
Satu minggu berlalu, semalam Aluna mengantarkan Kalun untuk bertolak ke London, pesan sudah Kalun sampaikan pada istrinya, rasa tidak tega meninggalkan Aluna sendiri di apartemen, bisa Kalun rasakan saat itu. Namun, Aluna menolak ketika Kalun memintanya untuk berada di rumah kedua orang tuanya.
Aluna segera beranjak dari tidurnya,
untuk bersiap bekerja, dia meraih ponsel yang ada di meja, belum ada kabar dari suaminya, dia melanjutkan berjalan ke arah kamar mandi, mengamati sejenak tubuhnya yang memerah di pantulan cermin, akibat peninggalan suaminya kemarin. Dia tersenyum simpul membayangkan Kalun yang tengah memberikan kissmark di dadanya.
Aluna keluar dari apartemen tepat pukul 7 pagi, dia menunggu sopir pribadinya di lobby apartemen. Sebelum dia masuk ke dalam mobil, tangannya bergerak mengetikkan pesan untuk suaminya. Padahal sebelum berangkat dia berjanji tidak akan menghubungi Kalun jika tidak ada hal yang penting, tapi tangannya sudah gatal, hatinya sudah merindukan suaminya itu.
Selamat pagi kesayangan. I Love you, Aa’
Cukup lama dia menanti balasan dari suaminya, hingga mobil berhenti di tempat biasa sopir menurunkan dirinya, tapi Kalun masih belum membalas pesan darinya.
“Luna!” panggil seseorang dari balik punggung Aluna.
Aluna terkejut ketika mendapati Renata di belakangnya, dengan pakaian rapi layaknya wanita karier.
“Ngapain loe? Nggak kerja memangnya?” timpal Aluna menatap Renata penuh curiga.
“Kerja lah! Ini juga mau berangkat,” jawabnya sambil berjalan mendahului Aluna.
“Eeee … tunggu, aku heran denganmu. Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Aluna mencoba mensejajarkan langkahnya di samping Renata, dia memindai lagi penampilan Renata yang tidak seperti penjaga kasir.
“Sultanmu, memintaku secara khusus untuk menjagamu, jadi kamu harus patuh padaku, atau aku akan melaporkannya!” jelas Renata sambil menampilkan senyum khas gingsulnya.
“Jangan ngawur ya! Nggak percaya gue!”
“Terserah, dia memintaku secara khusus untuk menjadi assistan-mu, dia takut kejadian beberapa minggu lalu menimpamu lagi, saat dia pergi,” jelas Renata.
Aluna diam sejenak, memikirkan ucapan Renata. Kalun tidak pernah bercerita jika dia mengutus Renata untuk menjadi assistan-nya. Dia mencari lagi ponselnya, siapa tahu Kalun membalas pesannya tadi. Namun, yang ada dia hanya mendapati kekecewaan, karena pesan yang masuk adalah pesan dari papanya.
Aluna berjalan ke arah ruang kerjanya, menyapa semua orang yang dia jumpai dengan senyuman ramah.
“Hai Lun, akan ada orang yang membantumu,” ucap David saat melihat kedatangan Aluna.
“Dia Renata, jika kamu butuh sesuatu, minta bantuan padanya, tidak perlu diragukan lagi, karena dia rekomendasi dari Pak Kalun,” lanjut David yang dijawab anggukan dari Aluna.
“Gimana bulan madunya, sukses?” tanya David yang mengetahui izin Aluna karena melakukan perjalanan bulan madu.
Aluna hanya bingung sambil menatap ke arah David meminta untuk menjelaskan.
“Duh Lun, aku pikir kamu itu masih single, hampir saja aku membawamu ke rumah mamaku,” ucap David dengan suara tawa kecil yang keluar dari bibirnya.
“Tahu dari mana, jika aku sudah bersuami Pak?” tanya Aluna yang curiga jika Kalun sudah membocorkan rahasianya.
