
Malam yang semakin larut tak membuat Kalun menurunkan niatnya membawa Aluna ke taman hiburan. Mereka benar-benar meninggalkan komplek perumahan Renata. Renata mendengus kecewa ketika sahabatnya itu meninggalkan rumahnya. Padahal dia sudah senang bukan main, saat Aluna berada di rumahnya. Tapi sekarang rumahnya nampak sepi lagi, hanya ada dia sendiri di rumah ditemani serial drama china favoritnya.
Kalun yang kini sudah berada di mobil, sengaja melajukan mobilnya pelan, karena seingatnya taman hiburan itu tidak jauh dari rumah Renata.
Lima belas menit berlalu akhirnya mobil Kalun berhasil tiba di taman hiburan yang terlihat ramai. Kalun mengenakan topi hitamnya, lalu segera memutari mobil untuk membukakan pintu Aluna, dia menatap sejenak keramaian yang ada di depannya saat ini. Pusing, ketika dia berada di tengah lautan manusia, lebih baik dia berada di dalam kamar, di bawah selimut, tapi sebisa mungkin dia menahannya untuk menyuap istrinya, supaya Aluna mau pulang ke apartemen bersamanya.
“Kamu pakai jaket ini!” perintah Kalun yang hendak melepaskan jaketnya.
“Nggak perlu, kamu saja yang pakai! Aku masih ada syal kok, biar aku pakai ini saja,” tolak Aluna sambil menunjukkan kain biru navy yang ada di tangan kanannya, lalu menyelimutkan di tubuhnya. Membuat Kalun nampak kecewa karena penolakkan yang dia dapatkan.
“Jangan cemberut gitu ih, jelek tahu nggak! Aku cuma nggak mau besok kamu sakit karena malam ini kedinginan, siapa nanti yang akan menjagaku kalau kamu sakit?” ucap Aluna sambil berjalan pelan mendahului Kalun, dia malu juga memperlihatkan perhatianya pada suaminya tersebut.
“Baiklah, aku mengerti maksudmu! Sini biar kamu tidak hilang!” Kalun menarik pinggang Aluna supaya berada di sampingnya.
“Hei, jangan seperti ini. Malu Kal!” caci Aluna sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitarnya yang menampilkan orang-orang yang tengah berlalu lalang.
“Nggak usah malu, kita suami-istri,” jawab cepat Kalun lalu membawa Aluna berjalan memasuki kerumunan.
Mereka berjalan berdampingan, dengan Aluna yang telihat tertatih mengikuti langkah Kalun yang begitu panjang. Aluna tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan melepaskan tangan Kalun yang ada di pinggangnya.
“Jalan duluan sana! Langkah kamu terlalu panjang untuk aku imbangi, aku capek!” gerutu Aluna yang kesal dengan Kalun. Dia tidak paham jika Kalun ingin segera mengakhiri sesi jalan-jalannya kali ini.
Kalun berjalan kembali ke arah Aluna, meredakan Aluna yang tengah marah dengannya.
“Oke, maaf. Tuan putri, aku akan mengikuti langkah kakimu, di mana Tuan putri akan berhenti.” Kalun menyiapkan lengannya untuk diraih tangan Aluna.
Senyuman terukir dari bibir Aluna. dia berhasil membuat Kalun takluk padanya malam ini. Dia akan memuaskan jalan-jalannya malam ini, mengobati rasa rindunya pada kampung halaman.
“Ayo!” ajaknya sambil menyambut lengan Kalun, dia melingkarkan tangannya di lengan Kalun, dan menempelkan tubuhnya sedekat mungkin. Mereka lalu berjalan pelan, sambil membicarakan masa-masa kecilnya masing-masing. Berbeda dengan Aluna yang sering di ajak papanya ke pasar rakyat. Kalun justru tidak pernah sama sekali berkunjung ke tempat seperti ini. Mama papanya hanya membawanya ke play ground itu pun sangat jarang mereka lakukan.
