaanya,” papar Kenzo yang di dengarkan Kalun dengan baik.
“Belajar dari mana kamu?” tanya Kalun penuh selidik.
“Papaku suka seperti itu kalau sedang marahan dengan Mamaku, wanita memang banyak maunya, tapi sebenarnya hanya satu yang dia inginkan. Hanya perhatian kita.”
“Duh … sudah seperti opa-opa memberi nasihat pada cucunya!” sindir Erik yang kini sudah berada di belakang tubuh Kenzo, dia mendengarkan ucapan Kenzo yang memberi saran pada Kalun.
“Eh, Papa mertua.” Kenzo menyengir ketika melihat Erik sangat dekat dengannya. Kalun terkekeh sambil menepuk punggung tangannya yang dihinggapi nyamuk.
“Tapi benar itu, Papa akui, jika Mama akan luluh ketika dibawa ke tempat barang-barang mewah. Past-”
Erik tidak mampu melanjutkan ucapannya, karena tangan lembut istrinya sudah menarik telinganya.
“Gitu yah. Curhatnya sama anak ingusan ini!” oceh Ella, masih menarik telinga erik.
“Kalian berdua masuk, makan malam sana, makanan sudah siap,” perintah Ella menatap lelaki di depannya itu bergantian.
Kedua lelaki tampan itu segera meninggalkan pasangan yang sudah tidak lagi muda itu di taman.
“Apa maksudmu?”
“Nggak papa,” killah Erik.
“Minggu ini puasa.”
“Yakin? sudah 1 minggu dua kali masih juga di suruh puasa!”
“Kamu ternyata di belakangku suka menjelek-jelekkan aku. Mengatakan aku suka berbelanja, padahal ujungnya jika belanja denganmu akan seperti biasa hanya kebutuhanmu saja yang aku beli.” Ella sudah melepaskan tangannya.
__ADS_1
“Ya, maaf. Jangan puasa ya.”
“Bodoh!” kesal Ella sambil berlalu menghampiri kedua lelaki yang sudah berada di meja makan.
“Makan yang banyak Ken!” perintah Ella yang sudah berada di meja makan. Dia hanya mengawasi kedua lelaki dewasa di depannya yang tengah memakan tanpa suara.
“Iya Mama mertua. Ow, iya. Tadi mama Nindi pesan minggu depan akan datang ke Jakarta.” Kenzo menatap penuh binar arah Ella.
“Syukurlah, kalau seperti itu. Nanti biar ada yang menemani mama jalan-jalan.” Ella mengedipkan ke arah Kalun yang tengah mengerutkan dahinya.
“Ajak Luna juga ya Ma, sepertinya dia terlalu stress karena masalah kemarin,” pinta Kalun sambil menyantap makananya.
“Ajak dia ke dokter kandungan, kemarin sudah check up lagi belum?”
“Apa hubunganya coba?!”
“Ya, biar Mama nggak suntuk di rumah, kalau bosan biar mama jadi pengasuh anak-anak kalian saja,” jelas Ella sambil mengusap dua punggung lelaki di sampingnya.
“Nggak. Mama nggak boleh membantu mengurus anak kita, kasihan Mama dong. Waktu kita bayi, mengurus aku dan sekarang harus mengurusi anakku, kasihan Mama!”
“Kadang melihat tawa cucu itu menjadi hiburan tersendiri buat lansia seperti Mama, makanya buruan bikinkan cucu Mama yang banyak. Sebenarnya melihat kalian sukses saja Mama sudah senang sekali, apalagi nanti akan datang anak-anak kalian yang akan memanggil-manggil ‘Oma’ dari depan pintu sana.”
“Mama ih, sudahlah jangan terlalu berharap dari Kalun. Berharap saja dari Kenzo dan Riella.”
Kenzo yang disebut namanya langsung mendelik ke arah Kalun.
“Jangan Ma, Kenzo harus bisa meluluhkan hati Riella dulu. Baru aku bisa membuatkan Mama mertua bayi yang banyak, doain ya?”
“Lima.” Kenzo memamerkan jarinya berjumlah tujuh.
“Aku sepuluh,” sahut Kalun membuat Ella terpingkal-pingkal memukul pundak Kalun.
“Mama nggak percaya?!” Kalun mengerutkan dahinya, bibirnya sudah manyun menandakan dia tengah kesal. “Kubuktikan nanti ya!” imbuhnya sambil menyuap kasar makanan di depannya.
“Boleh-boleh. Tiap tahun berarti minta Aluna untuk hamil anakmu,” terang Ella yang masih menyisakan suara tawanya.
“Sembarangan memangnya Kalun maiesiophilia!” sanggah Kalun yang membuat Ella semakin tertawa keras, suaminya yang penasaran, berjalan menghampiri obrolan dewasa tersebut.