“Bukannya kamu yang menulis sendiri alasanmu meminta izin, beruntungnya Pak Kalun tidak menolak surat izinmu,” jelas David sambil mendudukkan dirinya di kursi yang tidak jauh dari kursi Aluna.
Aluna lalu menatap Renata yang tengah menertawakannya. Terlihat sahabatnya itu, menutup mulutnya dengan tangan.
“Bu Aluna perlu bantuan apa?” tanyanya dengan dibuat sesopan mungkin.
Aluna hanya diam, menghiraukan Renata, dia lalu melihat lagi ponselnya, matanya berbinar saat melihat nama orang yang mengirimi pesan.
I love u to, my little bee
__ADS_1
Balas Kalun yang membuat Aluna, menarik bibirnya ke atas.
Aluna melupakan keberadaan David, dia terus membalas pesan dari Kalun yang tengah mengatakan rindu padanya, begitupun dirinya yang sudah tidak malu lagi untuk mengatakan jika dia merindukan aroma tubuh suaminya. Hingga terdengar deheman dari David. Aluna bergegas menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas.
Terakhir, Aluna mendapatkan pesan dari Kalun jika waktu istirahat nanti dia meminta Aluna untuk datang ke kamar 205. Karena akan ada kejutan kecil di sana.
Aluna semakin tidak sabar, memikirkan kejutan apa yang akan diberikan suaminya tersebut. Jantungnya berdetak semakin cepat, saat waktu sudah menunjukkan pukul setengah duabelas siang.
Aluna berjalan sendiri ketika jam istirahat tiba, melupakan Renata yang masih sibuk dengan pekerjaanya. Dia sudah tidak sabar untuk melihat kejutan yang diberikan suaminya.
Saat di depan pintu masuk hotel, dia bertemu Doni yang tersenyum ramah ke arahnya. Aluna menunduk sopan sambil membalas tersenyum ramah ke arah Doni yang terlihat sumringah pagi ini
Saat tiba di kamar 205, tangannya langsung membuka kasar pintu tersebut. Dia menatap lelaki di depannya dengan mata berkaca-kaca, dia langsung memeluk erat lelaki di depannya itu, demi meluapkan rasa rindunya karena 6 bulan tidak bertemu.
“Papa dengan siapa ke Jakarta?” tanya Aluna dibalik punggung Budi.
“Papa dijemput Nak Doni, dia datang ke Solo dan mengatakan ingin memberikan kejutan kecil untukmu, apa kamu terkejut?” tanya Budi sambil melepaskan pelukkannya, beralih menatap Aluna yang terlihat semakin cantik itu.
“Aku tidak terkejut, tapi aku bahagia Papa berada di sini,” jawab Aluna sambil membawa duduk papanya, untuk menikmati makan siang yang sudah disediakan oleh pihak hotel.
“Kamu terlihat sangat bahagia Sayang,” ucap Budi saat melihat rona kebahagian Aluna, dia bisa ikut merasakan jika anaknya itu tengah bahagia menjalani kehidupannya yang sekarang ini.
“Iya Pa, mereka semua baik padaku, itu yang bisa membuatku sebahagia ini,” jelas Aluna.
“Kamu sudah hamil?”
Aluna hanya tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya.
Bulan depan Pa, aku baru berniat untuk merencanakan kehamilan, dan semoga bisa berhasil. Batin Aluna menjelaskan dalam hati.
Mereka berdua lalu menikmati makan siang itu dengan nikmat, tidak lupa Aluna mengetikkan pesan ucapan terima kasih untuk suaminya atas kejutan yang dia berikan. Dia bahagia bisa bertemu dengan papanya di Jakarta.
Hingga jam istirahat habis Aluna meminta papanya untuk pulang ke apartemen dengan diantarkan Doni. Dia meminta untuk menunggunya di sana. Karena besok pagi papanya harus kembali ke Solo, menemani ibu tirinya.
Aluna yang harusnya bekerja lembur, memaksakan pekerjaannya untuk dibawa pulang, dia keluar kantor tepat pukul 5 sore, dijemput oleh sopir pribadinya yang sudah menunggu di tempat biasa.