“Naik itu mau?” tawar Aluna yang di jawab gelengan kepala oleh Kalun.
“Kita sudah besar tidak seharusnya menaiki kuda-kudaan seperti itu!”
“Tapi aku ingin Kal!” rengek Aluna dengan sedikit manja.
Kalun terkekeh, sambil melepaskan tangan Aluna, “Ya sudah sana! Aku akan menunggumu di sini!”
“Boleh?” tanya Aluna dengan wajah berbinar.
__ADS_1
“Ya.”
Aluna langsung berlari kecil meninggal Kalun, yang berdiri mengawasinya.
“Tunggu dulu!” tahan Kalun membuat Aluna menoleh ke arahnya, dia bertanya pada suaminya dengan bahasa isyarat. Kalun mendekati Aluna, lalu melepaskan topi yang dia pakai.
“Pakai ini! Terlalu berbahaya, membiarkan wajahmu dilihat lelaki lain,” ucap Kalun sambil membenarkan rambut Aluna, mengumpulkannya menjadi satu lalu memasukkannya ke dalam lubang topi.
“Bukannya ini akan menggoda lelaki untuk melihat leherku ya?” ucap Aluna sambil meraba lehernya yang terasa dingin. Kalun yang menyadari ucapan Aluna, langsung melepaskan topinya. Dia membiarkan rambut Aluna tergerai menutupi lehernya dan mengenakan topi hitam miliknya.
“Oke, terima kasih suamiku!” kata Aluna sambil membenarkan rambutnya.
“Aa’.” Kalun meralat panggilan Aluna.
“Oke, A’ terima kasih,” ucapnya sambil tersenyum lebar menatap Kalun.
“Bye,” pamit Aluna seolah dia akan pergi jauh.
“Bye Sayang,” jawab Kalun sambil melambaikan tangannya pelan ke arah Aluna.
Kalun hanya mengamati wajah Aluna yang tengah menaiki komedi putar, wajahnya berbinar sambil melambaikan tangan ke arahnya. Memintanya untuk ikut menaiki komedi putar berbentuk kuda tersebut. Kalun hanya menggelengkan kepalanya. Menolak permintaan Aluna. sesekali mengambil foto Aluna yang tersenyum bahagia.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Aluna turun dari wahana bermain. Dia lalu berjalan pelan memutari taman hiburan itu. Lampu warni-warni menghiasi setiap wahana permainan, membuat suasana malam itu nampak indah. Aluna menghentikan langkahnya ketika melihat bianglala di depannya, dia terus mengamatinya dari bawah. Kenangannya dengan Fandi tiba-tiba menghampirinya, matanya yang tadi berbinar kini nampak terlihat berkaca-kaca, menahan air matanya yang hampir terjatuh.
“Kenapa?” tanya Kalun yang melihat perubahan wajah Aluna.
“Kamu pernah dengar mitos tentang wahana permainan ini?” tanya Aluna meminta Kalun untuk menatap bianglala di depannya, Kalun segera menggelengkan kepalanya, karena dia tidak pernah mendengarnya.
“Barangsiapa yang menaiki bianglala dan berciuman saat berada di puncak, maka cinta mereka tidak akan terpisahkan. Mungkin karena Fandi tidak menciumku saat berada di atas sana, jadi kita tidak bisa bersama selamanya,” terang Aluna. Membuat Kalun menoleh ke arahnya, dia paham jika Aluna tengah mengingat mantan calon suaminya.
“Itu hanya mitos, apa kamu percaya itu? Hidup dan mati seseorang sudah di atur oleh Sang Pencipta! Aku akan menghapus ingatanmu tentangnya.” Kalun membawa Aluna untuk
menaiki bianglala yang ada di depannya. Meminta Aluna segera duduk ketika petugas membukakan salah satu pintu untuk mereka. Entah apa yang dibisikkan Kalun pada petugas yang ada di sampingnya, Aluna tidak bisa mendengarkannya. Kalun ikut menaiki bianglala yang sudah di tempati istrinya tersebut.
