Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Saat ini keduanya saling menikmati sentuhan yang masing-masing diberikan, suara lembut yang keluar dari bibir Aluna terasa semakin terdengar merdu di telinga Kalun. Membuat keinginan Kalun semakin tinggi untuk menikmati tubuh Aluna, perasaannya kini sudah tidak dia pedulikan, yang dia inginkan hanya ingin segera meledakkan sesuatu yang menyiksa tubuhnya saat ini.


Kalun menatap mata sayu istrinya, setelah melepas ciuman di leher Aluna, nafasnya terdengar semakin memburu. Dengan tangan yang sedikit bergetar, kini dia mulai membuka kancing baju Aluna, yang ada di depan dada Aluna, hanya dua kancing yang akan Kalun lepas, tapi karena tangannya yang tidak stabil Kalun merasa kesulitan untuk membukanya.


Tubuh Aluna semakin menegang, takut jika Kalun melakukan lebih padanya. Dia akan rela menyerahkan tubuhnya jika Kalun mencintainya, tapi saat ini Kalun tidak mencintainya, membuat dia tidak rela untuk memberikan tubuhnya saat ini.


“Kalun ...” ucap Aluna dengan suara serak, sambil menahan tangan Kalun.


“Aku akan rela jika kamu mencintaiku, tapi kamu ...” lanjut Aluna yang tidak bisa melanjutkan ucapannya.


Kalun membuang nafas kecewa karena mendapat penolakkan dari Aluna, diiringi lampu yang menyala, membuat wajah merah Aluna terlihat jelas di penglihatan Kalun. Kalun justru semakin lekat manatap Aluna. Membuat Aluna yang malu segera menyembunyikan wajahnya dengan bantal.


Kalun terkekeh, sambil mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


“Maaf ... maafkan aku. Aku khilaf, karena kamu terus menggodaku,” ucap Kalun yang menyalahkan Aluna.


Aluna meraba guling di sampingnya, karena dia masih menyembunyikan wajahnya di balik bantal, dia lalu mengambil dan memukulkan guling itu ke tubuh Kalun.


“Pergi! Kelewatan kamu!” teriak Aluna mengusir Kalun. Kalun akhirnya keluar kamar Aluna, dengan tawa keras yang keluar dari mulutnya. Dia hendak meredakan sesuatu yang sudah tidak bisa dia tahan lagi, berdekatan dengan istrinya memang sangat menyiksa. Niatnya yang hanya ingin menggoda Aluna hampir saja merampas harta berharga istrinya.


Sedangkan Aluna membalikkan tubuhnya, sambil berusaha menghapus jejak Kalun yang ada di bibir dan lehernya.


“Hampir saja,” lirih Aluna sambil memainkan bibir tipis yang lembab karena ulah Kalun. Dia lalu memejamkan matanya, untuk menyambut hari specialnya besok.


Malam itu, menjadi malam yang tidak terlupakan untuk keduanya, karena mereka sama-sama memberikan ciuman pertamanya. Kalun yang berada di kamar utama pun, terus memegang bibirnya sambil tersenyum tanpa suara, dia lalu berjalan ke kamar mandi untuk membasahi tubuhnya dengan air dingin.


___


Pagi pun tiba, Aluna kini tengah berada di dapur menyiapkan sarapan untuk Kalun. Jam masih menunjukkan pukul 5 pagi, tapi sarapan sudah siap. Karena Aluna akan singgah ke makam Fandi dulu sebelum berangkat ke kantor, dia hanya meninggalkan note kecil di samping sarapan, yang sudah dia siapkan untuk Kalun.

__ADS_1


Sesampai di makam, kini tidak lagi tangisan yang di keluarkan Aluna, dia sedikit tersenyum tipis saat berjalan mendekati makam Fandi.


“Hai Fan ...” sapa Aluna sambil berjongkok di makam Fandi.


“Kamu lihat dari atas kan, hari ini ... hari ini kamu karus menyaksikan presentasiku ya!” ucapnya sambil mengusap nama Fandi yang sudah diganti dengan papan keramik di sana.


“Kamu harus memberiku applous yang paling meriah dari atas sana,” ucap Aluna dengan sedikit menyipitkan matanya menatap langit yang di terangi matahari pagi.


“Terima kasih, atas dukunganmu selama ini Fan, hingga aku bisa masuk ke sana, meski kamu pergi, aku yakin kamu bisa melihat betapa senangnya diriku saat ini,” ucap Aluna yang mengusap air matanya, karena tanpa di sadari dia kembali meneteskannya.