“Pa. Dokter kandungan terbaik di Jakarta siapa namanya?” tanya Kalun saat melihat Erik berdiri di belakang Ella.
“Erik Ramones.”
“Ceh. Narsis!” bantah Kalun. Membuat Erik tersenyum nakal ke arah istrinya. Mengisyaratkan agar dia tidak memberitahu Kalun.
“Cari saja di situs ponselmu!”
Kalun meraih ponselnya, mencari di situs kebanggaan semua umat.
“Dokter kandungan terbaik di Jakarta.” Kalun mengatakan dengan suara lantang melalui Voice notenya.
Dia pun segera membaca hasil pencarian, yang ada di ponselnya. Terkejut karena nama papanya yang tercantum di sana.
__ADS_1
“Gila ini. Ini gila. Pasti salah ini. Papa saja pensiun dini, masa bisa jadi dokter kandungan terbaik.” Kalun menggelengkan kepalanya ke arah Erik.
“Ya. Bisa jadi itu salah. Coba ulangi lagi!” perintah erik sambil menarik kursi mendekat ke arah Ella.
“Memang seperti itu Kal, kamu saja yang tidak percaya dengan kemampuan Papamu.” Kenzo ikut menyahut saat mendengar perdebatan anak dan ayah di depannya.
“Baiklah aku mengalah, tapi masa iya sih aku bawa istriku pada Papa?”
“Bawa ke dokter lain saja, vitamin kemarin sudah kamu berikan pada Luna, kan?”
Kalun menggelengkan kepalanya, “Aku masih menyimpanya, aku menunggu waktu yang tepat. Mungkin satu tahun atau dua tahun lagi,” jelas Kalun.
“Gila kamu! Mana bisa seperti itu, kamu mau lihat Mama mati dulu baru akan punya anak.” Ella mulai emosi saat mendengar perkataan yang keluar dari bibir Kalun.
“Biar kami pacaran dulu Ma, kita juga masih muda.”
“Nggak! Nggak boleh menunda lagi, Mama kemarin sudah membelikan pakaian untuk bayi kamu, setelah mendengar Luna hamil, masa iya harus mama jual lagi.”
Kalun terkekeh sambil meletakkan piring itu ke arah wastafel yang ada di dapur.
“Doain saja. Smoga bulan ini istriku hamil,” ucap Kalun sambil mengusap punggung Ella ketika sudah kembali ke ruang makan.
“Kamu pakai pengaman, kan? Kamu masih ingat pesan Papa kan Kal?”
“Tadinya sih lupa, tapi setelah ingat sudah masuk jadi nggak tahu jadi atau nggak, kita tunggu saja.” Kalun tersenyum lebar ke arah Erik.
“Anak nakal, bahaya tahu nggak!”
Kalun menggaruk kepalanya, lalu menatap ke arah Erik.
“Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi dengan rahim Luna.” Erik menatap ke arah Kalun.
“Ya semoga saja! Ma mana makanan buat istriku?” tanya Kalun lirih di samping telinga Ella.
“Ambil kotak bekal yang ada di atas kompor,” jawab Ella. Sambil berjalan ke arah dapur. “Salam buat Luna ya, bilang ini special supaya dia mau memaafkan anak Mama yang nakal ini,” pesan Ella yang mengikuti kaki Kalun yang berjalan kembali ke arah meja makan.
“Duluan ya Ken, aku sudah punya istri takutnya di fitnah nyari bini baru lagi!” pamit Kalun dibumbui candaan.
“Gaya kamu! Sok ganteng banget!” ejek Erik.
“Memang aku ganteng! Dah lah. Kalun pulang dulu, bye Ma,” ucap Kalun mencuri cium pipi Ella. Membuat Erik reflek memukul lengan Kalun ketika istrinya itu bersentuhan dengan lelaki lain.
“Pelit!” ejek Kalun menampilkan wajah kesalnya. Mereka berdua dari dulu memang suka memperebutkan perhatian Ella, dan Erik yang selalu kalah karena Ella pasti membela Kalun.
“Pergi!” usir Erik seraya mengibaskan tangannya, mengusir Kalun dari rumahnya.
Kalun segera berlalu meninggalkan rumah mewah orang tuanya. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 9 malam, sudah dipastikan Aluna sudah keluar dari persembunyiannya saat ini.
Sesampai di apartemen, Kalun mengedarkan pandangannya ke arah ruangan depan televisi. Dia melihat Aluna tengah menatap layar televisi di depannya. Dia mendekati Aluna, menjatuhkan tubuhnya di samping tempat duduk Aluna. lalu ikut menyambar snack yang Aluna makan yang sudah dipindahkan di toples bewarna orange tersebut.
👣
__ADS_1
Jangan lupa vote ya.😜