“Kamu benar ikut naik? Nggak takut?”
“Ya, demi istriku, apapun akan aku lakukan!”
“Sweet banget!” sindir Aluna sambil merebahkan pundaknya di sandaran kursi. Cukup lama mereka menaiki bianglala tersebut tanpa ada yang berani memecah keheningan, Kalun tidak ingin menganggu moment Aluna yang mungkin tengah mengingat kenangannya bersama Fandi, dia hanya menatap wajah Aluna yang nampak jelas tengah bersedih.
__ADS_1
Sebagian orang sudah diturunkan oleh petugas, hanya tinggal beberapa tempat saja yang terisi termasuk mereka berdua.
“Kenapa lama sekali, kenapa mereka tidak segera menurunkan kita?” tanya Aluna ketika kepalanya mulai terasa pusing.
“Apa yang dilakukan Fandi padamu ketika menaiki ini?” tanya Kalun dengan lembut yang sudah mengikis jaraknya dengan Aluna.
“Nggak baik menanyakan yang sudah berlalu!” kata Aluna yang tidak ingin mengatakan pada Kalun.
“Apa dia menciummu pipimu seperti ini?” tanya Kalun sambil mengecup pipi kiri Aluna. Membuat Aluna terkejut atas perlakuan Kalun.
“Apa seperti ini?” kecupnya lagi di dahi Aluna.
“Atau seperti ini? Iya!” ulangnya di pipi kanan Aluna.
Aluna hanya diam, merasakan kecupan hangat bibir Kalun yang masih membekas, hatinya ingin marah tapi tubuhnya tidak mampu menolak perlakuan Kalun.
“Kamu milikku Sayang, mulai sekarang ingat saja yang ini, jangan mengingatnya lagi!” pesan Kalun yang meraih leher belakang Aluna.
Mungkin Kalun sudah mengatur semuanya, bianglala itu tepat berhenti ketika mereka berdua berada di puncak tertinggi. Aluna hanya mengalihkan pandangannya ke arah samping, dia tidak berani menatap mata Kalun. Angin yang berhembus kencang malam itu membuat Aluna merasa kedinginan. Dia merengkuh tubuhnya yang terasa dingin, demi mengalihkan perhatian Kalun.
“Lun. Lihat aku!”
“Kal!” bantah Aluna, yang menolak perintah Kalun.
“Jangan seperti ini!” lanjut Aluna.
“Aku masih berharap kamu mengingatnya, Sayang!” kata Kalun sambil berusaha memaksa mata Aluna untuk menatapnya.
Aluna beralih menatap mata Kalun. Bayangan dirinya memanggil nama Kalun terlintas. Dia mengingatnya, mengingat Kalun yang mengatakan cinta padanya. Dia kembali memejamkan matanya, mencoba lagi mencari lagi kepingan ingatannya yang hilang. Namun, bibir jahil Kalun itu menganggunya, dia mencium bibir Aluna dengan lembut, menarik pinggang Aluna supaya duduk di pangkuannya. Dia tidak ingin kehilangan moment ini, dia sudah mengaturnya sedemikian rupa, menuruti Aluna yang percaya dengan mitos tersebut.
“Kamu mengingat ciuman itu?” tanya Kalun saat memberikan jeda supaya Aluna bernafas. Aluna meraba bibirnya yang kehilangan kehangatan.
“Aku tidak mengingatnya, tapi aku tidak ingin menolaknya A'!” sahut Aluna yang menahan tubuhnya supaya tidak menempel di tubuh Kalun.
Kalun sedikit terkejut ketika Aluna memulai menciumnya lebih dulu, meski gerakkannya cepat, dan malu-malu, tapi dia sungguh merindukan moment itu, moment di mana Aluna dengan ikhlas memberikan ciuman untuknya.
Bonus wajahnya Aluna😂
__ADS_1