Sesampainya di rumah dia sudah disambut oleh papanya. Aroma sup jagung yang menyeruak, menyambutnya sore ini, dia langsung menuju meja makan untuk menyantap hidangan yang sudah Budi buatkan untuknya.
“Tetap tidak berubah,” cibir Budi saat mendapati Aluna belum melepaskan pakaian kerjanya.
“Ini karena aku merindukan masakan Papa,” jelas Aluna sambil mengisi sup jagung ke dalam mangkoknya.
“Makanlah! Selagi papa masih bisa membuatkannya,” ucap Budi sambil mengusap rambut panjang Aluna.
Aluna meminta izin untuk membersihkan tubuhnya, setelah menyelesaikan makannya. Setelah itu dia kembali mengobrol dengan papanya hingga jam menunjukkan pukul 9 malam, dia baru kembali ke kamar untuk beristirahat.
Dia menatap ponselnya yang bergetar ketika tiba di kamar. Gambar hati warna merah terlihat di samping tulisan ‘Aa’ dia segera menggeser tombol hijau di layar itu, sebelum layar itu berubah menjadi foto dirinya.
Dia menempelkan ponselnya di samping telinga, hanya hening tidak ada suara sama sekali di sana. Hanya suara nafas kasar Kalun yang dapat terdengar jelas.
I miss you.
Ucap Kalun yang membuat Aluna menampilkan senyumnya. Aluna belum menyahut sapaan Kalun. Dia hanya diam sambil merebahkan tubuhnya di kasur, matanya menatap lampu yang tepat berada di atasnya.
__ADS_1
Lunaaa
Ucap Kalun dengan suara serak. Aluna sedikit curiga dengan apa yang dilakukan suaminya saat ini.
Aa’ kamu baik-baik saja kan?
Tanya Aluna yang penasaran.
Tidak, aku tersiksa Luunn.
Jawab Kalun yang semakin terdengar lemah.
Aa’ sedang apa? Jangan bilang Aa ....
Tanya Aluna yang seketika membayangkan otak mesumnya. Terdengar suara tawa keras dari bibir Kalun.
Aku tersiksa karena kamu jauh dariku, jangan mesum deh!
Peringat Kalun setelah menghentikan suara tawanya.
Tapi boleh deh kalau kamu mau ngomongin mesum, aku akan siap mendengarkannya.
Lanjutnya lagi dengan tawa kecil.
Jangan aneh-aneh!
Peringat keras Aluna.
Aku rindu menyentuhmu ...
Aku rindu merasakan kenikmatan itu ...
Aku rindu mencium bibir merahmu ...
Aku rindu aroma zaitun yang menempel di tubuhmu ...
Aku rindu erangan dan desahanmu ...
Aku rindu milikmu semuanya.
Apa kamu merindukan aku yang memberikan kenikmatan ketika berada di atasmu?
Kalun mengucapkan kata-kata itu dengan suara lemah, seperti orang yang ingin meminta haknya.
Aluna yang geli dengan ucapan Kalun segera menutup teleponnya, aliran darahnya memanas saat mendengar suara sensual itu terus terdengar. Wajahnya sudah memerah karena mendengar ucapan Kalun, andai suaminya itu berada di sini, pasti dia sudah meledeknya habis-habisan.
Pandangan matanya buram nggak mungkin juga dia merindukan milik suaminya ketika dia baru berpisah 24 jam. Dia berharap 5 hari akan segera berlalu, dan bisa menatap, menyentuh dan segera bisa menikmati tubuh suaminya lagi.
Pesan suara dari Kalun terdengar saat dia membuka pesan itu. Suaminya menang karena membuatnya terlena dengan suara-suara yang diucapakan tadi, Kalun tidak mengerti jika orang dalam keadaan subur, akan gampang tergoda walau hanya dengan suara.
👣
Jangan lupa untuk like dan vote ya.
__ADS_1