“Aku berangkat ya, aku akan menanyaimu nanti ketika kita bertemu lagi, aku mencintaimu. Kamu masih di hatiku,” lirih Aluna sambil berdiri meninggalkan makam Fandi.


Pagi ini Aluna mengenakan baju baru yang sudah dia siapkan beberapa hari yang lalu, dia mengenakan kemeja putih yang dilapisi blazer warna mocca dan pensil skirt yang senada dengan warna blazer yang dia kenakan.


Hari ini dia lebih santai saat keluar dari makam. Dia menunggu bus yang akan mengantarnya ke kantor. Dia sedikit bergumam menyanyikan lagu kesukaannya sambil menunggu busnya datang.


Aluna terus menatap jendela, yang menampilkan kemacetan, karena padatnya kendaraan, dia terus melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan jam 7 lewat.


Semoga macetnya tidak lama. Batin Aluna saat bus yang dia tumpangi tidak kunjung bergerak. Aluna semakin gelisah saat bus itu tidak segera jalan.


“Jalan kaki sajalah ya, dari pada terlambat,” gumam Aluna sambil memainkan jarinya karena gelisah. Dia lalu berdiri dari duduknya, untuk turun dari bus.


“Di depan ada kecelakaan Mbak, makanya macet,” ucap sopir bus yang dia tumpangi.


“Iya Pak, saya turun di sini saja, takut terlambat. Sebentar juga sampai kok,” ujar Aluna sebelum keluar dari bus.


Aluna terus menelusuri trotoar sepanjang jalan Sudirman, perjalanan masih 1 kilo lagi, jadi Aluna sedikit berlari untuk segera sampai kesana. Sebenarnya ingin juga memesan ojek online, tapi kemarin dia lupa untuk membeli paket data.


Rapat akan dimulai tepat pukul 8 pagi, Kalun bahkan sudah tiba di ruang rapat, menunggu Aluna dan sebagian karyawan yang belum hadir.

__ADS_1


Sudah jam 8 lewat, tapi Aluna tidak kunjung datang, membuat semua orang yang berada di ruang rapat menyalahkan David.


Berbeda dengan Kalun, yang tengah gelisah lantaran Aluna tadi berangkat lebih dulu darinya. Dia terus memainkan jarinya, mengetuk-ngetukkan jari telunjukk ke atas meja, gigi atasnya sudah menggingit bibir bawahnya, untuk meredam rasa khawatir yang tengah dia rasakan. Dia berulang kali melihat jam di tangannya, menunggu ke datangan Aluna.


“Kita cancel dulu saja Pak,” ucap kepala devisi pemasaran. Orang yang hadir terdengar menyetujui ucapan lelaki itu.


“Ya, kenapa juga kemarin memberikan proyek itu ke karyawan baru, begini kan, jadinya,” ucap seseorang yang tidak jauh dari tempat duduk Kalun.


“Kita tunggu lima menit, jika Luna tidak hadir, kamu bisa menggantikannya,” tunjuk Kalun ke arah David, yang langsung diangguki kepala oleh David.


Empat menit terlewati, Aluna tidak kunjung datang, David yang berusaha meneleponnya lewat panggilan suara whatsapp tidak bisa tersambung dengan Aluna.


Lima menit sudah terlewati, sebagian kepala devisi sudah berdiri hendak meninggalkan ruang rapat. Namun, saat mereka akan berjalan keluar, pintu ruangan terbuka dengan kasar.


Aluna masuk dengan pakaian yang sedikit acak-acakan, dia terus menahan tangan kirinya supaya tidak terasa semakin sakit, matanya menatap ke arah David, berusaha meminta maaf lewat tatapan mata.


Kalun menatap lekat ke arah Aluna, dia yakin jika sesuatu terjadi pada Aluna. Namun, dia membuang nafas lega karena Aluna sudah berada di sini.


“Apa masih ada kesempatan untuk saya?” tanya Aluna dengan sedikit serak.


Semua orang menatap kecewa ke arah Aluna, mengisyaratkan jika tidak ada lagi kesempatan kedua untuknya, seperti yang Kalun terapkan ketika bekerja.


“Aku beri waktu 5 menit untuk persiapan!” ucap Kalun yang membuat semua orang menoleh ke arahnya. Bahkan ada beberapa orang yang protes terhadap keputusan Kalun yang tidak seperti biasanya itu.


Tapi Aluna menhembuskan nafas lega, saat mendapat jawaban dari Kalun, dia langsung merapikan pakaian dan rambutnya yang berhamburan, mempersiapkan diri untuk presentasi yang akan dia sampaikan.


👣


Jangan lupa untuk like dan vote.🤓🙏

__ADS_1


__ADS_2